
Sebenarnya aku merasa terkejut dengan keberadaannya yang secara tiba-tiba ada dihadapanku. Rasanya aku ingin menghindar darinya, tapi ku urungkan niatku.
"Eh ternyata kamu, Yulian." Kataku dengan sedikit syok dan rasa aneh itu muncul. Entahlah, aku tak bisa mengungkapkannya.
"Iya Aisyah, ini aku. Masya Allah Aisyah, kamu cantik sekali memakai gamis dan jilbab itu." Ucapnya dengan senyuman yang manis. Dan jujur, aku merasa tersipu malu dengan kata-katanya.
"Ngapain kamu nyamperin aku?" Balasku yang kembali sedikit sinis padanya.
"Kamu masih marah ya sama aku? Sebenarnya apa sih salah aku sama kamu? Apa aku sudah tidak kamu ma'afkan lagi Aisyah? Aku mau diantara kita tidak ada lagi permusuhan atau pertengkaran seperti ini. Karena aku sayang dan cinta sama kamu Aisyah." Ucap Yulian dengan tatapan yang serius dan wajah sedikit sedih.
Dan akhirnya membuatku luluh untuk berbicara lembut padanya. Karena aku juga butuh penjelasan yang tepat darinya.
"Ok, aku akan klarifikasi semua masalah kita hari ini." Kataku dengan tegas.
"Ok, bicaralah!" Balasnya dengan mengiyakan.
"Ok, sekarang kamu ikut aku ke taman kampus." Ajakku padanya yang ingin menyelesaikan semua ini.
Kita pun pergi ke taman kampus untuk berbicara serius. Karena aku merasa lelah dan bosan dengan apa yang terjadi antara aku dan Yulian. Dan aku juga menginginkan hubungan yang seperti orang-orang jalani, yaitu keharmonisan.
"Ok, aku akan mulai bicara sama kamu. Pertama, ada hubungan apa antara kamu dengan Safa?" Kuajukan pertanyaan pertamaku padanya, dan pertanyaan pertama lah alasan yang membuatku merasa kecewa terhadapnya.
"Jadi itu masalahnya kenapa kamu marah sama aku? Ok, aku dan Safa tidak ada hubungan apa-apa. Aku bertemu dengannya karena dia minta bantuanku, tidak lebih dari itu Aisyah." Ucap Yulian dengan sebuah penjelasan, namun aku masih tidak percaya.
__ADS_1
"Kamu yakin tidak ada hubungan apa-apa? Ingat Yulian, kamu dulu pernah ada rasa dengannya. Safa itu mantan pacar kamu kan?" Balasku yang masih tidak percaya dengan penjelasan Yulian. Ya iyalah, karena aku merasa dia masih suka sama Safa mantan pacarnya itu.
"Ya Tuhan- Aisyah, aku harus bagaimana lagi agar kamu bisa percaya sepenuhnya sama aku? Aku cuma sayang dan cinta sama kamu. Ucap Yulian yang berusaha untuk tetap menjelaskan kepada Aisyah.
"Maaf Yulian, aku tidak bisa percaya sama kamu. Aku takut kamu hianati aku. Kita sudahi saja hubungan kita sampai di sini. Jangan temui aku lagi. Oh iya, terimakasih kamu sudah menyelamatkan aku dari preman-preman itu waktu malam kemaren." Ucapku padanya yang ingin menyudahi hubungan ini. Aku ingin hidup bebas tanpa sebuah ikatan. Tapi, jujur saja aku juga masih sayang dan cinta sama Yulian.
"Ok, jadi cuma itu saja masalahnya? Tapi kalau memang aku tidak kamu ma'afkan, tak apa Aisyah. Dan kalau kamu ingin menyudahi semua ini, aku akan terima keputusan kamu. Tapi asal kamu tahu, aku akan selalu mencintai kamu sampai kapanpun." Kata Yulian dengan lembut yang seakan-akan menghargai keputusanku. Entahlah apa dia benar-benar tulus mencintaiku apa tidak, aku juga tidak perduli. Mungkin menurut kalian aku egois, tapi aku hanya takut tersakiti.
