HIJRAH CINTA

HIJRAH CINTA
Seperti Malam Itu


__ADS_3

Yulian merebahkan tubuhku dengan pelan di atas ranjang yang sudah terhiasi dengan beberapa bunga yang sengaja dibentuk seperti love. Seolah menandakan bahwa itu adalah rasa cinta Yulian untukku. Dan setelah itu, perlahan Yulian melepas tali cadar ku dan bahkan membukanya, sehingga wajahku terlihat jelas di hadapannya. Bahkan Yulian langsung mendaratkan bibirnya di atas bibirku tanpa memberitahu atau meminta ijin dariku. Sehingga membuatku terkejut akan hal yang dilakukannya secara tiba-tiba. Namun, aku hanya terdiam dan tidak memberontak, karena diri ini pun juga meginginkannya.


"Aku merindukanmu, Aisyah!" bisik Yulian di telingaku dengan mesra.


"Aku juga. Aku sangat merindukanmu, Mas!"


"Mau kah, kamu melakukan itu denganku?"


Aku mengangguk pelan mengiyakan apa yang dimaksud oleh Yulian, yaitu beradu di atas ranjang. Tetapi, setelah mengangguk pelan aku langsung meletakkan jari telunjuk ku di atas bibirnya dan berkata, "Memangnya kamu mau melakukannya sekarang? Ingatlah, bahwa ini masih belum waktunya kita bermain di atas ranjang. Karena ... kita itu masih bau keringat dan... aku pun juga harus menyiapkan makan malam untuk kita semua. Jadi, sabar ya!"


Seketika Yulian menghela nafasnya dengan pelan. Setelah itu, ia memberikan waktu kepadaku untuk segera membersihkan tubuhku yang benar-benar sudah lengket karena keringat yang bercucuran. Akan tetapi, ketika aku hendak menutup pintu kamar mandi tiba-tiba Yulian melangkahkan kakinya dengan cepat dan sampai akhirnya ia pun ikut masuk ke dalam ruang kamar mandi.


"Ceklek!"


Pintu kamar mandi telah ditutup rapat, bahkan dikunci olehnya. Entahlah, apa yang hendak ia lakukan di dalam ruangan ini. Sedangkan aku, aku sudah tidak tahan lagi rasanya ingin berdiri di bawah shower yang seolah airnya tengah melambai kepadaku. Kesegaran air dingin ingin sekali aku rasakan, tetapi sejenak keinginanku terhenti karena Yulian kembali menggodaku.


"Loh, kok ditutup dan dikunci sih pintunya, Mas?" tanyaku memastikan.


"Apa kamu masih mengingat tentang malam itu? Bukankah, ini seperti malam itu?"


Aku terdiam, mencerna setiap kata yang terlontar dari bibir tebal lelaki yang kini berdiri tepat berada di hadapanku. Aku pun juga memutar ke dua bola mataku, karena aku masih mengingat kembali malam yang dimaksud oleh Yulian. Dan sebelum aku mengingat tentang malam itu, tiba-tiba Yulian menatapku dengan begitu dalam, sehingga mata elangnya mampu merekam wajahku seutuhnya yang tengah menyimpan rasa malu karena tatapan itu. Bahkan tatapan itu membuat jantungku berdetak begitu kencang dan tidak seperti biasanya. Dan nafasku seakan berhenti untuk berhembus, hanya nafas Yulian yang berseru menghangatkan.


"Berikan aku kecupan itu sekali lagi, Aisyah! Dan setelah kamu memberikannya aku akan membiarkan kamu untuk membasahi seluruh tubuhmu ini," pinta Yulian berbisik.


Aku pun mengangguk untuk mengiyakan permintaan Yulian itu. Dan bibir kami pun menempel untuk beradu, memainkan setiap gerakan lidah dengan lihai. Sehingga kami menikmati kemseraan yang seakan enggan untuk segera di akhiri. Namun, apalah daya kami sebagai umat muslim biasa, yang harus meninggalkan cinta duniawi demi menjalankan perintah_Nya, karena kami mencintai_Nya. Dan kami juga mengingat akan tujuan dalam hijrah cinta yang kami jalani ini, yaitu menuju surga bersama.

__ADS_1


"Bagaimana kalau kita melakukannya sekali lagi di bawah percikan air shower yang akan membasahi tubuh kita bersama, Aisyah? Seperti malam itu, malam pertama bagi kita." Ajak Yulian seraya tersenyum tipis.


"Sudah deh, jangan godain aku terus lah, Mas! Ingat, ini bukan waktunya untuk kita melakukan hal konyol itu. Kita itu sudah semakin tua, tidak pantas jika kita melakukan hal itu bagaikan malam pertama pengantin baru," elak ku.


Aku berusaha menolak, karena bagiku sore itu bukanlah waktu yang benar-benar tepat untuk bercumbu dan bermesraan sepanjang waktu. Begitupun dengan Yulian yang mengiyakan permintaanku itu. Karena ia lebih mengutamakan apa yang membuatku bahagia. Setelah mengerti, Yulian pun keluar dari dalam ruangan itu, lalu ia menungguku dengan setia seraya duduk di atas muka kasur yang masih terhiasi oleh beberapa taburan bunga mawar segar.


"Alhamdulillah, akhirnya aku bisa merasakan kesegaran ini dan menghilangkan bau keringat yang menempel di tubuhku." Ungkap ku seraya membasuh muka ku di luar pintu ruang kamar mandi.


