HIJRAH CINTA

HIJRAH CINTA
BAB 56


__ADS_3

🌺🌺🌺🌺


"Ayah, bagaimana kalau kita coba hubungi Fadli saja. Karena tidak biasanya Fadli dan Maryam seperti ini, meninggalkan anaknya tanpa kabar. Dan ibu menjadi khawatir dengan anak-anak ibu." Ungkap bu Laila yang semakin khawatir dengan anak-anaknya.


Waktu telah berlalu, malam kian semakin melarut. Jam sudah menunjukkan pukul 12.30, tapi belum ada kabar apapun tentang ketiga anak-anak bu Laila itu.


"Baiklah bu, ayah akan mencoba menghubungi Fadli." Tegas pak Muchtar.


Ya...karena keinginan Karina untuk menginap di rumah kakek dan neneknya itu, membuat pak Muchtar dan bu Laila menjadi semakin khawatir dengan kedua orang tua Karina yang belum ada kabar sama sekali, walaupun hanya untuk sekedar menelfon.


"Tut....Tut...Tut...!" Panggilan belum terjawab.


Pak Muchtar terus berusaha menghubungi nomor ponsel Fadli, namun sudah berkali-kali belum ada jawaban sama sekali.


🌧🌧🌧🌧


"Ayah. Aku harus bagaimana ini? Tidak mungkin kalau aku memberitahu mereka melalui telfon." Fadli merasa begitu gelisah.


Ya...sampai saat ini belum ada kabar juga tentang keadaan Aisyah. Entahlah, seberapa parah kecelakaan yang di alami Aisyah sehingga membuatnya harus lama di ruangan UGD.


"Bagaimana ini dok, tekanan darahnya menurun?" Seorang suster merasa kebingungan dan kepanikan, karena alat defibrillator berubah menjadi garis lurus.


"Jangan panik, kita harus berusaha untuk menyelamatkan pasien ." Dokter berusaha menenangkan suasana ketegangan di dalam ruang UGD.


"Ya Allah, kuat kan lah aku yang berada di dalam ruangan ini. Berikanlah aku kekuatan untuk menyelamatkan adik ku. Amin...!" Do'a Maryam.


"Dokter, kita harus mencari detak jantungnya kembali. Dan suster, kamu naik kan tingkatan ke 200 joule." Tutur Maryam memberikan semangat untuk diri nya sendiri dan tim dokter.

__ADS_1


Maryam berusaha menguatkan dirinya dan tetap menjadi seorang dokter yang diharapkan untuk membantu pasiennya dalam pengobatan maupun penyembuhan.


"Ya Allah, kuatkanlah Aisyah. Aisyah, kamu harus kuat. Aku yakin kamu pasti bisa melewati masa sulitmu kembali. Kamu tidak boleh pergi meninggalkan aku secepat ini. Aku janji, aku akan selalu ada di dekatmu. Kamu harus kuat untukku dan keluargamu." Derai air mata Yulian tidak bisa terbendung terlalu lama. Dia terus menangis sejadi-jadi nya saat melihat garis di alat defibrillator berubah menjadi lurus.


"Ya Allah, berikan kekuatan untuk adik ku yang berjuang di dalam sana. Dan berikan lah kekuatan untuk istriku yang berusaha menyelamatkan adik kami." Do'a Fadli yang di ucapkan bersamaan dengan Yulian.


Kini masa sulit yang mungkin amat sulit bagi Aisyah, karena mempertaruhkan nyawanya yang diambang antara hidup atau mati. Namun, semua tim medis tidak akan menyerah begitu saja. Mereka semua terus berusaha untuk menyelamatkan nyawa Aisyah. Hingga akhirnya, detak jantung Aisyah kembali di temukan dan garis itu kembali normal.


"Alhamdulillah! Terimakasih Ya Allah!" Ucap serentak dari tim medis dan Yulian serta Fadli.


"Kakak yakin dek, kamu pasti bisa." Maryam berusaha meyakinkan dirinya dan adiknya dengan senyuman yang dipenuhi dengan rasa haru.


πŸ•ŠπŸ•ŠπŸ•ŠπŸ•Š


"Sebenarnya siapa lelaki yang saat ini bersamaku? Mengapa dia menangis dan amat terpukul dengan kejadian yang menimpa Aisyah? " Fadli bertanya-tanya dalam batinnya.


Diantara Fadli dan Yulian, mereka ternyata sudah lupa satu sama lain. Di mana Fadli yang pernah bertemu dengan Yulian, bahkan pernah menegur Yulian diwaktu Yulian sedang duduk melamun saat berada di taman kampus dua tahun lalu.


"Dokter, bagaimana keadaan Aisyah?" Sergap Yulian dan Fadli bersamaan sambil saling memandangi satu sama lain.


