
π ARTI BAHAGIA? π
Ningsih duduk di teras menikmati sinar mentari pagi. Masa pemulihan setelah koma seminggu. Sedangkan Joko masih menggunakan krek untuk berjalan.
"Tante, jangan melamun aja! Nanti jalan-jalan, yuk." kata Santi menghampiri Tante Ningsih.
"Oh, Tante nggak ngelamun kok. Cuma kepikiran sesuatu aja," jawab Tante Ningsih yang menengok ke arah Santi dan tersenyum.
"Pasti mikirin Om Bima, ya? Tenang aja, Tante. Kata Tante Dinda, Om Bima nanti ke sini. Tante jangan sedih, ya ...." Santi mencoba menghibur Tante Ningsih.
Ningsih hanya tersenyum lalu menatap putranya yang sedang bermain di halaman dengan Reno, Dinda, Nindy, dan Joko. Joko berlatih untuk berjalan meski masih tertatih.
"Tante ... nggak lagi ada masalah 'kan sama Om Bima?" selidik Santi yang penasaran dengan perubahan Tante Ningsih, tak banyak berkata.
"Ehm ... enggak sih. Cuma sejak beberapa hari belakangan ini, Tante ngerasa nggak enak. Ada yang mengganjal gitu. Tapi ... entahlah, Santi." ucap Tante Ningsih yang kemudian menjadi murung.
"Mungkin cuma perasaan Tante aja. Semua akan baik-baik saja. Uti sama Kakung juga sudah membaik keadaannya. Mak Sri juga sudah sembuh walau harus cuti dan pulang ke rumahnya sementara waktu. Apa ada yang buat Tante sedih? Siapa tahu Santi bisa membantu," kata Santi sambil mengusap bahu tantenya.
"Iya, Santi. Mungkin perasaan Tante aja. Terima kasih, ya."
"Sama-sama, Tante. Lekas sembuh ya. Jangan mikir macem-macem biar lekas pulih."
Pagi itu mereka bermain bersama di halaman depan rumah Santi. Menunggu Bima datang dengan segala rasa resah di dada Ningsih. Dia tak tahu jika Bima melakukan hal yang tak diinginkannya.
***
Bima dalam perjalanan menuju rumah di mana Ningsih dan keluarganya tinggal. Rasa resah dan gugup hinggap dalam diri Bima yang sudah mengubah wujud menjadi manusia. Mengendarai mobil dan berhenti ke toko bunga terlebih dahulu. Membelikan seikat bunga mawar untuk Ningsih. Setelah itu Bima ke toko kue membelikan beberapa cake.
"Semoga Ningsih suka dengan semua ini."
Bima dengan mantab menuju ke Ningsih. Berharap tak membuat Ningsih sedih. Menyembunyikan rahasia yang pahit untuk diakui. Seharusnya hal ini tak menyusahkan Bima, tetapi rasa cinta membuatnya lemah.
Dalam perjalanan, Bima bergumam sendiri. "Sebenarnya apa itu kebahagiaan? Apakah Ningsih bahagia bersamaku? Apakah bersamaku sudah cukup baginya? Jatah Ningsih mempunyai suami tinggal sekali lagi sebelum Tuan Chernobog mengambilnya. Apakah aku bisa mengulur waktu lagi?"
Bima sangat galau. Perjanjian pesugihan dengan menikah gaih hanya berlaku sampai tumbal suami ke tujuh. Setelah tumbal ke tujuh diambil, sang pelaku pesugihan pun akan diambil. Bima tak menginginkan itu. Maka dari itu dia menerima pengikut lainnya untuk mengulur waktu dan menambah jiwa yang dipersembahkan untuk Tuan Chernobog.
Sesampainya di depan gerbang rumah keponakan Ningsih, Bima menekan klakson dan memarkirkan mobilnya setelah penjaga rumah Santi membukakan gerbangnya. Bima keluar dan membawa kardus-kardus berisi cake dan seikat bunga merah.
"Permisi, Ningsih ...." seru Bima.
Ningsih bangkit dari tempat duduknya dan senyum mengembang di bibirnya. Senang menatap kekasih gaibnya datang dengan membawa bunga mawar kesukaannya.
"Bima ... kamu akhirnya ke sini" jawab Ningsih.
"Kak Bima lama banget sih. Tuh ada yang galau," celetuk Dinda membuat Ningsih malu.
"Iya, maaf ya. Ini aku bawakan cake enak untuk kalian. Bagaimana keadaanmu, Ningsih? Bagaimana keadaan Bapak dan Ibu juga Wahyu?" tanya Bima yang terlihat sangat sopan sebagai seorang Iblis.
