
...🔥 IBLIS--BAPA DARI SEGALA PENDUSTA 🔥...
..."Sejak permulaan, Iblis itu pembunuh. Dia tidak pernah memihak kebenaran, kerana tidak ada kebenaran padanya. Apabila Iblis berdusta, hal itu memang sudah sewajarnya, karena dia pendusta dan asal segala dusta."...
...****************...
Keadaan neraka sudah tidak kondusif. Empat dari tujuh panglima lapisan neraka tidak menyetujui penggabungan neraka karena akan memicu pertengkaran yang tak ada habisnya. Tuan Lucifer tak mau mendengarkan saran lain. Dia hanya ingin membuat neraka menjadi satu dan membuat para panglima kembali dalam genggamannya.
Bima, Alex, Evan, dan Lily tidak bodoh. Mereka tahu jika rencana penguasa Neraka itu untuk membenturkan mereka dengan para panglima. Sudah sejak lama Bima mengerti hal ini hanya jebakan. Dia menghimbau Alex, Evan, dan Lily untuk menghimpun energi saja. Mereka merencanakan untuk pergi dari sana sebelum perang berlangsung. Api melawan api, hanya akan menyisakan arang dan abu debu. Tidak akan ada yang menang kecuali Tuan Lucifer saja.
Bima pun ingat ada satu iblis yang pernah disebut Tuan Chernobog sebagai salah satu kandidat yang bisa melengserkan kekuasaan Tuan Lucifer jika mau. Namun, iblis kuat itu bersembunyi di dalam salah satu samudera di Bumi. Bima sudah merencanakan hal itu, jika tak bisa melarikan diri dari pertempuran itu, dia akan meminta bantuan.
"Alex, kamu sudah melihat kondisi Mamamu?" tanya Bima kepada putranya.
"Sudah, Pa. Kepergian Tante Nindy membuat Mama merasa sedih. Alex nanti akan ke sana lagi. Papa di sini saja," jawab Alex yang tak ingin Penguasa Neraka curiga.
"Oke. Papa di sini akan membicarakan soal kemarin kepada Lily dan Evan. Mereka pasti setuju." Bima pun segera menghampiri kedua kawannya. Iblis yang dahulunya manusia merupakan bukan iblis murni. Tak seharusnya mereka menjadi pengabdi Tuan Lucifer.
Saat Alex pergi, Bima mengajak berdiskusi kedua kawannya soal rencana melarikan diri. "Bagaimana menurut kalian?"
"Ide bagus. Tapi gimana kalau penguasa marah dan memusnahkan kita?" tanya Evan cukup logis.
"Tenang. Alex ada solusi. Dia bisa mengubah aura kita agar tak bisa dideteksi makhluk lain. Oh iya, Lily, kamu masih mempunyai kekuatan lebih yang pernah Tuanmu berikan, bukan? Api biru? Aku butuh bantuanmu jika seandainya terpaksa harus mencari iblis di dalam salah satu samudera di Bumi," tegas Bima.
"Baik, Bima. Aku pasti membantu. Terima kasih sudah memintakan maaf untuk Tuan Lucifer agar akau tidak dimusnahkan," ujar Lily yang merasa hutang budi.
"Tak apa. Kita harus bersatu jika ingin lepas dari ini semua. Semoga jalan yang kita tempuh bisa berakhir bahagia." Bima menatap langit-langit istana neraka yang seakan tak ada ujungnya.
"Semoga ... kita harus waspada dengan segala kemungkinan yang bisa terjadi," sahut Evan yang membuat mereka terdiam bersama.
...****************...
__ADS_1
Alex pergi ke tempat Ningsih di saat yang tepat. Servus sudah membuat semua penghuni di rumah Ningsih tertidur lelap. Dia hendak membuat Budi dan Ningsih melakukan dosa.
"Hei, iblis jelek! Mau kamu apakan mereka!" seru Alex membuat Servus terkejut.
"Ada apa kau iblis muda! Ini tidak ada kaitannta denganmu!" Servus menyeringai menatap Alex. Muka Sevus memang mengerikan. Dia siap menyantap jiwa manusia yang penuh dosa.
"Ada. Wanita yang hendak kau hasut dan kau tipu daya itu adalah ibuku. Lepaskan dia!" hardik Alex yang kemudian menyerang Servus.
