HIJRAH CINTA

HIJRAH CINTA
Takdir


__ADS_3

"Bu Aisyah, saya harap Ibu segera menjalani penanganan lebih lanjut sebelum kanker itu menjalar ke seluruh tubuh Ibu. Jika, itu terlambat untuk ditangani maka akan semakin berbahaya ke depannya." Tutur dokter Farhan dengan lembut.


"Tidak Dokter, saya tidak ingin jika saya menjalani perawatan lebih lanjut. Karena saya ingin hidup normal seperti biasanya. Dan saya memohon dengan sangat kepada Anda untuk merahasiakan bahkan jika bisa tutup pengobatan saya. Anggap saja saya tidak pernah menjadi pasien di Rumah Sakit ini. Saya mohon!"


Dokter Farhan terdiam tanpa sepatah katapun yang terlontar dari bibirnya dan hanya menatapku tajam dengan rasa belas kasih yang tersimpan di dalam dirinya. Mungkin benar, jika aku harus menjalani perawatan lebih lanjut untuk bisa bertahan hidup. Akan tetapi, aku berpikir kematian akan datang kapan saja tanpa kita meminta ataupun kita sudah siap untuk dijemput. Sehingga aku memohon kepada dokter Farhan agar riwayat penyakit yang kuderita ditutup dalam rumah sakit ini, rumah sakit Columbia Asia Medan.


"Maafkan saya, bu Aisyah. Tapi, saya tidak bisa menghapus riwayat pasien di Rumah Sakit ini. Dan saya sarankan bu Aisyah untuk tetap menjalankan perawatan, meskipun hanya satu bulan satu kali. Bagaimana, bu Aisyah bersedia mengikuti saran saya?"


Aku terdiam dan berpikir kembali tentang apa yang harus aku putuskan dengan tepat. Jujur aku masih ingin menghirup udara segar di pagi hari, menatap awan yang biru, bersenang-senang dan tertawa dengan keluargaku bahkan menikmati keindahan dunia yang selalu aku rindukan. Tapi aku takut, jika kematian akan segera menjemputku sebelum aku melakukan hal kebaikan untuk mereka. Namun, tidak lama kemudian aku memutuskan yang menurutku itu adalah keputusan yang tepat.


"Maafkan saya, Dok. Tapi bukan berarti saya tidak mau memilih saran Anda. Saya akan memutuskan ini, di mana saya hanya meminta obat jalan dari Anda untuk mencegah penyebaran kanker ini. Dan jika suatu hari saya merasakan sakit yang luar biasa, saya usahakan akan mengunjungi Dokter di Rumah Sakit ini. Saya sangat memohon kepada Anda, Dok!"


Aku menyerka air mataku dengan segera dan memberikan keputusan itu kepada dokter Farhan. Namun, yang terlihat dari wajah dokter Farhan, beliau seperti kecewa dengan apa yang aku putuskan. Akan tetapi, aku berusaha meyakinkan beliau untuk melakukan apa yang aku pinta. Sampai akhirnya hatinya pun luluh dan juga mau merahasiakan hasil tesku di rumah sakit, di mana beliau bekerja.


"Tapi saya ingin tahu, kenapa Anda bersi keras tidak ingin menjalankan perawatan lebih lanjut, bu Aisyah?"


"Saya tahu, Anda seorang Dokter yang ingin membantu dan mengobati pasiennya, tapi saya mempercayai sebuah takdir Tuhan yang tidak bisa dirubah oleh manusia biasa seperti kita. Meskipun kita sudah berusaha dengan keras dan melakukan sebaik mungkin, tapi jika Tuhan sudah berkehendak maka, kita tidak bisa menolaknya." Aku menjawabnya dengan tenang, seolah tidak terjadi sesuatu hal kepadaku.

