HIJRAH CINTA

HIJRAH CINTA
Selamat Datang


__ADS_3

"Assalamu'alaikum, Umi-Abi." Ahtar menyeringai.


"Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh." Jawabku bersamaan dengan Yulian dan Arjuna.


"Bukannya, tadi kamu bilang sama Umi masih ada tugas yang membuat kamu harus pulang malam? Tapi, kenapa kamu sudah tiba di sini, Ahtar?"


"Ternyata Ahtar salah dalam memberikan informasi, Umi. Ahtar cuma dikasih ini." Ahtar pun menyodorkan selembar kertas.


Selembar kertas yang terlipat dengan rapi membuatku merasa penasaran dengan isi yang ada di dalamnya. Bukan hanya aku saja, melainkan Yulian dan juga Arjuna juga ikut merasa penasaran. Sehingga kami bertiga membacanya bersama saat Yulian membuka pelan kertas itu. Dan isinya pun mengejutkan kami, di mana Ahtar telah lulus dengan nilai yang sangat baik, bahkan terbaik. Bukan hanya itu, Ahtar juga mendapatkan beasiswa kuliah di luar negeri dengan jurusan yang selama ini diimpikannya. Dan hal itu membuatku merasa bangga sebagai orang tuanya atas segala prestasi yang didapatkan selama ini.


"Selamat sayang, karena impianmu sudah tercapai." Aku memberikan pelukan kepada Ahtar.


"Jagoan Abi selalu membanggakan." Yulian menepuk pelan bahu Ahtar.


"Abang bangga sama kamu, dek. Semoga apa yang menjadi cita-citamu selalu dipermudahkan untuk memenuhinya sama Allah." Arjuna pun memberikan pelukan.


Kami benar-benar bahagia siang itu, di tambah lagi hadirnya Hafizha di kediaman kami. Karena siang itu Hafizha akan tinggal bersama kami untuk selamanya. Namun, aku tidak tahu, bisakah aku menemani Hafizha sampai Dia tumbuh besar nanti. Dan rahasia itu masih ku genggam erat di dalam diri. Hanya kata maaf yang masih ingin aku ucapkan kepada mereka terutama, Yulian. Karena detik ini aku masih belum siap untuk menceritakan segalanya.


"Aku bahagia melihat kalian tertawa." Ungkap ku dalam hati saat melihat Yulian tertawa bersama kedua putranya.


"Permisi, Umi Aisyah!"


Seketika lamunanku terbuyarkan saat Jessica hadir menyapaku. Lama sekali aku tidak berjumpa dengannya dan sekarang aku melihat perubahan yang ada dalam dirinya. Mengagumi penampilan barunya dan mengucapkan syukur alhamdulillah karena, Jessica telah menjadi seorang Muslim. Bahkan Dia mengenakan hijab, yang menutupi mahkota indahnya sebagai seorang perempuan.

__ADS_1


"Alhamdulillah, jika kamu sudah memantapkan hatimu untuk kembali kepada Allah. Umi hanya bisa berdoa semoga saja kamu menjadi wanita yang istiqomah nantinya." Aku memberikan senyum merekah kepada Jessica.


"Aku mengenalnya melalui Umi, dan aku berharap bisa se-istiqomah Umi Aisyah." Jessica menatapku seraya tersenyum.


"Dan Umi ucapkan selamat datang di kehidupan barumu, Jessica!"


Tidak lama kemudian perbincangan antara aku dengan Jessica harus berhenti saat Ahtar datang menghampiriku. Tatapan itu terlihat begitu serius tetapi, ada ribuan air mata yang tertahan di dalam pelupuk matanya. Dan itu membuatku bertanya ada apa dan kenapa? Lalu, aku pun mengajak Ahtar berbicara hanya empat mata, agar aku tahu apa yang membuatnya memberikan tatapan itu kepadaku.


"Ada apa? Umi melihat tatapan yang dalam dari sepasang mata kamu, Ahtar? Apa yang sedang ku sembunyikan? Katakanlah!"


Di bawah pohon yang tumbuh dengan besar, daun yang merekah menutupi rerumputan dibawahnya dan ditambah dengan angin bertiup pelan. Di sana aku dengan Ahtar berbicara layaknya seorang ibu terhadap putranya dan juga bak sahabat yang harus mengerti bagaimana posisinya. Menjadi dua profesi sekaligus terkadang membuatku tidak mudah, karena harus benar-benar mengerti perasaan putraku. Tapi, aku harus bisa memberikan apapun yang terbaik untuknya. Termasuk siang ini saat aku bersamanya.


"Ahtar mendengar semuanya, pembicaraan antara Umi dengan Mama Arumi pagi itu. Dan itu membuat Ahtar tidak bisa jauh dari Umi, apalagi menerima beasiswa itu. Sudah tidak ada minat apapun lagi." Ahtar menundukkan kepalanya.


