
Sore itu suasana di Rumah Sakit khusus persalinan terbesar di kota Medan masih diselimuti dengan rasa tegang, khawatir dan juga takut, karena perempuan bertudung masih bertahan dengan posisinya yaitu, di tepi atap gedung. Dan untuk menghentikan aksi bunuh dirinya itu, aku mencoba untuk menahannya dengan perkataanku yang aku rendahkan agar tidak menyinggung perasaannya.
"Siapapun kamu, aku mohon jangan lakukan itu!"
Aku berteriak tetapi, suara tidak mampu terdengar dengan lantang. Karena aku merasa takut, jika perempuan itu tidak mau mendengarkan aku dan justru mempercepat aksinya itu. Dan ketika mendengar suaraku, perempuan itu membalikkan tubuhnya lalu, bertatap muka denganku. Namun, aku masih tidak tahu pasti siapa yang berdiri dihadapanku saat ini. Mungkinkah Dia Khadijah? Akh, sudahlah! Yang pasti aku tidak mau perempuan ini terjerumus dalam lumuran dosa yang jauh lebih besar. Karena yang aku tahu Allah SWT tidak pernah menyukai perbuatan manusia yang seperti itu.
"Mau apa kamu kemari, Aisyah?"
"Tunggu! Apakah kamu mengenaliku?"
"Jelas aku mengenalmu. Mungkin aku yang tidak pantas untuk dikenali atas apa yang sudah kuperbuat selama ini." Perempuan itu memasang senyuman sinis.
"Apa maksud perkataanmu? Mungkinkah kamu, Khadijah?"
Perempuan itu terdiam seraya menatapku tajam. Begitupun denganku, aku ikut terdiam menanti jawaban dari perempuan itu. Dan sekilas aku melihat sepasang matanya sayu, seolah air mata tiada hentinya membasahi pipi. Bahkan suaranya terdengar serak, habis menangis semalaman. Dan jika benar itu di alaminya, tapi kenapa? Apa yang sebenarnya terjadi?
"Aku ... aku memang benar adalah Khadijah, Aisyah. Tapi kenapa kamu ikut naik di atap gedung ini? Jangan sampai kamu ikut campur dan menghalangiku, Aisyah!"
"Kalua kamu benar Khadijah, jangan pernah melakukan hal konyol seperti ini! Aku perlu berbicara dengan kamu, Khadijah." Perlahan aku melangkahkan kakiku mendekati Khadijah.
"Jangan mendekat, Aisyah! Kalau kamu mendekat, maka aku akan lompat." Khadijah melihat ke bawah seraya mengancamku.
Seketika ku hentikan langkah kakiku dan mewanti-wanti agar Khadijah tidak langsung terjun ke bawah. Dan itu membuatku semakin merasa takut, bagaimana jika aku tidak bisa membujuk Khadijah? Namun, dengan perlahan akhirnya aku mampu membujuk Khadijah, meskipun harus dengan berbagai macam cara untuk meluluhkan hatinya dan mengurungkan niat buruknya itu.
__ADS_1
Teriakan dari bawah sana masih kudengar dengan seru. Bahkan aku juga mendengar suara Arjuna, Cahaya dan juga Arumi. Dan lagi, suara yang tidak asing bagiku telah menyebut namaku berkali-kali. Karena saat itu aku dan Khadijah sama-sama berada di tepi atap gedung Rumah Sakit.
"Aisyah, turun!"
"Aisyah, hati-hati!
" Aisyah,"
"Aisyah,"
"Aisyah,"
Suara yang begitu seru tidak aku hiraukan sama sekali. Karena aku hanya terfokuskan dengan Khadijah. Dan aku tidak mau kehilangannya sebelum apa yang aku harapkan bersama amanah itu kusampaikan kepadanya. Hingga sebuah janji pun aku ucapkan agar Khadijah mau bertahan bersama dengan bayi yang ada di dalam kandungannya serta masa depan yang mungkin jauh lebih baik.
"Itu tidaklah penting, Aisyah. Buat apa aku bertahan hidup jika, sudah tidak ada lagi yang mempedulikan aku di dunia ini. Dan bayi ini, aku tidak pernah menginginkannya sama sekali, Aisyah. Bahkan aku membencinya, sangat membencinya."
"Percayalah kepadaku, Khadijah! Allah SWT tidak akan pernah memberikan cobaan yang melewati batas kemampuan umat-Nya. Aku mohon, jangan lakukan itu!"