Rasa kemanusiaan yang selama ini sudah hilang mulai muncul karena rasa cinta Bima terhadap Ningsih. Hal ini jelas bertolak belakang dengan Iblis sejati. Tuan Chernobog tentunya masih mengawasi Bima tanpa sepengetahuannya.
__ADS_1
"Semua sudah membaik, Bima. Kamu dari mana saja? Mengapa tak ada kabar?" lirih Ningsih penuh tanya
"Aku ada urusan penting. Mengusut penyebab kecelakaanmu yang tak mungkin bisa diusut oleh polisi. Maaf jika membuatmu khawatir."
Ningsih menatap Bima. Dinda yang berada di sana pun pergi ke dalam rumah meninggalkan Ningsih dan Bima.
"Bima, kamu tidak berbohong, bukan?"
Pertanyaan yang membuat Bima terusik. Bukankah kebohongan dan segala keburukan adalah hal yang paling dikuasai Iblis? Mengapa rasa kelu itu datang? Bahkan untuk menjawab pun Bima terjeda.
"Tidak. Sudah jangan dibahas. Bukankah sepertiku tak pantas membahas hal seperti ini?" kata Bima mengalihkan pertanyaan.
"Oh, iya. Aku tak pantas menyelidikimu. Baiklah."
Ningsih kecewa dengan pernyataan Bima. Dia bergegas masuk ke rumah dan menuju kamarnya. Bima menyusul dan meraih tangan Ningsih.
"Ada apa? Apakah aku salah?"
"Salah? Tidak. Hanya rasaku yang salah. Seharusnya tidak sedalam ini. Bahkan saat ini bohong pun tak bisa kamu tutupi pada raut wajahmu. Bima, aku ingin sendiri." tegas Ningsih sebelum berlalu ke dalam kamar dan menutup pintu dengan kencang.
Penghuni rumah lainnya lantas bertanya-tanya. Namun saat melihat Om Bima masih terdiam di depan pintu kamar Tante Ningsih, mereka enggan bertanya.
Bima mengamati pintu yang ditutup Ningsih. Apakah rasa ini salah? Harusnya Bima tak seperti ini. Hubungan ini terlalu dalam dan semakin menyulitkan satu dengan yang lain.
Bima pun berjalan ke arah Dinda. "Ayo pulang. Tak seharusnya kita di sini terlalu lama. Pamitlah lalu pergi," kata Bima dengan nada dingin.
Dinda langsung melakukan yang dikatakan kakaknya. Setelah berpamitan, Dinda pun menyusul Bima yang sudah berada di dalam mobil.
"Pulang ke tempat kita seharusnya."
Bima menginjak gas dan melaju dengan mobilnya. Lalu menghilang begitu saja.
Neraka lapis ke tujuh ....
Bima merasa sangat marah dengan perasaan yang membelit keadaannya. Dia menyambarkan api ke mana saja. Segala arah diamuknya. Para manusia yang berdosa dan patut dihukum berada di sana. Dinda tak ingin mengganggu kakaknya yang sudah mengubah wujud Iblis. Menakutkan. Dinda memilih untuk pergi dari sana.
"AAARRRGHHH! SIAL! SIAL!" umpat Bima tak henti-henti sambil mengamuk.
Tak diduga, hal itu menarik perhatian Tuan Chernobog.
"Ada apa Bima? Wahai kaki tanganku yang setia." ucap Tuan Chernobog yang melangkah ke arah Bima.
"M-MAAF TUAN. HAMBA LANCANG MEMBUAT ONAR DI NERAKA."
"Apa yang kau pikirkan? Bukankah pengikutmu yang baru sangat mudah mendapatkan mangsa? Atau kau masih memikirkan wanita lemah yang menyusahkanmu itu?" Tuan Chernobog tahu betul apa yang menjadi pergulatan pikiran Bima.
Bima terdiam. Tak mampu menjawab pertanyaan Tuannya.
"Sudah kuduga. Selesaikan tugasmu pada wanita itu. Kurang sekali lagi, bukan? Ambil tumbal ke tujuh dan akhiri. Menyusahkan saja!" gertak Tuan Chernobog yang tak bisa Bima bantah.
__ADS_1
Bima pun menghilang dan pergi ke Bumi. Bukan untuk menemui Ningsih seperti tugas akhir miliknya, justru mencari Bagas yang sedang merayu wanita.
"Kamu cantik sekali, Winarti. Pantas saja Bos mengangkatmu menjadi sekretaris," gombalan maut milik Bagas sudah diluncurkan.
