
💝💝💝💝
"Lagunya bagus, begitupun dengan suaranya." Ucap Humaira memuji.
"Kenapa Yulian belum kembali juga ya?" Tanya Joko penasaran.
"Bagaimana mau kembali, sedangkan dia saja masih bernyayi diatas panggung." Sambungku yang mengejutkan mereka, kakak-kakakku.
"Apa?" Ucap mereka bersamaan sambil mulut sedikit ternganga .
Aku benar-benar ingin tertawa melihat mereka yang berekspresi seperti itu. Lucu banget lah pokoknya. Bahkan ekspresi mereka lah yang membuatku terkejut, bukan suara Yulian yang begitu merdu. Hahaha!
"Kamu tidak sedang bercanda kan Aisyah?" Tanya kak Maryam tidak percaya.
Aku hanya menganggukkan kepalaku pelan untuk menjawab pertanyaan kak Maryam dam yang lain.
"Kenapa kamu bisa yakin? Memangnya suara Yulian semerdu itu?" Tanya kak Fadli yang masih belum percaya.
"Iya kak, Aisyah yakin kalau itu suara Yulian. Kan, Aisyah sudah lamaaaaa sekali mengenal Yulian." Jawabku dengan senyum.
Setelah aku menjelaskan semuanya tentang kebenaran pemilik suara itu, entah kenapa kedua kakak perempuanku itu seperti ternyuh dan menghayati lagu yang telah dinyanyikan Yulian. Ekspresi wajah kak Maryam dan mbak Humaira menjadi ekpresi yang lucu dan imut. Mungkin mereka mengerti arti dari lagu itu. Dan untungnya akupun sedikit mengerti artinya, walaupun belum terlalu menguasai sih. Hehe...!
Setelah beberapa jam kemudian muncul-lah sosok lelaki yang mempesona bagiku, yang tak lain adalah suamiku, Yulian.
"Bagaimana dengan lagunya? Apa kamu suka?" Tanyanya sambil menatapku.
"Jangan dijawab dulu. Aku masih punya kejutan buat kamu." Sambungnya lagi menimpali.
Aku pun dibuat bingung dengan apa yang dimaksud Yulian. Dan hanya bisa menatap wajahnya untuk meminta kejelasan darinya.
Selang beberapa detik kemudian, dia berjongkok didepanku sambil membawa seikat bunga dan perhiasan yang berbentuk cincin.
"'Ahbik min kuli qalbi zawjati"
(aku mencintaimu dengam setulus hatiku istriku)
Yulian mengatakan kalimat itu didepan umum, sehingga membuatku merasa malu akan perlakuannya. Pipiku pun memerah, untung saja tertutupi dengan cadarku jadi tidak ada yang tahu deh wajahku seperti apa.
Setelah mengucapkan kalimat itu dan membuatku tersipu malu kini Yulian sukses membuatku terharu, karena dia memakaikan cincin yang dipegangnya tadi ke jari manisku.
__ADS_1
"Oh so sweet?" Ucap mbak Humaira pelan.
"He'em! Kamu memang beruntung sayang, kamu mendapatkan suami yang begitu memperjuangkan kamu." Sambung kak Maryam yang ikut terharu.
Setelah acara memasangkan cincin selesai, tiba-tiba datanglah seorang wanita yang tidak pernah aku kenal sama sekali. Namun saat dia berucap, entah kenapa aku seperyi mengenal suara itu.
"Assalamu'alaikum!" Ucap seorang perempuan.
"Wa'alaikumsalam!" Ucap kami bersamaan.
"Bolehkah saya bergabung?" Tanya perempuan itu.
"Tentu. Silahkan duduk!" Jawab Yulian dengan begitu santainya.
"Apakah kamu yang bernama Aisyah?" Tanya lagi perempuan itu sambil menatapku.
"Iya." Jawabku singkat.
"Oh, ternyata dia wanita selama ini yang kamu perjuangkan Yulian?" Ucap Perempuan itu seakan mengenal Yulian.
Ketika perempuan itu sedang menatap wajah suamiku, ingin rasanya aku marah. Hatiku pun serasa dibakar api cemburu karena, perempuan lain menatap suamiku seperti tidak biasa.
Sebenarnya apa yang sudah terjadi? Apa hubungan Yulian dengan perempuan itu? Jujur, aku mulai penasaran dan menaruh rasa curiga kepada suamiku.
"Aisyah, disini aku akan memperkenalkan kamu dengan perempuan yang hadir ditengah-tengah kita semua . Dia adalah Jihan. Dia temanku selama aku tinggal di Kairo dan bekerja disini. Sekaligus, dia adalah sekertarisku diperusahaan yang aku kelola selama di Kairo." Ucap Yulian menejelaskan.
"Salam kenal semuanya." Sapanya lagi dengan senyuman.
Aku akui dia begitu cantik. Perempuan yang menjaga auratnya namun, dia hanya berjilbab dan tidak memakai cadar. Dia berkulit putih dan berhidung mancung. Mungkin dia asli orang Kairo.
"Lalu, apa hubungan kalian sebenarnya? Kenapa Yulian memperkenalkan sekertarisnya disini?" Aku terlalu banyak pertanyaan didalam batinku.
Sungguh, ingin rasanya aku segera mengajukan pertanyaan yang memenuhi otakku. Pikiranku begitu kacau ketika hanya bisa menerka-nerkanya saja. Sedangkan Yulian, dia belum menjelaskan tentang hubungannya dan tujuannya yang memperkenalkan perempuan itu.