"Sebenarnya ada kabar baik dan ada kabar buruk nya..." Ketika dokter hendak menjelaskan tentang Aisyah, penjelasan dokter itu terpotong oleh perkataan Fadli dan Yulian yang lagi-lagi mereka ucapkan bersamaan.


"Apa maksud dokter?" Tanya Fadli dan Yulian dengan wajah penasaran dan lagi-lagi rasa khawatir muncul dalam diri mereka.


"Baik, saya akan jelaskan . Kabar baik nya, alhamdulillah Aisyah melewati masa yang sulit dan kabar buruknya... Aisyah mengalami cedera dibagian otaknya dan itu menyebabkan... Aisyah koma dalam 1 bulan atau bahkan lebih dari itu." Tutur dokter itu yang membuat Fadli dan Yulian merasa syok.


"Astaghfirullah hal azim! Aisyah, kenapa ini terjadi kepada kamu?" Ucap Fadli yang tidak bisa menahan air matanya karena sudah sedari tadi telah terbendung di dalamnya.

__ADS_1


"Bruukkkkk!" Yulian menjatuhkan jas yang dia pegang dan bersamaan dengan Maryam yang keluar dari dalam ruangan.


Yulian merasa syok dengan apa yang dia dengar dari penjelasan dokter. Dia jatuhkan jas hitam yang ia pegang dan disampirkan di lengannya sedari tadi dan seketika tubuhnya pun ambruk ke tembok. Dan saat itu, bersamaan dengan keluarnya Maryam dari dalam ruangan.


"Aku tahu kamu begitu terluka, tapi aku harap kamu bisa kuat." Ucap Maryam dalam batinnya sambil melihat ke arah Yulian yang begitu terpuruk.


"Bunda... Apa benar ulasan dari dokter yang baru saja keluar?" Tanya Fadli kepada Maryam dengan isyarat karena, pertanyaan itu tidak mampu terlontarkan dari mulut Fadli secara langsung dan dibalas dengan angguk kan pelan oleh Maryam.


"Kita harus kuat sayang. Bunda yakin, Aisyah adik kita pasti bisa melewati semuanya ini." Tutur Maryam kepada suaminya Fadli sambil memeluknya untuk saling menguatkan.


"Iya sayang, ayah juga yakin akan hal itu." Ucap Fadli sambil membalas pelukan istrinya dan melihat adiknya yang tidak sadarkan diri.


"Sekarang kita harus bisa tenang. Kita tidak mungkin memberitahukan kepada semua keluarga kita tentang keadaan Aisyah dengan keadaan kita yang seperti ini." Tutur Maryam kembali sambil menatap ke dua mata suaminya dengan lekat dan penuh makna.


"Iya sayang, kamu benar." Ucap Fadli sambil menyerka air matanya dengan kasar.


"Kalau begitu, ayah akan antar bunda pulang untuk istirahat dan setelahnya ayah akan kembali lagi ke rumah sakit." Sambung Fadli kemudian.


"Tidak ayah, ayah saja yang pulang dan ayah harus secepatnya memberitahu ayah-ibu, papa dan mama. Bunda yakin, mereka pasti sudah merasa cemas dengan kita yang tanpa kabar sama sekali." Balas Maryam dengan lembut dan sikap dewasanya.


"Bunda saja yang pulang untuk istirahat dan menemani Karina. Besok ayah akan menemui ayah-ibu, papa dan mama." Ucap Fadli tidak mau mengalah.


Ya...saat itu perbedaan pendapat pun terjadi antara Fadli dan Maryam. Mereka terasa berat hati untuk meninggalkan adiknya sendiri berada di dalam ruangan dan enggan untuk pulang. Namun...sesuatu hal terjadi yang membuat mereka seketika berhenti dalam perdebatan kecil itu.


"Bolehkah aku saja yang berada di dalam dan menemani Aisyah? Dan aku rasa... Lebih baik kalian berdua pulang untuk beristirahat." Ucap Yulian yang mendekati Fadli dan Maryam.


Yulian berusaha meminta ijin kepada Fadli dan Maryam untuk bisa menemani Aisyah malam itu. Dan andai kalian tahu bagaimana ekspresi wajah Fadli dan Maryam, mereka saling memandangi satu sama lain dan kemudian memandang lagi ke arah Yulian.

__ADS_1


BERSAMBUNG...


HAI-HAI...CUKUP DISINI DULU YA MALAM INI. INSYAALLAH BESOK SAYA LANJUT LAGI. TERIMAKASIH ATAS DUKUNGAN KALIAN TEMAN-TEMAN READERS. SEMOGA KALIAN SEMUA TIDAK MERASAKAN BOSAN DALAM CERITA INI. DAN JANGAN LUPA TETAP DUKUNG CERITA INI DENGAN LIKE, KOMENTAR DAN VOTE KALIAN. TERIMAKASIH


__ADS_2