
Suasana begitu tegang dan hening, karena Aisyah yang masih proses penanganan Dokter. Entah separah apa kecelakaan yang menimpa Aisyah, sehingga Aisyah masih juga belum sadarkan diri.
"Yulian, dimana Aisyah sekarang?" Tanya pak Brian kepada Yulian dengan rasa khawatir. Dan Yilian masih setia menunggu Aisyah sedari tadi.
"Om Brian, Aisyah masih ada didalam om. Dia masih ditangani sama tim dokter." Jawab Yulian yang tidak bisa membendung air matanya.
"Ma'af sebelumnya, kamu siapa ya? Dan ada hubungan apa antara kamu dengan adik saya?" Tanya Maryam yang penasaran dengan keberadaan Yulian, yang belum pernah dikenal oleh Maryam.
Saat rasa penasaran Maryam muncul dan menanyakan kepada Yulian tentang siapa Yulian, ia tidak memandang wajah Yulian. Karena ia masih mengingat akan tentang larangan agama. Di mana seorang wanita harus menjaga pandangannya.
Maryam tahu betul cara memandang kaum adam yang bukan makhramnya. Dan sedangkan Aisyah, Aisyah memang dulu bertolak belakang dengan Maryam, namun kini Aisyah sudah mulai proses dalam perubahan yang lebih baik.
Di saat Aisyah tak sadarkan diri jilbab dan cadar Aisyah pun di buka, untuk menangani perdarahan dibagian kepalanya. Ya, untung saja tanpa disengaja yang merawat Aisyah itu seorang dokter perempuan. Jadi tim medis tidak sungkan, karena kita sesama sejenis.
"Ma'af, aku dulu pernah menjadi pacarnya Aisyah. Namun, sekarang Aisyah meminta kita berpisah. Meskipun begitu, aku masih tetap mencintainya sampai kapanpun." Jawab Yulian dengan keseriusan dan kejujuran di dalam hatinya.
"Terus, bagaimana bisa kejadian ini terjadi pada Aisyah? Apa kamu berada ditempat kejadian?" Tanya Maryam lagi kepada Yulian.
"Ma'af, kejadian sebenarnya saya tidak berada di tempat itu. Namun, yang saya tahu Aisyah sudah tergeletak tak sadarkan diri. Dan kata orang yang mengerumuni Aisyah waktu disrempet mobil, mobil itu tidak bertanggung jawab. Maka dari itu, saya membawa Aisyah langsung menuju ke Rumah Sakit setelah aku mengenali bahwa itu Aisyah." Kata Yulian menjelaskan.
"Baiklah nak, sebelumnya om berterimakasih atas bantuan kamu. Namun, sebaiknya kamu pulang saja. Ini sudah terlalu malam, kasihan juga dengan orang tua kamu yang mencari kamu nanti." Tutur pak Brian kepada Yulian dengan penuh kelembutan.
"Iya, sebaiknya kamu pulang. Sebelumnya ma'af, lagi pula kamu dan Aisyah bukan mukhrimnya!" Timpal Maryam selanjutnya.
"Baiklah, kalau itu mau om. Saya akan pergi, namun saya berpesan sama om jangan lupa kabari saya kalau ada apa-apa dengan Aisyah." Kata Yulian yang masih khawatir dengan keadaan Aisyah.
Dengan berat hati Yulian meninggalkan Aisyah yang masih terkapar lemah dan diperiksa oleh dokter. Namun tak pernah lupa dalam benaknya untuk selalu mendo'akan yang terbaik untuk Aisyah.
Tubuh tingginya nan gagah, kini tak lagi tegak seperti biasanya. Mata yang terang, kini menjadi mata yang sayup penuh dengan kesedihan. Dia merasa lemah tak berdaya saat melihat orang yang dia cintai terkapar tak sadarkan diri.
__ADS_1
Semakin jauh langkah kaki Yulian meninggalkan ruangan Aisyah. Dan sampai akhirnya dokter yang memeriksa Aisyah keluar dari ruangan. Suasana masih begitu tegang.
"Dokter, bagaimana keadaan putri saya?" Tanya pak Brian kepada dokter dengan perasaan yang begitu khawatir.
"Iya dok, bagaimana keadaan adik saya?" Imbuh Maryam.
"Oh iya pak, putri bapak alhamdulillah sudah melewati masa kritisnya. Mungkin sebentar lagi dia akan sadarkan diri ." Ucap dokter itu dengan senyum yang melebar.
"Alhamdulillah, terimakasih Ya Allah! Terimakasih juga untuk dokter, karena dokter sudah berusaha untuk menolong anak saya!" Ungkap pak Brian kepada dokter sekaligus tak lupa mengucap syukur.
