
🔥 BALAS DENDAM - Part 1🔥
Santi menanti Tante Ningsih membalas pesannya. Setelah agak siang, suara nada pesan diterima pun membuat Santi tersenyum riang.
Tante Ningsih: [ Kabar Tante sangat baik. Wah, oke, kalau mau bertemu. Kebetulan Tante mau ke kota beli keperluan bulanan. Nanti ketemu aja di McD gimana? ]
Santi segera membalas pesan dari Tante Ningsih itu.
Santi: [ Siap, Tante. Apa mau dijemput aja? Tante, 'kan, nggak ada kendaraan? ]
Tante Ningsih: [ Nggak usah repot-repot. Tante bisa ke sana, kok. See you. ]
Santi: [ Oke, Tante. Hati-hati di jalan, ya. ]
Santi memasukkan handphonenya ke tas kembali. Dia tersenyum dan melonjak kegirangan. "Yes! Tante Ningsih mau ketemuan. Yuk, siap-siap." seru Santi mengajak Reno dan Nindy yang mulai lemas menanti kabar dari tadi.
"Lah, ini 'kan sudah siap-siap dari pagi, kak?" gerutu Reno yang mulai lapar dan bosan.
"Eh, iya, ya. Ya sudah, ayo buruan jalan. Maaf, ya. Tante Ningsih barusan, sih, yang balas. He he he he ...." kata Santi sambil tertawa melihat Reno dan Nindy yang sangat lucu seperti anak kecil menanti mainan.
Mereka segera keluar rumah dan masuk dalam mobil. Segera melaju pergi sekalian mencari makan siang.
"Kak Santi, terima kasih, ya. Sudah mengupayakan bertemu Tante Ningsih lagi. Mungkin nanti akan canggung, tetapi aku tetap ingin cerita soal rencana hubunganku dengan Kak Reno," lirih Nindy saat perjalanan.
"Eh, nggak apa, Nindy. Kita 'kan keluarga. Tenang saja. Aku juga nggak menyangka kalau Tante Ningsih masih mau bertemu kita. Karena sebelumnya, Tante Ningsih seperti hendak menutup komunikasi dari kita semua." jelas Santi sambil menatap Reno yang menyetir mobil dari kursi tengah.
Nindy duduk di samping Santi. Dia sengaja mencari informasi lebih lagi untuk Tuan Evan. "Kak, lantas ... bagaimana dengan Om Bima? Tante Ningsih masih bersamanya?" tanya Nindy membuat Santi langsung menatapnya tajam.
"Lebih bagus kalau Om Bima tak muncul lagi. Jangan bahas dia di hadapan Tante Ningsih, ya. Lebih baik menjaga perasaan Tante Ningsih, banyak hal yang terjadi setahunan ini," kata Santi sambil menepuk lengan Nindy, memperingatkan.
Nindy pun tersenyum, menyimpan banyak pertanyaan di benaknya. "Apa yang sebenarnya terjadi dengan Tante Ningsih dan Om Bima? Kenapa Tuan Evan mencari mereka? Apakah urusan hutang? Atau urusan apa?" batin Nindy berkecamuk.
Nindy tak tahu soal ruqiyah dan hal di luar nalar yang terjadi pada Tante Ningsih. Reno dan Santi memang tidak memberi tahu karena keluarga Joko sudah cukup terpukul karena meninggalnya Joko mendadak dan tragis.
"Eh, makan dulu aja, ya. Nunggu di MCD nggak apa, deh." kata Reno semangat untuk menyantap makanan lezat.
"Iya, iya. Kamu itu kalau makanan aja, nomor satu!" celetuk Santi yang paham sifat adiknya.
"Nggak apa, Kak. Nindy juga suka, kan McD? Ada es krim juga." ucap Reno masuk ke tempat parkir MCD.
__ADS_1
"I-iyaa." jawab Nindy singkat. Dia teringat Bang Joko yang sering membelikan ayam goreng di sana. Kenangan itu melekat di memori Nindy. Tak bisa dilupakan begitu saja.
Mereka pun masuk dan memesan makanan. Segera menyantap apa yang mereka pesan sambil menunggu Tante Ningsih datang.
***
Ningsih bersiap-siap untuk pergi. Dia segera berganti pakaian setelah mandi dan bergegas pergi ke kota karena sudah janjian dengan Santi dan Reno. Tentunya, dia mengajak Bima dan Alex.
