
π¦π¦π¦π¦
Disaat Yulian sedang mengurus beberapa hal, disaat itu pula orang terdekat Yulian mencari-cari keberadaannya.
"Dimana Yulian?" Tanya seseorang dari sebrang.
"Ma'af bos, saya kurang tahu dimana Tuan Yulian sekarang. Mungkin saja, dia kembali ke rumah sakit lagi." Jawab Joko.
"Rumah sakit? Maksud kamu?" Tanya seseorang dari sebrang.
Joko pun menjelaskan tentang apa yang sudah terjadi selama 2 hari yang lalu. Dan itu membuat papa Yulian merasa marah kepada Yulian. Ya...yang menelfon Joko dan berbincang dengannya sedari tadi adalah papanya Yulian.
"Kasih tahu kepada Tuan mu itu untuk segera menemuiku." Ucap papa Yulian seakan mengancam.
Perbincangan itu pun selesai dengan kemarahan bos besarnya Joko, yaitu papanya Yulian. Sedangkan Joko hanya bisa menghela nafas panjang karena, merasa kasihan kepada Tuan nya itu.
"Lebih baik, aku tidak usah memberi tahu Tuan Yulian kalau papa nya sedang mencarinya. Tuan Yulian, semoga kamu baik-baik saja dan selalu bahagia." Joko mengucap kan sesuatu dalam batinnya untuk mendo'akan Yulian.
πΏπΏπΏπΏ
"Semangat Yulian, kamu pasti bisa menghadapi papa dan meluluhkan hatinya." Ucap Yulian dalam batinnya.
Yulian kali ini mengunjungi papanya di rumah papanya. Ya...semenjak 2 tahun lalu, Yulian pergi ke luar negeri karena perintah papanya. Dan setelah dia sukses, dia menyuruh Joko untuk membeli sebuah rumah mewah tanpa sepengetahuan papanya. Dia berusaha untuk memberanikan diri menemui papa nya, karena selama ini hubungan mereka tidak begitu baik.
"Assalamu'alaikum!" Yulian mengucap salam.
"Wa'alaikumsalam. Eh Tuan Yulian!" Ucap seorang pembantu yang bekerja di rumah itu.
Yulian menampak kan senyumannya untuk membalas bik Inem yang menyapanya dengan senyuman saat membuka pintu depan rumah itu.
"Papa ada bik?" Tanya Yulian.
"Ada kok Tuan. Ada di kamarnya." Jawab bik Inem sambil menunjukkan kamar bos besarnya itu.
"Baiklah bik. Terimakasih banyak ya bik!" Balas Yulian dan dia pun berlalu meninggalakan bik Inem.
Ketegangan itu pun di rasakan kembali oleh Yulian. Dia takut untuk menghadapi papanya. Karena, setiap perlawanan atau yang tidak di sukai oleh papanya itu akan membuat Yulian bertengkar dengan papanya. Namun, dia saat ini ingin berbicara secara empat mata dengan papanya untuk meminta ijin.
__ADS_1
πΊπΊπΊπΊ
"Kira-kira....Yulian tadi kemana ya? Kenapa wajahnya sepertinya ada rasa ke khawatiran." Ucap Fadli dalam batinnya.
Kini Fadli masih setia menemani adiknya yang belum sadarkan diri. Sedangkan Maryam, dia kembali bertugas menjalankan tugas nya sebagai dokter.
"Assalamu'alaikum!" Ucap Maryam seraya membuka pintu ruangan Aisyah.
"Wa'alaikumsalam, eh bunda toh yang datang." Jawab Fadli dengan senyum kecil.
"Iya yah, ayah pasti belum makan siang kan?" Tanya Maryam merasa khawatir dengan suaminya.
Semenjak kejadian itu, Maryam dan Fadli jarang berselera makan. Tapi, mereka harus bisa mengontrol jadwal makan mereka agar tidak jatuh sakit dan mereka juga harus tetap menjaga sekaligus menemani Aisyah.
"Belum sih bun, memangnya bunda sudah?" Fadli berbalik bertanya.
"Belum juga sih yah. Ya sudah kita cari makan saja dulu bagaimana? Tapi, sebelumnya kita sholat dzuhur dulu di mushola." Jawab Maryam.
"Baiklah. Ayah setuju dengan bunda." Balas Fadli mengiyakan.
Jam sudah menunjukkan pukul 12.00 siang. Memang benar sudah waktunya untuk menjalankan sholat dzuhur dan waktunya untuk makan siang, Sehingga Fadli dan Maryam memutuskan untuk menjalankan kewajibannya sebagai umat muslim.
"Aisyah, aku akan berjuang untuk bisa memilikimu dan tetap bersamamu." Ucap Yulian dengan penuh semangat.
