HIJRAH CINTA

HIJRAH CINTA
BAB 28


__ADS_3

Suasana terasa kikuk antara aku dan Fadli, karena tanpa sengaja waktu aku memandangnya tadi ternyata dia juga sedang memandangiku. Entah kenapa aku merasa malu sendiri, namun begitu hangat ketika aku memandang bola matanya. Ada tatapan yang aneh di dalamnya.


"Oh ya nak Aisyah tadi sendirian kesini?" Tanya bu Laila yang menghancurkan rasa kikuk ku sedari tadi.


"Emm...tadinya sih sama papa saya buk, tapi saat ini papa saya ada keperluan dengan pihak kantor." Jawabku dengan sopan.


"Oh begitu, kalau nak Maryam tidak ikut?" Tanya bu Laila lagi.


"Kalau kak Maryam, dia sedang menginap di rumah ibu angkatnya buk!" Jawabku yang membuat ekspresi wajah bu Laila dan Fadli bingung tidak mengerti.


"Maksud nya bagaimana nak Aisyah?" Nah, akhirnya pertanyaan itu pun terlontarkan dari mulut bu Laila.


Aku terdiam sejenak, berusaha mengumpulkan tenaga dan mencoba mengatur pernapasanku untuk menceritakan hal yang membuatku penuh keterpurakan selama beberapa waktu lalu. Meski aku tahu, tidak seharusnya aku menceritakan kisah yang menurutku rumit dan aib keluargaku. Tapi bagaimana lagi, aku merasa tak berdaya dengan pertanyaan bu Laila dan aku sendiri juga merasa perlu seseorang untuk memdengarkan curahan hatiku.


Flash back on


"Bismillahirrohmanirrokhim... Ma'afkanlah aku atas kesalahanku Ya Allah." Ucapku dalam batin.


"Jadi begini bu. Sebenarnya, Aisyah bukanlah anak kandung papa.


Suatu hari Aisyah baru pulang dari kampus, tanpa sengaja Aisyah mendengar percakapan antara papa dengan kak Maryam. Mereka membicarakan tentang kisah pilu dari masa kecilku. Di mana itu adalah cerita yang sebenarnya.


Papa dan kak Maryam sebenarnya berusaha untuk menutupi kisah itu dari Aisyah, karena papa dan kak Maryam takut jika Aisyah mengetahuinya. Tapi alhasil, mereka tidak bisa menyembunyikan itu semua tanpa mereka sengaja. Hingga pada akhirnya, Aisyah mendengar juga kisah yang seakan menampar wajah Aisyah dengan begitu kerasnya.


Aisyah merasa syok dengan kejadian ini. Bahwa Aisyah bukanlah anak kandung papa, melainkan kak Maryamlah yang menjadi anak kandung papa sebenarnya. Sedangkan Aisyah adalah anak angkat papa. Diri ini pun tidak bisa menerima secara langsung. Hingga akhirnya, malam itu Aisyah berlari dengan sejuta emosi dan itu membuat Aisyah kalut. Dan Aisyah berlari seakan tanpa ada arah tujuan yang pasti. Sehingga malam itu juga yang membuat Aisyah tidak bisa membalas pesan dari ibu, karena Aisyah mendapatkan musibah, yaitu kecelakaan.


Aisyah kesrempet mobil selama dalam perjalanan, hingga Aisyah tidak sadarkan diri dan dibawa ke rumah sakit. Karena keadaan Aisyah yang tidak memungkinkan, Aisyah harus dirawat beberapa hari dirumah sakit untuk menjalankan perawatan dan pemulihan.


Dan alhamdulillah, Aisyah sudah bisa menerima semuanya. Hari ini pun, Aisyah juga sudah masuk kuliah. Tadi nya sih kak Maryam mau ikut kesini, tapi pada kenyataanya tidak bisa. Karena, kak Maryam mau menginap dirumah ibu Maria, ibu angkatnya. Dan besok lusa adalah acara pernikahan papa Aisyah dengan ibu Maria.


flash back off

__ADS_1


"Begitulah buk cerita yang sebenarnya." Ceritaku kepada bu Laila dengan menahan kesedihan yang masih tersirat dalam diriku. Namun, aku mencoba tegar dan menahan segala kesedihan itu.


"Ya Allah, begitu berat ternyata cobaan kamu nak Aisyah!" Ucap bu Laila bersimpati.


"Tak apa buk, insyaallah Aisyah bisa menjalani ini semua dengan tegar dan sabar. Karena Aisyah juga merasa bersyukur diperkenalkan dengan keluarga yang begitu menyayangi Aisyah." Ucapku mencurahkan sedikit rasa syukurku.


"Iya ya nak, alhamdulillah. Semoga nak Aisyah tetap kuat." Bu Laila berusaha memberikan rasa semangat untuk menguatkanku.


