
πΏπΏπΏπΏ
Beberapa jam sudah berlalu. Aku dan rombonganku pun sudah tiba di bandara Soekarno Hatta, kecuali mas Joko dan mbak Humaira. Mereka lebih memilih untuk tinggal di sana selama 5 bulan mendatang. Ya, sambil menunggu kehamilan mbak Humaira siap untuk dibawa bepergian jauh.
Ketika kami baru tiba di bandara, ternyata keluarga besar kami sudah berkumpul di sana untuk menyambut kedatangan kami, termasuk juga putra kecilku yang kini sudah tumbuh semakin besar.
"Umiiiiiiii...... Abiiiiii.....!" Teriak Juna sambil berlari menuju ke arahku dan Yulian.
"Assalamu'alaikum sayangnya umi!" Ucapku saat tubuhku merangkul tubuh Juna dan mendekapnya dalam pelukanku.
"Wa'alaikumsalam umi! Juna kangen banget sama umi!" Balas Juna sambil menciumi pipiku yang tertutupi dengan cadarku.
"Umi juga kangen sama Juna! Ya sudah, sini umi gendong kalau begitu!" Ucapku memanjakan Juna.
"Tidak mau ah Juna, Juna kan sudah besar. Jadi, Juna mau jalan sendiri saja umi." Balasnya yang berusaha menunjukkan kemandirian dalam dirinya.
Aku pun tertawa kecil melihat kelakuannya sambil menganggukkan pelan kepalaku yang seakan mengiyakan apa maunya. Namun, tiba-tiba Yulian mendekatinya dan menggendongnya. Syukurlah, Juna tidak marah ataupun berontak karena abinya tidak mengiyakan apa maunya. Malah Juna bercanda gurau dalam gendongan Yulian.
"Assalamu'alaikum semuanya!" Sapa kami saat berjumpa dengan keluarga besar.
"Wa'alaikumsalam!" Jawab mereka semuanya bersamaan.
Putri kecil kak Maryam pun melakukan hal yang sama dengan Juna saat melihat ayah dan bundanya. Begitu lucu dan selalu merindukan hal-hal kecil yang dilakukan mereka.
Setelah saling menyapa, kami semua memutuskan untuk mencari makan terlebih dahulu sambil beristirahat sejenak.
Dan kebetulan juga tidak jauh dari bandara ada sebuah restoran yang tidak terlalu besar, tapi ya cukup lah untuk keluarga besarku. Hohoho..!
Kami pun disibuk kan dengan memilih menu makanan dan minuman setelah kami mendapatkan kursi masing-masing.
Setelah kami cukup lama dan makanan kami pun sudah habis, akhirnya kami memutuskan untuk kembali pulang dan beristirahat.
__ADS_1
"Buat mama, papa, ibu, ayah, papa Brian dan mama Maryam, mungkin lebih baik kami pulang ke rumah kami saja. Insyaallah, kalau kami sudah cukup untuk beristirahat, kami akan berkunjung ke rumah kalian!" Ucap Yulian kepada orang tua kita.
"Baiklah, itu terserah kalian! Asalkan kalian tidak lupa untuk berkunjung ke rumah kami." Balas papa mertuaku.
Kami pun berpamitan dan mengucap salam sebelum kami berpisah dengan mereka. Dan hal yang sama dilakukan oleh Kak Fadli dan kak Maryam. Dimana mereka juga lebih memilih untuk pulang ke rumah mereka.
ππππ
Saat perjalanan menuju ke rumah, Juna tidak berhenti-hentinya untuk selalu bercerita tentang dia yang jalan-jalan bersama eyang dan opanya di Korea kemaren. Ya, walaupun cuma tiga harinan lah di sana, tapi Juna terlihat begitu senang.
Ketika kami sampai di halaman rumah dan mobil pun telah terparkir di garasi, Juna malah sudah tertidur pulas. Mungkin dia terlalu lelah, lagian saat itu sudah jam tidurnya Juna.
"Biar abi saja yang gendong Juna. Umi langsung saja ke kamar dan mandi." Ucap Yulian penuh dengan pengertiannya.
"Baiklah abi!" Balasku dengan senyuman.
Sudah hampir kurang lebih satu jam aku melakukan ritualku di dalam kamar, yaitu mandi, sholat dan berias di depan cermin. Hohoho...padahal kan cuma pakai cadar saja.
"Baiklah umi nya abi. Siap laksanakan!" Balasnya dengan rasa semangat yang berlebih.
