HIJRAH CINTA

HIJRAH CINTA
BAB 61


__ADS_3

Ya...Yulian datang ke rumah pak Brian selaku papa Aisyah. Entahlah urusan apa yang membuat Yulian mendatangi rumah papa nya Aisyah. Semoga saja urusan itu adalah urusan yang baik.


"Assalamu'alaikum om...!" Ucap salam Yulian menayapa pak Brian yang datang menghampirinya.


"Wa'alaikumsalam...!" Jawab pak Brian dengan hangat.


Pak Brian menyambut kedatangan Yulian dengan begitu hangat, karena sebelumnya sudah pernah mengenal Yulian saat Yulian menjalin hubungan dengan Aisyah di masa SMA dan kuliah waktu beberapa tahun lalu sebelum hubungan itu sempat kandas.


"Wah...sudah lama ya kamu menunggu om? Bagaimana kabar kamu?" Tanya Pak Brian sekedar basa-basi.


"Tidak juga kok om, Yulian baru saja sampai. Alhamdulillah kabar Yulian baik kok om." Jawab Yulian dengan sopan.


"Syukurlah kalau baik-baik saja. Oh iya, ngomong-ngomong ada hal apa yang membuat kamu sampai datang ke sini?" Tanya pak Brian penasaran.


"Ya om, saya datang ke sini karena ada hal yang sangat penting yang akan Yulian sampaikan kepada om. Sebenarnya...Yulian datang ke sini karena Yulian ingin meminta ijin dari om..." Belum sampai selesai Yulian berbicara, bu Maria datang dengan 2 cangkir kopi hangat yang di bawanya.


"Ini nak minumnya. Sambil mengobrol lebih baik sambil minum kopi hangat, biar tidak ada rasa ketegangan." Ucap bu Maria menyindir Yulian.


Ya...karena sedari tadi wajah Yulian menampakkan wajah-wajah yang begitu tegang. Entahlah...apa yang membuatnya setegang itu. Hohoho...!


"Hahaha..." Suara tawa pak Brian dan bu Maria yang mencairkan suasana.


"Ya...benar apa yang di katakan mama nya anak-anak. Wajah kamu sedari tadi om lihat-lihat begitu tegang. Ada apa sebenarnya, katakanlah dengan ketenangan." Tutur pak Brian dengan lembut.


"Mama nya anak-anak? Apa maksud mereka?" Tanya Yulian dalam batinnya.


"Kenapa kamu malah bengong Yulian? Katakanlah apa yang akan kamu katakan kepada kami." Sambung bu Maria.


"Ah...e...tidak kok tante...!" Ucap Yulian tersadar dari lamunannya.


"Akh sudahlah lupakan saja siapa dia. Insyaallah suatu hari pasti aku juga tahu jawaban itu." Ucap Yulian dalam batinnya.


"Sebenarnya...Yulian datang ke sini mau minta ijin kepada om dan tante. Yulian minta ijin untuk meminang Aisyah putri om dan tante." Ucap Yulian dengan lantang yang membuat pak Brian tercenganga.


"Tapi...Yulian...?" Sebelum terlanjutkan kalimat dari pak Brian, Yulian sudah memotongnya.

__ADS_1


"Tolong ijinkanlah Yulian menikahi Aisyah om, tante." Sambung Yulian kemudian.


"Sebenarnya...bukan maksud om tidak mengijinkan kamu untuk menikahi Aisyah...tapi bukan kah kamu tahu keadaan Aisyah yang sebenarnya bagaimana!" Jawab pak Brian sedih.


Ya...itulah tujuan Yulian mendatangi pak Brian di kediamannya. Entahlah bagaimana kisah selanjutnya. Apakah pak Brian akan memberikan ijin atau justru malah sebaliknya.


πŸ’¦πŸ’¦πŸ’¦πŸ’¦


"Kenapa perasaanku jadi tidak enak begini ya? Kenapa aku jadi kepikiran tentang Tuan Yulian? Apa terjadi sesuatu dengannya? Aku harus pastikan kalau dia baik-baik saja." Ucap Joko.


Joko sudah mengenal Yulian sedari Yulian masih ber umur 17 tahun. Bayangkan saja, sudah berapa tahun? Hehe...! Maka dari itu mereka sangat dekat karena, mereka sebenarnya se umuran dan Yulian pun juga menganggap Joko sebagai saudara nya sendiri.


"Nomor yang anda tuju sedang sibuk. Cobalah beberapa saat lagi." Suara operator yang menjawab telfon Joko.


"Kenapa tidak ada jawaban sama sekali? Sepertinya aku harus menemuinya. Mungkin, Tuan ada di rumah sakit itu." Ucap Joko yang semakin khawatir.


Joko pun bergegas menuju ke rumah sakit, tapi sebelumnya dia meminta pembantu yang bekerja di rumah Yulian untuk menjaga Juna selama dia pergi untuk sementara.