Pertemuannya dengan papanya sudah di lakasnakan. Kini, dia akan melanjutkan urusannya yang kesekian. Namun, sebelum menlajutkan urusannya dia akan melakasanakan kewajibannya sebagai umat muslim.
"Halo, assalamu'alaikum Joko." Yulian menelfon Joko yang berada disebrang.
"Wa'alaikumsalam Tuan. Ada apa Tuan?" Tanya Joko kepada Yulian dengan sopan.
"Bagaimana dengan Juna?" Yulian berbalik bertanya.
"Juna baik-baik saja Tuan. Dia makan dengan lahab dan bermain juga ......" Jawab Joko menjelaskan secara detail tentang kegiatan Juna selama di rumah Yulian.
"Baiklah, aku titip Juna ke kamu. Tolong jaga dia. Kalau begitu, aku tutup dulu telfonnya." Ucap Yulian yang kemudian menutup telfonnya dengan ucapan salam.
Setelah menelfon Joko, Yulian kembali melangkahkan kaki untuk menuju sebuah mushola. Eits....tapi jangan kalian kira sedari tadi Yulian jalan kaki atau naik taxi ya! Asal kalian tahu nih ya, sebenarnya Yulian itu anak orang kaya loh. Dan dia bisa panggil pesuruhnya untuk mengantarkan mobil yang akan dia kendarai. Hebat dan keren kan Yulian! Hohoho...!
__ADS_1
"Ma'afkan Yulian pa, kali ini Yulian memiliki keputusan Yulian sendiri." Ucap Yulian penuh keyakinan.
Setelah 15 menit Yulian melakukan sholat dzuhur, dia kemvali melangkahkan kaki menuju mobilnya. Dan setelah itu, dia akan melajukan mobilnya untuk melanjutkan urusannya yang kesekian.
πΏπΏπΏπΏ
Fadli dan Maryam berusaha menikmati makan siangnya. Karena, setiap pemberian dari Allah mereka wajib untuk mensyukuri dari yang besar maupun kecil. Lain dari Yulian. Dia sedang sibuk melanjutkan urusannya sehingga, dia tidak menyempatkan makan siang nya. Ya..bisa dibilang dia melupakan setiap jam makan nya.
"Bun, sebenarnya....Yulian tadi mau kemana ya kira-kira? Sepertinya dari raut wajahnya itu terlihat keseriusan dan khawatir. Bagaimana menurut bunda?" Tanya Fadli.
"Iya yah benar juga kata ayah. Bunda juga melihat hal yang sama. Semoga dia tetap di lindungi sang kuasa dan selalu di lancatkan dalam hal baik nya. Amin!" Pendapat Maryam.
"Amin bun. Semoga seperti itu. Dan semoga Aisyah juga segera sadarkan diri dari koma nya, sehingga mereka bisa dipertemukan dengan kehidupan yang baru dan bahagia." Ucap Fadli penh harap.
"Iya ayah. Betapa bahagianya mereka nanti saat mereka bisa bertemu bukan dalam keadaan seperti ini." Balas Maryam dengan senyum manisnya dibalik cadar hitam yang dia kenakan saat ini.
Fadli dan Maryam selalu memberikan do'a yang terbaik untuk Yulian dan Aisyah. Mereka sebagai kakak-kakaknya Aisyah, menginginkan yang terbaik untuk adiknya itu.
ππππ
"Assalamu'alaikum!" Yulian mengucap salam.
"Wa'alaikumsalam!" Balas seseorang dari dalam
"Permisi bu!" Ucap Yulian kembali.
"Ma'af, kamu siapa ya? Tapi, sebelumnya silahkan masuk dulu!" Ucap ibu paruh baya yang selaku pemilik rumah itu.
"Iya bu, terimakasih banyak." Balas Yulian dengan senyum.
"Silahkan duduk dulu! Mau saya buatkan minum apa?" Tanya ibu paruh baya itu.
"Emm...Ibu tidak perlu terlalu repot-repot. Saya hanya ingin bertemu dengan Pak Brian." Jawab Yulian menjalaskan.
"Baiklah, saya akan panggilkan suami saya dan sekalian membuatkan minum buat kamu nak." Balas bu Maria.
Ya...Yulian datang ke rumah pak Brian selaku papa Aisyah. Entahlah urusan apa yang membuat Yulian mendatangi rumah papa nya Aisyah. Semoga saja urusan itu adalah urusan yang baik.
__ADS_1
BERSAMBUNG...
SAMPAI DISINI DULU YA...! JANGAN LUPA BERIKAN LIKE, KOMENTAR DAN VOTE KALIAN. TERIMAKASIH!