
Yulian masih terdiam dan membayangkan wajah Aisyah yang begitu manis dan manja. Entah kenapa Yulian masih mencintai Aisyah, sedangkan hubungan spesial mereka saja sudah pupus. Apa karena saking lamanya Aisyah dan Yulian berhubungan, yang sekitar 7 tahun silam.
💦💦💦💦
"Ku pandang dengan tatapan penuh rasa kebanggaan. Begitu tampan nan gagah dengan jas hitam dan selayaknya pakaian bak pengantin. Semoga beliau bahagia dengan pilihannya." Gumamku dalam batin, ketika aku menemani papa Brian sedang memakai jas pengantin.
"Bagaimana Aisyah? Kamu sudah siap kan menemani papa?" Tanya papa kepadaku dengan rasa bangga dan meyakinkanku.
"Insyaallah Aisyah siapa pa." Jawabku dengan mantap.
"Ya sudah, kita langsung saja berangkat kesana." Ucap papa yang menyatakan beliau sudah benar-benar siap.
"Baiklah, Aisyah akan menemani papa." Balasku dengan senyum dan semangat.
Aku dan papa berjalan secara perlahan untuk menuju garasi, di mana mobil yang akan kami bawa masih terparkir dengan rapi.
Setelah memasuki mobil, kami pun melaju dengan kecepatan sedang. Namun, perjalanan kita menuju gerbang depan terhenti karena ada seseorang yang tiba-tiba berdiri dibalik gerbang. Entahlah siapa, karena dia membelakangi kami. Tapi, yang pasti dia seorang lelaki.
"Siapa sih yang ada di depan? Sangat mengganggu saja." Gerutuku dalam batin.
"Biar Aisyah saja yang turun untuk melihat pa." Ucapku kepada papa.
"Baiklah." Balas papa dengan singkat.
Aku pun turun dari mobil dan melangkahkan kaki menuju gerbang untuk membukanya. Karena tak ada pak satpam, jadi aku harus membukanya sendiri. Saat itu sih, pak satpam yang sedang bekerka dirumahku sedang tidak enak badan, jadi aku dan papa tidak mau merepotkan bik Murni.
"Assalamu'alaikum! Siapa ya dan ada perlu apa ya?" Tanyaku sembari mengucap salam kepada seorang lelaki yang saat ini sedang berdiri di hadapanku.
"Fadli?" Ucapku dalam batin dengan perasaan penuh tanda tanya setelah lelaki itu menoleh dan berhadapan denganku.
"Wa'alaikumsalam Aisya !" Jawabnya dengan senyum kecil.
"Fadli, ada apa kamu datang ke sini? Apa ada yang penting?" Tanyaku lagi.
"Sebenarnya ada, tapi apakah kamu sudah mau pergi?" Malah dia kembali bertanya kepadaku. Apa dia tidak tahu, kalau aku penuh dengan rasa penasaran atas kedatangannya.
"*Iya sih, aku mau pergi ke acara akad nikahan papa*ku." Jawabku yang menjelaskan.
__ADS_1
"Emm...Ya sudah kalau kamu sedang sibuk. Aku do'a kan semoga lancar acaranya." Ucapnya dengan raut wajah kecewa.
"Ya sudah, aku harus pergi. Karena, acaranya akan segera dimulai. Ma'af ya!" Jawabku dengan begitu acuh.
Ku balikkan tubuhku dan membelakanginya untuk kembali menaiki mobil. Sedangkan Fadli, ia masih berdiri mematung dekat gerbang dan hanya memandangiku yang sudah melajukan mobil melewatinya.
"Siapa dia nak?" Tanya papa kepadaku.
"Emm... Bukan siapa-siapa kok pa. Dia hanya seorang dosen di kampus Aisyah." Jawabku yang menjelaskan.
"Oh, ada apa memangnya? Apa nilai kamu jelek Aisyah?" Tanya papa lagi kepadaku dengan menyelidik.
"Yah tidak lah pa, nilai Aisyah tuh bagus. Kan Aisyah belajar terus, karena sebentar lagi kan akhir semester. Harus ngurus banyak sekripsi biar Aisyah bisa lulus tahun ini." Jawabku dengan panjang lebar. Hohoho...!
"Bagus lah kalau Aisyah benar-benar belajar dengan giat." Ucap papa dengan begitu yakin.
"Ma'afin Aisyah pa, sebenarnya Aisyah tidak mau membohongi papa. Tapi, Aisyah tidak mau terlibat tentang percintaan apalagi dengan pernikahan." Gumamku dalam batin.
Kami menikmati ramainya kota dalam setiap perjalanan. Papa juga melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Bukan berarti kita tak mau cepat sampai ke lokasi, tapi kita hanya menjaga agar tidak terjadi sesuatu hal yang tidak di inginkan.
