HIJRAH CINTA

HIJRAH CINTA
BAB 55


__ADS_3

🌺🌺🌺🌺


"Bolehkah aku bertanya?" Tanya Yulian untuk memulai membuka pembicaraan.


"Silahkan!" Jawab Maryam dengan senyuman namun, dia masih tetap menjaga pandangannya.


"Sebenarnya apa yang terjadi dengan Aisyah? Mengapa kecelakaan ini bisa terjadi?" Tanya Yulian penasaran sambil memandang ke sisi pojok kanan ruangan dengan pandangan kosong dan sesekali dia memejamkan kedua matanya secara perlahan.


"Sebenarnya terlalu sulit buat aku untuk bercerita tentang apa yang terjadi dengan Aisyah, namun apalah dayaku. Aisyah sudah terlanjur terluka. Jadi, aku akan tetap menceritakannya dengan kamu, orang yang selalu di harapkan adik ku." Jawab Maryam dengan tegas dan sesekali dia memberanikan diri untuk melirik Yulian, karena untuk memastikan keadaannya saat transfusi darah.


"Tapi, sebelum aku bercerita bolehkah aku bertanya satu hal kepadamu?" Sambung Maryam kembali.


"Dokter mau bertanya apa?" Yulian berbalik bertanya.


"Kenapa setelah kamu tidak jadi melangsungkan pernikahan itu, tidak mencari dan menemui Aisyah?" Tanya Maryam penasaran, karena dia merasakan luka adiknya yang sangat dalam.


"Mungkin ini semua salahku. Sebelum dokter bercerita, aku yang akan bercerita dan menjelaskan semuanya." Tutur Yulian sambil menitihkan air matanya perlahan.


Flash back on


Dulu...sebelum Aisyah memberikan pengertian dan keputusannya yang meminta Yulian untuk menikahi Kamila, Yulian sempat ingin menyerah dalam menemani dan membahagiakan Kamila disisa hidupnya yang tidak lama lagi.


Namun, belum sempat itu terjadi...Yulian melihat Aisyah bersama lelaki lain. Yang dilihatnya cukup dekat dengan Aisyah dan itu membuat kobar api cemburu dalam hati Yulian.


Dan ke esokkan harinya, Aisyah menemui Yulian untuk mengucapkan keputusannya yang sempat tidak di terima oleh Yulian tapi, apa boleh buat. Hal itu tetap harus Yulian jalani, karena Yulian mengingat kejadian saat Aisyah bersama lelaki lain.


Waktu itu acara pernikahan akan dilangsungkan, namun ternyata rencana itu gagal. Karena, sebelum pak penghulunya datang Kamila sudah meninggal dunia. Yulian merasakan kesedihan karena, berat baginya untuk menerima kenyataan di mana ia harus kehilangan teman sebaik Kamila. Dan Yulian juga merasakan sedikit bahagia, karena Tuhan menjawab do'a nya. Tapi, bukan berarti dia terlalu egois akan keadaan yang sangat menyedihkan itu, melainkan dia berharap akan di dekat kan kembali dengan bidadari di hatinya.


"Ma'af kan aku Aisyah, aku tidak bisa menemuimu saat ini. Aku malu, bahkan aku tidak sanggup menatap matamu. Aku akan berjanji kepada diriku sendiri, jika sudah tiba waktunya nanti aku akan kembali menemuimu. Kini aku harus pergi untuk menata diri agar kelak aku pantas untuk mempertahankanmu." Ungkap Yulian dalam batinnya.


Yulian begitu merasa tidak memiliki keberanian untuk menemui Aisyah saat itu. Namun, ia memiliki rasa bahagia dan janji yang harus benar-benar ia tepati setelah mengetahui kebenaran tentang Aisyah.

__ADS_1


Flash back off


"Lalu, kamu pergi kemana? Apakah kamu tahu bagaimana Aisyah yang masih mengharap kan kedatanganmu 2 tahun lalu? Namun, dengan ketegarannya dia berusaha menyembunyikan semua itu dan dia juga berusaha untuk melupakan kamu." Ucap Maryam mengingat masa lalu.


"Ma'af, mungkin itu kesalahan terbesar yang aku lakukan. Apalagi setelah aku mengetahui bahwa Aisyah tidak memiliki hubungan apapun dengan pria lain yang aku lihat waktu itu, aku merasa bertambah salah. Namun, aku berjanji mulai saat ini aku akan selalu berada disampingnya dan berusaha untuk membahagiakannya. Apapun yang terjadi dan aku anggap, dokter yang tidak lain adalah kakak dari seorang wanita yang singgah di hatiku sebagai saksi janji ku yang tidak akan aku ingkari." Balas Yulian sambil menundukkan kepalanya, dan lagi-lagi dia menetaskan air mata secara perlahan.


"Apa kamu yakin dengan janji itu? Apapun yang terjadi? Dan sedangkan kamu sudah mengetahui bahwa Aisyah mengalami kecelakaan yang begitu parah."Tanya Maryam memastikandan di balas dengan anggukan oleh Yulian.


