
Mobil sedan hitam milik kak Fadli yang membawaku menuju ke rumah sakit, kini dilajukan dengan kecepatan tinggi. Kak Maryam yang selalu memiliki sikap tenang, kini terlihat begitu tegang dan khawatir. Dan itu terlihat jelas saat kedua matanya menatapku.
"Awwwww sakittt!" Teriakku.
"Sabar ya Aisyah, sebentar lagi kita sampai di rumah sakit." Ucap kak Fadli.
"Iya Aisyah, kamu perbanyaklah istighfar." Ucap kak Maryam menimpali.
Ingin sekali aku menguatkan diri ini untuk tetap bertahan. Dan ku pandangi serta ku tatap dengan lekat wajah putraku Juna untuk menyemangatiku. Tapi ternyata aku tidak bisa menahan rasa sakit yang semakin menjadi di dalam perutku. Aku hanya bisa berdo'a semoga anak dalam kandunganku bisa selamat.
Tubuh ini semakin terasa lemas. Nafasku pun semakin perlahan. Mungkin ini adalah resiko yang dinyatakan oleh dokter kandungan waktu itu.
"Ya Allah, jika Engkau ingin mengambil nyawaku tak apa. Tapi aku memohon kepada-Mu untuk menyelamatkan anak yang saat ini masih berada didalam kandunganku." Do'aku meminta kepada yang Kuasa.
Setelah aku berdo'a didalam hatiku, entah kenapa kedua mataku serasa tidak tertahan lagi. Ingin rasanya terpejam. Dan sampai akhirnya, aku tidak bisa membuka kedua mataku lagi.
"Umi, bangun umi. Umi harus bisa bertahan." Teriak Juna panik.
"Aisyah, bangun Aisyah. Aisyah...!" Teriak Maryam yang berusaha membangunkan Aisyah.
Alhamdulillah setelah perjalanan yang hampir menyita waktu 1 jam lebih lima belas menit, kini mobil sedan hitam berhenti di depan pintu masuk rumah sakit.
Dengan segera Fadli pun membopong Aisyah dan dipindahkan diatas branker. Maryam oun dengan cekatan menunjukkan sikapnya sebagai dokter. Memanggil para suster untuk membantunya membawa Aisyah ke dalam ruangan UGD.
"Bagaimana ini dokter Maryam, dokter bedah kandungan sedang cuti." Ucap salah seorang suster.
Iya, kebetulan malam itu adalah malam takbir. Jadi, kebanyakan dokter sedang cuti. Tapi Maryam tidak menyerah begitu saja. Ia menelfon dokter kandungan yang ia kenal. Salah satunya adalah dokter kandungan yang selalu menangani Aisyah.
__ADS_1
Setelah beberapa kali menelfon dokter Sari, akhirnya telfon itu oun tersambung dan di angkat oleh dokter sari.
"Assalamu'alaikum dokter sari. Mavaf sudah menganggu waktu anda. Tapi ini sangat darurat. Karena Aisyah mengalami kontraksi yang sangat hebat. Dan dia sekarang tidak sadarkan diri. Jadi saya memohon kepada anda untuk segera datang ke rumah sakit." Ucap Maryam menjelaskan.
"Wa'alaikumsalam dokter Maryam. Baiklah kalau begitu dokter Maryam, saya akan segera datang ke rumah sakit." Balas dokter sari.
Keluarga besar Aisyah dan Yulian kini telah sampai di rumah sakit. Mereka pun bergegas menemui Fadli, Maryam dan Juna.
"Bagaimana Fadli-Maryam, keadaan Aisyah?" Tanya bu Laila yang sebagai ibu kandung Aisyah.
"Ibu tenang dulu ya, kita masih menunggu dokternya datang." Jawab Maryam menyembunyikan keganjalannya.
Maryam merasa ada sesuatu hal yang buruk sedang disembunyikan Aisyah selama ini. Di mana masalah itu yang menyebabkan Aisyah mengalami kontraksi hebat.
Maryam mendekati Juna yang sedari tadi tidak berhenti menangis karena melihat Aisyah merasa kesakitan. Dan Maryam mencoba untuk menenangkan pikiran dan diri Juna.
"Juna tidak bisa tenang bunda. Seharusnya Juna bisa jagain umi. Sekarang, Juna tidak bisa memenuhi amanah abi." Ungkap Juna masih menangis.
