HIJRAH CINTA

HIJRAH CINTA
BAB 97


__ADS_3

🌺🌺🌺🌺


"Aisyah!" Teriak Yulian memanggil Aisyah.


"Umi!" Teriak Juna memanggil umi-nya yang tak lain adalah Aisyah.


Yulian dan Juna seketika panik melihat Aisyah jatuh pingsan. Sesegera mungkin Yulian membopong Aisyah ke kamar mereka. Sedangkan Juna, ia mencari Maryam untuk segera memeriksa Aisyah.


"Bunda...!" Teriak Juna memanggil Maryam.


"Ada apa Juna? Kenapa kamu terlihat panik?" Tanya Maryam penasaran.


Juna menceritakan apa yang sudah terjadi. Setelah mendengar cerita dari Juna, Maryam dan yang lain ikut panik dan khawatir. Dan Maryam pun segera menuju ke kamar Aisyah untuk melihat keadaan Aisyah.


"Yulian, bagaimana keadaan Aisyah?" Tanya Fadli memastikan.


"Aku tidak tahu kak, tiba-tiba saja Aisyah pingsan dan tubuhnya jatuh ke lantai." Jawab Yulian menjelaskan.


"Ya sudah, kalian tunggu saja diluar. Jangan berkerumunan di sini. Biar aku yang memeriksa keadaan Aisyah." Tutur Maryam.


Yulian dan yang lainnya menuruti apa yang dipinta Maryam. Namun, Yulian masih tidak tenang. Dia mondar-mandir di depan pintu dengan rasa gelisah dan khawatir.


Setelah beberapa menit kemudian, keluarlah Maryam dari kamar Aisyah. Dan dengan sergapnya Yulian menghampiri Maryam dan menanyakan keadaan Aisyah.


"Kak Maryam, bagaimana keadaan Aisyah?" Tanya Yulian dengan khawatir.


Namun, pertanyaan Yulian tidak langsung dijawab oleh Maryam. Melainkan hanya senyuman dibalik cadarnya yang Maryam tampak-kan. Dan itu membuat Yulian dan yang lainnya semakin penasaran.


"Kak, bagaimana keadaan Aisyah?" Tanya Yulian lagi.


"Selamat Yulian!" Jawab Maryam singkat.


"Selamat apa kak?" Tanya Yulian memastikan.


"Selamat, karena sebentar lagi kamu dan Aisyah akan menjadi orang tua yang hebat. Karena Juna sebentar lagi akan menjadi seorang kakak." Jelas Maryam.


Seketika semua terkejut dan merasa tidak percaya akan keajaiban yang di karuniakan untuk Aisyah. Mereka benar-benar merasa terharu dan menitihkan air mata karena bahagia.


"Apa itu benar kak?" Tanya Yulian memastikan.


"Iya Yulian, Aisyah tengah mengandung sudah dua bulan." Jawab Maryam.


"Bolehkah aku masuk kak?" Tanya Yulian lagi.


"Silahkan, kamu dan Juna boleh masuk kok." Jawab Maryam tersenyum.

__ADS_1


Yulian dan Juna memasuki kamar di mana Aisyah tengah beristirahat. Dan terlihat jelas bahwa Yulian dan Juna begitu bahagia dengan kabar yang telah mereka dengar itu.


"Emmmuuuaaaccchhhh...!" Kecupan Yulian pun melayang ke kening Aisyah.


Sehingga Aisyah terbangun dari pingsannya. Secara perlahan Aisyah telah membuka kedua matanya.


"Alhamdulillah, akhirnya umi sadar juga." Ujar Juna bahagia.


"Umi ada di mana abi?" Tanyaku memastikan.


"Umi kan berada dirumah mama Maryam. Tadi umi itu tiba-tiba pingsan dan jatuh ke lantai." Jawab Yulian memberi tahu.


"Iya umi, sampai-sampai abi dan Juna merasa panik melihat umi jatuh pingsan." Sambung Juna menimpali.


"Iya sayang, entah kenapa tadi itu umi merasa begitu pusing. Dan seakan umi merasa tidak kuat untuk menahannya." Ujarku menjelaskan.


Saat aku mengatakan apa yang tengah aku rasakan, entah kenapa dan ada apa di antar Yulian dan Juna. Seakan mereka sedang menyembunyikan sesuatu hal kepadaku.


"Kalian kenapa memandangi umi seperti itu? Apa ada yang salah dengan umi?" Tanyaku penasaran.


Namun tidak ada jawaban pasti dari mereka. Malahan, mereka menampilkan senyum mereka. Dan itu membuatku merasa aneh kepada mereka.


"Ada apa sih? Kenapa kalian hanya tersenyum?" Tanyaku memastikan.


"Abi saja yang bilang sama umi, Juna mau ke kamar Juna lagi. Soalnya Juna harus mengerjakan tugas-tugas sekolah. Sahut Juna.


Ya, sebelum Juna memutuskan untuk kembali ke kamarnya, Juna mencium pipi Aisyah dengan penuh kasih sayang.


