
π PERTEMPURAN GAIB - PART 1π
Bima terbelalak melihat ke dalam tubuh Ningsih. Merasakan sesuatu kekuatan lain dari tangan Ningsih. Aliran itu, bahkan mimpi yang semalam Ningsih alami, Bima melihatnya dengan jelas. Tak kuat menyentuhnya terlalu lama, Bima melepaskan tangan Ningsih.
"Ningsih, apa yang kau lihat semalam itu tidak benar. Sepertinya kali ini aku harus memberi pelajaran pada orang yang sedari lalu mengganggu hubungan kita," kata Bima yang aura kemarahannya memancar kuat. Bima mengepalkan tangannya dan beranjak pergi untuk membuat perhitungan dengan Budi.
Ningsih mencoba mencegah Bima. "Maksudmu apa? Orang siapa?"
Bima menatap Ningsih dengan api membara di matanya. "Orang yang sudah ikut campur terlalu jauh. Semalam mimpi itu karena efek yang dibuat oleh Budi agar kamu menjauhiku."
Tentu saja Bima karena Ningsih menjadi tahu masa lalu Bima. Hal itu yang membuat Ningsih resah dan merasa Bima memperlakukan semua wanita dengan sama. Bima tak bisa tinggal diam. Tangannya mengepal menahan amarah yang membara.
"Budi? Kenapa dia? Dia tidak berkata apapun padaku. Kamu pasti mencari alasan untuk mengelak dari pertanyaanku ya? Apa iya semua wanita pengikutmu kau perlakukan sama seperti aku?" Ningsih masih saja dalam kekalutan itu.
"Kalau aku seperti itu padamu, sudah kucabut nyawamu sejak dulu! Cari saja seorang lelaki lagi untuk menikah agar genap tujuh tumbal dan kuambil nyawamu!" bentak Bima pada Ningsih tanpa sadar. Emosi membuat Bima tak bisa berpikir jernih. Dia pun berlari menjauh dan menghilang.
Ningsih tertegun mendengar perkataan Bima yang menusuk hati dan perasaannya. Ningsih pun terhuyung dan hampir jatuh pingsan. Untung saja Joko melihat hal itu lantas berlari menangkap Ningsih.
"Bu ... Ningsih ... kamu tak apa? Ayo ke mobil dulu. Aku akan panggilkan Santi," kata Joko yang menahan badan Ningsih sebelum jatuh.
Santi sudah selesai mengambil obat dan keluar klinik ketika Joko menangkap tubuh Tante Ningsih. Entah mengapa rasa cemburu itu semakin terasa mencekik hati Santi. Santi segera istighfar dan mengusap dadanya sebelum menghampiri Tante Ningsih.
"Tante kenapa? Om Bima ke mana?" ucap Santi khawatir.
"Santi tolong bukakan pintu mobil ya. Ini Bang bawa Bu Ningsih ke dalam mobil dulu." kata Joko yang panik melihat Ningsih lemas.
Setelah Ningsih di dalam mobil, Joko mencari minum untuk Ningsih sedangkan Santi menunggu tantenya. "Tante ada apa kok jadi begini?" Santi pun khawatir dengan keadaan Tante Ningsih.
"San, emangnya ada apa dengan Budi? Bima marah saat ini sedang ke Budi. San, Tante sedih banget kenapa tadi Om Bima bilang nyuruh Tante nikah lagi aja. Apa iya Om Bima ga beneran cinta sama Tante?" lirih Ningsih yang masih syok perkataan Bima.
Santi pun terkejut. Tante Ningsih memang belum tahu soal rencana Santi dan Budi. Namun hal ini membuat Budi dalam bahaya jika bertemu Bima.
"Tante tenang dulu ya. Sebentar Santi mau telepon Mas Budi biar nggak salah paham kalau Om Bima marah-marah ke sana," kata Santi menenangkan kondisi Tante Ningsih.
"Iya, Santi. Tante pusing banget ini."
Santi pun keluar dari mobil dan mengambil gawainya untuk menelepon Budi. Dia sangat khawatir jika terjadi sesuatu kepada Budi.
Tut ... tut ... klek ....
Budi: "Assalammualaikum, ada apa Non Santi tumben telepon?"
Santi: "Walaikumsallam, Mas Budi. Gini Mas ada sesuatu yang penting. Baru saja Tante Ningsih bertemu Om Bima. Mereka ribut entah karena apa. Lalu Om Bima pergi mencari Mas Budi. Mas Budi hati-hati ya. Santi khawatir kalau Om Bima tahu soal rencana kita."
