HIJRAH CINTA

HIJRAH CINTA
Amanah Dan Khadijah?


__ADS_3

"Bu Ratih?"


Segera ku buka slide layar ponselku untuk memastikan pesan yang tertulis dari bu Ratih. Wanita paru baya yang ku anggap sebagai ibuku sendiri saat pertama kali mengenal beliau di Scotsman Hotel Bintang 4. Lalu, ku baca pesan teks yang singkat dari beliau.


"Assalamu'alaikum, Aisyah. Maaf jika, Ibu sudah mengganggu waktumu. Tapi, Ibu ingin bertemu denganmu di koridor hotel ini sebelum Ibu kembali ke Indonesia, tepatnya pulau Jawa. Ibu tunggu di sini!"


Sejenak aku terdiam seraya berpikir kenapa bu Ratih ingin menemuiku? Dan pesan itu terus memenuhi otakku, sehingga aku tidak bisa lupa dan merasa penasaran tentang hal apa yang ingin dibicarakan bu Ratih kepadaku. Dan pada akhirnya aku memutuskan untuk segera bertemu dengan bu Ratih yang mungkin saja masih menungguku di sana.


"Cahaya, Umi harus pergi sekarang! Karena, ada hal penting yang ingin Umi lakukan. Dan jika nanti Abi Yulian dan Arjuna bertanya tentang Umi, jawab saja Umi keluar sebentar." Bisikku kepada Cahaya.


"Baik, Umi. Tapi tidak ada masalah yang serius kan, Umi?"


"Tidak, Cahaya. Kamu tidak perlu khawatir, Umi hanya ingin menemui Bu Ratih saja." Aku memberikan senyum tipis di balik cadarku untuk meyakinkan Cahaya.


"Baiklah kalau begitu, Umi. Cahaya akan mengatakan kepada Abi dan Mas Arjuna jika mereka bertanya nanti." Cahaya akhirnya mengiyakan seraya menganggukkan kepalanya dengan pelan.


"Assalamu'alaikum,"


"Waalaikumsalam,"


Tanpa berpikir panjang akhirnya aku melangkahkan kakiku dengan langkah yang cepat, agar aku bisa segera sampai di mana bu Ratih tengah menunggu kehadiranku. Setelah sampai di koridor hotel ini, aku melihat sosok wanita yang berhati baik itu tengah berdiri mematung membelakangiku. Dan untuk menyapa beliau, aku mengucapkan salam terlebih dahulu.


"Assalamu'alaikum, Bu Ratih!"

__ADS_1


"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh,"


Sontak bu Ratih membalikkan tubuhnya dan menghadap ke arahku. Lalu, beliau memberikan senyum yang seolah senyum itu ingin menyampaikan sesuatu. Namun, aku tidak tahu pasti tentang apa itu. Yang membuatku ingin sekali segera mendengar cerita panjang dari bu Ratih. Begitupun hal nya dengan bu Ratih, beliau mulai bersua untuk memulai perbincangan denganku. Akan tetapi, itu tidak berlangsung lama, karena bu Ratih harus pergi untuk kembali ke Pulau Jawa. Hanya sebuah surat yang diberikannya kepadaku sebelum keberangkatannya ke Edinburgh Airport untuk melakukan penerbangan.


"Hati-hati di jalan, Bu Ratih! Insyaa Allah, Aisyah akan menjaga surat ini beserta amanah yang Bu Ratih berikan kepada saya." Aku pun memberikan pelukan perpisahan.


"Ibu mempercayaimu, Nak Aisyah. Kalau begitu Ibu pamit dulu, assalamu'alaikum!"


"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh,"


Perpisahan antara aku dengan bu Ratih kini telah terjadi. Namun, aku masih memikirkan amanah yang begitu mustahil untukku penuhi. Karena tidak mungkin jika, aku bisa menemukan keberadaan putri bu Ratih di Edinburgh yang cukup luas ini. Mungkin aku terlalu bodoh sudah mengiyakannya, tapi jika hati memiliki iktikad yang baik pasti Allah akan mempertemukanku dengan Khadijah. Sedangkan surat yang masih ku genggam erat di tanganku, aku tidak berani membukanya di sini. Sesuai dengan permintaan bu Ratih, di mana aku diperbolehkan untuk membaca surat ini setelah aku tiba di Indonesia.


"Ya Allah, sebenarnya ini terasa begitu sulit untuk aku menjalaninya. Tetapi, amanah ini harus tetap aku jalani di atas keridhaan-Mu. Semoga Engkau teguhkan hati ini untuk selalu memiliki iktikad yang baik Ya Allah. Aamiin!"