"Aku tidak mengenal siapa Allah, Aisyah. Aku seorang Yahudi, hanya Ibuku Ratih yang mengenal siapa Allah. Dan aku membenci Tuhanku, Aisyah. Kenapa aku harus dilahirkan dan dibesarkan seperti ini?"
Aku tidak mengerti dengan apa yang sudah dilontarkan Khadijah itu. Dan aku pun bertanya-tanya, kenapa bisa Dia berpakaian tertutup, kayaknya seorang Muslimah. Sedangkan Khadijah baru saja mengakui bahwa Dia bukanlah seorang Muslimah melainkan Yahudi. Namun, hal itu aku tepiskan begitu saja dan aku kembali fokus dengan membujuk rayu Khadijah. Dan setelah cukup lama usahaku meluluhkan hatinya, kini akhirnya aku dan Khadijah menuruni anak tangga secara perlahan.
"Hati-hati, Khadijah! Air ketubanmu sudah merembes." Aku melihat air mengalir di kaki Khadijah.
__ADS_1
"Aisyah, perutku terasa sakit. Aku_aku tidak kuat menahannya, Aisyah." Terlihat wajah Khadijah memucat dan mengeluarkan keringat dingin.
"Kamu harus bertahan, Khadijah. Aku akan mencari bantuan." Aku mengambil ponselku dari dalam tas.
Ketika aku hendak menghubungi Arjuna, tiba-tiba Yulian datang tepat waktu. Sehingga aku memintanya untuk segera membopong Khadijah menuju ke ruang operasi. Begutupun dengan Yulian, ia melakukan yang aku perintahkan kepadanya. Karena hatinya yang lembut tidak bisa melihat siapapun kesulitan dan kesakitan, terutama jika itu aku. Dan ketika Yulian sudah berlari menuju ke ruang operasi, langkahku sejenak terhenti seraya menatap Yulian.
"Aku ikhlas menerima semua ini, Ya Allah. Aku akan menahan sakitnya seperti apa." Derai air mata pun mengalir begitu saja.
Ingin kuputar kembali langkahku dan membiarkan Yulian membantu Khadijah tanpa adanya aku disisinya. Tetapi, tiba-tiba Arumi datang dan menghentikan kaki yang hendak ku langkahkan. Dan sejenak percekcokan antara aku dengan Arumi pun telah terjadi. Namun, pada akhirnya Arumi tetap saja tidak bisa membuatku mengurungkan nita itu. Karena hatiku telah ku mantapkan akan keputusan yang sudah kubuat itu.
"Arumi, aku memohon kepadamu untuk tidak membuatku mengurungkan niat itu. Aku mencintai Yulian, tapi cinta itu tidak lebih besar cintaku terhadap Tuhan ku. Dan Tuhan ku lebih mencintai aku ketika diri ini telah dipanggil suatu hari nanti. Jadi, aku mohon kepadamu untuk tidak menghalangi keinginanku." Aku melangkahkan kakiku menuju ke ruang operasi.
Aku benar-benar tidak mempedulikan apa. yang dipikirkan Arumi tentangku. Entah tentang keegoisan ku atau lebih dari itu. Dan aku benar-benar memantapkan hatiku memilih Khadijah sebagai penggantiku jika, aku sudah tiada. Sehingga amanah itu tetap aku lakukan meskipun ragaku sudah tidak bernyawa lagi. Namun, di luar nalarku telah terjadi. Di mana keadaan jalannya operasi Caesar Khadijah telah terhambat akan wali dan biaya penanganan.
"Bagaimana jika, saya yang membiayai persalinan Khadijah, Sus?"
"Maaf Bu, yang wajib menandatangani masalah persetujuan dan biayanya adalah pihak keluarga pasien. Apakah Ibu salah satu anggota pasien?"
"Bukan. Dia tidak mengenalku jadi, di antara aku dan Dia tidak ada hubungan darah." Sela Khadijah seraya menatapku.
"Tetapi lelaki ini adalah suaminya, Sus." Aku menatap Yulian.
Seketika Yulian menatapku dengan tajam, yang membuatku merasa yakin bahwa saat itu ia bertanya-tanya tentang apa yang aku katakan di depan umum. Bahkan terlihat jelas dari raut wajahnya yang menyimpan amarah terhadapku.
__ADS_1