
Santi resah menanti kedatangan tante dan keponakannya. Matahari mulai turun dari tahtanya. Senja datang membawa sejuta kekhawatiran di dada. Berkali-kali Santi menghubungi ponsel Ningsih masih tidak ada respon.
"Kak.... Tante Ningsih sudah ada kabar?" tanya Reno sambil memegang bahu Santi.
"Huh! Kalau ada kabar mana mungkin aku khawatir beginj!" jawab Santi ketus.
Santi berlalu dari hadapan Reno. Rasa kesal masih menyelimuti pikiran dan hatinya. Renk pun jadi serba salah dan bingung.
"PakLek... Kak Santi kok begitu sama Reno?"
"Sudah, Le. Diamkan saja dulu. Kamu sudah coba hubungi teman Ibumu?"
"Belum PakLek. Reno tak berani," ucap remaja putra itu sambil tertunduk.
PakLek Darjo paham betul situasi ini memang sulit bagi Santi dan Reno. Bahkan kejadian buruk yang bertubi-tubi datang membuatnya semakin khawatir dengan mereka.
PakLek pun menerawang.... Ningsih dalam bahaya. Namun, semua berada di luar kemampuan PakLek.
"Kak, Reno minta maaf...." rintih Reno mendekati Santi.
"Buat apa? Mau terus manja? Kamu itu lelaki...." Santi mencoba pergi dan menghindar.
__ADS_1
Reno memegang tangan kakaknya, "Iya aku lelaki. Aku memang manja. Aku selalu buat masalah. Aku... Aku penyebab semua ini..... Tapi kali ini aku nggak mau Tante Ningsih juga pergi!"
Reno mulai meneteskan air mata. Dia merasa bersalah atas meninggalnya Ratih. Dia tak ingin hal buruk terjadi pada Ningsih dan Wahyu.
"A..aku akan cari Tante Ningsih."
"Cukup! Konyol banget kamu! Anak kecil sepertimu bisa apa?" sindir Santi.
"Aku bukan anak kecil. Aku tunjukkan tanggung jawabku. Tante Ningsih orang pertama yang tidur denganku. Dia... dia.... aku suka dengannya. Aku akan menolongnya," sanggah Reno sambil terisak.
Seketika Santi mengayunkan tangannya ke wajah Reno. Reno terkejut dengan tamparan Santi.
"Bodoh! Sudah buat dosa masih saja bodoh! Kamu kira Tante Ningsih benar-benar suka dengan anak bau kencur sepertimu? Nolong apa? Bahkan nolong dirimu sendiri saat babak belur pun tak bisa!" Santi ikut menangis menatap adiknya yang memegang pipi merah bekas tamparan.
****
"Ka..kauu....." Ningsih terbata-bata melihat lelaki yang menyopir taksi itu.
"Ya... Mau kemana kamu setelah mencelakakan anakku? Kau lupa ya... aku punya sembilan nyawa. Hahahaha...."
"Mama.... takut...." Wahyu memeluk ibunya.
__ADS_1
Taksi itu melaju pesat dan masuk ke lokasi sepi. Lalu berhenti. Sugeng membalikkan badannya dan tersenyum menyeringai.
"Ikut denganku... atau kau akan menyesal!"
"Jangan lukai putraku...." pinta Ningsih.
"Tidak... biar dia di sini. Ikut denganku sekarang!"
Tak ada pilihan lain. Ningsih turun dari mobil dan meninggalkan Wahyu di sana, "Sayang... jangan menangis ya... di sini saja.. tunggu Mama..."
Wahyh hanya mengangguk menahan tangis. Sugeng menarik Ningsih dengan kasar. Masuk ke sebuah bangunan usang.
"Sugeng... hentikan kumohon. Aku tidak melukai Satria. Dia yang..."
"Dia apa? Dasar wanita iblis!" Sugeng menampar Ningsih hingga terjatuh.
"Kumohon jangan seperti ini. Kita bicarakan semuanya baik-baik. Tak akan ada habisnya seperti ini. Suamiku pasti akan datang menghabisimu...."
"Iblis itu? Lakukan! Bahkan untuk hidup pun aku muak melihatmu. Ayo mati bersama!"
Ningsih mundur ketakutan. Sugeng seperti kesetanan. Medekati Ningsih seakan-akan ingin langsung membunuhnya. Dia sudah kehilangan akal sehat.
__ADS_1
'Aku harus mengakhiri ini semua.... Sekarang.. atau tidak sama sekali,' batin Ningsih.