"Ningsih, yakin mengajak kami jalan bersama?" tanya Bima kembali. Mereka sudah dalam wujud manusia, tetapi Santi dan Reno sudah mengetahui siapa Bima sesungguhnya.
"Yakin. Ini jalan yang aku pilih. Nggak apa. Nggak usah pedulikan orang lain. Aku memang berhutang budi pada mereka, tetapi mereka tak bisa melarang hidupku dengan siapa, 'kan?" jawab Ningsih dengan menahan emosi berkecamuk di dada.
"Bu, sepertinya ... kami lebih baik menemani dalam bayang saja. Kalau hadir secara fisik, nanti Kakak-Kakak itu bisa marah sama Ibu. Alex tak ingin Ayah dan Ibu sedih," lirih Alex memberi nasehat.
Ningsih pun tersenyum. Tak bisa menolak nasehat dari anaknya. "Ya, mengalah untuk anak manis Ibu. Hmm ... bagaimana kalau Alex panggil Mama saja dan panggil Papa Bima. Biar sama dengan Kak Wahyu." ucap Ningsih sambil mengusap lembut kepala anaknya.
"Baik, Ma. Alex juga menurut kata Mama. Panggil Mama dan Papa seperti Kak Wahyu." jawab Alex dengan menggemaskan.
Ningsih pun hendak naik taksi ke kota. Dia masih bingung jika menggunakan bus atau transJogja. Bima dan Alex menemani Ningsih ke mana pun dia pergi.
Ningsih yang sederhana memakai kaos hitam, celana jeans panjang, dan jaket jeans dengan tas selempang yang diletakkan di depannya. Masih saja ada yang mengganggunya saat di jalan. Menanti taksi datang di tepi jalan, dua lelaki menggoda.
"Mau ke mana, cantik? Kita antar aja, yuk. Kebetulan mau ke kota ini. Ikut saja, yuk." kata lelaki hidung belang itu.
Belum sampai Ningsih berucap, Alex dan Bima sudah geram. Mereka menampakkan wujud mengerikan yang membuat dua lelaki itu kaget dan segera pergi terburu-buru.
"Setaan!" teriak lelaki yang keluar dari mobil segera masuk ke mobil dan pergi.
Alex dan Bima tertawa melihat reaksi dua lelaki itu. Ningsih juga tertawa karena memang sangat lucu. Setelah itu, taksi online pesanan Ningsih pun tiba. Ningsih segera masuk ke mobil. Tentunya Bima dan Alex bersamanya.
Perjalanan tiga puluh menit hingga sampai ke MCD tempat Ningsih janjian dengan Santi dan Reno. Ningsih membayar sejumlah uang pada sopir, lalu turun dari mobil yang kemudian melaju pergi. Ningsih berjalan dengan gugup ke dalam tempat makan cepat saji itu. Kesukaan Wahyu saat dulu masih bersamanya.
Ningsih melihat ke seluruh penjuru dalam ruangan lantai satu. Mencari di mana Santi dan Reno berada. Ningsih pun menemukan mereka. Namun, ada satu hal yang membuat Ningsih terkejut. "Nin-Nindy ...." lirih Ningsih.
"Tak apa Ningsih. Temui saja mereka. Kami menjagamu," bisik Bima yang hanya bisa didengar Ningsih.
Ningsih pun mengangguk, paham. Lalu, perlahan jalan ke tempat tiga muda-mudi itu duduk. Ningsih yang usianya tiga puluh lebih, tak terlihat menua. Justru penampilannya dengan jeans membuatnya terlihat makin muda.
"Tante Ningsih?" kata Reno yang tak sengaja menatap wanita yang sedang berjalan ke arahnya. Reno terlagum melihat Tantenya yang makin terlihat muda, meski sedikit lebih kurus karena kejadian itu.
__ADS_1
"Tante!" seru Santi yang langsung berdiri menyambut diiringi Nindy yang juga berdiri.
"Hai, kalian di sini rupanya! Loh, Nindy ada di sini? Sejak kapan ke Yogyakarta?" tanya Ningsih mencoba tidak canggung.
"Iya, Tante. Nindy sejak kemarin di sini. Sini duduk dulu, Tante. Mau pesan apa? Biar Reno pesankan." ucap Reno antusias.