__ADS_1
Budi: "Baik, Non Santi. Insyaallah semua akan baik-baik saja. Saya juga sudah memperkirakan hal ini akan terjadi. Non Santi juga berhati-hati ya."
Santi: "Baik, Mas. Terima kasih ya."
Santi mengakhiri pembicaraan di telepon dengan salam. Lalu kembali ke mobil menemui Tante Ningsih yang sudah meminum teh hangat yang dibawa oleh Joko.
"Joko, kita langsung pulang ya. Aku khawatir Bima akan nekat melukai Budi," ucap Ningsih yang masih lemas.
"Baik, Bu. Ayo Non Santi kita balik rumah."
Santi pun masuk ke mobil. Joko segera mengendarai mobil balik ke rumah. Entah apa yang terjadi dan apa hubungannya dengan Budi, Joko segera melaju cepat untuk ke rumah. Perjalanan sekitar tiga puluh menit meski kecepatan 70km/jam.
Sesampainya di rumah, Bima tak terlihat berada di sana. Suasana sepi. Namun Mak Sri segera keluar dengan panik dan berkata, "Bu Ningsih ... Budi tadi tiba-tiba pingsan di depan. Untungnya Den Reno sama Wahyu sudah pulang dan bantu bawa Budi masuk. Itu ada adiknya Joko juga membantu angkat Budi tadi."
"Budi kenapa kok pingsan? Tadi apa Bima ke sini Mak?" Ningsih pun ikut panik.
"Tidak, Bu. Tuan Bima tidak ke sini. Budi tadi di depan dan tahu-tahu pingsan jatuh." Mak Sri pun kembali ke ruang tamu di mana Budi tergeletak di sofa.
"Joko, cepat telepon dokter ya. Takutnya Budi kenapa-napa," kata Ningsih yang juga panik.
Santi dan Ningsih dalam hati berpikir hal yang sama. Pasti ada kaitannya dengan Bima. Santi pun di samping Budi sambil melantunkan doa dalam hati lalu memberikan tasbih ke tangan Budi.
Sedangkan Ningsih mencoba berkomunikasi dengan Bima dari depan rumah. Di luar pagar gaib yang katanya dipasang oleh Budi untuk memisahkan Ningsih dan suami gaibnya.
***
Waktu yang sama di alam gaib sebuah pertempuran terjadi ....
Bima menarik sukma Budi saat bertemu di depan rumah Ningsih. Hal itu yang membuat Budi pingsan di dunia nyata. Sukma Budi ditantang untuk bertarung dengan Bima.
"MEMBUAT PAGAR GAIB SUDAH KUABAIKAN AGAR TAK MEMBUAT NINGSIH KHAWATIR. NAMUN KALI INI KAU TERLALU JAUH IKUT CAMPUR WAHAI MANUSIA!" gertak Bima dengan wujud Iblis.
Budi sama sekali tak gentar. Dia pun berani menjawab, "Aku bukan ikut campur tetapi mana bisa membiarkan sesama terjerumus dalam tipu daya iblis! Lebih baik lepaskan Bu Ningsih dan keluarganya."
Bima pun geram dan mulai menyerang Budi. Tak diduga, Budi mampu menghindari serangan Bima. Leluhur Budi memberi perlindungan padanya berupa macan putih yang tentunya memperlihatkan wujud saat Budi terancam.
"MEMINTA PERTOLONGAN MAKHLUK SILUMAN RUPANYA? TAK AKAN BISA MELAWANKU! PILIHLAH UNTUK TAK IKUT CAMPUR LAGI ATAU TERPAKSA KUHABISI KAU!" Bima makin geram dengan Budi.
Budi kembali menghindari serangan Bima sambil mengucapkan Asma Allah. "Tak akan aku menyerah melawan makhluk sepertimu! Cukup sudah menyesatkan ratusan manusia dan menumpahkan darah tumbal tak bersalah!"
Budi dengan bantuan macam putih melawan Bima bertarung dalam alam gaib. Bukan hal yang mudah dengan takaran ilmu yang berbeda. Budi bukan tandingan Bima.
Budi pun tersudut saat Bima mengeluarkan bola api yang besar. Dalam dunia nyata, Santi memberi tasbih di tangan Budi dan membantu doa. Budi menangkis bola api yang Bima lempar ke arahnya. Namun kondisi Budi tidak sekuat itu. Dia terpental dan mengeluarkan darah dari mulutnya.
