HIJRAH CINTA

HIJRAH CINTA
BAB 99


__ADS_3

Saat berada didepan ruang dokter kandungan, entah kenapa jantungku berdetak kencang. Ingin rasanya aku segera masuk dan mendengar pernyataan dari dokter kandungan itu bahwa aku benar-benar sedang mengandung. Namun, hari ini antrian masih panjang dan aku harus bersabar untuk itu.


"Aisyah, kamu tunggu di sini saja dulu. Kakak mau ke ruangan kakak sebentar." Ucap kak Maryam memintaku.


Aku mengangguk pelan untuk mengiyakan apa yang diminta kak Maryam. Dan aku duduk berderetan dengan wanita yang sedang hamil. Iyalah, namanya juga didepan ruangan dokter kandungan, kebanyakan ya wanita hamil, Aisyah.


*****


"Aku harus bagaimana sekarang Ya Allah?" Ucap Yulian dengan gelisah.


Yulian kini sedang dilanda kebimbangan dan kegelisahan. Karena ia sebenarnya ingin sekali selalu menemani Aisyah sampai melahirkan nanti. Namun, tugas dari pak Nugraha yang tak lain adalah papanya itu juga penting.


"Kenapa melamun gitu? Ada masalah?" Tanya Joko memastikan.


"Aku lagi bingung mas. Aku harus pergi ke Kairo, sedangkan Aisyah saat ini sedang mengandung. Ya, walaupun sebenarnya Aisyah sendiri tidak keberatan jika aku pergi." Jawab Yulian setelah lamunannya terbuyarkan.


"Apa? Aisyah sedang hamil?" Tanya Joko memastikan.


"Iya mas, aku tahu itu semalam. Ketika kak Maryam memeriksa keadaan Aisyah setelah Aisyah jatuh pingsan." Jelas Yulian.


"Alhamdulillah kalau begitu. Tapi, menurut mas kamu memang harus pergi. Bukan berarti mas ingin memisahkan kamu dengan Aisyah ataupun Juna. Tapi, ini tugas penting dari papa. Dan setelah perusahaan yang ada di sana selesai perpindahannya, kamu bisa kembali ke Indonesia untuk melanjutkan perusahaan itu di Indonesia." Tutur Joko kepada Yulian.


"Mungkin mas Joko benar. Baiklah kalau begitu, aku akan tetap pergi." Ujar Yulian merasa yakin.


Yulian akhirnya sudah memutuskan untuk tetap pergi meninggalkan Aisyah, Juna dan anak yang masih didalam kandungan Aisyah selama kurang lebih satu tahun. Dan itu berarti Yulian akan kembali ke Indonesia diwaktu Aisyah sudah melahirkan.


****


Jam istirahat tengah berlangsung. Seperti biasa, Karina melakukan aktifitasnya di perpustakaan untuk membaca beberapa buku yang diminatinya. Sedangkan Juna, ia memilih ke ruang OSIS. Pasti kalian bertanya-tanya kenapa Juna memilih ke ruang OSIS, itu karena Juna adalah anggota OSIS.


"Enaknya baca buku apa dulu ya?" Tanya Karina dalam batin.


Karena terlalu banyak Karina ingin menambah pengetahuaannya melalui membaca, Karina pun mengambil beberapa buku yang menjadi daftar bacaannya. Dan setelah buku-buku tebal itu didepan kedua wajahnya, malah dia merasakan kebimbangan dalam memilih buku mana yang harus ia baca terlebih dahulu.


Namun agenda Karina berantakan, karena jam masuk kembali berbunyi. Sehingga Karina lebih memilih untuk membaca buku-buku tebal itu dirumah nanti.

__ADS_1


Hari sudah siang. Jam sudah menunjukkan pukul tepat dua belas siang. Di mana jam sekolah sudah berbunyi yang menandakan waktu pulang telah tiba.


Saat Karina berjalan menuju gerbang depan, tiba-tiba beberapa gadis menghadang perjalanannya. Mungkin itu adalah gadis tadi pagi.


"Berhenti." Pinta seorang gadis dengan ketusnya.


"Kenapa? Ada apa?" Tanya Karina penasaran.


"Sebenarnya kamu itu ada hubungan apa dengan Juna? Kenapa kamu nempel terus sama Juna? Sudah bagaikan prangko dengan amplopnya." Ucap gadis itu yang membuat Karina terkejut.


"Memangnya kenapa?" Kaira berbalik bertanya.


"Sudahlah, aku ingatkan sama kamu. Mulai dari sekarang, kamu tidak usah mendekati Juna. Tidak usah kecentilan deh. Muka saja ditutupin, tapi sikapnya kok begitu." Ucap Tari dengan kasar.


"Astaghfirullah halazim, semoga Engkau menyabarkan hati hamba Ya Allah." Ujar Karina dalam batin.