Dan setelah aku keluar dari ruangan itu, aku mendapati Yulian yang tertidur dengan pulas di atas ranjang kami. Bahkan aku menggelengkan kepala ketika aku melihat Yulian tidak memakai kemeja putih nya. Sehingga tubuhnya yang berisi bak wiragawan terlihat jelas dalam pandanganku. Namun, aku tak ingin membiarkannya terlalu lelap dalam tidurnya itu, karena waktu sholat ashar yang hampir usai. Dan akhirnya aku memutuskan untuk membangunkannya dengan segera.


"Mas, bangun Mas! Sudah terlalu sore loh, cepat mandi sana gih!"


Aku mengusap pelan pipinya seraya berbisik di telinganya. Dan tidak lama kemudian Yulian membuka kedua matanya dengan perlahan. Lalu, sejenak ia mengerdipkan kedua matanya untuk memulihkan pandangannya yang mungkin masih terlihat buram. Dan setelah mampu melihat dengan jelas serta tenaganya yang pulih dari rasa kantuk, ia pun berkata, "Apa aku ketiduran, sayang?"


Dan lima belas menit kemudian aku pun usai melakukan sholat ashar, setelah itu aku beranjak dari tempat di mana aku melakukan sholat, lalu aku melangkah untuk segera menuju ke dapur, melakukan aktivitas di sore itu untuk bertempur dengan beberapa barang di sana.


"Ok, waktunya memasak untuk sekarang, Aisyah. Huft!" gumamku dalam hati.


Ketika aku hendak melakukan aktivitas ku di dalam ruangan itu, tiba-tiba aku dibuat terkejut akan rengkuhan Yulian. Karena ia memeluk tubuhku dari arah belakang, lalu ia pun juga membisikkan kata-kata yang membuatku harus membalikkan tubuhku dengan segera untuk menatapnya.


"Tolong jangan lakukan ini! Biarkan aku yang memanjakanmu, jadi lepaskan kain celemek yang menempel di tubuhmu ini, Aisyah!"


"Maksudnya apa? Memanjakan aku? Apa Mas Yulian mau memasak untuk acara makan malam nanti?" tanyaku memastikan.


"Oh, no. Aku tidak ingin memasak." Jawab Yulian seraya menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


"Terus?"


Aku memutar ke dua bola mataku seraya menyatukan ke dua alisku untuk berpikir apa yang ada tengah direncanakan oleh Yulian. Namun, akhirnya aku menyerah karena tidak mengerti dan tidak mengetahuinya. Sehingga ia pun mengatakan apa rencananya itu kepadaku, tetapi bukan hanya aku saja, melainkan kedua putranya dan menantunya.


"Ikut aku dulu ke ruang keluarga! Aku akan memanggil Arjuna, Cahaya dan juga Ahtar." Ajak Yulian sembari menarik lenganku menuju ke ruang keluarga.


Dan beberapa menit kemudian Arjuna, Cahaya dan Ahtar berkumpul bersama di ruang keluarga. Mereka pun terlihat begitu bingung, penasaran dan seolah tidak sabar dengan apa yang akan dikatakan oleh Yulian. Begitupun denganku, yang merasa penasaran dengan rencana Yulian.


"Ayo Abi, cepat katakan apa yang akan Abi lakukan dengan mengumpulkan kita semua di ruang keluarga!" pintaku.


"Baiklah! Untuk acara makan malam nanti, Umi tidak memasak. Karena ... Abi sudah menyiapkan yang spesial untuk acara kita bersama dalam merayakan kehadiran Cahaya. Dan dalam hitungan ke tiga, kita semua harus menuju ke ruang makan." Jelas Yulian yang menatap kami semua.


"Apakah ini kejutan untuk Cahaya, Bi?" tanya Arjuna.


"No. Ini kejutan untuk kamu dengan Cahaya, karena sudah menjadi ratu dan raja untuk malam ini di dalam keluarga kita,"


"Ok, Abi akan hitung mulai satu sampai tiga. Setelah itu kita menuju ke ruang makan bersama-sama. Apakah kalian siap?"


Serentak aku, Arjuna, Cahaya dan juga Ahtar mengangguk kan kepala kami dengan pelan, yang menandakan bahwa kami semua siap menerima aba-aba dari Yulian. Setelah hitungan ke tiga, kami pun menuju ke ruang makan bersama-sama. Dan sesampai di sana tiba-tiba lampu dalam. setiap sudut ruangan telah mati. Sehingga kegelapan telah terciptakan di dalam rumah kami. Akan tetapi, tidak lama kemudian kami dikejutkan dengan beberapa lilin yang menyala.


"Bagaimana dengan kejutannya? Apakah kalian suka?" tanya Yulian.


"Aku menyukainya, Mas. Benar-benar menyukainya kejutan ini," ungkap ku.


Aku pun berjalan menghampiri Yulian untuk memberikan kecupan di punggung tangannya sebagai rasa terimakasih dan menghormati suamiku yang selalu memberikan kasih sayangnya untuk keluarga tercinta. Dan setelah aku mengecup punggung tangan Yulian, ia pun membalasnya dengan kecupan di keningku. Bukan hanya itu saja, ia melakukan hal itu di hadapan kedua putranya dan menantunya.

__ADS_1


__ADS_2