HIJRAH CINTA

HIJRAH CINTA
BAB 110


__ADS_3

🕊💝🕊💝


Setelah mendengar kabar tentang Aisyah yang sudah sadarkan diri dari komanya, seluruh keluarga Aisyah bergegas menuju ke rumah sakit, terkecuali Humaira dan Karina. Karena Humaira lebih memilih menjaga Athar dan Suci di rumah. Sedangkan Karina, ia sudah tidur sedari tadi dengan begitu pulasnya.


Beberapa jam kemudian sampailah mereka di rumah sakit. Yulian dan Juna berlari untuk melihat keadaan Aisyah saat ini.


"Assalamu'alaikum!" Ucap salam Juna.


"Wa'alaikumsalam!" Balas Maryam.


"Umi," panggil Juna pelan.


Aku yang kebetulan masih belum tertidur kembali, menoleh ke arah Juna sambil tersenyum. Juna begitu bahagia melihat senyum indahku kembali yang mungkin sudah lama ia rindukan. Di mana kami selalu bercanda dan tertawa bersama-sama.


Juna kini tidak dapat menahan rindunya lagi. Sehingga ia langsung memeluk tubuhku yang masih sedikit lemah dan kemudian kurasakan pipiku yang basah karena air mata Juna.


"Juna kenapa menangis? Umi kan sudah tidak apa-apa. Jadi Juna tidak boleh bersedih." Ucapku pelan.


"Juna menangis karena bahagia umi. Juna bahagia melihat senyum umi lagi. Juna merasa rindu dengan umi." Jawab Juna sambil menyerka air matanya secara kasar.


"Ma'afkan umi sayang, umi telah bersalah kepada kamu dan semuanya. Umi janji mulai sekarang umi tidak akan merahasiakan masalah yang terasa berat kepada keluarga, terutama kamu." Ungkapku yang merasa bersalah.


Juna menganggukan pelan kepalanya untuk mengiyakan permintaanku sambil menggenggam tanganku. Sebenarnya, ingin rasa hati segera keluar dari rumah sakit dan pulang ke rumah untuk menemui putra kecilku. Tapi nyatanya itu tidak mungkin, karena aku yang baru sadarkan diri.


"Assalamu'alaikum!" Ucap salam Yulian.


"Yulian?" Ujar Maryam terkejut.


Jelas Maryam merasa terkejut akan kehadiran Yulian, karena Maryam tidak tahu bahwa Yulian memang masih hidup.


"Bunda, ikut Juna keluar sebentar yuk!" Ajak Juna kepada Maryam.


Juna mengajak Maryam untuk keluar dari ruangan saat Maryam akan menanyakan tentang Yulian. Karena Yulian sendiri sudah berpesan kepada semua keluarganya untuk tidak memberitahukan masalah ini kepada Aisyah.


"Kenapa kamu mengajak bunda keluar Juna? Padahal bunda mau tanya kepada Yulian." Ucap Maryam penasaran.


"Juna akan menjelaskan semuanya." Balas Juna.


Juna memang masih anak remaja, tapi dia memiliki sikap kedewasaan. Sehingga dia menjelaskan semuanya yang terjadi tentang Yulian secara detail. Dan Juna juga berpesan kepada Maryam untuk tidak menyinggung, menanyakan dan membicarakan apa yang telah terjadi beberapa minggu yang lalu kepada Aisyah.


Maryam mengerti dan sangat memahami apa yang di pinta Yulian dan Juna. Setelah mendengar kisah tentang Yulian, tiba-tiba Maryam memeluk Juna.


"Selamat Juna, kamu memang anak yang baik. Dan Allah juga sudah mengabulkan do'a kamu." Ucap Maryam kepada Juna.


Maryam dan Juna berpelukan dengan erat, seakan mengutarakan kebahagiaan mereka masing-masing atas bersatunya Aisyah dan Yulian kembali.


******


"Emmmuuuccchhhh!" Yulian melayangkan kecupan mesra dikeningku.

__ADS_1


"Aku merindukanmu. Terimakasih sudah berjuang dan mempertaruhkan nyawamu demi anak kita." Ucap Yulian kepadaku.


Sungguh menyayat hatiku saat sesaat mengingat kembali perjuanganku untuk putra pertamaku. Namun, itu adalah tujuanku. Agar aku bisa melihatnya ke dunia, walaupun aku tahu resiko besar menjadi taruhannya, yaitu nyawaku.


