
π BALAS DENDAM π
Ningsih merasa malu dan sebal dalam waktu bersamaan. Adik si Agus itu memang lancang. Selalu memojokan Ningsih. Sebenarnya Ningsih ingin menceritakan semua, tetapi keluarga Agus pasti tak mau tahu dan mengira Ningsih berbohong.
"Nduk, sini... Ibu mau tanya sama kamu, tapi cuma berdua saja, ya?" lirih ibu memanggil Ningsih ke dalam kamar.
"Iya, Bu. Ningsih ke sana," jawab Ningsih sambil berjalan ke arah kamar ibunya.
"Duduk sini, Nduk. Ibu mau tanya, apa keluarganya Agus minta uang kepadamu? Soalnya mereka sering ke sini meminta uang dengan alasan Ibunya Agus sakit dan kurang biaya untuk berobat," kata Ibu dengan hati-hati.
Rasanya Ningsih ingin meledak dan marah. "Kenapa sih, Bu... Agus sudah mati, malah gantian keluarganya yang nyusahi. Ningsih capek, Bu. Nggak mau berurusan dengan mereka. Ibu dengar sendiri kan tadi si Lastri tadi ngatain aku seperti itu. Mereka begitu karena aku sudah nggak mau kasih uang. Enak banget mereka minta ke aku. Padahal selama hidup, si Agus justru nyusahin aku."
"Nyusahi apa, Nduk? Bapak Ibumu ini nggak tahu karena kamu selalu bilang baik-baik saja," lirih ibu bersedih.
"Ningsih nggak mau cerita karena nggak ingin Bapak Ibu sedih. Ini sudah kisah masa lalu, Bu. Lupakan saja. Ningsih punya alasan sendiri kenapa tak mau memberi mereka uang. Ningsih sadar mereka hanya memanfaatkan Ningsih," dengus wanita cantik itu.
Menjadi janda dan mengurus anak serta perusahaan sudah cukup melelahkan. Ningsih tak mau memikirkan apa pun yang berkaitan dengan Agus. Baginya, Agus sudah mati musnah dari hati dan pikirannya.
"Ya, Nduk. Ibu tak akan bahas hal itu lagi. Bapak sama Ibu juga memberi uang bantuan seikhlasnya. Namun lama kelamaan mereka ngelunjak dengan minta nominal jutaan. Akhirnya Bapakmu marah dan tak mau beri bantuan lagi. Sejak itu keluarganya Agus sering mefitnah dan menjelekan keluarga kita. Ibu sedih, Nduk. Nasibmu kok begitu. Dua kali menikah dan suami meninggal semua. Sekarang hidup merantau sambil membesarkan anak sendirian. Ibu sedih, Nduk."
Terlihat mata ibu mulai berembun. Hampir meneteskan air mata. Ningsih pun memelum ibunya seraya berkata, "Bu... nggak usah sedih ya. Ibu jangan mikir macem-macem dan jaga kesehatan. Ningsih akan berjuang sebaik mungkin. Kalau soal keluarganya Agus, biarkan saja Bu."
Ningsih tak tahu jika selama ini justru orang tuanya yang gantian mendapatkan masalah. Seakan semua anggota keluarganya Agus memang seperti benalu.
***
"Bima... kalau memusnahkan satu keluarga apakah bisa? Aku sudah muak dengan kelakuan keluarganya Agus. Mereka terus-terusan mengusikku dan keluargaku," batin Ningsih malam itu. Mereka menginap di rumah orang tua Ningsih untuk beberapa hari sambil menunggu adik Ningsih pulang.
Hembusan angin terasa menerpa wajah Ningsih. Bima datang, dalam rupa sesungguhnya.
"MEREKA MASIH MENGGANGGU? BAIKLAH AKAN KUBERI PELAJARAN. MEREKA HARUS MERASAKAN BERSAMA AGUS DALAM PANASNYA NERAKA." jawab Bima dengan tegas lalu menghilang.
Dendam dan rasa benci menyeruak dalam hati Ningsih. Dia sudah tak peduli dengan rasa kasihan karena yang dilakukan keluarga Agus sudah keterlaluan.
__ADS_1
Malam itu... Ningsih tertidur nyenyak. Tidak memikirkan lagi soal keluarga Agus. Dia tahu bahwa Bima pasti "membereskannya".
Ningsih tidur bersama anaknya, sedangkan Mak Sri tidur bersama Santi dan Nindy. Joko tidur bersama Reno. Kamar di rumah orang tua Ningsih memang cukup banyak. Lima kamar, setelah Ningsih merenovasi rumah orang tuanya yang dahulu hanya tiga kamar.
Bapak dan Ibu Ningsih sudah mendengar semua cerita masa lalu Ningsih saat bersama Agus. Sore tadi, semua yang mengganjal hati Ningsih sudah diutarakan. Bapak dan Ibu sangat sedih mendengar perlakuan Agus selama bersama Ningsih. Mereka sepakat tidak mau berurusan lagi dengan keluarga gila itu.