"Cahaya,"


"Umi? Umi sudah kembali? Apakah sudah selesai bertemu dengan bu Ratih?"


"Sudah, sayang. Tapi Umi meminta sama kamu dengan sangat, agar kamu tidak bilang tentang pertemuan Umi dengan bu Ratih kepada Abimu dan juga suamimu." Aku duduk berjongkok dan menatap lekat Cahaya.


Setelah aku memintanya, Cahaya akhirnya mengiyakan permintaanku untuk merahasiakan tentang pertemuan yang ingin aku pendam sendiri. Lalu, aku meminta kembali kepada Cahaya untuk bersikap biasa saja jauh sebelum aku pergi meninggalkannya sendiri sebagai penonton di lapangan golf.


Waktu begitu cepat berlalu, malam yang sunyi kini tengah aku rasakan saat kami semua kembali ke kamar masing-masing. Namun, kesunyian itu seketika menghilang ketika Yulian hadir dan menemaniku setelah ia usai membersihkan badannya dari bau keringat.

__ADS_1


"Kenapa bengong sendirian?"


"Emm, tidak. Aku hanya berpikir tentang The Scottish National Gallery, Mas. Bagaimana kalau besok kita pergi ke sana untuk melihat beragam koleksi seni?"


"Emm, ok. Aku akan menuruti semua yang menjadi keinginan kamu, sayang." Lagi-lagi Yulian mengiyakan keinginanku dan tidak lupa ia juga memberikan kecupan di keningku.


"Terima kasih, Mas. Karena, kamu selalu mengiyakannya untukku." Ku lukiskan senyum indah dari bibirku.


Yulian pun membalas senyumku dengan pelukan yang menghangatkan. Dan tak terasa, kehidupan rumahtangga yang sudah kurajut bersama Yulian di penuhi dengan keharmonisan dalam setiap momen. Bahkan momen itu sulit untuk dilupakan dengan begitu mudahnya dari dalam ingatanku. Dan malam itu aku tidak langsung tidur, karena aku masih terpikirkan tentang surat dan juga Khadijah. Perempuan yang belum pernah aku temui sama sekali. Bahkan keberadaannya pun aku tidak mengetahuinya. Yang membuatku merasa sulit untuk bertemu dengannya.


"Atau ... lebih baik aku meminta Arumi untuk membantuku saja? Siapa tahu Dia bisa,"


Seketika aku mengirim sebuah pesan teks ke nomor Arumi. Sehingga malam itu aku merajuk di depan layar ponselku. Begitupun dengan Yulian, ia juga tidak langsung tidur dan beristirahat setelah bermain golf, karena saat ini ia juga masih sibuk dengan pekerjaannya kantornya. Sehingga ia merajuk di depan layar laptopnya untuk membuat beberapa laporan yang akan diajukan ke salah satu pertemuan dengan perusahaan di Surabaya, kepualauan Jawa tepatnya, Jawa Timur. Dan kami pun sibuk dengan urusan masing-masing.


"Sekarang aku ingin tidur dan merebahkan tulang-tulangku yang terasa kaku." Aku meletakkan ponselku di atas nakas.


Setelah itu, aku beranjak dari bibir muka kasur dan melangkah menuju ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu sebelum lekas tidur dengan nyenyak. Dan tidak lama kemudian Yulian menyusulku untuk melakukan hal yang sama denganku. Setelah itu, akhirnya kami merebahkan tubuh kami di atas kasur yang empuk, yang membuat kami merasa nyaman saat melepas rasa lelah di tubuh kami. Sebelum itu, tidak lupa untuk Yulian memadamkan lampu yang menyala di kamar ini.


"Bismillahirrahmanirrahim. Bismikallah humma ahya wabismika waamud. Aamiin!"


Kami pun bersama melantunkan doa sebelum tidur. Setelah itu, sejenak aku melepas beban yang telah memenuhi otakku untuk segera lekas tidur. Karena hari yang sudah melarut, sehingga mengharuskan ku untuk segera tidur dan siap menjalani aktivitas di esok hari. Di mana aku akan berkunjung di galeri seni dan juga bertemu janji dengan Arumi di sana. Yang membuatku merasa tidak sabar untuk kembali membicarakan tentang wanita yang bernama Khadijah, putri dari bu Ratih dengan sosok lelaki yang berdarah biru.


Perlahan mataku mulai terpenjam dengan sendirinya. Begitupun dengan Yulian, dan entah di jam berapa kami terlelap dalam tidur yang dipenuhi dengan kehangatan di balik pelukan yang menenangkan.

__ADS_1


__ADS_2