"Itu sudah menjadi tugas seorang ibu untuk menyelamatkan anaknya bukan. Andai jika aku yang harus pergi...." Terhenti.


"Jangan pernah bilang akan hal seperti itu. Kamu tidak boleh meninggalkan kami. Ini adalah penantian kita selama sepuluh tahun lebih. Dan kamu harus selalu bersamaku dan kedua putra kita." Potong Yulian.


Aku menganggukkan kepalaku untuk mengiyakan permintaan Yulian. Dan kami pun kembali bercanda dan tertawa bersama. Di saat Yulian akan melayangkan kecupannya lagi dibibirku, tiba-tiba beberapa dari keluargaku masuk ke dalam ruanganku. Dan seketika Yulian mengurungkan niatnya itu. Sedangkan aku, aku hanya tertawa di dalam hatiku mengingat ekspresinya yang sedikit kecewa.


Satu persatu dari keluargaku menyapaku dengan penuh kehangatan dan kerinduan. Ingin sekali aku mengobrol lebih lama dengan mereka, tapi dokter melarangku dan memintaku untuk kembali beristirahat.


Seluruh keluargaku pun berpamitan untuk pulang. Kecuali Yulian yang bersi kekeh untuk tetap menemaniku sampai aku diperbolehkan pulang. Memang Yulian adalah suami yang setia, pengertian, baik hati, dan lain sebagainya.


*******


1 Minggu kemudian...


Satu minggu sudah berlalu. Hari ini saatnya aku kembali oulang ke rumah dan siap berkumpul dengan semua keluargaku.


Aku merasa tidak sabar untuk segera pulang dan menemui putra kecilku. Namun nyatanya, aku harus menunggu Yulian datang menjemputku setelah menebus obat di apotek rumah sakit.


"Sudah siap?" Tanya Yulian tiba-tiba.


"Sudah siap dari tadi tauk! Umi sudah tidak sabar ingin bertemu dengan Athar." Jawabku dengan manja.


"Baiklah, ayo sekarang kita pulang kalau begitu." Ajak Yulian.


Yulian memarkirkan mobilnya dibagasi. Dan setelah itu, dia membukakan pintu mobil untukku. Kami berjalan bersama untuk masuk ke dalam rumah. Tapi setelah kami membuka pintu, kami dikejutkan oleh beberapa hal yang sudah dilakukan seluruh keluargaku.


"Selamat datang kembali Aisyah dan Yulian!" Ucap seluruh keluarga Aisyah dan Yulian dengan serentak.


Aku merasa terharu dengan apa yang telah mereka lakukan kepadaku untuk menyambut kedatanganku dan Yulian. Bahkan mereka sudah menyiapkan kamera untuk siap memotret kami semua.


Foto bersama keluarga besar pun telah diselanggarakan. Ada juga foto keluarga mereka masing-masing. Seperti kak Fadli bersama keluarga kecilnya dan mas Joko pun melakukan hal yang sama yaitu, foto bersama istri dan anaknya.


"Sebelum giliran kita yang berfoto, aku punya sesuatu untuk istri tercintaku ini." Ucap Yulian.


"Apa itu?" Tanyaku penasaran.


"Kalau di kasih tahu bukan suprise lagi lah umi," sahut Juna.


"Nah, itu benar kata Juna." Sambung Yulian kembali.


Kekompakan antara ayah dan anak kini kembali lagi. Dan terlihat bukan, mereka kompak kalau menjahili aku.


Aku di tuntun untuk naik ke atas tangga dan menuju ke kamar oleh Yulian dan Juna. Etahlah apa yang sedang mereka lakukan. Oh iya, ngomong-ngomong dimana ya Ahtar. Ingin sekali aku segera menemuinya.


"Suprise...!" Teriak Yulian dan Juna bersamaan.

__ADS_1


Aku merasa terharu, bahkan sangat terharu. Kamarku telah diberi hiasan yang sangat indah. Ada bunga mawar, hiasan pernak-pernik dan ada juga balon serta ada bingkisan sesuatu yang berbentuk kotak. Entah itu apa.


"Boleh umi buka ini?" Tanyaku manja.


Lagi-lagi dua boy yang sedang berada dihadapanku melakukan kekompakannya. Di mana keduanya menganggukkan kepala secara bersamaan. Akh sudahlah, tinggalkan saja mereka dan kembali membuka bingkisan kotak yang berada dihadapanku.