"Menarik sekali. Manusia memilik anak iblis? Aku tak salah pilih mangsa. Berarti ayahmu yang mengambil tugas tak semestinya." Servus pun menghindar dari serangan Alex. Dia pun balik menyerang.
Pertempuran pun tak dapat dielakkan. Alex menyerang Servus bertubi-tubi. Meski Alex masih seusia jagung, tetapi kemampuannya tak bisa diremehkan. Alex tak akan main-main pada makhluk yang mengganggu keluarganya. Serangan dan tangkisan, saling beradu dan bergantian.
Hingga akhirnya Servus mulai kalang kabut. Iblis Sang Budak Cinta itu nyatanya jatuh terpental karena hantaman kekuatan Alex yang notabene usianya masih jauh di bawanya. Dia tak kuat menahan serangan dari Alex. Jika dilanjutkan, akan membahayakan dirinya sendiri.
"Kali ini aku mengalah. Tunggu pembalasanku!" Servus pun menghilang karena luka yang dibuat Alex cukup dalam.
Alex langsung menyentuh Ningsih. "Mama ... sadar, Mama ...." lirih Alex yang berhasil menyadarkan Ningsih dari tidurnya.
"A-Alex? Benarkah ini kamu, Nak?" gumam Ningsih memastikan apakah nyata atau mimpi.
"Alhamdulilah, ya Allah. Anakku di sini," seru Ningsih dengan girang. Dia langsung duduk dan memeluk putra bungsunya. "Di mana Papa? Apakah Papa juga ke sini?" tanya Ningsih sambil menatap sekitar.
"Tidak, Ma. Tidak untuk saat ini. Ada hal yang harus Papa selesaikan. Mama jaga kesehatan, ya. Sabar menanti kami kembali," ujar Alex sambil mencium pipi ibunya.
"Iya, Alex. Mama setia menunggu kalian. Mama yakin kalian pasti akan kembali lagi." Setelah melepaskan pelukkan, Ningsih pun menatap anaknya yang amat dia rindukan.
"Mama, aku akan melindungi Mama. Tenang saja. Oh iya, soal Om Budi, maafkan dia, Ma. Dia terhasut iblis yang bernama Servus Sang Budak Cinta. Aku akan menetralkan Om Budi lagi. Mama tak perlu khawatir. Sesungguhnya Om Budi memang ada rasa pada Mama tapi hanya di hati. Dia menyayangi keluarganya, kok," jelas Alex yang membuat hati Ningsih lega. Ternyata Budi menjadi agresif mengejarnya karena hasutan iblis.
"Terima kasih, Sayang. Untung mamu ke sini."
"Mama, semua karena Mama sudah semakin dekat dengan Sang Pencipta. Aku ke sini karena feeling. Mama tak perlu khawatir, setelah Papa menyelesaikan tugasnya, kami akan menemui Mama. Sekarang, Alex pamit pergi ya, Ma. Alex akan melepaskan pengaruh Servus, lalu kembali ke Papa. Papa membutuhkanku." Alex dengan berat hati berpamit lagi karena tujuannya ke Ningsih memang untuk mengecek kondisi Sang Mama.
__ADS_1
Ningsih juga dengan berat hati melepaskan kepergian anaknya yang sudah berjanji akan kembali lagi. Ningsih yakin jika semua akan baik-baik saja. Ningsih memeluk kembali Alex sebelum akhirnya melepaskannya untuk kembali ke neraka.
Alex pun menghilang setelah mentralkan semua dari pengaruh Servus. Dalam perjalanan menuju neraka, Alex mengepalkan tangan. "Dasar Tuan Lucifer iblis pendusta! Benar yang manusia katakan, Lucifer adalah Bapa dari segala pendusta. Bodohnya, Papa mau dikelabui dengan iming-iming melindungi keluarga dari serangan iblis. Tak mungkin penguasa neraka itu menepati janjinya. Pendusta tetaplah pendusta! Kalau begini caranya, aku tidak mau menjadi iblis! Memuakkan!" gerutu Alex sepanjang perjalanan.
Kini, mulai terbukalah pemikiran Alex akan semua rencana licik Tuan Lucifer. Mulai dari menolong Alex hanya untuk mendapatkan Bima--ayahnya. Memanfaatkan Bima untuk berperang melawan panglima neraka yang tak mau takhluk kepada Tuan Lucifer. Membuat Bima mau mengambil kesepakatan dengan alasan akan menjamin keselamatan keluarga. Semua itu hanya tipu muslihat JERAT IBLIS. Tak mungkin Tuan Lucifer menepati janjinya.
