
BEBERAPA TAHUN KEMUDIAN...
Tepat pada tanggal 26 Mei 2022, Arjuna putraku telah memberanikan diri untuk mempersunting seorang gadis yang bernama Cahaya Maharani, yang usianya terpaut kurang lebih dua tahun lebih muda daripada Arjuna. Akan tetapi, umur bukanlah tunjangan yang pantas untuk mereka yang sudah cukup dewasa, yang hendak merajut cinta dalam sebuah pernikahan yang sakral, sah secara agama maupun hukum.
Dan pagi ini sebelum acara akan berlangsung, aku kembali meneliti segala sesuatu yang akan diperlukan dalam acara akad nikah. Sesaat hati ini tersentak ketika menatap sebuah kain putih yang terhias dengan beberapa pernak-pernik di sana. Diri ini pun terdiam membungkam dengan seribu kenangan yang tak akan pernah bisa lepas dari bayangan.
"Aku masih mengingat dengan begitu indah saat Dia mengucapkan ijab dan qabul dengan lantang. Menyebut namaku dengan lembut dan penuh kehangatan, yang masih terngiang di telingaku sampai saat ini. Dan aku juga mengingat perjuanganku dengannya saat kami dirundung beribu kepiluan, bahkan kami saling menguatkan satu sama lain untuk tetap bertahan. Di mana semua itu sudah kami lalui sampai kami berada di titik bahagia, memiliki dua putra dalam rumahtangga kami dan kami juga mendapatkan kesuksesan yang diberikan Allah Ta'ala.Tetapi, kami masih memiliki satu tujuan untuk dilakukan bersama, yaitu masuk ke dalam surga-Nya bersama. Dan kini, aku merindukan kehadirannya di tengah-tengah kebahagiaan yang menanti," gumamku dalam hati.
Ketika aku masih melamunkan masa yang terjadi hanya satu kali dalam hidupku, tiba-tiba suara lembut telah menyapaku dari ujung pintu ruangan yang sengaja dibuka dengan lebar. Dan aku pun sontak tersadar dari lamunan yang sangat kurindukan, lalu aku mencoba membalikkan tubuhku dan berjumpa dengannya.
"Apa yang Umi lakukan di ruangan ini? Bang Juna dan aku sudah sedari tadi menanti kehadiran Umi di ruangan keluarga loh," tanya Ahtar memastikan.
Yah itu Dia, putra kandungku dengan Yulian. Yang kini usianya sudah memasuki usia remaja. Dan Ahtar menyapaku dari ujung pintu yang terbuka dengan senyuman yang manis seperti Yulian saat tersenyum kepadaku. Karena bagiku, mereka sekilas terlihat begitu mirip. Sehingga rasa rindu yang dalam terhadap Yualian sejenak terobati saat menatap wajahnya yang penuh dengan kehangatan.
"Tidak, Ahtar. Umi di sini hanya sedang melihat persiapan yang akan dibawa nanti sekaligus memastikannya, takut jika nanti ada yang terlewatkan saja," jawabku dengan lembut.
Akh, tidak mungkin jika aku akan mengatakan kepada Ahtar dengan sejujurnya, kalau aku tengah merindukan kenangan yang begitu mendebarkan dalam seumur hidupku. Dan untuk mengalihkan topik pembicaraan aku pun melangkah pelan, lalu menghampiri putra bungsu ku itu.
"Ya sudah, lebih baik kita temui Abang kamu yang berada di ruang keluarga. Takutnya nanti Dia akan mencari-cari keberadaan kita dan jika tidak menemukan malah membuatnya merasa gugup nantinya. Hihi," ajakku kepada Ahtar.
Ahtar pun mengangguk pelan untuk mengiyakan. Setelah itu aku dan Ahtar bersama-sama melangkah untuk menuruni anak tangga yang cukup panjang dan tinggi, sampai akhirnya aku dan Ahtar berjumpa dengan Arjuna yang masih merapikan kemeja putihnya, yang ia padukan dengan celana abu-abu panjang. Dan untuk memperlengkap penampilannya, tidak lupa ia memakai dasi panjang berwarna merah bata serta jas yang senada dengan celananya, yaitu berwarna abu-abu.
"Umi-Ahtar, bagaimana penampilanku?" tanya Arjuna sesampai aku di bawah anak tangga.
__ADS_1
"Sudah keren, Bang!" sanjung Ahtar yang mengangkat kedua ibu jarinya.
"Tapi masih ada yang kurang loh, sayang! Kamu belum memakai sepatu," sela ku.
"Astaghfirullah hal azim, Juna lupa." Ujar Arjuna sembari menepuk pelan jidadnya.
Sejenak kami semua pun tertawa riuh dengan kegembiraan yang singgah mewarnai hari itu. Kemudian Arjuna melangkah untuk mengambil sepatu pantofel hitamnya yang masih bertengger di atas rak sepatu. Dan barulah Arjuna putraku tampan seutuhnya, dengan pakaian yang benar-benar membuat dirinya seolah menjadi seorang pemimpin yang begitu gagah. Hal itu pun membuatku terharu, bahagia dan sedih. Sehingga air bening yang berada di ujung pelupuk mata hampir tumpah dan jatuh membasahi pipi di balik cadar ku. Namun, rasanya enggan jika diri ini menuahi kesedihan dalam hari bahagia putraku, sehingga aku menepiskan rasa yang terbelenggu di jiwa.