__ADS_1
Dalam dunia nyata pun Budi mengeluarkan darah dan membuat panik orang-orang. Saat itu Ningsih keluar rumah untuk berkomunikasi batin dengan Bima. Tepat saat Bima gelap mata dan hampir menghabisi Budi dengan sekali tebasan tangan, suara Ningsih terdengar menggema.
"Bima ... Bima ... kamu apakan Budi? Bima tolong jawab! Atau aku akan membencimu selamanya!"
Bagaimana bisa Bima melanjutkan pertarungan itu jika Ningsih mengancamnya. Bima pun melemparkan sukma Budi kembali ke raganya dan bergegas menemui Ningsih di dunia nyata.
***
Kembali ke dunia nyata ....
"Uhuk ... uhuk ... uhuk ...." Budi sadar dan batuk-batuk darah.
"Astafirullah Mas Budi ... Bang Joko mana ambulancenya sudah datang belum? Reno tolong ambilkan tisu dan air minum hangat." Santi sangat panik dan membantu Budi yang terlihat terluka parah.
Mereka lekas mengobati Budi sebisanya dan menunggu ambulance datang. Terlihat Wahyu ketakutan, maka dari itu Nindy mengajaknya pergi ke kamar. Mak Sri jelas panik melihat keponakannya seperti itu. Beliau pun menelepon Kyai Anwar, adik dari Mak Sri yang berarti ayah dari Budi. Hal ini menjadi perkara serius.
Ningsih masih berada di luar saat berucap dalam hati kepada Bima. Beberapa saat kemudian, Bima pun datang dalam wujud manusia.
"Apa yang kamu lakukan!" bentak Ningsih sambil memukul dada Bima.
"Ningsih kenapa kau marah terus padaku?" Bima masih tak paham dengan sikap Ningsih.
"Kembalikan Budi seperti semula. Ini pasti perbuatanmu kan? Aku tak suka kamu menyakitinya."
"Dia kan hanya pesuruh di rumahmu. Mengapa membelanya yang justru ingin memisahkan kita? Atau jangan-jangan kau ingin menjadikannya suami ketujuh?" Perkataan Bima menghujam jantung Ningsih.
Tanpa banyak kata, Ningsih menampar Bima. "Kamu keterlaluan Bima!"
Telihat mata Ningsih berkaca-kaca hendak menangis. Bima menjadi merasa bersalah. "Ningsih ... maaf. Maafkan aku." Bima mencoba mengusap air mata Ningsih yang mulai mengalir di wajahnya.
Ningsih pun menampik tangan Bima. Dia benar-benar sedih dengan keputusan Bima yang mengganggu Budi. Budi adalah keponakan Mak Sri. Jika ada hal buruk terjadi tentunya akan membuat Mak Sri juga sedih. Padahal selama ini Mak Sri berjasa besar dalam membantu Ningsih merawat puteranya.
"Bima ... jika ada suatu hal buruk terjadi pada Budi, lebih baik perjanjian kita batal. Aku tak ingin melanjutkan lagi hubungan ini. Kasihan Mak Sri jika Budi terluka." ucap Ningsih tanpa berpikir panjang dengan emosi yang berkecamuk.
Bima tak bisa melepas Ningsih begitu saja hanya karena hal ini. "Tidak! Kau hanya milikku, Ningsih. Aku tak akan melepaskanmu."
Bima memeluk erat tubuh Ningsih. Walau Ningsih coba meronta pun tak bisa lepas dari pelukannya. Tiba-tiba Reno keluar rumah dan berkata, "Tante ... Tante ... Mas Budi sudah sadar dan batuk keluar darah. Bang Joko sudah panggil ambulance darurat tapi belum datang."
Sontak Ningsih langsung melepaskan diri dari pelukan Bima yang melonggar. Ningsih lari ke dalam rumah meninggalkan Bima yang terpaku. Saat itu, Bima tak ingin Ningsih makin membencinya. Dia pun mencoba menembus pagar gaib dan masuk ke rumah. Ternyata ... bisa! Mungkin karena Budi terluka cukup serius membuat pagar gaibnya mulai luntur dan bisa ditembus dengan mudah oleh Bima. Bima pun berjalan masuk ke dalam rumah dan hendak melihat kondisi lelaki yang menjadi lawannya tadi.
"NINGSIH, AKAN KUSEMBUHKAN DIA TAPI JANGAN MARAH LAGI PADAKU." batin Bima berbicara pada Ningsih saat mendekati Budi.
*B*ersambung ....
__ADS_1