
Dua bulan telah berlalu dengan begitu cepat, dan selama itu aku belum berjumpa kembali dengan Yulian. Entahlah, seberapa besar proyek yang dijalaninya di Surabaya, sehingga membuatnya harus mengulur waktu bahkan sampai dua kali mengingkari akan janjinya kepadaku. Namun, hasil masih sama, di mana aku tidak akan pernah marah kepadanya, karena aku percaya bahwa Yulian benar-benar sedang bekerja dan tidak akan pernah mendua.
"Darah?"
Tiba-tiba darah kembali mengalir dari dalam lubang hidungku. Sehingga membuatku merasa panik seketika melihatnya. Dan aku pun segera pergi ke kamar mandi untuk membersihkannya dengan air. Saat berada di dalam kamar mandi tiba-tiba kepalaku pusing dan pening, rasanya aku hampir tidak bisa menahannya. Sehingga aku segera mencari obat yang setiap hari aku konsumsi di dalam laci.
"Aisyah." Terdengar suara Arumi memanggilku dari luar.
Ingin rasanya aku menyahut panggilan dari Arumi, tetapi seolah bibirku tak bisa bergerak. Karena aku benar-benar merasa pening dan pusing. Namun, aku berusaha tetap bertahan dan ingin segera menemukan obat itu. Akan tetapi, sudah lima belas menit aku belum juga menemukannya. Entah dimana obat itu aku simpan? Seakan aku benar-benar lupa di saat genting seperti ini.
"Ceklek." Gagak pintu kamarku bergerak, lalu pintu itu pun terbuka.
"Aisyah, apa yang kamu lakukan? Kamu kenapa, Aisyah?"
Arumi melihatku tengah mengacak-acak isi di dalam laci. Bahkan kamarku berubah, yang awalnya rapi kini bak kapal pecah. Semua berserakan di lantai dan aku tidak menyadari akan hal itu. Karena yang aku butuhkan hanyalah satu, obat dari dokter Farhan. Mungkinkah obat itu sudah habis? Bagaimana aku bisa lupa? Dan kepalaku semakin merasa pusing, seolah aku tengah berputar-putar yang tidak bisa terkontrol.
"Aisyah, apakah penyakit kamu kambuh lagi?"
Aku mengangguk pelan untuk mengiyakan Arumi. Dan seketika Arumi merasa khawatir terhadap kondisiku yang tiba-tiba kambuh, bahkan wajahku terlihat memucat. Karena Arumi merasa tidak tega dan khawatir, ia pun memintaku untuk merebahkan tubuhku di atas ranjang. Sedangkan ia sendiri membantuku untuk menemukan obat yang entah di mana berada.
__ADS_1
Aku terus memejamkan kedua mataku agar tidak terlalu pusing sembari menanti Arumi menemukan obat itu. Hingga akhirnya beberapa menit kemudian obat itu dapat ditemukan, lalu Arumi segera memintaku untuk bangun dan meminum obat itu. Begitipun denganku yang mengikuti titah Arumi, setelah itu Arumi memintaku untuk kembali beristirahat.
"Istirahatlah dulu, Aisyah! Setelah kondisi kamu cukup baik, aku ingin kamu pergi ke dokter yang biasa kamu kunjungi. Kamu harus memeriksakan kembali kondisi fisik kamu ini, Aisyah." Arumi menatapku lekat.
"Tidak, Arumi. Selama obat itu masih ada ditanganku dan masih bisa aku konsumsi setiap hari, aku tidak akan memeriksakan kembali kondisiku kecuali, penyakit itu benar-benar sudah parah." Aku mengalihkan pandanganku.
"Aisyah, kenapa kamu begitu keras kepala? Jelas penyakit kanker jantung kamu itu akan menyebar jika kamu tidak segera melakukan tindakan lain selain meminum obat itu. Dan kenapa juga kamu harus menyimpan rahasia besar ini dari keluargamu, terutama Yulian. Bagaimana jika mereka tahu, Aisyah?"
Arumi melontarkan pertanyaannya dengan nada sedikit meninggi. Ya, mungkin ia kesal dan marah terhadapku dan juga keputusan yang sudah aku ambil. Namun, aku tidak ingin jika keluargaku tahu dengan kondisi fisik dan juga mentalku yang tidak baik-baik saja. Dan jika sampai mereka tahu, maka rasa khawatir akan meyelimuti mereka sepanjang waktu. Hal itulah yang tidak aku inginkan di dalam keluargaku, selain itu aku juga ingin menjalankan kehidupan sehari-hari dengan normal, tanpa adanya rasa resah, gelisah dan takut jika suatu hati nanti kematian akan datang menjemputku.
"Umi,"
Tiba-tiba Ahtar masuk ke kamarku dan menatapku begitu dalam. Entahlah, kenapa ia menatapku seperti itu? Mungkinkah Ahtar mendengar percakapan antara aku dengan Arumi? Dan bagaimana jika itu benar, ia mendengar semua tentang kesehatan tubuhku yang sekarat? Jangan! Aku harap. jangan sampai Ahtar mendengar semua itu. Sehingga aku segera bangun dari posisiku yang merebahkan tubuhku. Lalu, aku duduk di muka kasur dan bertanya kepadanya, "Iya, sayang. Ada apa?"