Baju gamis yang desain begitu indah. Ya, itu adalah baju yang pernah aku desain. Di mana ada juga baju kemeja laki-laki untuk pasangannya. Aku begitu terharu. Dan tanpa aku sadari Yulian dan Juna telah enyah dari pandanganku. Entah dari kapan mereka pergi.


"Taraaaaa!" Ucap Juna dengan bahagia.


Aku terkejut saat mendengar teriakan Juna. Dan aku seketika dibuat terharu oleh kehadiran mereka yang berada dihadapanku. Yulian, Juna dan Ahtar telah memakai kemeja yang sama dengan baju gamis yang belum aku pakai, bahkan untuk mencobanya saja belum.


"Pasti ini kerjaan kamu kan abi?" Tanyaku menyelidik.


"Abi sih cuma perantara menyerahkan desain itu ke penjahitnya. Kalau ide itu tuh," Ucap Yulian sambil mengarahkan dagunya ke arah Juna.


Aku berjalan mendekati Arjuna putraku. Dan kuberikan senyuman yang bahagia kepadanya. Ku peluk erat tubuhnya dan ku bisikkan kata-kata hangat kepadanya.


"Terimakasih sayang, kamu akan selalu menjadi kebanggan umi dan abi." Ucapku berbisik.


"Sama-sama umi. Juna akan selalu berusaha memberikan yang terbaik untuk umi dan abi." Balas Juna berbisik.


"Sudah, kalau kalian berpelukannya lama begitu kapan umi ganti bajunya? Ayo segeralah bersiap dan turun ke bawah. Kami bertiga akan menunggumu dibawah." Ucap Yulian tiba-tiba.


"Baiklah, ma'afkan umi kalau begitu. Ya sudah, umi akan berganti baju dan bersiap-siap." Balasku kemudian.


Mereka keluarga kecilku pergi meninggalkanku dan mrnungguku dibawah untuk berfoto bersama. Dan aku tidak perlu lama untuk dihadapan kaca. Karena baju gamis berwarna cream ke emasan yang dihiasi mutiara dan puring dibagian bawahnya telah aku pakai. Dan tak lupa aku memakai jilbab dan cadar yang berwarna senada. Agar lebih cantik lagi aku memakai bando lingkar yang terbuat dari bunga.


Ku rasa sudah selesai aku bersiap-siap dan kini aku akan turun ke bawah untuk menemui mereka dan berfoto bersama.


Saat aku menuruni tangga dengan perlahan, entah kenapa pandangan seluruh keluargaku terpusat kepadaku. Aku jadi merasa gugup dan tidak percaya diri.


"Umi memang cantik ya abi." Ucap Juna berbisik kepada Yulian.


"Siapa dulu dong suaminya, abi gitu!" Balas Yulian dengan percaya diri.


"Dan kedua putra abi juga tak kalah ganteng dengan abi." Ucap Yulian lagi berbisik kepada Juna.


Menurutku hari ini adalah hari penuh dengan kejutan. Dan aku sangat bahagia. Melihat keluarga kecilku berkumpul bersama lagi. Dan Allah juga memberikan keseempatan untukku hidup dan memberikan kehidupan yang baru untukku.


"Kenapa kalian memandangiku seperti itu?" Tanyaku dengan ragu.


"Karena kamu cantik sayang." Jawab bu Laila.


"Iya Aisyah, kamu bagaikan seorang pengantin. Cantik dan anggun. Dan memiliki seorang pasangan yang sangat menyanyangimu dan setia kepadamu. Sekaligus memiliki kedua putra yang sangat tampan." Sahut Maryam menimpali.


Aku tersenyum bahagia setelah mendengar ulasan dari mereka. Dan kini giliran aku bersama keluarga kecilku untuk berfoto bersama.


Posisi kami pun di atur dengan rapi. Di mana aku yang duduk ditengah sambil menggendong Ahtar. Sedangkan Yulian dan Juna, mereka berdiri di sisi samping kanan dan samping kiri. Saat kami siap untuk dipotret, kami memberikan senyuman yang indah dan bahagia.

__ADS_1


Kini aku benar-benar bahagia ditengah-tengah keluarga yang sangat menyayangiku dqn mencintaiku. Aku pun juga sangat menyayangi mereka dan sangat mencintai mereka. Tapi, cintaku tak akan pernah melibihi cintaku kepada Tuhanku.


Ya Allah Ya Robby, terimakasihku kepada-Mu atas segalanya yang Engkau berikan kepadaku. Keajaiban untuk bisa berkumpul dengan mereka, keluargaku tercinta.


__ADS_2