Karina tetap terdiam tidak merespon atau menjawab satu pun pertanyaan dan perintah dari Tari. Sedangkan Tari, ia masih tetap marah dengan Karina yang berdekatan dengan Juna. Hampir saja tangan Tari melayang ke pipi Karina, tapi untungnya itu tidak terjadi. Karena ada seseorang yang menangkap tangan Tari seakan menahan pukulan itu.


"Kamu tidak seharusnya bertingkah laku seperti itu. Ingat, ini sekolahan. Bukan rumah kamu atau yang lain. Di mana kamu bisa berbuat se-enaknya kepada Karina." Ujar Mentari.


"Itu seperti kak Karina. Dan sepertinya dia sedang ada masalah." Ucap Juna dalam batin.


Juna pun melihat kejadian tentang Karina yang sedang dijahati oleh salah satu murid di mana ia bersekolah. Dan setelah melihatnya, Juna langsung menghampiri kakaknya itu.


"Ada apa ini?" Tanya Juna penasaran.


"Akh Juna, tidak ada apa-apa kok. Ngomong-ngomong kamu sudah selesai? Jika sudah, kita pulang saja yuk!" Ujar Karina berbohong.


"Aku tadi melihat apa yang kamu lakukan kepada kakakku. Jadi, jangan sampai aku melapor ke guru atas apa yang kamu lakukan. Oh iya, aku peringatkan ke kamu jangan sampai mengganggu kakakku Karina. Dan jika itu terjadi, kamu akan menghadapiku." Ucap Juna mengancam.


Tari begitu terkejut saat Juna menyebut Karina adalah kakaknya. Seketika ia pun merasa bersalah kepada Karina. Dan itu menjadi penyesalan bagi Tari.


*****


Alhamdulillah akhirnya kini giliranku juga. Aku pun masuk ke dalam ruangan dokter kandungan itu. Dan dokter itu memintaku untuk berbaring di atas branker.

__ADS_1


Dan alhamdulillah, kandunganku dinyatakan sehat dan tidak ada masalah apapun. Aku begitu bersyukur atas pemberian dari Allah SWT.


Setelah memeriksakan kandungan aku memutuskan untuk kembali pulang saja dan menunggu kedatangan Yulian dan Juna. Berhubung mama Maria sudah sembuh, jadi aku kembali pulang ke rumahku sendiri.


"Halo, assalamu'alaikum!" Ucap Yulian.


"Wa'alaikumsalam abi, ada apa bi?" Tanyaku memastikan.


"Umi sekarang ada dimana?" Yulian berbalik bertanya kepadaku.


"Ini umi mau pulang ke rumah, abi. Umi merasa capek." Jawabku menjelaskan.


"Ya sudah, umi tunggu abi saja. Biarkan abi yang menjemput umi." Balas Yulian.


"Memangnya abi tidak kerja?" Tanyaku memastikan.


"Abi sudah pulang mi, kan nanti malam abi harus berangkat." Jawab Yulian dengan lembut.


Aku mengiyakan apa yang diperintahkan Yulian kepadaku. Dan kini aku duduk sambil menunggu kedatangan Yulian menjemputku. Entah kenapa hatiku bersedih ketika mengingat bahwa nanti malam Yulian akan meninggalkanku dan pergi ke Kairo untuk tugasnya. Tapi ya sudahlah, aku harus kuat dan bersabar untuk menanti kehadirannya kembali.


****


Untuk menghindari pertikaian yang semakin berlanjut, Juna mengajak Karina dan Mentari untuk pergi dari hadapan Tari.


"Terimakasih ya mentari, kamu sudah membantu kakakku dalam menghadapi Tari." Ucap Juna kepada Mentari.


"Sama-sama Juna. Lagian anak seperti itu harus diberi pelajaran. Agar tidak bertindak semena-mena kepada orang lain." Balas Mentari.


"Lagian, kenapa tadi kak Karina tidak melawan Tari?" Tanya Juna memastikan.


"Biarin saja lah, kakak itu males jika menghadapi hal seperti itu." Jawab Karina santai.


"Terimakasih ya kamu sudah membantu aku tadi." Ucap Karina kepada Mentari.


Mentari tersenyum sambil mengangguk kan kepalanya. Sedangkan Juna, ia kembali menjadi cowok yang cuek lagi. Begitulah Juna dengan sikapnya. Walau begitu, sebenarnya hati Juna itu baik.

__ADS_1


Setelah menanti kehadiran seorang sopir yang menjemput mereka, akhirnya sopir itu datang juga. Dan mereka mengajak Mentari untuk pulang bersama-sama. Awalnya Mentari menolak, tapi karena bujuk rayu Karina akhirnya Mentari mau pulang bersama mereka.


__ADS_2