HIJRAH CINTA

HIJRAH CINTA
Di Atas Kuasa-Nya


__ADS_3

Malam itu aku menepi, mencari tempat yang mampu membungkam rahasia tentang Khadijah. Karena aku berpikir Arumi akan memberikanku sebuah berita tentang Khadijah yang bersifat penting. Bisa jadi itu salah satu rahasia tentang Khadijah, sehingga aku tidak ingin jika ada orang lain akan mengetahui rahasia itu.


"Tut...." Masih belum ada jawaban dari Arumi.


Ku pencet kembali nomor yang bertuliskan nama Arumi. Dan tidak lama kemudian akhirnya Arumi menerima panggilan ku itu. Setelah itu, aku bertanya kepadanya tentang berita Khadijah yang ia bawa untukku. Begitupun dengan Arumi yang memberikan informasi tentang Khadijah secara akurat.


"Aisyah, yang kamu perkirakan itu benar. Khadijah yang memberikan kamu selembar surat dengan Khadijah putri Bu Ratih itu Khadijah yang sama. Dan saat ini Khadijah berada di kota Surabaya, di mana Bu Ratih tinggal di sana. Berita itu sempat melejit di kota Edinburgh, bahkan ketika lelaki yang kamu ceritakan masuk ke dalam penjara. Dan tidak lain lelaki itu adalah Ayah Khadijah." Arumi menatapku melalui panggilan video.


Seketika aku terdiam, mencerna setiap kata yang Arumi lontarkan tentang Khadijah. Otakku pun berpikir tentang ayah Khadijah, yang melakukan perilaku kejam terhadapnya. Dan aku tidak mengerti kenapa Bu Ratih lebih memilih aku untuk menjaga Khadijah, sedangkan aku tidak tahu siapa Khadijah sebenarnya? Dan satu hal yang membuatku semakin meronta ingin bertemu dengan Khadijah yaitu, ingin tahu asal usul dirinya dan keluarganya. Karena saat aku bertemu terakhir kali dengan Bu Ratih, beliau terlihat sakit hati bahkan seolah beliau membenci kehadiran Khadijah.


"Arumi, apa kamu yakin jika saat ini Khadijah berada di Surabaya?"


"Itu berita yang aku dengar, Aisyah. Maaf jika aku salah tentang keberadaannya."


"Ah, tidak, Arumi. Kamu tidak perlu meminta maaf kepadaku. Tapi, rasanya aku ingin sekali bertemu dengan Khadijah. Bisakah kamu membantuku untuk memastikan keberadaannya?"


"Aku akan usahakan itu, Aisyah. Ya sudah, aku harus mengakhiri obrolan kita, karena aku harus mengikuti kegiatan Islami di sini. Assalamu'alaikum." Arumi mematikan panggilanku setelah kujawab salamnya.


Setelah percakapan antara aku dengan Arumi berakhir, aku masih berdiam diri di atas balkon seraya memikirkan kembali tentang Khadijah dan selembar surat dari Bu Ratih yang belum sempat ku baca sampai saat ini. Dan ketika aku masih melamunkan akan hal itu, tiba-tiba aku tersadarkan kembali setelah kurasakan sentuhan dari Yulian.


"Aisyah, ada apa denganmu? Aku memanggilmu dari tadi, tapi kenapa kamu melamun di sini?"


"Maaf, Mas. Aku baru selesai berbicara dengan Arumi. Aku hanya ... membayangkan saja jika bertemu dengan Arumi lagi, pasti Dia lebih cantik saat mengenakan hijab, seperti saat ini." Aku membohongi Yulian meskipun hatiku seperti ingin menolak.

__ADS_1


"Kamu benar. Ya sudah, lebih baik sekarang kamu mandi dan sholat. Aku akan menunggumu di bawah bersama anak-anak dan Papa." Yulian memberikan senyum tipis kepadaku.


Aku mengangguk pelan untuk mengiyakan Yulian. Setelah it, aku bergegas menuju ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhku yang terasa begitu lengket, karena keringat yang bercucuran membasahi tubuh ini. Air shower pun kunyalakan, laku membasahi tubuhku secara merata. Dan ketika tanpa sengaja aku menatap layar kaca yang ada dihadapanku, aku dikejutkan dengan hal yang saat ini membuatku merasa khawatir.


"Mimisan?"


Seketika air shower ku matikan lalu, dengan segera aku mencari tisu untuk membersihkan darah yang keluar dari lubang hidungku. Dan akhirnya darah itu pun berhenti, tetapi aku masih bertahan di kamar mandi untuk memastikan darah itu tidak akan keluar lagi. Setelah cukup lama berada di dalam sana, kini aku putuskan untuk keluar dari ruangan itu dan melakukan sholat maghrib.


Tiga rakaat sudah aku lakukan selama kurang lebih lima belas menit, dan ku akhiri dengan panjatan doa untukku, keluarga kecilku dan keluarga yang sudah berada di surga. Diri ini pun pasrah jika Allah sudah berkehendak atas semua yang terjadi kepadaku bagaimana nanti. Bahkan aku juga sudah pasrah jika nyawaku akan diambil dengan segera. Karena, itu di atas kuasa-Nya dan takdir untukku.