"Iya pak, sama-sama. Kalau begitu saya permisi dulu ya pak!" Ucap dokter Kania berpamitan.
"Baik dok, silahkan!" Balas pak Brian dan Maryam secara bersamaan.
"Permisi pak Brian, anda ditunggu di ruangan administrasi untuk segera membayar tagihan." Ucap salah satu suster yang meminta pak Brian untuk segera membayar biaya di Rumah Sakit selama Aisyah nanti masih berada di Rumah Sakit.
"Maryam, kamu tidur saja dulu!" Ucap pak Brian kepada Maryam yang kebetulan jam sudah menunjukkan pukul 02.30.
"Baiklah Pa, Maryam akan tidur sebentar. Papa juga jangan lupa untuk tidur." Kata Maryam yang mengiyakan.
****
Tepat jam 04.30 di mana suara adzan subuh sudah berkumandang, di situlah Aisyah mulai membuka kedua matanya secara perlahan.
Ku pandangi langit-langit ruangan ituG, mencoba mengingat apa yang sudah terjadi kepadaku.
"Aisyah, alhamdulillah kamu sudah sadar!" Ucap kak Maryam yang berada disisiku.
Mungkin saja kak Maryam habis dari mushola untuk menjalankan sholat subuh.
__ADS_1
Aku mengerdipkan kedua mataku secara perlahan dan membalas ucapan kak Maryam dengan senyuman tipis.
"Pa, bangun Pa! Aisyah sudah sadar!" Ucap kak Maryam terdengar samar yang membangunkan Papa dengan bahagia.
Akhirnya Papa terbangun juga dari tidurnya. Dengan rasa bahagia dan senyumnya yang melebar, Papa memelukku.
"Aisyah, kamu tidak apa-apa kan nak? Ada yang sakit sayang? Papa khawatir dengan keadaan kamu yang terbaring lemah. Papa tidak mau kehilangan kamu!" Ucap Papa tanpa henti yang membuat hatiku luluh, marah atau bahkan yang lainnya.
"Aisyah, kakak panggil dokter dulu ya!" Ucap kak Marywm.
Kak Maryam beranjak pergi dari ruangan untuk memanggil dokter yang menanganiku. Dan akhirnya hanya ada aku dan Papa yang masih berada di dalam ruangan.
"Pa, apa papa sayang sama Aisyah?" Pertanyaan yang terlontar dari mulutku yang sontak membuat wajah Papa mengerutkan keningnya dan membulatkan matanya.
"Bicara apa kamu itu Aisyah, putri papa yang mungil dan manja ini? Ya jelas papa sayang sama Aisyah, papa tidak mau kehilangan putri papa ini!" Ucap papa dengan sentuhan jari-jarinya yang mengusap keningku dan menciumnya.
"Tapi pa, Aisyah dengar pembicaraan papa dengan kak Maryam waktu itu. Aisyah dengan jelas telah mendengar bahwa Aisyah bukan putri kandung papa!" Ungkapku pada papa dengan tubuh yang masih lemas.
"Sudahlah, kamu jangan terlalu banyak pikiran dan jangan berpikir yang macam-macam dulu! Sembuhkan dulu badan Aisyah, nanti papa akan ceritakan yang sebenarnya kepada Aisyah. Papa janji! Papa dan kak Maryam itu, sangat sayang sama Aisyah dan tidak mau kehilangan Aisyah." Lagi-lagi papa telah membuatku luluh dengan penjelasan dan kasih sayangnya.
"Pa, kenapa Aisyah ada disini?" Tanyaku yang baru menyadari keberadaanku yang terasa asing.
"Kamu semalam kesrempet mobil, dan untung saja ada Yulian yang siaga membawamu ke Rumah Sakit." Jawab papa yang menjelaskan secara perlahan.
Tiba-tiba suara langkah kaki memasuki ruanganku dan tak lain itu adalah dokter yang mungkin menanganiku dan diikuti kak Maryam dari arah belakang, serontak membuat percakapan ku dengan papa terhenti. Padahal, masih banyak pertanyaan yang ingin ku lontarkan dan ungkapkan kepada papa. Tapi ya sudahlah, apa boleh buat. Aku harus menunggu dokter itu selesai memeriksaku.
"Hah, Yulian? Kenapa lagi-lagi Yulian yang menolongku?" Tanyaku dalam batin yang masih tidak percaya. Bayangkan saja, orang yang menyakitiku malah menolongku. Kalian pun pasti merasa heran kan?
Bersambung...
__ADS_1