"Ting tong,"
Tiba-tiba suara bel pintu rumahku berdering, yang membuat Bik Inem segera beranjak dari arah dapur menuju ke depan untuk membuka kan pintu dan melihat siapa yang sedang bertamu. Dan di dalam hati kecilku, aku berharap itu adalah Yulian. Lelaki yang sudah ku tunggu-tunggu kehadirannya sedari tadi. Karena aku dan Yulian tengah berpisah selama beberapa bulan setelah Yulian mendapat proyek di luar kota. Dan tepat di hari bahagia Arjuna, Yulian berjanji bahwa Dia akan pulang mendampingi putranya itu. Akan tetapi, belum ada kabar tentang kehadirannya.
"Cekrek,"
Aku pun merasa penasaran dengan siapa yang datang untuk bertamu, sehingga aku ikut menemui seseorang yang masih di luar sana. Dan setelah ku lihat siapa yang tiba, aku pun terkejut sekaligus bahagia. Karena Yulian lah yang memang sudah tiba dan berusaha menepati janjinya kepada kami, keluarga yang menanti akan kehadirannya.
"Assalamu'alaikum, sayang!" ucap salam Yulian.
"Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh," balas ku kemudian.
Sontak aku menghampiri Yulian dengan sambutan hangat. Tak lupa juga untuk melakukan kewajibanku sebagai seorang istri, yaitu mencium punggung tangan suamiku setelah ia pulang dari mengais rejeki di luar sana. Dan tak lupa pula bagi Yulian untuk mencium keningk ku sebagai tanda rasa kasih sayangnya kepadaku.
"Aku merindukanmu, sayang!" ungkap Yulian sambil tersenyum tipis.
__ADS_1
"Aku juga merindukan kamu, Mas." Balas ku sembari menatap sepasang mata yang dipenuhi dengan kehangatan.
"Oh iya_dimana Yulian dan Ahtar sekarang, sayang?"
"Ada di ruang keluarga, Bi. Kehadiran Abi sudah ditunggu loh sama mereka,"
"Oh ya? Kalau begitu Abi mau samperin dua jagoan Abi,"
Yulian pun melangkahkan kakinya dengan segera untuk menemui ke dua putranya. Setelah bertemu dengan Arjuna dan Ahtar, Yulian tak lupa melayangkan pelukan kepada mereka dengan kehangatan, walaupun saat ini mereka bukanlah anak kecil lagi. Akan tetapi, semua hal itu sudah biasa mereka lakukan bersama. Sehingga tidak lah heran jika, Yulian dekat dengan Arjuna dan juga Ahtar.
"Bi, bagaimana penampilan Juna?" tanya Arjuna.
"Anak Abi memang tampan, gagah dan satu hal yang harus Juna ingat dalam seumur hidup Juna." Jawab Yulian yang menatap Arjuna lekat.
"Juna mengingat semua itu, Bi. Di mana sebuah pernikahan bukan lah suatu perkara yang hanya menyatukan dan mengikat dua insan. Pernikahan hanya dapat dilakukan satu kali dengan orang yang kita pilih sebagai pendamping hidup untuk menuju surga-Nya. Dan di dalam sebuah pernikahan bukan hanya sekedar mengikat janji suci yang sakral, yang ditulis dalam sebuah buku akad nikah. Pernikahan pun tidak mencari pasangan yang sempurna, melainkan untuk saling menyempurnakan satu sama lain. Dan hanya satu yang dirindukan setelah hadirnya pernikahan, yaitu surga-Nya." Jelas Arjuna sembari memberikan senyum bahagia.
"Abi bangga kepadamu, Juna. Semoga kamu mampu menjadi seorang pemimpin yang baik, bijak dan penyayang dalam rumah tangga yang hendak kau bina bersama Cahaya." Ungkap Yulian sembari menepuk pelan bahu yang kokoh.
Setelah percakapan kecil di antara mereka, kini Yulian menuju ke kamar untuk membersihkan tubuhnya yang sedari tadi lengket karena air keringat. Sedangkan aku, aku kembali berada di ruangan di mana semua keperluan yang akan di bawa berada. Satu persatu aku bawa menuju ke dalam mobil agar tidak tertinggal. Menyibukkan diri seperti itu adalah kebiasaanku entah sengaja ataupun tidak sengaja, karena bagiku dengan melakukan semua itu aku mampu melupakan rasa rindu yang tak akan pernah ku gapai dengan mudah, yang tidak akan pernah aku temui di antara mereka yang masih begitu melekat di dalam hati.
"Semoga kalian ikut mendoakan yang terbaik untuk pernikahan Arjuna dengan Cahaya pada hari ini." Ujarku menatap langit yang biru dan cerah.
Hari sudah menunjukkan pukul tujuh tepat. Satu persatu di antara kami pun keluar dari rumah singgah kami di Medan. Begitupun dengan Arjuna, tak lama kemudian keluar dari dalam rumah dengan pakaian yang membuatnya begitu gagah. Setelah itu, kami semua pun segera bergegas menuju ke tempat lokasi di mana acara akan dilangsungkan dengan cukup megah dan meriah.
__ADS_1