"Terserah kamulah!" Balasku dengan singkat dan meninggalkan Yulian yang masih berdiri mematung di taman kampus. Sebenarnya masih banyak lagi pertanyaan yang akan aku lontarkan padanya, tapi aku rasa sudah cukup sampai di sini hubungan ini.
*********
"Hallo Aida!" Ku coba menelfon Aida, karena sedari tadi di kampus aku tak melihat batang hidungnya.
"Assalamu'alaikum Aisyah, ada apa?" Aida yang menjawab telfonku dan memberi ucapan salam.
"Tidak apa-apa Aisyah, asal jangan kamu ulangi lagi kesalahan dan kebiasaan burukmu. Kamu harus bisa berubah lebih baik lagi." Kata Aida yang mema'afkanku atas salahku. Sekaligus dia yang menyarankan ku untuk berubah yang lebih baik.
"Oh iya Aida, kamu lagi sibuk ya? apa kamu tidak ada jadwal kuliah hari ini? Karena sedari tadi aku tak melihat batang hidungmu loh!" Tanyaku padanya karena penasaran.
"Oh iya Aisyah, aku lupa mau kasih tau sama kamu. Aku hari ini tidak ada jadwal kuliah dan hari ini aku akan melaksanakan akad nikah." Kata Aida yang menjelaskan dengan senyum manis yang melekat diwajahnya.
"Oh begitu ya. Ya sudah kalau begitu Aida, aku langsung ke rumah kamu saja." Aku menutup telfonku dan beranjak pergi ke rumah Aida untuk menghadiri akad nikahnya.
__ADS_1
"Yah, kok main tutup saja sih Aisyah ini. Dasar aneh." Kata Aida yang mengerutkan keningnya.
Sorry yah gaes, aku bukanlah seorang mahasiswi yang baik. Karena, aku terpaksa bolos kuliah hanya ingin melihat sahabat karib ku bahagia.
Suasana kota nampak ramai. Banyak motor dan mobil yang berjejer karena macetnya kota. Untung saja aku naik sepeda, jadi tidak terlalu sulit dalam sebuah kemacetan.
Setelah sekitar 1 jam-an perjalanan antara kampus dengan rumah Aida, akhirnya aku sampai juga ditempat tujuan. Dan di sana sudah nampak ramai. Banyak orang-orang yang berdatangan untuk menghadiri acara. Namun, acara tersebut belum juga dimulai, jadi aku tidak datang telat deh!
"Aisyah, kamu datang juga sayang?" Tanya ibu Aida yang menghampiri ku.
"Oh iya tante, ini Aisyah juga baru dapat kabar dari Aida. Terus Aisyah langsung kesini deh!" Jawabku dengan lembut.
"Oh gitu, ya sudah kamu masuk saja ke kamar Aida. Aida juga belum keluar. Mungkin dia belum selesai dandannya." Ucap Ibu Aida yang menyuruhku untuk menuju kamar Aida dan bertemu Aida.
"Oh iya tante, kalau begitu Aisyah permisi dulu tante." Balasku dengan senyum kecil, lalu meninggalkan beliau yang sedang berada didepan sibuk menemani para tamu.
Aku pun cusss bergerak menuju kamar Aida.
"Aida, kamu cantik sekali!" Ungkapku padanya yang merasa kagum dan bangga dengan kecantikan sekaligus keputusan Aida. Dia tidak membutuhkan waktu untuk pacaran terlebih dahulu dalam sebuah pernikahan. Dia hanya membutuhkan waktu 2 minggu untuk pernikahan. Waw, amazing bangetlah bagiku.
"Aisyah, terimakasih ya kamu sudah datang!" Kata Aida yang sembari memberikan senyuman bahagia.
"Iya Aida, masak aku tidak datang diacara terpenting sahabatku ini." Kataku meledek yang membuatnya tertawa tanpa beban.
__ADS_1
"Huuuh!" Hela nafasku panjang. Andai saja aku bisa seperti Aida, tertawa lepas tanpa adanya beban.
Dan akhirnya calon pengantin pria sudah datang. Namun, aku dikejutkan oleh kehadiran seorang lelaki. Rasanya aneh saja aku harus bertemu dengannya lagi.