"Ah, masak iya Mas? Aku jadi sekretaris karena jurusanku kan Mas," jawab wanita dengan blouse putih dan rok mini berwarna hitam.
"Sebentar lagi kalau Mas jadi Bos, kamu tetap jadi sekretaris ya. Kalau perlu jadi istri Mas, mau?"
Winarti terkejut dan bertanya, "Hlo Mas Bagas kan sudah punya istri. Nggak mau lah, Mas."
"Istriku itu mandul. Aku kan ingin punya anak juga. Kamu mau kan jadi istri Mas?" rayu Bagas di dalam mobil sehabis tugas meeting dengan klien.
Keadaan yang sepi mendukung aksi Bagas. Bima tak menyia-nyiakan kesempatan itu. Bima masuk ke tubuh Bagas. Melakukan hal berbalut hawa nafsu di dalam mobil bersama Winarti. Mobil berwarna merah itu bergoyang pelan dan kemudian tambah kencang mengikuti irama hentakan dua orang yang menuntaskan hasrat. Bima mengambil sari kehidupan Winarti. Dia menjadi tumbal kedua.
Usai berkeringat, Bima keluar dari tubuh Bagas. Winarti terlihat puas dan kecapekan sedangkan Bagas tak merasakan apa pun.
"Sial! Kalau begini aku tak bisa merasa nikmat lagi!" umpat Bagas dalam hati mengetahui Bima merasukinya tadi.
Setelah itu, Winarti berpamitan untuk pulang. Bagas pun pergi dengan mobil merah miliknya.
Saat Winarti sampai di rumah, dia lekas ke kamar. Bima sudah siap mengambil tumbalnya. Winarti jatuh dari lantai dua kamarnya saat hendak menutup jendela. Tewas seketika bersimbah darah. Ibu Winarti menjerit histeris melihat kejadian itu.
"MUDAH SEKALI MENGAMBIL JIWA SEPERTI MEREKA. HARUSNYA AKU TAK MEMILIH UNTUK MENGAMBIL NINGSIH. AKU TAK BISA MEMBUATNYA BAHAGIA SELAMANYA. PERCUMA AKU MELINDUNGINYA JIKA TUANKU TETAP MENGINGINKANNYA." gumam Bima dengan galau.
Apa yang dikatakan dan dipikirkan selalu tak sesuai dengan yang dia lakukan. Seolah semuanya menjadi sulit. Ningsih membuatnya merasa hal yang tak boleh dirasakan IbLis. Cinta bukanlah suatu yang bisa diwujudkan. Pantaskah Bima merasakan cinta? Bisakah Bima memperjuangkan rasa pada Ningsih? Atau dia akan menyerah begitu saja?
***
"Tante, sebenarnya ada masalah apa dengan Om Bima?" tanya Santi pada Tante Ningsih yang mengurung diri di kamar.
"San, kalau Tante merasa dan tahu jika Om Bima berbohong ... pantaskah dia tetap menutupi kebohongannya? Tante mau pulang ke Jakarta saja. Uti dan Kakung biar kembali ke Wonosari."
"Tapi Tante ... belum pasti yang Tante pikirkan benar, bukan?"
"Entah. Kamu tak akan memahaminya. Tante cuma minta tolong antar Uti dan Kakung ya. Tante sama Wahyu mau balik jakarta saja. Joko sama Nindy kalau masih mau di sini biar bersamamu dan Reno."
Tekad Ningsih sudah bulat untuk kembali ke Jakarta. Setelah perbincangan itu, Ningsih keluar kamar dan menghampiri orang tuanya serta mengutarakan maksud hatinya. Bapak dan Ibu jelas menyetujui hal itu. Mereka merasa lebih baik Ningsih banyak istirahat apalagi setelah kejadian kecelakaan itu
"Joko, Nindy ... kalian mau di sini dulu atau pulang Jakarta?" tanya Ningsih ke kakak beradik itu.
"Kami ikut Bu Ningsih saja." jawab Joko dengan mantab. Nindy hanya bisa mengikuti perkataan Bang Joko.
"Baik, kalau begitu besok kita pulang. Tiket akan kusediakan. Abah dan Ibu kalian pasti rindu." ucap Ningsih bijak.
Ningsih ingin pergi menghindar dari Bima. Padahal justru masalah baru menghadangnya di Jakarta.
Bersambung ....
***
__ADS_1
Suka JERAT IBLIS? Vote ya. Jangan lupa share dan juga beri penilaian bintang 5 di beranda JERAT IBLIS. Dukung Author tetap eksis dan bisa bekarya^^ thanks all. Salam dari Bima Prawisnu π