🌺🌺🌺🌺


"Andai kamu sudah bangun dek, kamu pasti bahagia bisa bertemu dengan Yulian." Ungkap Maryam tersenyum.


"Maryam, maksud kamu apa nak? Memangnya siapa Yulian itu?" Tanya bu Laila.


"Emm....Yulian itu seseorang yang sangat mencintai Aisyah bu. Dia lelaki yang baik ." Jawab Aisyah dengan senyum.


Ya...Maryam menceritakan segalanya kepada bu Laila. Dari awal Aisyah bertemu dengan Yulian sampai saat ini. Dan itu membuat bu Laila menitihkan air matanya secara perlahan dan membasahi pipinya.


"Aisyah... Anak ibu, betapa hebat dan kuatnya kamu nak! Ibu bangga memiliki anak seperti kamu." Ungkap bu Laila sambil tersenyum memandangi wajah putri nya itu.


Rasa hening pun kini kembali menemani Maryam dan bu Laila dalam ruangan yang hanya terdengar suara defibrillator. Dan entah apa yang terjadi dengan Aisyah, mengapa secara tiba-tiba dia meneteskan air mata.


"Aisyah, kamu kenapa menangis sayang? Apa kamu sakit? Apa kamu sedih? Apa kamu mendengar suara kami di sini?" Tanya Maryam sembari menyerka air mata yang membasahi pipi adik nya itu.


πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’

__ADS_1


"Saya tahu persis bagaimana keadaan Aisyah saat ini om, tante. Tapi, saya akan tetap berniat untuk mengkhitbah Aisyah. Tolong ijinkanlah saya untuk mengkhitbah putri om." Ucap Yulian dengan keyakinannya.


"Om akan memberikan jawaban om, tapi setelah kamu menemui dan meminta ijin kepada ayah kandung Aisyah. Karena beliau lah yang berhak atas permintaan kamu." Tutur pak Brian menjelaskan.


"Baiklah, saya setuju dengan om. Tapi bagaimana saya bisa menemui orang tua kandung Aisyah?" Tanya Yulian.


"Di rumah sakit. Om yakin mereka ada di sana. Kita akan pergi bersama." Jawab pak Brian.


Setelah pak Brian menjelaskan kepada Yulian, mereka langsung bergegas menuju rumah sakit. Yulian mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang.


Jam sudah menunjukkan pukuk 16.00 sore. Di mana suara adzan ashar sudah berkumandang. Yulian yang sedang menikmati perjalanan kota yang begitu ramai juga mendengar suara adzan itu.


"Ma'af om, sepertinya saya harus berhenti di ujung sana terlebih dahulu. Apa om dan tante keberatan?" Tanya Yulian sambil menunjuk ke arah sebuah Masjid.


"Tidak nak, kami malahan sangat senang dan tidak keberatan sama sekali." Jawab pak Brian dan bu Maria bersamaan.


Berhentilah mereka di sebuah Masjid yang begitu megah dan melaksanakan sholat ashar bersama. Sekitar 20 menit mereka pun keluar dan melanjutkan perjalanan mereka.


πŸ’¦πŸ’¦πŸ’¦πŸ’¦


"Kenapa nomornya masih saja tidak bisa di hubungi? Apakah dia sedang sibuk?" Joko masih bertanya-tanya dalam setiap perjalanannya.


"Sssttttttstststst!" Suara rem mobil.


"Astaghfirullah hal azim, hampir saja." Joko tersadar dalam lamunannya dan langsung menginjak rem mobil yang dia kendarai.


"Nenek tidak apa-apa? " Tanya Joko mendekati seorang nenek yang hampir tertabrak olehnya.


"Nenek tidak apa-apa cu. Berhati-hatilah dalam mengendarai mobil nya." Jawab nenek iti dengan lembut.


"Ma'afkanlah saya nek, karena tadi saya tidak fokus saat mengendarai mobilnya." Ucap Joko pelan dan menyesal.


"Tidak apa-apa cu!" Balas nenek itu.


Setelah hampir menabrak seorang nenek di jalan, Joko memutuskan untuk mengantar nenek itu ke tempat tujuannya. Entahlah mengapa pikiran Joko menjadi kacau saat memikirkan Yulian. Sebenarnya apa yang akan terjadi dengan Yulian?

__ADS_1


BERSAMBUNG...


HAI...SAMPAI DISINI DULU YA...BESOK UP LAGI. MA'AF DENGAN KETERLAMBATAN DALAM UP NYA. PASTI KALIAN SEMAKIN PENASARANKAN? LANJUT BESOK YA....JANGAN LUPA BERIKAN DUKUNGAN KALIAN UNTUK NOVEL INI. LIKE, KOMENTAR DAN VOTE KALIAN YA..!


__ADS_2