HIJRAH CINTA

HIJRAH CINTA
Kembali Pulang


__ADS_3

Sore itu kami kembali melanjutkan perjalanan kami untuk mencari tempat makan bersama. Hingga kami pun akhirnya menemukan tempat itu yang tidak jauh dari Masjid, di mana kami melakukan sholat bersama.


Restoran itu begitu ramai, banyak sekali pengunjung yang silih berganti berdatangan masuk dan pergi. Begitu sampai di dalam kami mencari tempat duduk yang nyaman untuk melakukan aktivitas kami kala itu.


"Bagaimana kalau kita duduk di sana?"


"Baiklah Bi! Sepertinya di sana lebih nyaman." Arjuna memandangi tempat yang ditunjuk oleh Yulian.


Setelah mendapatkan tempat duduk, kami pun melanjutkan dengan memesan makanan dari beberapa menu yang dihidangkan di sana. Dan sepertinya kala itu Cahaya tengah menyidam suatu makanan yang kebetulan ada restoran itu. Sehingga Arjuna memesankannya dengan jumlah piring yang banyak, agar Cahaya mendapatkan kepuasan dalam menikmati makanan tersebut.


Tidak lama kemudian setelah kami memesan makanan seorang pelayan tengah membawa nampak dan melangkah ke tempat duduk kami berada. Karena terlalu banyak porsi yang dipesan, maka dari itu tidak cukup satu nampan untuk membawanya. Sehingga beberapa pelayan membawakannya satu persatu makanan yang kami pesan.


"Terima kasih, mbak." Yulian menatap beberapa makanan yang sudah dihidangkan.


"Sama-sama Pak-Bu, silahkan dinikmati hidangannya! Saya permisi dulu!"


Pelayan itupun membungkukkan punggungnya lalu, pergi meninggalkan kami semua setelah menghidangkan beberapa makanan yang kami pesan. Dan tidak lama kemudian kami pun menyantap makanan yang kami pilih menjadi menu sore ini. Bahkan kami begitu menikmati setiap sajian yang terasa lezat. Bukan hanya itu saja, selain rasanya yang lezat dan gurih, pemandangan sekitar restoran telah membuat aku terhanyut dalam kisah yang romantis. Karena, setiap yang datang di restoran ini dapat dipastikan memiliki pasangan. Entah mereka menjalin hubungan kekasih atau sudah menikah. Di tambah lagi dengan alunan musik yang membawa suasana menjadi tenang, menghayati setiap lirik lagu yang dinyanyikan.


"Aku mengenangnya saat kamu menyanyikan lagu itu saat hari jadi pertama kita. Apa kamu juga mengingatnya?"

__ADS_1


Aku mengirim sebuah pesan singkat kepada Yulian. Begitupun dengan Yulian yang seketika melihat ponselnya setelah mendengar ada nada pesan yang masuk ke nomornya. Dan setelah membaca pesan singkat dariku, tiba-tiba tangannya menggenggam jemariku seraya menatapku dalam. Ingin sekali rasanya aku membalas tatapan itu, tetapi aku tahu diri. Posisiku bukanlah anak remaja lagi, bahkan sebentar lagi aku akan menjadi seorang nenek. Jadi, cukup membiarkan Yulian menggenggam tanganku seraya menikmati alunan musik dan nyanyian lagu yang merdu. Begitupun dengan yang lainnya, terlihat mereka tengah menikmati sajian di restoran ini selain makanan yang tercipta akan kelezatannya.


Saat aku dan yang lain menikmati makanan yang kami suka seraya mendengarkan musik yang dialunkan, tiba-tiba Arumi meminta ijin untuk pergi ke toilet sebentar. Akan tetapi, sebelum Arumi melangkah ia sejenak menatapku seraya mengangguk pelan. Dan aku yang mengerti akan isyarat darinya, segeralah aku mengikuti Arumi ke toilet.


"Ah, Umi minta ijin ke toilet dulu sebentar. Kalian nikmati saja dulu makanannya!"


Mereka pun mengangguk pelan mengiyakan, lalu aku pun melangkah pergi mengikuti Arumi yang mungkin saja sudah menungguku di sana. Dan sesampai di toilet Arumi menungguku dengan tatapan serius yang ditujukan kepadaku. Yang membuatku merasa tidak nyaman dengan tatapan itu. Sehingga aku pun melontarkan pertanyaan kepadanya tentang apa yang hendak dikatakannya kepadaku.


"Ada apa, Arumi?"


"Aisyah, akhirnya kamu mengerti ajakanku tadi. Dan aku akan langsung mengatakannya kepadamu, karena aku merasa takut jika, ku jelaskan di sini maka akan menyita waktu yang panjang. Sedangkan aku ingin menjaganya untukmu. Jadi, aku akan mengatakannya satu kali kepadamu, daripada mereka akan curiga kepada kita." Arumi menatapku dengan tatapan serius.