__ADS_1


Entah kenapa dokter Farhan terdiam seraya menatapku tanpa berkedip. Sehingga aku segera mengalihkan pandanganku agar aku tidak melakukan sebuah dosa fitnah. Dan setelah mengetahui bahkan memutuskan segalanya, aku pun melepas jarum infus yang masih menancap di lenganku. Lalu, aku berpamitan kepada dokter Farhan dengan sopan. Layaknya seorang pasien terhadap dokternya. Namun, ketika aku hendak melangkah pergi jauh tiba-tiba dokter Farhan memanggilku kembali. Entahlah, apa yang ingin beliau katakan kepadaku?


"Tunggu, bu Aisyah! Saya ingin menanyakan satu hal kepada Anda. Kenapa Anda begitu mempercayai takdir?"


Pertanyaan itu pun terlontar begitu saja dari bibir dokter Farhan setelah beliau menghampiriku. Bahkan tatapan seketika berbeda, dari tatapan itu seolah beliau benar-benar ingin tahu dari jawabanku. Dan seakan beliau sebelumnya tidak mempercayai akan sebuah takdir yang memang sudah tertulis di dalam buku lauhul mahfudz. Entah itu itu tentang jodoh, harta ataupun kematian.


"Saya percaya dengan sebuah takdir Tuhan yang memang nyata. Karena saya pernah mengalaminya, Dok." Jawabku dengan tutur yang lembut.


"Saya ingin mendengar cerita Anda tentang sebuah takdir yang nyata. Bolehkah saya mendengarnya?"


Aku terdiam seraya mencerna apa yang dikatakan oleh dokter Farhan kepadaku. Mendengar takdir yang nyata? Mungkinkah aku menceritakan hal di mana aku harus berpisah dengan Yulian, lalu dipertemukan kembali setelah ujian menerpa rumahtangga yang kami jalani. Bahkan waktu itu kematian Yulian sempat dinyatakan oleh mereka. Namun, kenyataannya takdir telah berbeda, sehingga aku dan Yulian disatukan kembali dalam sebuah ikatan sakral yang abadi.


"Ijinkan saya mendengar kisah Anda tentang takdir seperti yang sudah Anda katakan baru saja kepada saya. Karena saya merasa tidak yakin akan sebuah takdir yang nyata. Jadi, saya mohon kepada Anda untuk menjawab pertanyaan saya." Dokter Farhan menatapku penuh harap.


Dan akhirnya aku pun luluh dengan tatapan yang sekilas kulihat. Setelah itu, aku memutuskan untuk mengajak pihak ketiga sebelum mencari tempat yang nyaman untuk mengobrol dengan beliau. Meskipun dokter Farhan terlihat seperti seumuran Arjuna, tetapi aku harus menghormatinya sebagai seorang dokter. Yang tidak akan mengurangi rasa sopanku saat berbicara dengannya.


Aku, dokter Farhan dan salah seorang suster muda yang cantik kini telah duduk bersama di ruangan dokter Farhan. Dan kami pun mengobrol banyak hal tentang takdir yang nyata. Bahkan aku mengetahui tentang permasalahan apa yang membuat dokter Farhan tidak mempercayai akan sebuah takdir Tuhan yang memang nyata. Sehingga membuatku merasa kasihan dan iba terhadap kisah cintanya yang rumit. Namun, ingin tetap dipertahankan.

__ADS_1


"Takdir yang nyata dalam hidup saya tak lain dari kisah rumahtangga saya sendiri. Tapi, maaf jika saya tidak bisa memberitahukan privasi saya yang dulu kepada Anda." Kuberikan senyum sopan kepada dokter Farhan dan suster yang duduk di sampingku.


"Tidak apa-apa, bu Aisyah. Tapi, bisakah Anda menjelaskan tentang takdir kepada kami? Karena kami tidak mempercayai takdir yang bisa menyatukan kami dalam sebuah ikatan suci." Dokter Farhan menatap suster yang berada disampingku.