"Akh, tidak. Umi hanya merasa lelah sedikit, jadi saat Mama Arumi masuk, Umi sedang rebahan saja. Seperti yang kamu lihat." Aku menatap Arumi seraya memberikan isyarat kepadanya.
Ahtar mengangguk pelan, seolah ia memercayai dengan apa yang ku katakan. Dan itu membuatku merasa lega, bahwa Ahtar memang tidak mendengar percakapanku dengan Arumi tentang penyakit yang kuderita. Setelah memercayai perkataanku, Ahtar kembali keluar dari kamarku. Sedangkan aku, aku masih berada di dalam ruangan itu bersama dengan Arumi. Dan lagi-lagi aku meminta Arumi untuk merahasiakan semuanya dari siapapun, termasuk Yulian sekalipun.
"Arumi, aku percaya kamu bisa menjaga semuanya. Tolong, dan aku mohon sekali kepada kamu untuk tidak membahas kanker jantung yang melekat di dalam tubuhku ini saat berada di rumah." Wajahku pun memelas dan memohon kepada Arumi.
__ADS_1
"Aku khawatir dengan kondisi kamu, Aisyah. Ingin sekali aku merahasiakan semua itu, tapi maaf karena itu akan aku lakukan sampai kondisi kamu tidak terlalu memburuk. Jika suatu saat nanti kamu perlu diberi tindakan lanjut, maka aku akan memberitahukan semua kepada keluarga kamu, Aisyah." Arumi membalikkan tubuhnya dan memunggungiku.
Terlihat jelas sikap Arumi yang merasa kecewa dengan keputusanku. Namun, dengan sikap Arumi seperti itu, membuatku merasa aman saat berada di dekatnya. Bahkan akun merasa yakin, Arumi tidak akan mungkin meninggalkanku saat aku terpuruk dalam kondisi yang membuat diriku sendiri merasa lemah.
Setelah mulai membaik, aku mencoba untuk berjalan pelan menuju ke dapur. Karena waktu itu jam masih menunjukkan pukul 06.00 pagi. Dan aku ingin membuatkan beberapa hidangan untuk sarapan bersama di pagi itu sebelum semuanya melakukan aktivitas masing-masing. Ketika aku sampai di dapur ternyata semua sudah siap di atas meja makan.
"Semua sudah siap? Tapi ... siapa yang memasak semua masakan lezat ini?"
Aku pun bertanya-tanya di dalam hati saat melihat beberapa masakan bergizi sudah dihidangkan di atas meja. Bahkan aku menerka-nerka jika yang membuat masakan itu tak lain adalah bik Inem. Dan tidak mungkin jika, Cahaya yang membuatnya karena, aku tahu bagaimana kondisinya saat ini. Di mana masa kehamilannya sudah bertumbuh, perutnya pun mulai membuncit.
"Eh, ada bu Aisyah. Bagaimana bu Aisyah, apakah terlihat lezat dan bergizi menu pagi ini?"
Bik Inem menegurku saat melihatku menatap meja makan yang sudah banyak sekali akan makanan bergizi. Karena aku merasa penasaran dengan siapa yang memasak, aku melontarkan pertanyaan kepada bik Inem tanpa menjawab pertanyaannya. Tapi, bukan berati aku tidak sopan terhadap beliau. Namun, aku benar-benar merasa penasaran akan semua itu. Dan jawaban yang diberikan bik Inem membuatku merasa terkejut bahkan serasa tidak percaya.
"Bik Inem tidak mungkin salah, kan?"
"Benar, bu Aisyah. Karena Nyonya Arumi dan Den Ahtar lah yang meminta Bibik untuk mencicipi setiap makanan yang baru dimasak." Bi Inem tersenyum bangga.
"Oh, baiklah! Terima kasih, bik." Aku membalas bik Inem dengan senyuman.
__ADS_1
"Iya, bu Aisyah. Ya sudah, kalau begitu bik Inem mau panggil semuanya untuk memberitahukan kepada mereka kalau sarapan pagi sudah siap untuk disantap. Permisi dulu, Bu!"
Aku mengangguk pelan untuk mengiyakan bik Inem. Sedangkan aku, aku menanti kehadiran mereka semua di ruang makan. Dan tidak lama kemudian satu persatu di antara mereka pun silih berganti datang lalu, mengambil duduk dan mengenyatkan pantat mereka dengan posisi yang nyaman. Setelah mereka berkumpul semua di ruang makan, tidak lama kemudian kami menyantapnya bersama dengan penuh kenikmatan dan rasa syukur terhadap pemberian Allah di pagi itu. Dan entah kenapa sepasang mata tajam Ahtar memandangiku tanpa berkedip, bahkan seringkali menatapku seperti tak biasanya. Sehingga membuatku penasaran dengan sikapnya itu.