
🌺🌺🌺🌺
Setelah perjalanan hampir satu jam lebih akhirnya kami sampai ditempat mama Widia dan papa Nugraha tinggal. Sungguh, rasanya tidak dapat kupungkiri dalam hatiku yang semakin gelisah. Karena masih ada rasa canggung, khawatir dan keraguan dalam diriku.
Namun, lagi-lagi suamiku Yulian menggenggam tanganku untuk menguatkanku saat kami akan memasuki rumah yang megah itu.
"Bismillah!" Ucapku dalam batin.
"Assalamu'alaikum!" Teriak kami bersamaan masih dengan nada yang sopan.
Tidak lama kemudian terdengar suara samar yang menjawab salam dari dalam rumah. Ya, itu adalah mama mertuaku, yang tak lain adalah mama Widia.
Jauh dari angan dan rasa takutku. Ternyata, kedatangan kami disambut dengan sapaan dan senyuman ceria. Apalagi dengan datangnya Juna ditengah-tengah mereka. Kebahagiaan terasa begitu lengkap.
Saat ini kami tengah berkumpul di ruang keluarga dan bersantai. Namun, ku rasa ada sesuatu yang kurang dalam ruangan ini.
"Kamu mau kemana Aisyah?" Tanya mama mertuaku.
"Aisyah mau pergi ke dapur sebentar ma." Jawabku .
Mama Widia tidak lagi menanyaiku. Dan beliau di fokuskan dengan Juna. Sedangkan Yulian dan papa Nugraha, mereka beranjak dari tempat duduknya dan pergi ke ruang kerja. Mungkin mereka sedang membicarakan masalah di kantor.
****
Aku berusaha membuat camilan dengan bahan seadanya di dapur. Pasti kalian penasaran kan aku mau membuat camilan apa? Ya... Aku membuat kue sederhana kesukaan Juna dan Yulian. Meskipun Juna bukan anak kandung kami, tapi Juna dan Yulian menyukai makanan favorit yang sama. Sehingga mereka memiliki banyak kesamaan dan kemiripan.
Ketika aku sedang fokus membuat kue di dapur, tiba-tiba aku dikejutkan oleh kedatangan mama mertuaku. Andai kalian tahu bagaimana perasaanku waktu itu!
"Aisyah, mama tahu perasaan kamu bagaimana saat ini. Mama juga mengerti. Tapi, kamu janganlah berputus asa atau merasa bersedih. Di sini ada kami semua yang selalu mendukung kamu," ujar mama Widia.
"Ma..." Panggilku.
"Benarkan apa yang aku ucapkan! Mama dan papa serta yang lain tidak akan menuntut kamu untuk segera hamil." Potong Yulian.
Sekaligus aku benar-benar bahagia. Karena, aku tidak merasa terpojok atau bersedih serta khawatir lagi. Bahkan, mereka sekarang tengah memberiku kekuatan untuk terus bersabar dan berdo'a. Keluargaku adalah sumber kekuatanku.
__ADS_1
Setelah usai di sibukkan di dapur, akhirnya jadilah camilan yang kubuat. Andai kalian tahu nih! Saat pertama aku menghidangkannya dan saat itu pula camilan kue sederhana yang kubuat langsung ludes dan kandas.
"Apa senikmat itu?" Tanyaku heran.
"Emm... Iya loh Aisyah. Ini sangat lezat sekali," ungkap papa mertuaku sambil mengunyah kue itu.
"Kapan-kapan kamu buatkan lagi ya Aisyah!" Sambung mama mertuaku dengan memintaku.
Itulah respon mama-papa mertuaku yang sukses membuatku merasa bangga dan senyum-senyum sendirian. Untung saja tidak terlihat oleh mereka, jika sampai terlihat aku bisa malu lah! Kalau Yulian dan Juna, mereka tidak usah ditanya lagi. Karena itu sudah menjadi makanan favorit mereka.
"Alhamdulillah kalau mama dan papa juga suka," ungkapku dengan senyum yang lebar.
Selang beberapa jam kemudian kami berpamitan untuk pulang. Karena hari yang sudah sore. Dan lagi pula kami juga tidak berniat untuk menginap dirumah mama dan papa malam ini.
*****
Yulian melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Sehingga aku dan Juna bisa memandangi ramainya kota disore hari. Namun, sebelum sampai dirumah kita lebih memilih untuk berkunjung kerumah Aida terlebih dahulu. Karena sudah lama sekali tidak bersilahturahmi dengannya serta keluarganya.
"Assalamu'alaikum!" Ucap kami sambil berteriak dengan nada yang masih sopan.
"Aida!" Panggilku menyapa.
"Aisyah!" Ucap Aida sambil merasakan haru karena rindu.
Ya... Karena sudah lama sekali diantara kami tidak saling menyapa. Dan inilah kebahagiaan kami ketika saling berjumpa. Kami tidak luput dari rasa haru dan rindu yang mendalam.