Aku terdiam dan mencerna perkataan dokter Farhan tentang hubungannya. Dan setelah aku memahaminya, suster yang berada disampingku tak lain adalah kekasih dokter Farhan. Yang saat ini hubungan mereka terhalang sebuah tabu. Dan tabu yang besar membuat kisah cinta mereka tidak direstui oleh pihak kedua keluarga. Sehingga mereka harus menjalani siksa dalam cinta, karena tak bisa bersatu sesuai dengan apa yang mereka impikan bersama. Namun, aku menjelaskan takdir sebagaimana dalam. pengetahuanku kepada mereka.


"Jika larangan itu karena berbeda aliran, maka Dokter Farhan dan Suster Alina harus menyatukan kedua aliran itu. Dokter Farhan bisa saja diperbolehkan menikahi Suster Alina, jika Suster Alina sudah berpindah ke agama Islam. Sesuai dengan hadist yang disebutkan, seperti halnya wanita yang dinikahi karena empat perkara." Aku menjelaskan dengan tenang, seolah aku tidak sedang merasakan sakit apapun di tubuhku.


"Empat perkara? Apa maksud Anda, Nyonya Aisyah?" tanya suster Alina yang berantusias.


"Empat perkara dalam Islam yaitu, wanita yang dinikahi karena Agamanya, kecantikan, harta dan keturunannya. Namun, Islam meminta seorang lelaki menikahi seorang perempuan yang taat dalam agamanya, niscaya lelaki itu akan mendapatkan keberuntungan. Sedangkan takdir, kita tidak bisa merubah takdir itu sendiri, karena itu sudah kehendak Allah SWT. Dan kita sebagai umatNya hanya bisa menerima dengan lapang dada. Dan takdir kita pun sudah tertulis dalam buku Lauhul Mahfudz." Jelasku kembali seraya menatap suster Alina.


Takdir? Itulah takdir yang aku ketahui sebagaimana apa yang sudah terjadi dalam. hidupku, kisah rumah tanggaku dan takdir yang saat ini harus kuterima dengan ikhlas hati dan lapang dada. Karena penyakit yang kuderita tidak bisa ku tolak begitu saja. Begitupun dengan kematian, yang tidak bisa aku pinta ketika aku sudah siap untuk dijemput oleh malaikat namun, tidak bisa pula menolaknya jika Allah sudah memintaku untuk kembali menghadap-Nya. Dan aku pun sudah pasrah bahkan siap atau tidak siap aku harus mempersiapkan amal baik sebelum kematian itu tiba.


"Lalu, apakah kita bisa bersatu?"


Suster Alina begitu penasaran dengan hukum Islam dalam pernikahan yang sakral. Seolah suster Alina dan dokter Farhan ingin sekali memperjuangkan hubungan yang sudah terjalin cukup lama. Namun, karena tidak ada restu membuat hubungan mereka merenggang bahkan saat ini hubungan itu di ambang kehancuran. Lalu, aku menjelaskan takdir tentang cinta dalam sebuah hubungan.

__ADS_1


"Kalian harus bersiap, jika Allah sudah menginginkan kalian untuk bersatu, maka Allah akan menyatukan hubungan kalian dengan sendirinya. Tetapi, jika kalian harus berpisah maka, kalian tidak ditakdirkan untuk bersama dalam ikatan suci. Dan kalian tidak bisa merubah apapun kecuali doa. Perbanyaklah doa dan sholat sunnah istikharah, insyaa Allah Allah akan mempermudah segala urusan hamba-Nya di dunia." Tuturku lembut.


Setelah menjelaskan semuanya kepada mereka, aku memutuskan untuk segera berpamitan dan meninggalkan ruangan dokter Farhan. Karena aku tidak ingin terlalu banyak ikut campur dalam kisah cinta yang tengah mereka hadapi. Saat aku berada di lobby rumah sakit, tiba-tiba ponselku yang berada di dalam tas berdering. Sehingga aku berhenti melangkah untuk mengambil ponselku di dalam tas.


__ADS_2