JERAT IBLIS

JERAT IBLIS
BAB 100


__ADS_3

πŸ€ SECERCA HARAPAN πŸ€


Seorang wanita berlari, ketakutan. Langkah kakinya tak bisa terhenti dan terus melaju tanpa tentu arah. Dia terlihat kelelahan tetapi tak berani berhenti karena tempat yang asing membuatnya semakin bingung.


"Dimana aku? Tempat apa ini? Bima ... tolong aku ...." lirihnya sambil memandang tak tentu arah.


Ningsih tersesat di dunia roh. Kondisinya yang koma membuatnya terpental ke dunia yang tak seharusnya dia kunjungi.


***


Sehari setelah kecelakaan, Bapak dan Ibu sudah sadar meski belum bisa bicara. Dua jam kemudian, Wahyu dan Mak Sri juga sadar dan bisa diajak komunikasi meski masih bingung. Hanya Ningsih dan Joko yang belum sadarkan diri.


Bima datang ke rumah sakit dan berusaha menolong keluarga Ningsih. Namun, hal ini tak semudah yang dikira, Roh Ningsih tersesat. Sepertinya hal itu juga terjadi pada Joko.


"Dinda, aku harus menyusul Ningsih dan Joko dalam dunia roh. Kalau tidak, mereka bisa tak terselamatkan," bisik Bima pada adiknya yang berada di samping.


"Kak, ini akan berbahaya bagi kakak. Roh yang tersesat berbeda dimensi dengan penghuni neraka. Kakak yakin bisa membantunya?" Dinda terlihat khawatir.


"Yakin. Kakakmu ini hebat, bukan? Tenang saja. Terpenting, kamu harus menjaga mereka semua dengan baik. Kakak tidak bisa kembali sebelum Ningsih ditemukan. Tubuhnya tidak akan bertahan lama tanpa roh karena luka kecelakaan terlalu parah," jelas Bima sambil tersenyum menatap adiknya yang sangat cantik. Tak bisa dipungkiri kecantikan Dinda membutakan mata dan hati lelaki.


Oleh sebab itu Dinda menjadi Nyai Pelet yang bertugas menarik lelaki sebanyak-banyaknya. Kecantikannya mempesona dan sempat membuat Reno terperdaya.


"Baik, Kak. Hati-hati di sana. Lalu bagaimana dengan Evan dan perempuan yang menjadi iblis itu?" tanya Dinda perlahan.


"Evan dan Lily? Mereka saling mencinta. Evan berjanji tak akan mengganggu lagi. Tenang saja," jawab Bima.


"Kakak yakin si Evan bisa dipegang janjinya? Bukannya kalian musuhan sampai ratusan tahun gara-gara pertandingan perluasan wilayah level neraka?" selidik Dinda, tatapannya semakin tajam ke Bima.


"Hmm ... sepertinya Evan sudah memaafkanku. Kami tidak melanjutkan pertempuran tadi. Tentunya dengan syarat tidak saling mengganggu. Dah ya, kakak akn pergi. Jaga mereka, ok!"


Bima pun pergi dari rumah sakit dan menghilang. Dia mulai masuk ke dunia sunyi di mana banyak roh tersesat. Seperti orang yang berjalan-jalan saat tertidur (dream walker) atau orang yang belum meninggal tetapi tersesat (koma panjang).


"TEMPAT YANG TAK INGIN KUDATANGI. TETAPI DEMI KAMU NINGSIH, AKU AKAN MENCARIMU SAMPAI KETEMU." kata Bima menyibak rerumputan yang rimbun dan panjang.


"Tolong! Tolong!" teriakan seorang lelaki membuat langkah Bima terhenti.

__ADS_1


"JOKO?" ucap Bima memastikan.


"Iya. Siapa di sana? Tolong aku. Kakiku terjepit di jempatan dan tak bisa bergerak," teriak lelaki itu lagi.


Sungguh beruntung atau sial? Mencari Ningsih yang terutama justru menemukan Joko terlebih dahulu. Bima pun mendatangi asal suara Joko.


"Aaaaa! Makhluk apa kamu? Jangan mendekat! Kenapa bisa tahu namaku Joko? Jangan ambil nyawaku. Ampun ... ampun ...." Suara Joko serak dan berteriak tak jelas. Ketakutan melihat wujud iblis Bima dengan badan merah menyala bagaikan api.


"DIAM! AKU AKAN MENOLONGMU. APAKAH KAU MELIHAT NINGSIH?" Bima melepaskan kaki Joko dari sela jempatan yang di bawahnya terdapat jurang dalam tak berujung.


"Te ... terima kasih. Kamu makhluk apa? A ... aku tak melihat Ningsih. Kami kecelakaan dan saat tersadar, aku sudah berada di tempat mengerikan ini sendirian," ucap Joko terbata melihat makhluk bertanduk dan merah berbadan besar di hadapannya.


