HIJRAH CINTA

HIJRAH CINTA
Bayangan Semu


__ADS_3

Hari mulai berganti, siang berubah menjadi sore. Dan entah kenapa aku begitu menikmati sunset di sore ini saat aku berada di lantai atas. Terlihat begitu indah keagungan Tuhan yang telah diciptakan untuk menyempurnakan dunia. Bahkan ingin rasanya aku menggapai mentari yang hampir tenggelam.


"Masyaa Allah! Begitu indah yang Engkau ciptakan untuk dunia-Mu ini." Aku tidak berhenti mengaguminya.


Saat aku masih berdiri menatap mentari itu, tiba-tiba aku melihat bayangan yang sangat aku kenal tentang Dia. Dia menatapku dan memberikan senyum yang begitu indah dari bibirnya. Dan aku merasa bahagia melihat wajahnya yang tersenyum kepadaku. Namun, ketika aku ingin menghampirinya perlahan bayangan itu menghilang.


"Kak Maryam! Jangan pergi, kak! Aku merindukan kalian semua!"


Aku berteriak seperti orang gila yang menggonggong karena kehilangan akal sehatnya. Bahkan air bening mengalir dengan sendirinya dan membasahi pipiku. Namun, aku segera menyerka kembali air mataku setelah aku mengingat Allah yang lebih menyayangi mereka.


"Astaghfirullah hal azim." Ku ucapkan dzikir sebanyak untuk mengingat Allah.


Kerinduanku kembali terkuak di dalam hati yang membuatku merasa tersiksa jika, mengingat pahitnya kehilangan. Dan hanya bayang-bayang tentang mereka yang masih melekat di pelupuk mataku. Sejenak aku berpikir tentang hari itu, bayangan tentang mereka yang tiba-tiba hadir menemuiku. Setelah aku memutar otakku, ternyata mengingat akan sesuatu hal. Di mana aku telah berjanji untuk mengadakan pengajian setelah pernikahan Arjuna dilangsungkan.


"Ya Allah, astaghfirullah hal azim. Kenapa aku bisa lupa dengan janjiku sendiri? Lebih baik, besok aku akan mengadakan pengajian itu untuk kalian! Maafkan Aisyah, Pa, Ma, Ayah, Ibu, kak Fadli, kak Maryam dan kedua keponakanku." Wajah mereka masih terbayang di mataku.


Adzan maghrib pun telah menyadarkan aku untuk segera turun dari lantai atas lalu dan masuk ke dalam rumah, lalu menutup semua pintu dan jendela. Setelah itu, aku mengambil air wudhu untuk segera melakukan shalat maghrib yang sudah tiba waktunya. Dan ketika aku hendak masuk ke dalam ruang yang di khususkan untuk melakukan ibadah, tiba-tiba suara lembut memanggilku.


"Umi,"


Seketika aku membalikkan tubuhku untuk bertatap muka dengan Cahaya. Terlihat ia tengah mengenakan mukena yang begitu indah, yang membuat wajahnya begitu berseri. Akan tetapi, aku tidak mengerti apa yang menjadi tujuan Cahaya memanggilku.


"Ada apa, Cahaya?"


"Begini Umi, Cahaya mau menjalankan shalat maghrib bersama Umi lagi. Setelah itu, Cahaya ingin Umi Aisyah mengajarkan Cahaya untuk mengaji. Apakah Umi bersedia?"


"Tentu." Aku menarik kedua ujung bibirku dan melukiskan senyuman.

__ADS_1


Setelah mengiyakan permintaan Cahaya, terlihat jelas wajahnya yang merasa bahagia. Dan itu juga membuatku merasa bahagia saat hati dan diri ini meminta seseorang untuk menemaniku dalam mengingat hijrah cinta kepada-Mu. Meskipun terasa begitu sulit jalan hidup yang Tuhan takdirkan untukku, tapi aku percaya sempurna hanya karena mencintai-Nya.


Aku membaca niat shalat, takbir dan bacaan surat pendek sampai aku mengucapkan dua salam. Dan kini tiga rakaat pun telah usai aku jalankan dengan Cahaya sebagai makmum. Setelah itu, aku membuka dua tumpukan Al-Quran untuk membacanya bersama Cahaya. Dan kami pun beriktikaf dengan membaca ayat-ayat suci Al-Quran. Meskipun belum fasih dalam membaca fikih, tajwid dan yang lainnya, setidaknya bibir ini masih mengingat akan ajaran Tuhan yang ditujukan kepada umat-Nya.


"Shodaqallahulazim. Alhamdulillah!"


Akhirnya kami usai membaca ayat-ayat suci Al-Quran. Setelah itu, kami bersiap untuk menuju ke dapur dan menyiapkan beberapa makanan yang sudah kumasak bersama bibik tadi. Dan ketika aku hendak membantu Cahaya naik ke kursi rodanya terlihat dari ujung pintu ada Arjuna yang sedang menunggu.


"Assalamu'alaikum, Umi-Cahaya." Langkah menjulang itu telah menghampiri kami.


"Waalaikumsalam." Jawabku bersamaan dengan Cahaya.


"Terima kasih Umi, karena Umi sudah menerima Cahaya dengan tulus, bahkan Umi mau mengajarkan Cahaya untuk lebih mendalami Islam, yang seharusnya itu adalah tugasku." Arjuna menatapku dalam.