Aku menatap lekat wajah Ahtar yang perlahan diangkatnya lalu, membalas tatapanku. Dan perlahan ia menganggukkan kepalanya untuk mengiyakan keinginanku yang mungkin saja sulit baginya. Bahkan, air matanya kini tak dapat dibendung saat ia tiba-tiba memelukku dengan erat. Namun, seketika air mata itu diserka olehnya setelah melihat Arjuna dan Yulian datang menghampiri kami. Dan Ahtar juga terpaksa melakukan sandiwara yang sudah kubuat ini.


"Ada apa ini?"


"Biasa Abi, Ahtar manja sama Umi." Aku melempar senyum.


"Ahtar hanya berpikir tidak bisa jauh dari Umi, kalau Ahtar menerima beasiswa itu. Tapi, Umi meminta Ahtar untuk menjadi lelaki yang tumbuh dengan sikap dewasa. Jadi, Ahtar memeluk Umi sebentar sebelum Ahtar jauh dari Umi." Jelas Ahtar seraya tersenyum menyeringai.


Seketika itu Ahtar membuat Yulian dan Arjuna tertawa kecil, sehingga tidak ada rasa curiga yang ada dalam pikiran mereka atas apa yang baru saja aku dan Ahtar bicarakan. Dan topik kami pun teralihkan setelah aku melihat Yulian tengah menggendong Hafizha. Kesedihanku pun telah terobati dengan sejenak atas kehadiran Hafizha di tengah-tengah kami. Setelah itu, aku meminta Yulian untuk segera membawa Hafizha pulang, karena cuaca siang itu tiba-tiba terlihat tidak baik. Awan mulai menghitam, mulai menggelapkan kota Medan di siang itu. Aku takut, jika efek hujan akan memengaruhi kesehatan Hafizha yang masih kecil.

__ADS_1


"Ayo mas, kita segera pulang saja! Takut jika, hujannya akan segera turun." Aku menatap langit-langit yang menghitam.


"Baiklah! Kalau begitu Arjuna, kamu ambil mobilnya. Dan Ahtar, kamu ikut sama kami atau...?"


"Tidak, Bi. Ahtar bawa motor." Ahtar menunjukkan motornya yang diparkir tidak jauh dari kami berdiri.


Tidak lama kemudian Arjuna datang seraya membawa mobil yang dijadikan kendaraan pulang bagi kami. Dan setelah aku serta Yulian memasuki mobil BMW milik kami, Arjuna pun melajukannya dengan kecepatan sedang. Begitupun dengan Ahtar yang mengendarai motornya mengikuti mobil kami dari belakang. Sehingga kami sampai di rumah secara bersamaan, dan kehadiran kami semua telah disambut meriah oleh bik Inem, Cahaya dan Arumi.


"Selamat datang!"


Saat aku membuka pintu sontak suara teriakan sambutan telah kudengar penuh kegembiraan. Dan itu membuatku begitu terhibur serta syukur alhamdulillah aku ucapkan dalam hati kecilku, "Alhamdulillah, ternyata kalian ikut bahagia atas kehadiran Hafizha di rumah ini. Terutama kamu Arumi, meskipun sering kali kamu mencoba menghentikan keinginanku itu, tapi tidak ada rasa benci terhadap Hafizha, bayi kecil yang tidak berdosa ini."


Sambutan itu dilakukan sangat sederhana, hanya ada beberapa keperluan yang sudah menjadi adat di sini. Seketika rumah kami pun di penuhi dengan tawa bahagia untuk menyambut Hafizha. Bahkan ucapan selamat datang untuk Hafizha diucapkan secara bergantian oleh mereka seraya mencium Hafizha yang masih aku gendong. Setelah itu, aku memutuskan untuk merebahkan Hafizha di tempat tidurnya, di mana Yulian dan aku sudah mempersiapkan kamar untuk ia tidur dengan nyenyak.


"Selamat datang, Hafizha. Sekarang, kamu akan menjadi putri kecilku. Semoga kelak kamu akan tumbuh dengan ke sholehan dalam dirimu. Semoga Allah senantiasa menjagamu!"


Aku pun mengecup pelan kening Hafizha dengan penuh kasih sayang. Dan sebelum aku menidurkannya di tempat tidur, aku menimangnya sejenak. Ketika aku menimangnya, terlintas kembali tentang amanah dan wajah Khadijah yang terbayang dari sosok wajah Hafizha. Dan itu membuatku merindukan Khadijah, yang entah di mana saat ini?


"Khadijah, andai kamu melihatnya saat ini. Pasti kamu akan ikut bahagia dan juga menimangnya dengan kasih sseorang ibu. Tapi, kamu meninggalkannya begutu saja," ungkapku dalam hati.


"Ceklek."


Perlahan pintu kamar Hafizha telah dibuka pelan dari arah luar. Entah siapa yang hendak masuk ke dalam, karena orang itu tak kunjung masuk dan menemuiku. Sehingga membuatku penasaran dengan siapa di balik pintu itu?

__ADS_1


__ADS_2