Entahlah ada apa dengan suamiku itu. Rasanya aneh sekali dengan tingkah lakunya.
Setelah kurang lebih dua puluh menit lah, akhirnya Yulian selesai dengan ritualnya. Dan dia pun langsung menghampiriku di ruang keluarga.
"Umi kok malah di sini? Kenapa tidak langsung beristirahat saja? Ini kan sudah malam!" Tanyanya penasaran.
"Iya abi, umi mau lihat berkas-berkas umi dulu. Soalnya, barusan Rita mengirim pesan kepada umi kalau ada pesanan desain baju untuk acara tunangan." Jawabku menjelaskan.
"Oh begitu, ya sudah kalau begitu abi mau ke ruang kerja abi dulu. Soalnya abi harus segera mengurus masalah di kantor yang terbengkelai. Takutnya nanti malah semakin memburuk." Ucap Yulian.
"Baiklah abi. Abi jangan malam-malam kerjanya." Balasku dengan ke khawatiranku.
__ADS_1
"Umi juga tidak boleh malam-malam kerjanya." Pinta Yulian dengan tegasnya.
Aku langsung menganggukkan kepalaku untuk mwngiyakan apa yang diperintahkan oleh Yulian. Setelah itu, dia pun pergi ke ruang kerjanya. Sedangkan aku, aku kembali di fokuskan dengan beberapa lembaran kertas yang bercoretkan tentang gambaran desain baju.
ππππ
Ayam berkokok pun telah terdengar berseruan. Begitupun dengan suara adzan subuh yang berkumandang dengan silih berganti. Aku pun yang telah mendengarnya segera beranjak dari kasur empuk yang melelapkanku dalam tidur. Segeralah aku ke kamar mandi terlebih dahulu, lalu menjalankan sholat subuh. Dan setelah itu, biasalah uprek-uprek di perdapuran untuk menyiapkan sarapan pagi.
Setelah di rasa sudah cukup di sesi perdapuran, aku pun kembali ke kamar untuk membangunkan kedua jagoanku. Ya.. Kebetulan jam masih menunjukkan pukul 05.00 pagi, jadi masih bisa untuk melakukan sholat subuh.
"Ayo abi.... Juna... Bangun! Sudah jam 05.00 subuh loh!" Teriakku membangunkan Yulian dan Juna.
Tidak ada respon dari mereka. Malahan mereka saling berpelukan dan bermanja. Aku pun menggelengkan kepala karena merasa heran dengan kelakuan mereka.
"Abiiii.... Junaaa... Bangun!" Teriakku lagi merasa geram.
Dan akhirnya, mereka pun terbangun dari tidurnya. Lalu, bergegaslah mereka ke kamar mandi untuk sekedar menggosok gigi, mencuci muka dan mengambil air wudhu. Karena, jika mereka melakukan ritual di kamar mandi dengan waktu yang lama, maka waktu sholat subuh tidak lah keburu.
Setelah melakukan sholat, baru lah mereka mandi bersama-sama. Ya... Yulian dan Juna bisa di bilang kalau mereka itu adalah ayah dan putra yang kompak. Bahkan, terkadang aku dibuat tertawa oleh kelakuan mereka.
*****
Akhirnya, sarapan pagi pun telah selesai. Dan kita akan berkunjung ke rumah papa Nugraha dan mama Widia terlebih dahulu. Karena, sekalian Yulian akan membicarakan masalah perusahaan dengan papanya.
"Kamu kenapa terlihat bersedih?" Tanya Yulian kepadaku saat ia melihatku yang terus memandangi luar jendela mobil.
"Aku... Aku takut kalau kedua orang tuamu merasa kecewa karena diantara kedua menantunya aku yang belum hamil." Jawabku dengan nada sedih.
"Kamu janganlah berpikir seperti itu. Kedua orang tuaku tidaklah merasa kecewa. Karena, mereka sudah tahu bahwa itu bukanlah kehendak atau kemauan kita. Mereka tidak akan menanyakan hal yang bodoh untuk menekan kita agar segera memiliki anak yang dari rahim kamu. Meskipun mereka sudah tahu bahwa mbak Humaira sudah hamil. Percayalah kepada suamimu ini." Tutur Yulian menguatkanku dalam kesabaran.
Terimakasih Ya Allah, aku benar-benar merasa lega setelah Yulian berbesar hati menerimaku yang masih belum hamil. Semoga saja, dengan kesabaran kami yang sedang Engkau uji, Engkau segera memberikan hidayah itu ke rahimku.
__ADS_1