HIJRAH CINTA

HIJRAH CINTA
Percayai Aku


__ADS_3

"Berhenti!"


Aku pun berteriak setelah melihat seorang lelaki tengah memukuli seorang gadis yang umurnya sebaya dengan Cahaya. Dan hal itu membuatku tak bisa hanya terdiam dengan seribu bahasa saat di dalam mobil seraya melihat hal yang tidak sewajarnya. Sehingga aku memutuskan untuk menghentikan aksi kekerasan itu.


"Siapa kamu? Berani sekali kamu menghentikan apa yang sedang aku lakukan." Lelaki paru baya itu menatapku tajam.


Sejenak aku terdiam dan memutar otak ku untuk menjawab pertanyaan dari lelaki itu. Bahkan lidahku seketika merasa kaku, seolah rasa takut tiba-tiba merasuk jiwaku. Namun, aku tidak ingin jika gadis itu terus dipukuli begitu saja. Sedangkan wajahnya sudah dipenuhi dengan luka lebam yang membiru.


"Saya Aisyah. Kenapa Anda bisa memukuli gadis itu? Apa keslahannya?"


Aku pun memberanikan diri untuk bertanya kepada lelaki itu. Namun, masih terbesit rasa takut di dalam diriku untuk menghadapi apa yang selanjutnya akan terjadi. Akan tetapi, aku harus bisa menguatkan dan memberanikan diri untuk bisa membela gadis yang sudah terluka karena pukulan keras dari lelaki itu. Sehingga aku tetap maju menghadapi setiap hal yang sedari tadi aku takutkan.


"Kamu tidak perlu mencampuri urusanku yang memukuli Dia! Lebih baik sekarang kamu pergi saja!"


Lelaki itu menatapku dengan begitu tajamnya. Tapi aku harus bisa melawan lelaki itu untuk mendapatkan keadilan atas perbuatan penganiayaan yang keji, yang sudah dilakukannya terhadap gadis yang kini tersungkur di jalan seraya menundukkan pandangannya. Dan itu sungguh membuatku merasa sedih, seolah harga diri seorang wanita tidak pernah ada dan tidak di anggap sama sekali dalam kehidupan. Sehingga pelecahan dan perbuatan kekerasan mudah tercipta begitu saja. Dan aku sebagai seorang wanita pengikut dari Sayyidatina Fatimah Azzahra, aku harus membela martabat wanita.


"Jangan pernah berharap bahwa saya akan menuruti semua perkataan Anda. Dan Anda harus ingat, saya tidak akan pernah pergi sebelum Anda menghentikan semua ini, lalu pergi dari sini." Aku memberanikan diri untuk berbicara lantang dan tegas kepada lelaki itu.


"Kurang ajar! Sebenarnya siapa kamu itu? Sungguh sangat berani kamu meminta dan terus mengusikku atas apa yang sudah kuperbuat terhadap gadis ini?"


"Jelas saya berani. Karena gadis ini patut untuk dibela dari orang seperti Anda. Dan lebih baik sekarang Anda pergi dari sini!" Nadaku semakin meninggi.

__ADS_1


"Plak,"


Tiba-tiba aku merasakan sakit yang luar biasa setelah tangan yang kekar dari lelaki itu menampar keras pipiku. Sejenak aku terdiam karena merasa terkejut atas apa yang baru saja ku alami. Bahkan gadis itu sontak berdiri dan menghampiriku lalu berkata, "Apakah Anda baik-baik saja?"


Sejenak aku menatap wajah gadis itu, ku usap halus pipinya yang memerah dan melebam. Dan untuk memberikan jawaban atas pertanyaannya, aku mengangguk pelan untuk mengiyakan. Seolah aku benar-benar baik-baik saja, tetapi kenyataannya tidak. Karena kakiku mulai merasa gemetar ketika kutatap kembali wajah yang begitu menyeramkan dari sosok lelaki yang kasar itu. Seakan kedua bola matanya siap keluar dan terjatuh begitu saja.


"Pergilah dari sini, aku mohon!"


"Tidak. Aku akan tetap berada disamping kamu dan membantu kamu melewati semua ini. Karena, jika aku pergi maka kamu akan bahaya berada di sampingnya. Jadi, aku mohon sama kamu untuk percayai aku." Kutatap lekat sepasang mata biru itu.


Perlahan apa yang kuminta akhirnya dapat dimengerti dan juga dipercayai oleh gadis bertudung itu. Sehingga aku kembali bersemangat untuk melawan lelaki yang tidak memiliki hati nurani terutama terhadap seorang wanita. Dan itu tidak bisa aku terima begitu saja, karena seakan harga diriku pun ikut hancur lebur saat mengingat kekerasan itu terjadi kepada gadis yang belum aku kenal sama sekali.


"Masih beranikah kamu berada di sini? Asal kamu tahu saja, gadis yang kamu tolong ini bukanlah gadis yang seperti kamu pikirkan. Gadis ini lebih buruk, karena Dia hanya memanfaatkan tudung itu untuk menutupi kelakuan buruknya." Ungkap lelaki itu seraya menarik paksa jilbab yang menutupi mahkota gadis itu.


Gadis itu berteriak dengan keras, seolah ia merasa malu ketika jilbab itu terlepas dari atas rambutnya. Bahkan derai air mata mengalir begitu saja membasahi pipinya. Dan itu membuatku merasa kelu atas pelecehan yang dilakukan lelaki itu terhadap gadis bertudung, yang ada dihadapanku. Sedangkan lelaki itu begitu merasa senang atas apa yang diperbuatnya. Seolah Dia merasa puas setelah melepas jilbab yang dikenakan gadis itu.