Sejenak aku memberikan senyum, lalu kuusap lembut bahu yang tegap seraya berkata, "Jika itu sudah menjadi tugasmu, maka itu juga menjadi tugas Umi."


"Pasti kalian sudah lapar! Lebih baik, kita segera menuju ke ruang makan sekarang. Bagaimana?"


"Umi dan Cahaya ke sana saja dulu, Juna mau mandi. Masih bau." Arjuna mencium bajunya sendiri.


Aku menggelengkan kepala seraya tertawa kecil setelah melihat tingkah Arjuna yang masih manja kepadaku. Bahkan aku dikejutkan akan kecupan yang dilakukannya di pipiku. Bukan hanya dari Arjuna saja, melainkan juga Ahtar yang tiba-tiba hadir dan memelukku. Dan ini membuatku menyadari akan rasa takut kehilangan mereka.


"Umi, Ahtar merasa lapar." Bisik Ahtar manja.


Seketika aku melepas tawaku, lalu aku pun mengajak mereka untuk segera menuju ke ruang makan. Dan sesampai di sana bibik sudah menyiapkan segalanya untuk dihidangkan kepada kami dalam acara makan malam bersama. Sehingga membuatku bersyukur memiliki peburuh yang membantuku dakam segala hal.


"Terima kasih, Bik." Aku melempar senyum kepada beliau.

__ADS_1


"Iya, Bu. Lagipula itu sudah menjadi tugas saya menyiapkan segalanya." Ujar beliau yang menatap ke arah meja makan.


"Ya sudah bu Aisyah, saya permisi dulu!"


"Tunggu Bik, Bibik mau kemana? Ayo sini makan bersama kami semua!"


Aku memaksa beliau untuk ikut bergabung bersama kami sampai akhirnya penolakan dari beliau tidak terjadi lagi. Setelah itu kami semua mengenyatkan pantat kami untuk mengambil duduk. Tidak lama kemudian Arjuna menyusul bersama dengan papa Adhi. Sehingga acara makan malam pun telah digelar dengan kebersamaan yang dipenuhi kenikmatan dan rasa bersyukur atas rejeki yang sudah diberikan Allah kepada kami hari ini.


Kurang lebih setengah jam kami menjalankan makan malam. Dan setelah usai, aku meminta mereka semua untuk berkumpul di ruang keluarga, karena ada sesuatu hal yang ingin aku sampaikan. Begitupun dengan mereka yang mengikuti titah ku.


"Umi mau bicara apa kepada kami?" Ahtar melontarkan pertanyaannya kepadaku.


"Baiklah, Umi langsung saja ke inti dari topik pembicaraan kita malam ini. Sebelumnya, Aisyah ingin meminta pendapat kepada Papa. Bagaimana jika, besok kita adakan pengajian untuk mereka?"


Sejenak aku menatap foto besar berbingkai indah yang menempel di dinding ruang keluarga. Setelah mengerti apa yang aku maksud, Papa Adhi pun menyetujui permintaanku. Bukan hanya Papa Adhi saja, melainkan Arjuna dan Ahtar juga menyetujinya. Sedangkan Cahaya, ia belum mengetahui tentang kisah keluargaku dan juga siapa saja yang ada di foto itu. Sehingga ia hanya mengiyakan saja seperti yang lain.


Akhirnya perbincangan kami telah usai dan kami semua meninggalkan ruang keluarga untuk melanjutkan aktivitas masing-masing. Begitupun denganku, aku kembali ke kamar untuk mengubungi Yulian dan memberitahukan kepadanya tentang rencanaku ini. Namun, tak ada respon darinya setelah berulangkali aku mencoba menghubungi nomornya.


"Mungkin Mas Yulian sedang sibuk. Ya sudahlah, lebih baik aku menghubungi Safira saja." Aku pun memencet kembali beberapa angka untuk menghubungi Safira.


Dan tidak lama kamudian Safira menjawab telpon ku lalu, aku menjelaskan tentang konsep dalam acara pernikahan Jesica yang akan dilangsungkan besok pukul 09.00 siang. Dan aku juga meminta Safira untuk datang lebih awal karena, aku masih ada urusan lain yang nanti akan membuatku sedikit terlambat untuk tiba di pesta pernikahan Jesica.


"Baik, bu Aisyah. Saya akan datang lebih awal untuk acara besok." Safira mengiyakan permintaanku dengan nada semangat dalam dirinya.


Setelah itu percakapan kami di akhiri dengan ucapan salam. Lalu, kuletakkan kembali ponselku di atas nakas dan meninggalkannya di sana. Mengingat aku yang belum shalat isya', segeralah aku mengambil air wudhu di kamar mandi. Lalu, ku ambil mukena yang tertata rapi, yang dibalut dengan sajadah sebagai penutup luar. Dan kujalankan segera shalat malam empat rakaat yang aku akhiri ibadahku dengan tiga rakaat shalat witir.


Bayangan semu itu terus melintas dalam pandanganku, sehingga aku memutuskan untuk mengirimkan doa kepada mereka. Bahkan aku begitu tidak sabar ingin pergi ke tempat di mana aku mampu mengobati rindu yang menguak jiwaku.

__ADS_1


__ADS_2