"Sebenarnya, Aisyah sudah mendengar tentang kejadian 2 tahun lalu. Di mana kamu dan Kamila tidak jadi melangsungkan pernikahan dan dia juga mendengar bahwa Kamila meninggal dunia. Lalu, dia terlalu emosi dan entah apa yang terjadi dengannya, aku melihatnya di rumah sakit ini dia sudah seperti itu." Maryam menjawab pertanyaan Yulian saat membuka pembicaraan tadi sambil meneteskan air mata.


Hari semakin berlalu. Namun, ketegangan itu masih menyelimuti hati Fadli, Maryam dan Yulian. Bahkan Fadli pun seakan tidak berani untuk mengadu kepada keluarganya yang berada di rumah. Namun, batin seorang ibu terasa begitu kuat.


πŸ’”πŸ’”πŸ’”πŸ’”


"Kenapa ya yah, hati dan perasaan ibu jadi tidak tenang begini. Ibu terus kepikiran dengan Aisyah." Ungkap seorang ibu merasa khawatir.


"Ibu tidak usah berlebihan lah. Berpikir positif saja, Aisyah pasti baik-baik saja." Ucap pak Muchtar menenangkan istrinya.


"Assalamu'alaikum kakek...nenek...!" Suara anak kecil yang tidak asing bagi mereka.


Ya...pastinya peri kecil Fadli dan Maryam. Yang dengan sengaja ditinggalkan dirumah bersama bik Murni oleh kedua orang tuanya.


"Wa'alaikumsalam sayang...!" Balas pak Muchtar dan bu Laila secara bersamaan dan pastinya memeluk cucu nya yang begitu lucu dan manis.


"Kamu sama siapa sayang? Dimana ayah dan bunda kamu?" Tanya bu Laila.


"Tadi...ayah sama bunda lagi nyari tante Aisyah. Soalnya tante Aisyah tadi menangis sambil berlari. Dan sampai sekarang, ayah dan bunda belum pulang." Jawab gadis kecil yang polos.


Disela-sela putri Maryam yang menggemaskan itu sedang bercerita, tiba-tiba suara langkah kaki muncul dari arah pintu depan mengikuti putri kecil itu.


"Assalamu'alaikum!" Ucapan salam yang di ucapkan secara bersamaan.

__ADS_1


"Wa'alaikumsalam, loh ada pak Brian dan Bu Maria juga ternyata." Jawab pak Muchtar.


Iya, ada pak Brian dan bu Maria yang mengantarkan cucu mereka ke rumah kakek dan neneknya dari ayah nya itu.


"Iya pak muchtar, tadi kebetulan kami mampir ke rumah Fadli dan Maryam dan ternyata mereka tidak ada di rumah. Begitupun juga dengan Aisyah , dia juga tidak ada di rumahnya." Ungkap pak Brian menjelaskan.


Mereka berbincang-bincang dan bergurau dengan gadis kecil cucu mereka sambil meminum minuman yang sudah di hidangkan oleh bu Laila. Namun, masih terlihat dalam raut wajah bu Laila yang merasa khawatir dengan Aisyah putri nya itu.


πŸ•ŠπŸ•ŠπŸ•ŠπŸ•Š


"Sekarang transfusi darahnya sudah selesai. Kamu harus istirahat dulu di sini sampai tenaga kamu pulih kembali. Karena, kamu sudah mendonorkan darah kamu terlalu banyak untuk Aisyah." Tutur Maryam kepada Yulian.


"Tidak kak... Eh dok, ma'af. Aku tidak mau terus berada di sini. Aku akan menunggu Aisyah." Elak Yulian.


Begitupun Maryam, dia tidak bisa menghalangi keinginan Yulian itu. Karena, dia berpikir bahwa dia tidak terlalu berhak mencampuri urusan adiknya itu, tapi dia tetap mengingatkan Yulian untuk tidak mendekati adiknya. Karena, sudah jelas bahwa mereka belum menjadi makhram nya.


"Ini dok, darah yang sudah di donorkan untuk Aisyah." Ucap Maryam kepada dokter yang berada di dalam UGD.


Segera lah dokter menangani Aisyah dengan secepatnya dan memberikan transfusi darah yang sudah tersedia. Dan sedangkan Yulian, dia menunggu di luar ruangan UGD bersama Fadli. Hanya keheningan dan ketegangan yang melanda mereka saat ini.


"Halo assalamu'alaikum!" Fadli berucap salam.


"Wa'alaikumsalam Fadli, oh iya sekarang kamu dimana?" Tanya pak Muchtar yang selaku sebagai ayahnya.


"Ayah, apa peri kecil Fadli ada di rumah ayah sekarang?" Tanya Fadli seakan mengalihkan pertanyaan ayahnya.


Mungkin, Fadli merasa tidak sanggup untuk menceritakan yang sebenarnya tentang Aisyah. Dia masih terlalu terpuruk dalam keadaan yang melandanya saat ini. Dia merasa harap-harap cemas. Entahlah, bagaimana keadaan Aisyah nanti.


BERSAMBUNG...


SAMPAI DISINI DULU YA....TAMBAH PENASARANKAN DENGAN AISYAH. APAKAH NANTI AISYAH AKAN PERGI UNTUK SELAMANYA ATAU JUSTRU SEBALIKNYA. TETAP STAND BY YA...!

__ADS_1


JANGAN LUPA JUGA, TETAP MEMBERIKAN LIKE, KOMENTAR DAN VOTE UNTUK CERITA INI.


__ADS_2