Alex sangat kesal baru sekarang menyadari semua itu. Bagaimana mungkin dia dan ayahnya akan dibuat bertarung dengan iblis murni para panglima neraka? Bisa-bisa Bima dan Alex musnah dan Tuan Lucifer tidak kehilangan banyak tenaga untuk menghalau ketujuh panglima neraka. Alex mulai memahami semua siasat buruk itu.
...****************...
Keesokan hari kemudian ....
Budi bangun dengan kepala pening. Dia menatap ke samping, ranjangnya kosong. Berarti Santi sudah bangun terlebih dahulu. Lelaki itu mengedarkan pandangan menatap sekeliling. Jam menunjukkan pukul enam pagi. Budi mencoba berdiri segera untuk menunaikan salat subuh.
Budi tak mengingat kejadian tadi malam. Bahkan segala hasutan Servus pun menghilang dan sama sekali lelaki itu tak ingat. Hari baru yang menyenangkan untuk dijalani. Setelah mengambil wudhu dan salat subuh, Budi pun segera keluar kamar. Ternyata Santi sedang membantu Ningsih menyiapkan sarapan. Sedangkan Wahyu sedang menyeduh kopi.
"Pagi, Om Budi! Tumben bangun siang," sapa Wahyu pada guru pesantrennya.
"Hallo, Wahyu. Iya, ini. Rasanya capek. Wah, sudah buat kopi, ya? Baunya sedap," sahut Budi yang mencium aroma kopi lezat.
"Ini kalau Om mau. Silakan diminum. Wahyu akan menggiling lagi biji kopinya."
Mereka pun berbincang banyak hal. Ningsih mengamati. Sepertinya benar kata Alex kalau semua itu karena pengaruh iblis. Nyatanya sekarang Budi biasa saja dan tidak menatap Ningsih berlebihan. Wahyu juga tidak marah lagi pada Budi. Seakan ingatan buruk itu menghilang. Ningsih pun tak henti-henti mengucap syukur dalam hati. Semua menjadi normal dan keadaan jauh lebih baik.
Setelah sarapan tersedia, merrka pun makan bersama. Hidangan buatan Ningsih dan Santi terasa lezat. Wahyu dan Budi memakan dengan lahap semua menu yang ada. Setelah selesai makan, Budi dan Santi pun berberes-beres untuk segera melakukan perjalanan kembai ke Wonogiri.
"Terima kasih banyak, ya Tante Ningsih. Kami pamit pulang dulu. Safira pasti sudah menunggu di rumah," kata Santi dengan sopan. Dia sudah membawa tas yang tadi dia bereskan.
Budi pun juga berpamit pada Ningsih dan juga Wahyu. Setelah berpamitan selesia, Budi dan Santi pun segera pulang. Menggunakan mobil kesayangan, melaju di jalanan yang mulai padat kendaraan. Budi merasa hatinya nyaman dan tentram. Dan seakan ada sesuatu yang dia lepaskan. Obsesi itu, cinta yang salah dan keinginan berlebih untuk memiliki, semua sudah hilang. Budi tidak merasa terbebani lagi.
"Papa ... eh, Mas Budi ... terima kasih banyak sudsh menemaniku ke Yogyakarta dan memastikan Reno baik-baik saja," ucap Santi saat perjalanan pulang.
__ADS_1
"Iya, Sayang sama-sama. Kamu nggak apa mau panggil Mas, boleh. Mau panggil Papa, boleh. Mau panggil Sayang, juga boleh. Yang penting jangan panggil mantan, ya. Ha ha ha ha ...." Budi dan Santi pun tertawa dan saling bersenda gurau sepanjang perjalanan.
Kali ini, Alex berhasil menyelamatkan Ningsih. Berhasil menyelamatkan keluarga Budi dan Santi. Berhasil mengungkap siasat buruk Tuan Lucifer yang menjadi biang keladi dari permasalahan hidupnya. Alex merasa rencana ayahnya untuk kabur dan lepas dari segala macam hal neraka adalah keputusan yang paling tepat dan benar. Alex tahu jika mereka hanya dimanfaatkan untuk saling menyerang demi tercapainya keinginan Tuan Lucifer, yaitu tidak ada iblis yang boleh memiliki kekuatan melebihi dirinya.