"Lalu, apa hubungan kamu dengan suamiku? Mengapa kamu menatapnya seperti itu? Padahalkan, kamu memakai jilbabmu. Dan seharusnya kamu tahu bagaimana menjaga pandangan terhadap lelaki yang bukan mukhrimmu." Tanyaku kemudian yang berhasil aku lontarkan dari mulutku.
"Ma'afkanlah aku jika kehadiranku membuatmu merasa cemburu. Tapi, aku bukanlah bermaksud untuk mengganggu kalian, terutama rumah tanggamu dengan Yulian." Jawab perempuan itu dengan lembut.
"Aisyah, kumohon kamu jangan salah paham dan marah kepadanya. Karena, dia-lah yang membantu hubungan kita. Selain mas Joko yang membantuku untuk menjagamu, ada Jihan yang membantuku untuk dekat denganmu. Berkat Jihan-lah, kamu mau mendesain baju pernikahan yang belum pernah kamu kenal siapa orang yang memesan itu. Pasti kamu tidak lupa kan dengan suara Jihan?" Sambung Yulian menjelaskan.
__ADS_1
Setelah mendengarkan penjelasan dari Yulian secara detail, kini aku baru mengingat suara yang familiar bagiku. Ya, itu dia. Suara yang sering mengobrol denganku melalai telfon.
"Jadi, kamu adalah orang itu?" Tanyaku memastikan.
Jihan hanya menganggukkan kepalanya pelan sambil tersenyum yang terlukis dari bibirnya. Oh Ya Allah, ternyata aku sudah salah mengira.
"Astaghfirullah halazim, ma'afkan lah aku yang sudah menuduhmu." Ucapku memohon ma'af.
"Tidak apa-apa Aisyah. Justru aku yang meminta ma'af atas kesalahnku yang membuatmu merasa cemburu. Oh iya, kamu tidak perlu khawatir tentang apa hubunganku dengan suamimu. Karena, aku sudah bersuami dan juga sudah menjadi seorang ibu. Insyaallah aku menjaga kehormatan keluargaku, terutama suamiku." Ucapnya sambil memegang tanganku.
Sungguh tatapan Jihan kepadaku membuat hatiku percaya akan kata-katanya. Ya, mungkin hanya aku-lah yang sering berburuk sangka dan memiliki sifat su'uzon terhadap orang lain. Ya Allah, ma'afkan lah aku atas sikap yang belum bisa aku hilangkan ini.
Setelah masalah dan rasa kecurigaan terselesaikan, kini kami lebih memilih untuk pergi ke Masjid Al Azhar dan melakukan sholat dzuhur disana. Kalian pasti sudah tahu kan Masjid Al Azhar? Dimana masjid tertua kedua setelah masjid Amr Ibn Al As yang terletak di kawasan kantor pusat Al Azhar, Khan El Khalili dan muizz street.
Setelah selesai sholat dzuhur, kami melanjutkan perjalanan kami untuk berjalan-jalan disekitar Masjid Al-Azar, yaitu di Muizz street.
Muizz street adalah salah satu jalan bersejarah di kota Kairo. Di sini ada banyak sekali peninggalan berupa masjid, tempat mengaji, tempat mengambil air minum dan sebagainya dari tahun 1000an Masehi.
Kami benar-benar bersenang-senang saat di Muizz street, sehingga kami hampir lupa waktu. Kini hari sudah berganti malam dan kita memutuskan untuk kembali lagi ke hotel dan beristirahat. Dan jalan-jalannya akan kami lanjutkan esok hari.
"Aku merasa lelah sekali." Keluhku saat sampai didalam kamar.
"Dan pada akhirnya, suamimu inilah yang akan memanjakan istrinya." Ucap Yulian .
"Maksudnya apa nih?" Tanyaku penasaran dan lagi-lagi aku menaruh curiga padanya. Masak iya Yulian mau minta jatah lagi?
"Iya, kan umi capek jadi ya abi pijitin kamu. Sudah, gitu saja." Jawabnya dengan penjelasan singkat.
"Oh begitu? Beneran nih abi hanya akan memijat umi?" Tanyaku memastikan.
"Iya umiku sayang. Lah memang mau apa lagi?" Yulian berbalik bertanya.
"Ah tidak apa-apa kok. Ya sudah, umi mau mandi saja dulu." Jawabku mengelak.
Setelah merasa malu karena aku yang berpikiran berbeda dengan Yulian, aku pun lebih memilih menghindarinya dan menuju ke kamar mandi dengan tergesa-gesa.
Setelah membersihkan badanku sekitar lima belas menitan, kini aku menjalankan sholat isya' terlebih dahulu.
Setelah selesai sholat, barulah aku menyadari bahwa Yulian tidak ada didalam kamar. Entah dimana dia sekarang. Aku berusaha mencarinya dan keluar dari kamar.
__ADS_1
Aku berjalan menelusuri lorong hotel. Sehingga, aku mendapatkan sosok lelaki yang aku cari. Ternyata, dia sedang berbicara dengan seseorang melalui telfon. Entahlah siapa yang sedang berbicara dengannya. Bukan berarti aku tidak peduli, tapi aku tidak mau menaruh rasa curiga lagi dengan suamiku.