"Kalian masuklah!" Pinta Aida.
Kami pun masuk ke dalam rumah. Dan di sana kami menjumpai Fahri suami Aida, putra dan putri Aida.
"Ayo Arsya dan Arsyi, kalian salim dulu sama om Yulian dan tante Aisyah!" Ujar Fahri meminta putra dan putrinya.
Arsya dan Arsyi pun menuruti perintah ayahnya. Mereka bersalaman denganku dan Yulian secara bergantian. Bukan hanya dengan kami saja, melainkan dengan Juna juga. Sehingga mereka mudah akrab walau bertemu beberapa jam saja.
Berhubung hari yang sudah berganti gelap, kami pun berpamitan. Aida dan Fahri begitu ramah dengan kami. Itulah yang namanya sahabat sampai nanti dan sampai kapanpun.
__ADS_1
Perjalanan pun telah berakhir. Mobil pun juga sudah terparkir di garasi dengan rapi. Kami semua juga menuruni mobil dan menuju ke dalam rumah. Dan segeralah kami bergegas untuk menjalankan sholat isya' secara beejama'ah. Karena kebetulan waktu isya' sudah tiba.
Setelah usai menjalankan sholat, Juna memintaku untuk membacakan beberapa dongeng sebagai pengantar tidurnya.
Setelah beberapa jam kemudian. Akhirnya Juna tertidur juga dengan pulasnya. Bahkan sampai-sampai terdengar suara mendengkur darinya. Mungkin ia terlalu lelah dengan kegiatan hari ini.
"Emm... Bagaimana masalah kantor tadi?" Tanyaku penasaran.
"Alhamdulillah bisa teratasi kok. Besok abi juga sudah mulai ke kantor lagi." Jawab Yulian memberitahu.
"Alhamdulillah kalau begitu. Mungkin, besok umi juga sudah mulai ke butik," ungkapku kemdian.
"Terserah umi saja kalau begitu. Ya sudah, lebih baik kita buat adek yuk umi!" Ajak Yulian dengan kekonyolannya.
Belum sempat aku meng-iyakan, tiba-tiba saja tubuhku sudah terangkat dari lantai, di mana kakiku telah berpijak. Dan kini aku digendong oleh Yulian menuju ke kamar dengan penuh kemesraan.
Setelah sampai di dalam kamar, Yulian membaringkan tubuhku di atas kasur secara perlahan. Sebelum kami menjalankan sunnah rasul. Kami membaca do'a terlebih dahulu untuk memulainya. Dan setelah itu, kami memancing emosi kami terlebih dahulu. Agar kami mendapatkan rasa gairah dan kenikmatan diantara kami.
"Emmmuuuaaaccchhh!"
Kami melakukan cumbuan dan diselingi dengan pelukan yang menghangatkan masing-masing diantara kami. Dan setelah kami memanas, barulah kami melepas baju masing-masing. Dan setelah itu, kami pun melakukan hubingan intim kami.
Meskipun aku belum diberikan anugrah untuk merasakan dan menikmati bagaimana hamil itu, aku tidak akan menyerah. Aku akan selalu berusaha, berdo'a dan bersabar sampai waktu itu pun tiba.
Semoga saja Tuhan segera menghadirkan buah hati dalam rahimku. Agar aku bisa merasakan betapa nikmatnya hamil dan berjuang selama mengandung serta berjuang untuk melahirkannya ke dunia. Meskipun itu akan berhujung nyawa sebagai taruhannya.
Malam ini begitu ku nikmati waktu bersama Yulian. Begitupun Yulian, ia menikmati dalam setiap sentuhan yang menjemaah tubuhnya. Gerakan tangan Yulian yang lunghai dalam mempermainkan dua tumpuk gunung di tubuhku, sungguh sukses membuatku berdesir dan meraung dengan pelan.
Aku pun juga tidak mau kalah dengan Yulian. Aku mempermainkan hal yang sama dengannya. Sehingga dia juga mengeluarkan desiran dan raungan yang hebat. Dan kami melakukannya diselingi dengan cumbuan mesra.
Malam ini kami benar-benar melampiaskan kelelahan dan kerinduan kami, serta harapan kami yang belum berujung pasti. Hikmat dan kemesraan kami lakukan sampai kami benar-benar lelah dan kami pun tidak tahu jam menunjukkan pukul berapa saat kami sudah mulai memejamkan kedua mata kami.
WAW, AI KEMBALI DENGAN CERITA YANG MEMGGUGAH GAURAH NIH! BAGAIMANA MENURUT KALIAN? KALIAN PASTI SUKA KAN! HOHOHO...! MUNGKIN AI TERLALU PERCAYA DIRI, TAPI TAK APALAH. ITU PUN AI LAKUKAN UNTUK MEMBERI SEMANGAT DALAM DIRI AI.
BUAT KALIAN JANGAN LUPA YA TETAP MEMBERIKAN LIKE, KOMENTAR DAN VOTE KALIAN!
__ADS_1