
Pagi ini terlihat seperti tidak biasanya. Di mana awan hitam menutupi matahari, sehingga matahari tidak bisa memancarkan cahanya dengan sempurna. Namun, aktifitasku tetaplah berlanjut sebagai seorang istri dan ibu.
Pagi ini aku bangun lebih awal daripada yang lain. Dan bergegas menuju ke dapur untuk melakukan rutinitas seorang ibu, yaitu memasak.
Alhamdulillah, pagi ini tubuhku jauh lebih baik daripada semalam. Sehingga aku siap melakukan agendaku didapur. Rasanya entah kenapa aku bersemengat untuk memasak pagi ini. Dan memasak semua apa yang ada di dalam pikiranku. Untung saja bahan-bahan yang diperlukan lengkap didapur mama. Alhamdulillah bukan!
*****
"Uweeekkk... Uweeekkkk!"
"Kenapa rasanya seperti ini?" Ucap Yulian dalam batin.
"Rasanya ingin muntah dan tubuhku terasa lemas." Lagi-lagi Yulian berucap dalam batinnya.
*****
"Alhamdulillah, adzan subuh sudah berkumandang," ujar Maryam.
Ya-Maryam pun telah terbangun diwaktu adzan subuh dikumandangkan. Dan setelah itu, ia langsung bergegas menuju kamar mandi untuk membersihkan diri serta mengambil air wudhu.
Setelah melakukan sholat tidak lupa Maryam membangunkan suaminya, Fadli. Dan pastinya Maryam membangunkan Fadli dengan keromantisannya seperti dalam rumah tangganya.
*****
"Alhamdulillah, terimakasih Ya Allah karena Engkau masih memberikanku ijin untuk membuka mata dipagi ini." Ucap Juna.
Juna adalah anak yang taat kepada perintah Allah. Karena kedua orang tuanya yang selalu mengajarkan itu. Padahal, dulu kedua orang tuanya tidak pernah melakukan sholat dengan tepat waktu dikala usia Juna. Tapi, dengan seiringnya waktu Yulian dan Aisyah mampu berhijrah untuk menjadi orang yang lebih baik.
"Kak Fatir, bangun kak. Sudah subuh noh!" Ucap Juna membangunkan Fatir.
Fatir adalah putra kedua dari Maryam dan Fadli yang kini berusia sembilan tahun. Dan kebetulan Juna satu kamar dengan Fatir. Jadi ya, Juna harus membangunkan Fatir selagi mereka menginap bersama-sama dirumah eyangnya.
"Hmmm iya...," Sahut Fatir dengan nada malasnya.
Biasalah ya, anak diusia itu pasti malas kalau disuruh bangun diwaktu subuh. Tapi, keluarga Aisyah akan mengajarkan anak-anaknya untuk melakukan sholat lima waktu.
Setelah Juna bersusah payah membangunkan Fatir, akhirnya Fatir pun bangun juga dari tidurnya. Dan secara bergantian mereka membersihkan badan mereka dan mengambil air wudhu. Namun, mereka melakukan sholat subuh berjama'ah.
__ADS_1
****
"Alhamdulillah, akhirnya selesai juga. Sekarang aku mau pergi ke kamar untuk membersihkan badanku dan melakukan sholat subuh." Ujar Aisyah.
Aku pun kembali ke kamar untuk melakukan rutinitasku di dalam kamar mandi. Namun saat aku memasuki kamar, aku tidak menemukan Yulian diranjang kami.
"Uweeekkkk... Uweekkk..!"
Aku pun terkejut dan penasaran dengan suara orang muntah-muntah yang aku dengar dari kamar dan pusat suara itu dari kamar mandi. Aku semakin penasaran dengan orang itu.
"Apa mungkin itu Yulian?" Tanyaku dalam batin.
Tanpa basa-basi lagi, aku mencoba menyebut nama Yulian untuk memanggilnya dan memastikan siapa orang yang berada dikamar mandi.
"*Abi...!"
"Abi*...!"
Panggilku berkali-kali karena tidak ada sahutan dari orang itu. Namun, setelah beberapa menit kemudian pintu kamar mandi terbuka. Dan ya, ternyata itu memang Yulian.
"Abi juga tidak tahu umi, tiba-tiba saja abi merasa mual seperti mau muntah. Dan rasanya badan abi lemas." Jawab Yulian dengan pelan.
Karena merasa khawatir, aku pun memapah Yulian untuk beristirahat dikasur. Dan ku ambilkan air hangat untuk diminum olehnya. Setelah itu, aku melanjutkan kembali tujuanku tadi, yaitu membersihkan tubuhku dan melakukan sholat subuh.