Setelah berdoa aku segera bersiap lalu menuruni tangga untuk bertemu dengan mereka semua yang sudah menantiku di lantai bawah. Dan seiring waktu yang berjalan tamu pun hadir silih bergantian memasuki bahkan memenuhi ruangan yang disediakan untuk acara pengajian malam ini. Setelah semua sudah siap, acara pengajian akhirnya kini telah dimulai. Aku dan yang lain pun juga ikut membaca surat-surat pendek dan juga surat Yaasin. Surat yang wajib dibaca saat acara pengajian.


Setelah beberapa jam kemudian akhirnya acara yang kami gelar malam ini telah usai dan berjalan dengan lancar. Bahkan saat ini tamu yang hadir silih berganti memberikan salam untuk berpamitan. Dan seketika rumah ini kembali sepi setelah acara benar-benar telah usai. Hanya ada suamiku, anak-anak ku, menantu dan juga papa mertuaku.


"Benar apa yang dikatakan Abi, mumpung kalian juga masih menjaga wudhu." Sambungku membenarkan seraya memberikan senyuman yang mungkin terlihat samar.


Setelah mendengar penuturan dari Yulian dan aku, mereka pun bergegas untuk bersiap menjalankan sholat. Namun sebelum itu, Ahtar mengumandangkan iqomah sebelum kami menjalankan sholat isya' secara berjamaah. Dan sholat pun telah kami lakukan sampai rutinan setelah sholat kami jalankan yaitu, beriktikaf dengan berdzikir.


"Alhamdulillah Ya Allah, Tuhan dari segala Maha pemberi rejeki, ampunan dan dari segala Maha. Engkau telah melancarkan segala urusan kami di dunia, dan semoga Engkau tat kala melancarkan segala urusan kami di akhirat-Mu kelak." Doa pun telah kupanjatkan.


Hari begitu cepat berlalu, malam kini telah berganti dengan pagi subuh yang dipenuhi dengan lantunan ayat-ayat suci Al-Quran. Begitupun denganku, melakukan iktikaf dengan membaca Al-Quran setelah dua rakaat yang istimewa aku jalankan. Setelah usai membaca Al-Quran tak lupa aku membangunkan suamiku tercinta, Yulian.


"Mas, bangun! Sudah subuh, ayo segera sholat!"

__ADS_1


Aku mengusap lembut pipinya, dan akhirnya ia pun membuka kedua kelopak matanya secara perlahan. Dan tidak lama kemudian setelah kesedarannya memulih, ia pun segera beranjak dari ranjang yang membuat kami berdua merasa nyaman saat memejamkan mata yang terasa mengantuk. Yulian pun bergegas membersihkan tubuhnya, setelah itu dua rakaat pun ia jalankan. Sedangkan aku, aku harus bertempur dengan beberapa alat dapur untuk membuat sarapan bersama pagi ini.


"Assalamu'alaikum, halo Pak!


"Waalaikumsalam Pak Yulian, mohon maaf jika saya mengganggu waktu pagi Anda." terdengar nada yang serius dari seberang.


"Oh, tidak masalah Pak. Memangnya ada apa Bapak sepagi ini menelpon saya?"


Aku pun mendengar percakapan Yulian dengan seseorang dari seberang. Tapi aku tidak tahu pasti siapa yang tengah berbincang dengannya itu. Untuk memastikannya aku pun bertanya dengan bahasa isyarat, agar suaraku tidak mengganggu perbincangannya itu. Namun, Yulian hanya memintaku untuk diam dengan bahasa isyarat, di mana ia meletakkan jari telunjuknya di depan bibir tebalnya. Dan aku pun mengangguk untuk mengiyakan permintaannya. Sembari menunggu Yulian yang masih sibuk dengan ponselnya, aku pun membersihkan tempat tidur dan merapikannya kembali seperti sebelum aku dan Yulian mengacak-acak semuanya.


"Tes." Terlihat darah segar menetes di lantai.


Dengan segera aku pergi ke kamar mandi untuk memastikan tentang darah itu. Dan apa yang aku khawatirkan terjadi kembali. Darah segar itu keluar dari hidungku dan menetes sampai di lantai. Aku mulai merasa cemas dengan kondisi kesehatanku, mungkinkah aku memiliki suatu penyakit? Atau mimisan ini hanyalah karena fisik dan ragaku yang merasa lelah? Untuk memastikannya aku memutuskan pergi ke rumah sakit setelah acara sarapan pagi bersama.


"Kricik, kricik, kricik." Suara air keran berkemericik.


Aku segera membersihkan bekas darah yang keluar dari hidungku. Setelah selesai aku pun kembali menemui Yulian untuk mengajaknya sarapan bersama, karena jam sudah menunjukkan pukul 06.30. Dan kami semua pun akan bersiap melakukan aktivitas masing-masing setelah acara sarapan pagi usai kami lakukan.


"Maafkan aku Aisyah, aku tidak bisa menepati apa yang sudah aku katakan kepadamu. Dan aku harus pergi sekarang juga!"


"Tidak apa, Mas. Hal ini di luar nalar kita sebagai manusia. Di atas kuasa-Nya lah kita masih bisa bertahan sampai detik ini. Perbanyak rasa bersyukur itu pasti akan terasa lebih indah." Kuberikan senyum untuk menyemangati Yulian.


"Terima kasih atas pengertian kamu, Aisyah." Pelukan itu telah dilayangkan untukku.

__ADS_1


Mungkin terasa begitu berat untuk melepaskannya pergi dengan jarak dan waktu yang akan memisahkan aku dengannya. Namun, di atas kuasa-Nya lah kami telah di uji. Hanya kesabaran yang harus tertanam di dalam diri sebagai penguat hati.


__ADS_2