
"Aku temannya Kamila kak." Jawabku dengan singkat.
"Dan kamu, bukankah kamu Yulian? Dan ada hubungan apa kamu dengan Kamila?" Tanya kak Maryam kepada Yulian dengan tatapan tajam. Entahlah, kenapa kak Maryam menatap Yulian yang bukan mukhrimnya dan dengan tatapan tajam pula. Seperti tatapan seekor harimau yang siap menerkam mangsanya. Ups, hahaha... Ma'af!
🌧🌧🌧🌧
"Aku memang benar Yulian. Aku...!" Jawab Yulian dengan keraguan.
"Kak, bagaimana keadaan Kamila?" Tanyaku kepada kak Maryam untuk memotong percakapan antara kak Maryam dengan Yulian. Karena aku tidak mau kak Maryam tahu masalahku dengan mereka.
"Kamila saat ini sudah stabil kembali. Kamu jangan khawatir. Oh iya, dimana orang tua Kamila?" Tanya kak Maryam kepada kami.
"Orang tuanya sedang menuju ke sini. Mungkin sebentar lagi mereka akan datang." Ucap Yulian memeberi tahu.
"Baiklah! Tolong nanti kalau mereka sudah datang, suruh mereka datang ke ruangan saya ya!" Balas kak Maryam.
Yulian membalas perintah kak Maryam hanya dengan anggukan pelan. Sedangkan aku, aku masih berdiri mendengarkan percakapan mereka yang ditemani oleh kak Fadli.
"Aisyah, kamu harus pulang untuk istirahat." Ucap kak Fadli yang memegang tanganku.
"Tapi, aku masih ingin di sini." Balasku yang menatap ke dua mata kak Fadli dengan pandangan memohon.
"Tidak. Kita harus pulang." Ucap kak Fadli dengan tegas.
"Iya Aisyah, itu benar. Kamu harus pulang dan istirahat. Nanti, kalau kamu sudah lebih baik lagi kamu bisa kembali." Sambung kak Maryam yang seakan berkompromi dengan kak Fadli.
Hingga akhirnya aku pun mengiyakan. Setelahnya, aku dan kak Fadli kembali ke kamar inap untuk beberes barang-barang yang akan di bawa pulang.
"Kenapa kamu tidak sesuai harapanku? Padahal aku berharap kamu yakin kan aku kembali untuk menunggu kamu. Tapi nyatanya, itu hanyalah bayangan semuku saja. Mustahil kah untuk menjadi nyata? Kamu pun tak memandangku. Apakah kamu mulai mencantai Kamila? Kalau pun itu menjadi pilihan hatimu, insyaallah aku siap menerima kenyataan ini. Walaupaun, sangat pahit untuk aku jalani." Ucapku dalam lamunan.
"Aisyah, kamu sudah siap kan?" Tanya Fadli.
__ADS_1
Aku terus membayangkan sesuatu hal yang tidak mungkin terjadi. Aku juga melamunkan kenangan yang pernah aku dan Yulian lakukan bersama-sama.
"Bagaimana, kalian sudah siap untuk pulang?" Tanya Maryam yang tiba-tiba hadir.
"Lihatlah Aisyah, dia tidak merespon apa yang kita bicarakan." Jawab Fadli sambil menatap Aisyah.
Aku masih duduk di pinggir kasur dengan sebuah harapan. Namun, aku tidak mau terlihat terpuruk dihadapan keluargaku. Aku pasti bisa melawan hawa nafsu dalam percintaan yang belum tentu ada restu dari Allah Sang Maha Pencipta.
"Aisyah, apa kamu baik-baik saja?" Tanya kak Maryam mendekatiku dan sungguh itu membuatku sedikit terkejut.
"Ah, aku... Aku tidak apa-apa kok kak." Jawabku dengan senyuman tipis.
Kak Maryam menatap kedua mataku dengan tajam , seakan di matanya penuh dengan pertanyaan untukku. Namun, dia tidak berani mengutarakan pertanyaan itu karena ada kak Fadli. Hingga dia hanya bisa membalasku dengan senyuman manis.
"Baiklah, ayo kita pulang kalau begitu." Ucap kak Fadli.
"Baiklah, Aisyah sudah siap." Balasku yang menyetujui.
"Ma'afkan kak Maryam ya sayang, kakak tidak bisa mengantar kamu pulang. Karena kakak masih ada tugas kerja." Ucap kak Maryam yang memelukku.
Ya_aku dan kak Fadli akhirnya berpamitan kepada kak Maryam dan tak lupa kami mengucap salam sebelum pergi jauh meninggalkan kak Maryam yang masih berdiri mematung memandangi kami.