"Iya Aisyah, akhirnya kita sudah sampai. Sepertinya sudah banyak yang datang tamu undangannya, ya sudah kita langsung masuk saja." Ucap papa yang mengajakku untuk masuk ke dalam.
Aku dan papa melangkahkan kaki secara perlahan, bak prajurit yang menemani raja nya dan menanti kedatangan permaisuri. Hingga akhirnya kami dikejutkan dengan sosok wanita yang menuruni tangga secara perlahan.
"Waw.... This is beautiful!" Ucapku dengan kagum.
Yah, bu Maria berdandan bak seorang permaisuri. Begitu cantik dan anggun dengan gaun putih dan hijabnya yang sepadan.
"Aisyah!" Panggil kak Maryam dengan bahasa isyaratnya sambil melambaikan tanggannya yang berada tepat dibelakang bu Maria untuk mendampinginya bak seorang prajutit yang mendampingi ratunya.
"Kak!" Balasku dengan sebuah isyarat yaitu melambaikan tangan dan senyum ceria dibalik cadarku.
Tak kalah cantik lah kak Maryam dengan bu Maria. Begitu anggun dan nampak sholekhah dengan gaun busana muslim warna merah maroon yang dipadukan dengan hijab dan cadarnya dengan warna yang sama.
Dan sedangkan aku, pasti kalian bertanya bagaimana penampilanku. Ini Dia penampilanku. Memakai gaun busana muslim berwarna biru dongker dengan hijab dan cadar yang berwarna sama.
"Alhamdulillah pengantinnya sudah lengkap. Apakah kalian sudah siap?" Tanya pak penghulu setelah bu Maria duduk disamping papa.
__ADS_1
"Insyaallah kami siap pak." Jawab bu Maria dan papa secara bersamaan setelah saling bertatap muka.
"Ya sudah. kita akan memulai acaranya." Ucap pak penghulu kemudian.
"Iya pak silahkan." Balas papa tanpa ada keraguan.
"Baiklah, sekarang pak Brian bisa memegang tangan saya seakan bersalaman dan ikuti ucapan saya." Ucap pak pengulu yang membuatku dan kak Maryam semakin merasa tegang.
"Baiklah pak. Saya akan mengikuti ucapan bapak." Balas papa dengan tegas.
"Saya nikahkan anda saudari Brian Susanto dengan Marianti bin Suhardi dan mas kawin sekaligus seperangkat alat sholat dibayar tunai." Ucap pak penghulu mengarahkan.
"Saya terima nikah dan kawinnya Marianti bin Suhardi dengan mas kawin Rp500.000 dan seperangkat alat sholat dibayar tunai." Balas papa yang mengucapkan kalimatnya hanya dengan satu tarikan nafas tanpa ada rasa ragu sedikit pun.
"Bagaimana para saksi, sah?" Tanya pak penghulu kepada para tamu undangan.
"Sah!" Jawab kami semua secara bersamaan.
"Alhamdulillah!" Ucap pak penghulu sembari memanjatkan do'a untuk pernikahan papa dan bu Maria.
Setelah acara akan nikah sudah selesai, kami dan para tamu undangan menikmati sajian yang sudah dihidangkan. Dan ini adalah momen yang pas untuk menyantap makanan yang lezat, karena sedari tadi aku sudah merasa begitu lapar.
"Wah, enak sekali makanan ini!" Ucapku yang menatap beberapa makanan dihadapanku, salah satunya masakan padang kesukaanku.
"Aisyah, ayo makan. Kakak tahu kok, nafsu selera makan kamu pasti bertambah dengan adanya masakan padang ini." Ucap kak Maryam yang sedikit meledekku.
"Apa sih kak Maryam ini! Aisyah sih memang suka banget sama masakan padang, tapi Aisyah juga malu lah kalau makan dengan porsi yang berlebih." Jawabku sedikit manja.
Kak Maryam yang menatapku pun langsung tertawa terkekeh atas ucapanku. Entahlah, mungkin diriku memang lucu. Hahaha...!
Kami semua begitu menikmati dalam setiap acara yang sedang berlangsung sampai selesai. Setelah beberapa menit akhirnya, semua tamu undangan berpamitan sambil memberi salam kepada kami sekeluarga selaku pemilik acara.
Dan sekarang, tinggal kita berempat yang masih berada dilokasi dengan suasana bahagia yang sedang menyelimuti keluarga baru ini. Di mana kami benar-benar merasakan kebahagiaan karena mendapatkan keluarga baru yang menjadikan kami keluarga yang utuh.
Bersambung...
Ma'af teman-teman readers setia "Hijrah cinta Aisyah" aku baru up lagi setelah beberapa hari. Semoga kalian tidak bosan ya dengan cerita ini. Ma'af juga kalau tidak nyambung. Berikan dukungan kalian dengan like. komentar dan kasih vote kalian, agar aku tetap bersemangat. Terimakasih.
__ADS_1