*****


"Kertas apa itu?" Tanya Karina dalam batinnya.


Ya-Karina memasuki kamar Juna dan tanpa sengaja melihat kertas yang berisikan sebuah surat tentang cinta kepada Juna.


"Hah, surat pengaguman?" Ucap Karina.


"Srreeettt..!" Suara kertas yang direbut.


Saat Juna memasuki kamarnya kembali, Juna yang melihat Karina sedang memegang selembar kertas, di mana yang bertuliskan sebuah isi hati seorang gadia kepada Juna. Juna pun langsung mengambil secara tiba-tiba dari arah belakang.


"Kenapa kak Karina datang ke kamarku?" Tanya Juna sinis.


"Tidak apa-apa kok. Tadinya sih mau pinjam buku matematika. Eh, malah menemukan surat dari pengagum rahasia!" Ujar Karina menggoda Juna.


"Seharusnya kak Karina itu tidak boleh mengambil yang bukan hak nya," Ucap Juna dengan nada marah.

__ADS_1


"Tapi kan kakak tidak sengaja melihatnya Juna, terus karena rasa penasaran juga sih akhirnya kakak membacanya." Balas Karina sambil tersenyum memperlihatkan giginya. Tapi untung saja tidak terlihat ekspresi konyol Karina, karena cadarnya yang menutupi wajahnya kecuali kedua matanya.


****


"Kamu kenapa sih sayang dari tadi kok senyum-senyum terus? Masak istrinya lagi sakit malah senyum-senyum tidak jelas." Aku pun menggerutu karena kesal.


"Aku tuh lagi merasakan senang, senang banget malahan." Balas Yulian yang tidak aku mengerti.


"Apa sih maksud kamu? Kamu senang ya kalau aku sakit?" Tanyaku menerka.


"Bukan masalah itu sayang, tapi aku tuh senang karena sebentar lagi yang kita tunggu-tunggu kehadirannya selama sepuluh tahun kini telah hadir dalam rahim kamu." Jawab Yulian menjelaskan.


Aku terdiam sejenak. Mencoba mencerna apa yang dimaksud Yulian. Aku benar-benar tidak mengerti apa yang dikatakan Yulian. Aku bingung, dan pada akhirnya aku menyerah.


"Maksud kamu apa sih sayang? Aku itu tidak mengerti apa yang kamu katakan." Tanyaku penasaran.


"Selamat sayang, kamu saat ini sedang hamil. Kamu tengah mengandung dua bulan." Jawab Yulian yang mengejutkanku.


"Apa yang kamu bilang?" Tanyaku tidak percaya.


"Iya sayang, kamu hamil. Jadi, aku harap kamu bisa menjaga kesehatan kamu dan kandungan kamu dengan baik-baik." Jawab Yulian bahagia.


Karena rasa haru dan bahagia sedang tercampur didalam benakku, tiba-tiba air mata ini menitihkan air mata dan membasahi pipiku.


"Loh, kok malah nangis sih?" Tanya Yulian sambil menghapus air mata yang belum sempat membasahi pipiku.


"Aku itu menangis karena bahagia sayang. Aku tidak menyangka saja bahwa keajaiban itu telah datang." Jawabku menjelaskan.


Yulian pun melayangkan pelukannya untuk mendekapku. Aku benar-benar bahagia dengan apa yang aku dengar dan tengah aku rasakan saat ini. Namun, tiba-tiba aku teringat akan sesuatu hal.


"Oh iya sayang, bagaimana tentang kamu yang mau pergi ke Kairo?" Tanyaku penasaran.


"Kalau kamu tidak keberatan, aku akan tetap pergi. Tapi, jika kamu tidak mengijinkannya aku akan tetap tinggal di sini." Jawab Yulian.


"Kalau itu memang penting dan harus mewajibkan kamu untuk pergi ke sana, maka dari itu pergilah. Aku di sini tidak apa-apa. Toh ada Juna dan yang lainnya yang menemaniku sayang," ucapku mendukung Yulian, walaupun sebenarnya hati ini terasa berat saat jauh darinya. Tapi, kesabaranku saat ini sedang di uji oleh Tuhanku dan aku tidak boleh bersikap egois.


"Aku coba tanya dan rundingkan dulu sama papa kalau begitu." Balas Yulian.


"Tidak usah sayang, kalau kamu ditugaskan papa untuk pergi, kamu pergilah. Aku tidak apa-apa kok, beneran!" Ucapku meyakinkan Yulian.


"Ya sudah, kalau memang kamu mengijinkan aku, aku akan pergi. Tapi ingat, jaga kesehatan, jangan telat makan, tidak boleh kecapek-an, dan selalu ngabarin aku setiap waktu." Pinta Yulian.


"Iya!" Balasku singkat.


"Ya sudah, kamu istirahat saja kalau begitu." Ucap Yulian.

__ADS_1


Aku mengangguk pelan, mengiyakan apa yang Yulian perintahkan kepadaku. Dan Yulian masih setia menemaniku sampai aku memejamkan kedua mataku.


__ADS_2