***
Keesokan harinya....
Suara ketukan pintu terdengar nyaring meski fajar baru saja datang. Sekitar pukul 05.30 dua orang warga datang menemui Bapak Udin-bapaknya Ningsih.
"Asalamualaikum, Pak Udin... maaf mengganggu sepagi ini," kata salah seorang saat Bapak membukakan pintu.
"Walaikumsalam... silahkan masuk Rohmad... Sigid... ada apa gerangan?" Bapak memepersilahkan dua warga itu duduk.
Mereka pun masuk ke rumah. Saat itu Ningsih dan lainnya sudah bangun. Ningsih, Santi, dan Nindy membantu Ibu di dapur. Sedangkan Mak Sri mengajak main Wahyu di halaman rumah sambil melihat kolam ikan. Sedangkan Joko dan Reno membantu membersihkan halaman depan dan belakang.
"Inalilahi... baik Sigid... Rohmad... Keluarga saya akan segera ke sana melayat. Terima kasih Pak Kades sudah mengutus kalian," jawab Bapak dengan bijak meski hatinya sangat tak ingin ke sana.
"Baik Pak Udin, kami pamit dahulu, ya," ucap Rohmad.
"Minum dulu lah, biar dibuatkan kopi sama gorengan itu Ibu sudah buat," kata Bapak.
"Wah, ngrepotin Pak..." Rohmad merasa tak enak.
"Nggak loh. Ini memang sudah buat karena ada tamu dari kota. Ningsih dan ponakan serta pekerjanya menginap di sini," sahut Bapak sambil berdiri. "Sebentar ya, Bapak panggilkan Ibu dan Ningsih."
"Iya, Pak," jawab Rohmad sambil melihat Bapak berlalu ke dapur.
"Rohmad... si Ningsih itu katanya makin cantik, seksi dan kaya raya setelah Agus mati. Kamu tahu nggak?" bisik Sigid.
"Iya tahu lah... makanya keluarga Agus itu manfaatin mulu kan. Nih ya aku kasih tahu... kalau aku sih malah curiga, ini kok kebakaran terjadi pas si Ningsih pulang kampung?" desis Rohmad sambil menengok kanan kiri.
__ADS_1
"Hust... nggak boleh seudzon. Aku sih ngira dia dapat warisan dari suami kedua yang kaya raya itu. Tapi nggak tahu lah. Dia kaya banget sampai punya rumah gedong dan perusahaan di Jakarta," lirih Sigid.
Mereka pun terdiam saat Ningsih ke ruang tamu. Ningsih terlihat sangat cantik dan berkelas seperti artis di televisi.
"Pagi Mas Sigid dan Mas Rohmad... maaf ya ini adanya cuma kopi sama gorengan." Ningsih meletakan satu nampan berisi dua gelas kopi dan sepiring gorengan.
Ibu pun ikut ke ruang tamu. "Diminum dulu Gid... Mad..."
"Ya, Ningsih... Bu Udin..." jawab Sigid dan Rohmad serentak.
Mereka meminum kopi yang disuguhkan dan memakan telo dan bakwan goreng. Sesekali mereka bercakap soal kabar Ningsih. Rohmad yang seorang playboy berkali-kali melirik ke arah Ningsih. Ningsih merasa risih dengannya.
Setelah usai bercakap, mereka pun pamit kembali ke desa sebelah tempat Keluarga Bu Dwi akan dievakuasi dan dimakamkan. Sigid dan Rohmad pun pergi.
"Pak... Bu... mau melayat?" tanya Ningsih dengan sinis.
"Gimana lagi, Nduk. Mereka utusan Pak Kades. Nggak enak kalau nggak melayat, Nduk," ucap Ibunya Ningsih.
"Iya, Nduk. Benar kata Ibumu," imbuh Bapak.
Ningsih tersenyum masam. Dia memang sudah muak berurusan dengan keluarga Agus.
"Mati aja nyusahin apalagi hidup... dasar nggak anak nggak ibunya, ama aja nyusahi," batin Ningsih, meninggalkan ruang tamu dengan perasaan dongkol.
Bapak dan Ibu hanya terdiam karena mereka tahu rasa Ningsih. Mereka pun merasakan. Tapi apa boleh buat, harus melayat daripada dikira tak punya tata krama atau tidak sopan. Bagaimanapun mereka pernah jadi besan.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
ASMODEUS
"*M**anusia tidak akan pernah menyadari kesalahannya. Bahkan cenderung menyalahkan orang lain atau keadaan. Lalu iblis berlomba-lomba mencuri jiwa mereka. yang rela mengabdikan diri kepada KESOMBONGAN, PERBUDAKAN MALAM, HAWA NAFSU, PEMBUNUHAN, PENDUSTA ULUNG, IRI DENGKI*. Semua terbagi dalam susunan lapisan Neraka yang mengerikan. Mereka tak sadar jika satu dosa yang diperbuat bisa membuat dosa lain muncul. Sadar atau tak sadar... Mereka akan terjerat."
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
__ADS_1