"Juna, bunda mengerti dengan keadaan seperti ini. Lagian ini bukan salah Juna. Ini sudah takdir dari Allah. Lebih baik sekarang Juna ambil air wudhu dan berdo'a agar lebih tenang." Tutur Maryam.
Akhirnya hati Juna dapat diluluhkan oleh kasih sayang Maryam. Dan sekarang Juna memilih untuk menuju ke mushola rumah sakit.
******
"Astaghfirullah hal azim, kenapa hati dan pikiranku jadi terasa tidak tenang seperti ini. Sedangkan penerbangan pesawat sebentar lagi. Tidak mungkin kalau aku bisa ke masjid terlebih dahulu. Akh sudahlah, semoga saja tidak terjadi sesuatu." Ungkap Yulian saat berada di bandara.
Hubungan yang terjalin dan membuat sebuah ikatan, kini sedang dirasakan oleh Yulian. Di saat Aisyah sedang beradu dengan nyawanya, Yulian pun ikut merasakan kegetiran didalam hatinya.
__ADS_1
****
Alhamdulillah dokter yang sedari tadi ditunggu kedatangannya, kini akhirnya sampai juga. Dan dengan segera dokter Sari menemui Maryam dan menanyakan sesuatu hal.
"Dokter Maryam, bagaimana ini bisa terjadi?" Tanya dokter Sari memastikan.
Maryam menjelaskan apa yang sudah di alami oleh Aisyah secara detail kepada dokter Sari. Di mana itu membuat seluruh keluarganya merasa khawatir.
"Seharusnya ini semua tidak boleh terjadi. Bahkan sebelumnya aku sudah memberitahu kepada Aisyah untuk segera melakukan operasi caesar sebelum bayi yang ada didalam kandungan Aisyah mengalami kontraksi. Karena jika Aisyah mengalami kontraksi, itu sangat membahayakan diri Aisyah. Sedangkan kehamilannya mengalami masalah yang membahayakan nyawanya. Dan sekarang, apa yang saya takutkan sudah terjadi." Tutur dokter Sari menjelaskan.
"Apa? Terus sekarang kita harus bagaimana dok?" Tanya Maryam.
"Kita harus segera melakukan operasinya. Tidak ada pilihan lain. Entah nanti di antara Aisyah atau bayi Aisyah yang akan selamat, karena yang terpenting sekarang kita mengusahakan untuk penyelamatan bayi yang berada didalam kandungan Aisyah." Jawab dokter Sari dengan tegas.
Setelah mendengar penjelasan dari dokter Sari, Maryam pun bergegas membantu menyiapkan alat-alat media yang dibutuhkan selama pengoprasian.
Setelah selesai menyiapkan segala peralatan medis, Aisyah pun didorong untuk memasuki ruang operasi. Dan ketegangan, kegelisahan serta kekhawatiran telah beradu menjadi satu dalam keluarga besar Aisyah dan Yulian.
Lampu diluar operasi pun telah menyala. Di mana itu menandakan bahwa operasi Aisyah tengah berlangsung. Dan keluarga besar itu menundukkan kepala mereka masing-masing untuk tetap berdo'a kepada yang Maha Esa.
Sedangkan Maryam, dia tidak bisa membantu dalam pengoperasian Aisyah. Karena itu bukan tugas seorang bedah jantung. Dan kini Maryam lebih memilih menceretikan semua yang dituturkan oleh dokter Sari kepada Fadli. Karena Maryam tidak mau menambah rasa tegang dan khawatir kepada keluarga besar itu.
Begitu terkejutnya Fadli setelah mendengar penjelasan Maryam. Dan hampir saja ia menitihkan air mata. Namun, untungnya air mata itu bisa ditahannya. Jika tidak, semua keluarganya ikut bersedih atas kondisi yang Aisyah alami.
Bu Laila begitu panik dan merasa tidak tenang. Karena sedari tadi beliau terus mondar-mandir didepan pintu ruang operasi dan sesekali beliau juga menengok ke atas, di mana lampu yang menyala untuk berganti. Yang menandakan bahwa operasi sudah berakhir.
Begitu lama proses operasi yang membuat tegang seluruh keluarga besar Aisyah. Dan beberapa menit kemudian, kesabaran mereka dalam menanti kehadiran baby mungil telah usai. Karena suara tangisan bayi telah terdengar begitu kerasnya.
__ADS_1