Jelas saja hal itu membuat Santi dan Nindy menatap Reno penuh curiga. Terlebih, dahulu Reno menyukai Tante Ningsih.
"Nggak usah repot-repot, Reno. Nanti Tante pesan sendiri aja." jawab Ningsih sambil duduk dan tersenyum agar mereka tidak marah pada Reno.
"Jaga sikap, ya, Reno." bisik Santi pada adiknya. Reno pun jadi murung karena sudah dituduh sebelum berbuat apa-apa. "Oh, iya, Santi aja yang pesan buat Tante. Seperti kesukaan Tante, 'kan?" Santi melangkah ke tempat kasir untuk memesan makanan dan membayarnya.
Ningsih duduk di samping Nindy. Nindy sangat gugup. "Nindy, gimana kabar Abah dan Ibu?" Tante Ningsih menatap Nindy yang hampir tak ingin menatap Ningsih.
"Ba-baik, kok, Tante. Tante Ningsih apa kabar?" Nindy terpaksa menjawab agar suasana tidak semakin canggung. Sejujurnya, setelah Bang Joko meninggal dan seminggu kemudian Tante Ningsih menghilang, Nindy sudah marah dan mendendam karena hal itu membuat Abah sakit lagi. Tante Ningsih masih dianggap keluarga karena sudah menikah dengan Bang Joko. Namun, dia tega meninggalkan begitu saja.
Nindy yang masih lulusan SMA baru, harus kerja keras untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari hingga Ibu pun ikut sakit. Nindy sekilas teringat hal itu. Membuatnya terpaksa senyum menerima kenyataan Ningsih ada di sampingnya.
"Kabar Tante lumayan baik. Atau lebih tepatnya mulai baik. Ha ha ha ... wah, kalian ini jadi serius, ya? Kelihatan couple banget pakaiannya sudah sama." ucap Ningsih sambil tertawa melihat Reno dan Nindy.
"Eh, iya. Ini beli kemarin, kok, Tante. Reno juga beli buat Tante dan Wahyu. Harusnya, sih, nggak dipakai sekarang. Tapi nggak apa lah," sahut Reno.
Nindy pun berdiri. Dia pamit ke kamar mandi sebentar. Ningsih dan Reno kembali melanjutkan percakapan, serta menanti Santi datang dengan pesanan makanan untuk Tante Ningsih.
Nindy ke kamar mandi dengan senyum sinis. Dia ternyata menghubungi Tuan Evan. Nindy sudah muak melihat Ningsih. Dia sudah tahu jika Reno pernah menyukai Tante Ningsih. "Kali ini, tak boleh hal itu terulang. Kak Reno harus bersamaku. Tak boleh dengan yang lain. Apalagi dengan wanita yang membuat Bang Joko meninggal!" gumam Nindy sambil memekan nama Evan di ponselnya.
Menanti beberapa saat, akhirnya telepon itu pun tersambung. Nindy tersenyum.
Nindy: "Hallo, Tuan Evan."
Evan: "Hallo, Nindy. Bagaimana, ada perkembangannya?"
Nindy: "Tentu ada. Ini, Tante Ningsih berada bersamaku di MCD Kota Yogyakarta."
Evan: "Bagus. Berarti wanita itu belum mati. Baik, selidiki terus. Aku sedang perjalanan ke Yogyakarta."
Telepon itu pun berakhir. Nindy tersenyum puas. Dia tak tahu siapa Tuan Evan, tetapi baginya tak salah jika memberi informasi dengan imbalan uang.
Bima tak tahu hal itu terjadi karena sibuk menemani Ningsih yang berbincang dengan Reno. Masih ada rasa cemburu bagi Bima yang menatap Reno sangat antusias berbicara dengan Ningsih. "Ningsih, jangan memberi harapan palsu pada keponakanmu. Aku tak suka." kata Bima pada Ningsih membuat istrinya tersenyum geli.
__ADS_1
Di samping itu, Alex menatap tajam Nindy yang baru saja menelepon Evan. Alex tahu jika hal itu ancaman bagi kedua orang tuanya. "Awas saja, kalau membuat Papa Mama terluka, aku tak akan biarkan itu terjadi." batin Alex menatap sengit Nindy yang masih di kamar mandi.