Atas tatapan yang diberikan Arumi, aku merasa hal itu begitu penting. Mungkinkah itu semua tentang Khadijah? atau tentang penyakitku yang mematikan ini? Karena di antara dua rahasia itu hanya Arumi lah yang mengetahuinya. Setelah itu, aku meminta kepada Arumi untuk segera mengatakannya.


Seketika aku terkejut, antara bahagia dan juga khawatir tiba-tiba beradu menjadi satu. Karena beberapa hal yang serasa sulit aku jelaskan tentang amanah itu dan juga keinginanku. Sayang sekali, Arumi belum bisa menemukan di mana Khadijah tinggal. Sehingga aku harus bisa bersabar lagi untuk menantikan kapan aku bisa dipertemukan dengannya.


"Aisyah, kamu tidak apa-apa, kan?"


Pertanyaan yang dilontarkan Arumi dan juga sentuhan yang diberikannya seketika membuyarkan lamunanku tentang Khadijah. Dan aku seketika menjawab pertanyaanku itu dengan sedikit gagap. Namun, aku juga menyimpan banyak sekali pertanyaan tentang Khadijah. Mengapa bisa ia berada di Medan? Siapa juga yang ingin ditemuinya itu? Sedangkan rumah bu Ratih ada di Surabaya.

__ADS_1


"I don't no, Aisyah. Tapi, kamu jangan khawatir dengan semua itu, karena aku akan membantumu menemukan keberadaannya. Dan sekarang, lebih baik kita kembali bergabung dengan mereka, daripada mereka nanti menaruh curiga terhadap kita yang tidak kunjung kembali." Arumi mengangguk pelan, berusaha meyakinkanku.


Aku pun membalas anggukan Arumi untuk menyetujuinya dan aku juga menerima ajakannya yang ingin segera kembali bergabung dengan Yulian bersama anak-anak. Begitu aku menyetujuinya, kami pun melangkah bersama untuk kembali menuju ke meja makan dan bergabung dengan mereka. Dan sesampai di sana ternyata mereka sudah usai menyelesaikan makanan yang lezat.


"Kalian sudah selesai makannya?"


"Alhamdulillah sudah, Umi. Sekarang giliran Umi dan Mama Arumi untuk diminta menghabiskan makanan kalian. Dan kami akan menunggu sampai Umi dan mama Arumi usai." Ahtar pun menjawab dengan sopan, seraya menatap makanan yang masih ada di atas piring, tepat dihadapanku.


"Baiklah! Kalau begitu Umi akan menyelesaikannya. Dan tidak baik juga jika membuang-buang makanan, karena itu akan menjadi mubadzir. Benar, kan?" Aku melempar senyum kepada mereka.


"Umi memang benar. Pokoknya selalu hebat di mata anak-anaknya. Iya kan, Bang?"


"Tentu lah, dek. Abang setuju sama kamu. Umi, tetap Ibu yang baik, hebat dalam menunjukkan sebuah surga yang tertanam dalam istana kita." Arjuna menimpali seraya mentapku.


Setelah mendengar pujian dari Arjuna dan Ahtar, ingin sekali aku tertawa kecil. Namun, aku teringat akan penyakit itu, yang seringkali menghantuiku dalam bayangan semu. Akan tetapi, aku tidak ingin mereka melihatku yang menyimpan begitu banyak rahasia. Dan akhirnya aku dengan Arumi menlajutkan makan dengan menu yang menjadi pilihan kami untuk menyantapnya lagi.


Dan setelah beberapa menit kemudian aku dan Arumi akhirnya selesai juga. Begitupun dengan Yulian, tiba-tiba hadir di tengah-tengah kami setelah menerima panggilan telepon masuk ke nomornya. Sehingga Yulian memutuskan untuk segera kembali pulang ke rumah tercinta yang tercipta akan surga di dalamnya.


"Kalau sudah, kita bisa kembali pulang sekarang juga! Kasihan Cahaya yang belum istirahat sedari tadi." Yulian sejenak menatap Cahaya.

__ADS_1


Seketika aku menyetujui ajakan Yulian untuk segera kembali pulang dan merebahkan tubuh yang kurasakan lelah. Lelah dengan banyak hal, bahkan ingin rasanya aku menyerah dan pasrah detik itu juga. Namun, aku hanyalah manusia biasa yang harus menjalani hidup bak air yang mengalir disungai.


Akhirnya kami pun tiba di rumah tepat pukul 17.00 sore. Dan keputusan kembali pulang adalah sebuah keputusan yang tepat bagiku, karena setelah melakukan sholat maghrib aku harus segera meminum obat dari dokter Farhan.


__ADS_2