Kami mengobrol begitu banyak. Sedangkan Fadli, dia hanya terdiam sambil mengotak-atik ponselnya. Entahlah, apa dia sedang berpura-pura sibuk atau memang benar-benar sedang sibuk.


"Aisyah, sudah apa belum urusan kamu nak?" Pesan suara menadarat ke ponselku.


Ku buka slide ponselku, lalu ku baca pesan dari papa. Setelah itu, kupandang sejenak wajah bu Laila yang terlihat begitu mendamaikan diriku dan kulirik sejenak wajah Fadli yang tatapan nya penuh dengan kedamaian.


"Ma'af bu Laila, sepertinya Aisyah harus pamit dulu. Karena, Aisyah sudah ditunggu sama papa dan ini juga sudah malam." Ucapku berpamitan setelah membalas pesan singkat dari papa.


"Oh ya sudah, Aisyah hati-hati ya dijalan! Ibu juga nitip salam buat papa Aisyah." Ucap bu Laila sembari tersenyum.


"Iya bu, insyaallah Aisyah akan menyampaikannya." Balasku dengan senyuman pula.


"Aisyah, tunggu. " Teriak Fadli yang menghampiriku.


"Ada apa kamu memanggilku?" Tanyaku penasaran.


"Sebenarnya aku cuma mau minta nomor handphone kamu, dan itu pun kalau kamu memperbolehkannya. Karena, aku merasa tidak enak kalau aku memintanya lewat ibuku." Jawab Fadli yang menjelaskan.


"Buat apa kamu meminta nomor handphoneku? Tapi ma'af, bukan bermaksud aku sombong. Tapi melainkan, kita memang bukan muhkrimnya." Balasku yang memperjelas, bukan bermaksud tidak mau berteman atau apalah. Namun, aku memang tidak bisa karena aku dan Fadli bukanlah mukhrimnya.


"Baiklah, kalau itu memang jawaban kamu. Tapi, bolehkah aku untuk bertemu dengan papa kamu?" Ucap Fadli yang membuatku heran.


"Untuk apa kamu ingin bertemu dengan papaku? Apa ada yang penting?" Tanyaku padanya karena tak mengerti apa yang dimaksud.

__ADS_1


"Iya, ada hal penting yang ingin aku katakan kepada papa kamu." Jawabnya dengan lantang.


"Baiklah, terserah kamu. " Balasku singkat.


Aku melanjutkan langkah kakiku menuju ke arah papa dimana beliau sedang menungguku dan meninggalkan Fadli yang masih berdiri mematung memandangiku dari arah belakang. Entahlah, aku merasa ada yang aneh dari dirinya.


🌹🌹🌹🌹


"Aisyah, apa kabar kamu disana? Ternyata bukan hanya DILAN saja yang merasakan rindu, tetapi aku pun juga sama. Aku merindukan kamu Aisyah, bidadariku.


Tuhan, jagakan dia untukku. Aku mencintainya dengan setulus hatiku. Aku berharap, dia akan menjadi milikku untuk selamanya. Semoga Engkau menghendakinya." Ungkap Yulian dalam hatinya dengan menatap sang rembulan.


"Assalamu'alaikum Yulian." Tiba-tiba ada suara mengucap salam dari samping kanan Yulian.


"Wa'alaikumsalam, eh pak Ustazd." Jawab Yulian dengan rasa terkejut.


"Kenapa kamu masih ada disini? Ini sudah malam. waktunya untuk tidur dan beristirahat. Jangan lupa besok kita belajar lagi, dan lakukan dari hati kamu." Perkataan pak Ustazd yang selalu memberikan semangat kepada Yulian.


"Insyaallah pak, saya akan selalu berusaha." Balas Yulian sembari menebar senyuman yang begitu manis.


"Ya sudah, saya permisi dulu. Assalamu'alaikum." Ucap pak Ustazd yang setelahnya melangkahkan kaki dan meninggalkan Yulian.


"Iya pak, wa'alaikumsalam." Balas Yulian singkat.


Yulian masih terdiam dan membayangkan wajah Aisyah yang begitu manis dan manja. Entah kenapa Yulian masih mencintai Aisyah, sedangkan hubungan spesial mereka saja sudah pupus. Apa karena saking lamanya Aisyah dan Yulian berhubungan, yang sekitar 7 tahun silam.


Bersambung...


💦💦💦💦


Assalamu'alaikum, hai teman-trman readers. Bagaimana menurut kalian dengan cerita ini? Bikin deg-degan, atau penasaran, atauuuuuu bikin baper? Jangan lupa ya, tulis pendapat kalian melalui kolom komentar dibawahnya. Dukung aku juga dengan memberi tanda like dan vote kalian ya! Terimakasih.

__ADS_1


"Aku bukanlah makhluk yang sempurna, aku masih banyak kekurangan yang kini aku usahakan untuk menutupinya, Insyaallah dengan menjaga akhlak dan sikap ku."


Semangat teman-trman readers ku...!


__ADS_2