"Apa yang sudah Anda lakukan, Tuan? Apa Anda tidak memiliki iman sama sekali? Di mana hati nurani Anda sebagai seorang lelaki? Dan saya meminta kembalikan jilbab itu kepadanya!" teriakku menekankan.


"Kenapa kamu harus membela gadis tidak tahu diri itu? Apakah kamu juga sama saja seperti Dia? Hanya menutupi tubuhmu agar keburukanmu tidak terlihat, hah?"


Ingin sekali aku berubah menjadi Aisyah yang seperti dulu, liar tanpa mementingkan agamaku. Akan tetapi, aku sudah berpikir kedua kali untuk mengatasi masalah ini. Di mana aku hanyalah Aisyah yang sekarang, lebih mengutamakan agama untuk menuju surga. Sehingga aku tidak ingin membalas kejahatan dengan kejahatan, pukulan dengan pukulan, bahkan juga dengan kekerasan. Dan aku akan membalas semua perbuatannya di pengadilan, karena aku ingin lelaki itu mendapatkan hukuman yang setimpal atas perbuatannya. Siapa tahu saja perbuatannya itu dilakukan lebih dari satu kali terhadap gadis bertudung itu.

__ADS_1


"Maaf! Mungkin Anda salah mengartikan apa yang saat ini saya kenakan. Tapi ini adalah kewajiban sebagai umat Muslim untuk menutupi seluruh aurat saya daripada perempuan. Dan lebih baik saya daripada Anda, Tuan. Jika Anda masih ingin melawan dan menyakiti seorang wanita tanpa berbelah kasih, maka saya akan melawan Anda di pengadilan." Aku mengancam lelaki itu.


"Cuih,"


Lelaki itu meludahi perkataan yang sudah ku lontarkan, seolah sama sekali tidak menganggap perkataanku itu sebagai ancaman buatnya. Bahkan, lelaki itu berbalik menantangku, "Lakukan saja jika kamu berani berhadapan dengan saya!"


"Jangan lawan lelaki seperti Dia! Karena Dia tidak mungkin bisa Anda kalahkan begitu saja." Gadis itu merengek kepadaku.


"Kamu tidak perlu khawatir, karena kamu akan mendapatkan kemenangan setelah Dia mendapatkan hukuman yang setimpal atas perbuatannya. Percayai aku, bahwa aku mampu melawan lelaki seperti Dia!"


"Please, listen to me! Dia lelaki yang begitu jahat. Saya tidak ingin Anda masuk ke dalam sebuah jurang yang nanti akan menghancurkan Anda." Gadis itu menatapku dalam.


Aku merasa iba atas sikap gadis itu yang hendak membelaku dan mengkhawatirkan ku. Akan tetapi, hatiku tetap bergerak untuk melawan ke-tidakadilan yang ada dalam diri gadis itu. Bahkan aku siap merelakan diriku jika aku tidak berhasil melawan lelaki itu di pengadilan nanti. Sehingga aku memutuskan untuk siap melangkah lebih jauh demi sebuah kemenangan yang berarti.


"Iya, aku mendengar kamu. Dan aku tahu lelaki itu lebih kejam dari apa yang aku pikirkan saat ini. Tapi aku tidak terima jika kamu mengalami hal seperti ini, karena dalam Islam kedudukan wanita lebih tinggi daripada lelaki. Dan aku meminta kepada kamu untuk mendukungku dan mempercayai aku." Kutatap lekat wajah gadis itu.


Setelah kesekian aku merayunya, akhirnya hatinya pun luluh bak lilin yang meleleh dengan seiring waktu. Sehingga aku pun membalas tantangan lelaki itu dengan berkata, "Baiklah! Mungkin saat ini Anda merasa menang melawan saya, Tuan. Tapi setelah ini kita akan bertemu di pengadilan. Assalamu'alaikum,"


Aku pun berucao salam lalu, pergi meninggalkan lelaki itu bersama gadis bertudung tanpa melihat kembali wajah yang begitu menyeramkan. Dan saat aku melangkahkan kakiku menuju di mana mobil yang ku kendarai telah terparkir, sejenak aku mendengar umpatan dari mulut kasar lelaki itu.


"Cuih! Berani sekali wanita itu menerima tantanganku. Lihat saja apa yang akan kulakukan jika Dia melaporkan ku ke polisi. Maka aku akan membuat hidupnya lebih hancur daripada apa yang kuperbuat terhadap putriku sendiri." Lelaki itu terdengar kembali meludah.

__ADS_1


Aku tidak menghiraukan sama sekali apa yang dikatakan oleh lelaki itu. Sehingga aku tetap melajukan langkahku seraya merangkul gadis bertudung yang dipenuhi dengan luka lebam di tubuhnya. Setelah sampai di mobil, aku meminta gadis itu untuk ikut bersamaku dan masuk ke dalam mobil yang menjadi kendaraanku untuk menuju kembali ke Edinburgh Centeral Mosque. Di mana Yulian dan Arjuna tengah menunggu kehadiranku bersama Cahaya. Begitupun dengan gadis bertudung itu, ia mengiyakan ajakanku. Dan kami pun masuk bersama ke dalam mobil. Saat masuk ke dalam mobil, sejenak ku hempaskan nafas yang terasa begitu berat, yang membuatku merasa begitu sesak. Dan tidak lama kemudian aku pun menyalakan mesin mobil lalu, melajukannya dengan kecepatan sedang tanpa menyapa Cahaya sedikitpun.


__ADS_2