"Yah, hujan kak. Bagaimana ini?" Tanyaku merasa gelisah.
"Kenapa memangnya kalau hujan Aisyah? Kita kan tidak akan kehujanan juga. Kamu tenang saja, tadi kakak pinjam mobil ayah kok." Jawab kak Fadli dengan mengelus rambutku yang ku balas dengan senyuman manja.
💦💦💦💦
"Siapa lelaki yang bersamamu Aisyah? Apakah dia kekasih mu? Apa mungkin dia juga yang akan menikahimu? Ya Allah, berikan keyakinan untuk Aisyah, agar dia masih mau memberiku kesempatan." Ucap Yulian dalam batinnya sambil memandangi Aisyah dan Fadli yang sedang saling bermanja.
*****
__ADS_1
Kini aku sedang menikmati kembali suasana kota yang ramai. Selama 5 hari dirumah sakit itu sangat membosankan bagiku, serasa sudah 1 bulan saja lamanya. Hahaha!
"Aisyah, ma'af kan lah aku!" Suar handphone ku yang berdering yang menandakan ada pesan baru masuk. Entahlah siapa yang memberi pesan.
"Assalamu'alaikum Aisyah, apakabar kamu? Aku dengar kamu sakit ya? Dan dirawat di rumah sakit? Ma'af ya aku belum bisa menjenguk kamu. Aku harus jaga kondisiku dulu, karena kata ibuku rawan kalau banyak bepergian dimasa kehamilan muda. Sekali lagi ma'afin aku ya Aisyah. " Ternyata, pesan dari Aida yang memberi penjelasan untukku.
"Wa'alaikumsalam Aida. Alhamdulillah, aku sudah sehat kok. Ini juga sudah boleh pulang dan sekarang aku sedang dalam perjalanan pulang juga. Wah, selamat ya Aida kalau kamu sedang hamil. Bener itu kata ibu kamu, kamu harus bisa menjaga dede bayi kamu dengan baik. Insyaallah, kalau aku sudah jauh lebih baik aku akan datang ke rumah kamu. " Balasku dengan panjang lebar.
"Terimakasih ya Aisyah atas pengertian dan do'a kamu. Jangan lupa ya, kamu harus datang ke rumahku. Ibuku bilang, dia merindukan kamu juga." Ucap Aida.
"Insyaallah Aida." Balasku singkat.
Akhirnya sampai juga setelah hampir satu jam dalam perjalanan. Aku begitu merindukan rumah dan pastinya bik Murni. Bagaimana ya kabarnya bik Murni?
"Perlu kakak gendong?" Ucap kak Fadli menggodaku.
"Ye...ya tidaklah kak. Memangnya Aisyah tidak bisa sendiri apa!" Balasku mengelak.
"Siapa tahu aja gitu, kan dari semasa kamu kecil kamu belum pernah kakak gendong." Ucap kak Fadli yang masih berusaha menggodaku.
Sedikit candaan yang aku dan kak Fadli lakukan sebelum masuk ke dalam rumah. Serasa aku bahagia memiliki seorang kakak lelaki, karena aku merasa ada yang melindungiku dalam setiap hari-hariku. Terimakasih Ya Allah.
"Non Aisyah, akhirnya pulang juga non. " Ucap bik Murni yang membuka pintu dengan bahagia.
"Bik Murni... Aisyah kangen banget sama bibik. Aisyah bosan di sana bik, cuma bisa tidur sama makan doang. Malah di sana makanan nya itu tidak ada yang enak lagi! Masih enak makanan yang dimasak bibik." Gerutuku sedikit mengadu kepada bik Murni.
"Sudah, jangan banyak menggerutu. Lebih baik, kamu masuk ke dalam kamar kamu sana dan istirahat." Ucap kak Fadli yang memotong percakapanku dengan bik Murni, dan sungguh itu membuatku kesal.
"Iya non, lebih baik sekarang Non masuk kamar dan istirahat. Bibik buatin bubur sama susu buat Non dulu." Balas bik Murni yang ikut-ikutan dengan kak Fadli.
Dengan sedikit rasa kesal, aku pun naik ke atas tangga untuk menuju ke kamar. Dan aku juga merasakan kerinduan terhadap kamar tercintaku ini. Dan sejenak aku rebahkan tubuh ini untuk menghempaskan rasa lelah.
__ADS_1
BERSAMBUNG....
JANGAN LUPA LIKE, KOMENTAR DAN VOTE KALIAN YA! DAN JANGAN LUPA TETAP SETIA MENANTI DALAM CERITA SELANJUTNYA. TERIMAKASIH!