"KUKIRIM KAU KEMBALI KE DUNIAMU. TAK PERLU TAHU SIAPA AKU." pungkas Bima yang tiba-tiba menghentakkan kaki dan menyatukan tangannya lalu membuat cahaya berwarna merah melayang.


"PEGANG BARA API INI, KAU AKAN DIBAWA KE TEMPAT BERCAHAYA PUTIH. MASUK KE SANA MAKA KAU AKAN SADAR DARI KOMAMU!" jelas Bima kepada Joko yang hanya bisa mengangguk tanda paham.


Jadilah demikian, saat Joko memegang bara api melayang itu, seketika tubuhnya menjadi ringan dan terbang. Melesat jauh menuju suatu titik cahaya yang kemudia terlihat semakin jelas dan menyilaukan.


Seperti yang Bima katakan, saat Joko masuk ke cahaya putih itu ... dia tersadar!


***


"Baik, segera siapkan peralatannya. Jangan lupa oksigen pasien."


"Baik, dokter."


Riuh dalam ruangan ICU saat Joko menggerakan jari jemari tangannya. Kondisi Joko setelah kecelakaan termasuk parah. Kakinya mengalami patah tulang dan sudah dua kali dioperasi untuk menghentikan pendarahan serta pertolongan pertama patah tulang kakinya.


Nindy berkali-kali menangis dan berdoa agar Allah memberi keselamatan pada Bang Joko. Sore itu, Bang Joko sadar. Namun belum bisa diajak bicara normal. Bang Joko masih syok terlebih melihat kondisi kedua kakinya yang di gips.


***


Bima melanjutkan pencariannya terhadap Ningsih. Dia tak menyangka jika tak sedikit roh yang tersesat di dimensi itu. Bahkan beberap tak bisa keluar dan mulai meredup inti sari kehidupannya.


"NINGSIH ... NINGSIH ... DIMANA KAU? AKU DATANG UNTUK MENJEMPUTMU PULANG." batin Bima agar hanya Ningsih yang mendengar.

__ADS_1


Hal itu terdengar oleh Ningsih. Membuatnya berhenti berlari dan melihat ke semua arah. Ningsih menghela napas dan berkomunikasi lewat batin, "Bima ... itukah kamu? Aku di sini. Aku di sini. Tolong aku ...."


Bima pun mendengar suara hati Ningsih dan langsung melesat ke arah Ningsih berada. "AKU DATANG! JANGAN KE MANA-MANA."


Saat itu juga, Lee dan Lily sudah berada di samping Ningsih. Ningsih terkejut melihat wajah Lee dan Lily.


"Ka ... kalian ...." Ningsih menunjuk kedua sosok itu.


"Ya, ini kami. Kamu harus ikut dengan kami," kata Lee sambil menyergap Ningsih.


Lily pun segera merapalkan mantra dan meniupkan abu pada wajah Ningsih. Itu berfungsi agar Ningsih tak bisa terlihat dari Bima dan tak bisa berkomunikasi dengannya.


Ningsih merasa mengantuk dan lemas. Hampir dia terjatuh. Lee (Evan) langsung menggendongnya dan memberi aba-aba pada Lily untuk segera pergi. Mereka pergi untuk menyembunyikan roh Ningsih.


Sesampainya di tempat Bima berkomunikasi batin denga. Ningsih, Bima tak menemukan pujaan hatinya di situ.


"NINGSIH! KAU DI MANA, NINGSIH?" teriak Bima sambil berkeliling sekitar.


Tak dilihat maupun diketemukan di mana Ningsih berada. Bima pun berfirasat ada suatu hal terjadi. Dia segera mencari Ningsih ke segala arah terdekat, kemungkinan besar Ningsih berada. Namun semua tak membuahkan hasil.


Sedangkan di sebuah tempat tersembunyi, Lili dan Lee menyembunyikan roh Ningsih yang hany terdiam seperti bingung.


"Tenang saja, Bima tak mungkin menemukan Ningsih di sini," kata Lee dengan senyum mengembang.


"Kenapa bisa, sayang? Bukankah dia juga iblis seperti kita? Kenapa tak mungkin menemukannya?" tanya Lily yang dilanda rasa penasaran.


"Karena ... rumah ini adalah gubug replika rumah Bima dahulu saat masih menjadi manusia. Di sini, ibunya pernah dibunuh tepat di depan kedua anaknya. Di sini, terukir kenangan buruk dan mengerikan yang dia alami. Jadi, tak mungkin dia menengok ke sini." jelas Lee dengan bangga.


"Oh, aku tahu. Sayang menyamarkan itu semua ya?"


"Bukan menyamarkan, aku hanya menyiapkan semuanya dengan matang. Aku ingin menang dalam pertanding. ini. Terima kasih sayang selalu mendukungku," lirih Lee pada Lily yang berada di hadapannya.


Lily tersipu malu lalu memeluk Lee erat. "Lee, aku sangat bahagia bisa bersamamu meski dalam kondisi membingungkan seperti ini."


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2