Setelah hampir dua puluh menit untuk melakukan rutinitasku yang wajib, aku kembali menemui Yulian. Dan ternyata dia malah tertidur. Karena ia tertidur, aku menuruni tangga untuk menuju ke ruang makan dan menyiapkan sarapan pagi yang sudah aku masak sedari tadi.
"Wah... Baunya harum sekali Aisyah!" Ucap Maryam menyanjung.
"Akh kak Maryam bisa saja. Lagiankan Aisyah sudah biasa masak seperti ini." Balasku malu.
"Emm... Apa mungkin karena yang memasak semua ini adalah bumil ya, jadi begitu harum baunya." Ejek Maryam.
"Sudah deh, kak Maryam itu tidak usah mengejek ataupun menggoda Aisyah. Mending kak Maryam sekarang bantuin Aisyah menyiapkan semuanya ini." Ucapku mengelak dan merasa malu.
Setelah canda tawa kami lakukan di ruang makan, kami pun menyiapkan kembali makanan yang sudah siap untuk disajikan. Dan alhamdulillah, sekarang sudah selesai. Tinggal menanti kursi itu dipenuhi dengan orang-orang.
"Kak, tadi itu Yulian mual-mual dan merasakan tubuhnya yang lemas. Aisyah minta tolong buat kak Maryam memeriksa keadaan Yulian ya!" Pintaku kepada kak Maryam.
__ADS_1
"Yulian sakit?" Tanya kak Maryam memastikan.
"Aisyah juga tidak tahu pasti sih kak. Maka dati itu, Aisyah minta tolong kepada kak Maryam." Jawabku menjelaskan.
Karena mengerti apa yang aku pinta, akhirnya kak Maryam mau memeriksa keadaan Yulian. Dan andai kalian tahu apa yang di ucapkan oleh kak Maryam setelah memeriksa keadaan Yulian.
"Normal kok semuanya. Apa mungkin karena kamu hamil Aisyah." Ucap kak Maryam.
"Maksudnya kak Maryam apa?" Tanyaku memastikan.
"Iya kak, maksudnya apa?" Sahut Yulian ikut bertanya.
Kebetulan Yulian sudah terbangun dari tidurnya saat aku dan kak Maryam memasuki kamar kami. Jadi dia juga tahu apa yang dikatakan dan dijelaskan oleh kak Maryam.
"Iya, kan ada juga disaat istrinya sedang hamil, yang mual-mual bahkan sampai muntah itu suaminya. Dan itu tidak nampak pada Aisyah, melainkan nampak pada diri kamu Yulian." Tutur kak Maryam.
Aku pun terkejut dengan apa yang sudah dijelaskan kak Maryam. Selain itu, aku juga hampir tertawa saat tahu apa yang terjadi dengan Yulian. Tapi sungguh aku merasa sedih ketika Yulian mual-mual bahkan hampir saja muntah. Untungnya kak Maryam memberikan vitamin menjaga daya tahan tubuh untuk Yulian.
****
Kami semua berkumpul dimeja makan. Dan bersiap untuk makan bersama-sama dan menyantap sarapan pagi.
Akhirnya setelah kurang lebih lima belas menit kita melakukan sarapan bersama, kita kembali melakukan aktifitas kami masing-masing. Tanpa terkecuali aku. Karena aku harus mengecek-kan kandunganku ke dokter spesialis kandungan bersama kak Maryam.
"Ma'af ya umi, abi tidak bisa mengantarkan umi untuk memeriksakan kandungan umi." Ucap Yulian merasa bersalah.
"Tidak apa-apa kok abi, umi kan bisa bareng kak Maryam. Lagian kan, abi harus menyiapkan semua perlengkapan untuk berangkat ke Kairo nanti malam." Balasku penuh pengertian.
Setelah saling mengerti, Yulian pun berpamitan untuk kembali bekerja. Dan anak-anak diantar oleh kak Fadli untuk pergi ke sekolah masing-masing. Sedangkan aku, aku berpamitan kepada mama dan papa berasama kak Maryam.
****
Setelah sampai di sekolah Juna dan Karina menuruni mobil sedan hitam yang mereka tumpangi. Dan berpamitan kepada Fadli. Setelah itu, mereka berjalan bersama menuju kelas masing-masing.
"Siapa sih cewek yang dekat sama Juna? Kenapa aku merasa tidak rela Juna dekat dengan cewek itu. Mana wajahnya ditutupi oleh kain lagi. Sepertinya, aku harus memberi pelajaran kepada tuh cewek." Ucap seorang gadis yang mungkin itu adalah penggemar rahasia Juna.
Berhubung mereka adalah murid baru, jadi tidak banyak yang tahu bahwa sebenarnya Juna dan Karina adalah saudara. Meskipun bukan saudara kandung. Dan entahlah apa yang akan dilakukan gadis yang menjadi penggemar rahasia Juna kepada Karina.
__ADS_1