JERAT IBLIS

JERAT IBLIS
BAB 158


__ADS_3

πŸ€ Persimpangan Jalan yang Gelap πŸ€


Nindy tertegun, membayangkan apa yang akan terjadi nanti. Dia terlanjur menyepakati hal yang salah. Demi membantu perekonomian keluarga yang hancur, Nindy tak kuasa menahan malu dan merelakan hal yang paling penting untuknya.


Mahkota seorang gadis, dihargai dua ratus juta oleh lelaki hidung belang. Nindy menukar kesucian dengan uang, demi menyelamatkan hidup Abah dan Ibunya. Saat ini, Abah sering sakit-sakitan dan akhirnya Ibu juga sakit karena tak kuasa menahan semua pikiran yang berkecamuk. Mereka pun terlilit hutang setelah rumah dan motor mereka jual.


Nindy yang duduk di pinggir ranjang dalam kamar mewah hotel berbintang lima itu resah. Menunggu siapa dan seperti apa orang yang dimaksud kawannya itu. Orang yang membeli keperawanannya dengan dua ratus juta.


"Ya, Allah ... ampuni hambaMu yang akan berbuat dosa. Ampuni, ya, Allah. Semua demi Abah dan Ibu. Hamba sudah tak tahu lagi harus ke mana mencari uang sebanyak itu untuk membayar hutang dan pengobatan Abah dan Ibu," batin Nindy makin rapuh. Dia sadar jika perbuatannya adalah awal kesengsaraan yang ia pilih secara sadar.


Namun, kembali lagi, dia bisa berbuat apa? Hutang menumpuk karena penghasilannya tak cukup untuk sekedar makan sehari-hari dan membayar kontrakan juga untum berobat orang tuanya. Sedangkan Joko yang dahulu menjadi tulang punggung pun sudah meninggal dunia. Rasa sakit teramat sakit, Nindy rasakan sendirian.


Terlebih, saat tahu usaha dan rumah Tante Ningsih terbakar dan habis seketika. Nindy semakin putus asa dan tak tahu ke mana harus meminta bantuan. Handphonenya pun beberapa bulan yang lalu dicuri orang dan hal itu membuatnya tak bisa menghubungi Tante Ningsih maupun Santi dan Reno.


Seketika, tubuhnya kaku ketika pintu terbuka perlahan. Seorang lelaki masuk ke dalam kamar. Tidak seperti yang ia bayangkan. Bukan lelaki tua atau setengah baya. Justru lelaki seusia alm. Joko yang masuk ke sana.


"Hei, sudah menunggu lama?" sapa lelaki itu pada Nindy yang masih ketakutan.


"I-iya, Om." jawab Nindy gugup.


"Om? Yang benar saja. Apakah aku setua itu?" tanya lelaki itu yang kemudian mendekatkan wajahnya ke Nindy.


"Ti-tidak," ucap Nindy yang tak berani melihat wajah lelaki itu.


"Perawan ... aku akan membayarmu lima ratus juta jika mengikuti perintahku. Kau mau?" kata lelaki itu membuat Nindy mendongakkan wajahnya.


"Li-lima ratu juta? Perintah apa?" Nindy menjadi penasaran sekaligus bingung.


"Aku tidak akan tidur denganmu, tetapi sebagai gantinya ... cari Ningsih dan suaminya sampai dapat. Kau bisa?" perintah lelaki misterius itu.


"Apa? Tante Ningsih? Siapa kamu?" Nindy mulai mundur, semakin ketakutan.


"Aku? Tak penting siapa aku. Terpenting laksanakan tugasmu jika ingin uang!" gertak lelaki itu.


Nindy kembali berpikir. Dia tak harus melepas mahkota kesuciannya dan hanya mencari keberadaan Tante Ningsih. Mungkin hal ini akan lebih mudah dibanding dosa zina. Dia pun dengan gegabah mengambil keputusan tanpa mengerti nasibnya bagai di persimpangan jalan yang gelap.


"Aku mau, Tuan. Aku mau. Tetapi ... bolehkah aku minta uangnya sebagai pengikat perjanjian meski hanya setengah?" ucap bibir Nindy sambil bangkit dari duduknya.

__ADS_1


"Nah, pilihan yang tepat. Tentu, aku akan memberikan uang itu saat ini." Lelaki itu pun mengambil amplop coklat dan memberikan kepada Nindy. "Seratus juta sebagai tanda jadi. Lalu, ini ponsel untukmu. Lanjutkan tugasmu dan uang akan kuberikan lagi saat kamu melakukan proses. Jangan sekali-kali menipuku," kata Lelaki itu setengah mengancam.


Nindy pun mengambil amplop berisi uang dan ponsel pemberian lelaki itu. "Iya, Tuan. Terima kasih banyak."


"Keluarlah dari pekerjaanmu dan segera cari Ningsih dan Bima. Lalu, hubungi aku jika sudah dapat informasi itu." perintah lelaki misterius itu.


"Baik, Tuan. Siapa nama Tuan?" tanya Nindy yang sepertinya pernah melihat lelaki itu.


"Namaku? Evan. Panggil aku, Evan saja."


Nindy pun mengangguk paham. Beberapa saat kemudian Evan meninggalkan Nindy yang masih tertegun di dalam kamar. Entah harus bersyukur atau bingung? Nindy tak jadi menjual keperawanannya dan justru mendapat tugas yang cukup mudah. Namun, apakah Nindy siap bertemu kembali dengan Reno? Hal itu membuatnya kalut.


"Aku harus bisa melaksanakan tugas ini. Hanya mencari Tante Ningsih dan Om Bima. Bukan sebuah kesalahan, bukan?" kata Nindy pada diri sendiri dan bersyukur terhindar dari hal yang sebenarnya dia tidak inginkan.


Evan keluar dari kamar hotel dengan senyum yang mengembang. Dendam membawanya dalam lautan amarah yang tak terbendung. Lily masih bersamanya, tetapi hal yang Bima dan Ningsih lakukan membuat Evan dan Lily tak akan bisa lupa. Mereka menunggu waktu yang tepat untuk balas dendam.


Saat ini, kekuatan mereka sudah pulih. Butuh waktu yang lama untuk kembali mencari mangsa dan juga mencari celah untuk balas dendam. Saat mencari Ningsih dan keberadaan Bima, Evan dan Lily menemukan fakta jika mereka menghilang.


"Kalau aku sudah menemukan kalian dan balas dendam, pasti Tuan Asmodeus akan memaafkanku dan memperbolehkan aku dan Lily kembali ke Neraka Lapis Keenam. Ha ha ha ha ... Bima, sebentar lagi kau akan hancur!" gumam Evan sambil membuka pintu mobil dan masuk ke dalamnya. Lily sudah menunggu di sana.


"Bagaimana, sayang?" ucap Lily pada Evan yang selama ini menemani hidupnya. Meskipun dalam lubuk hati yang paling dalam, Lily masih berharap bisa bertemu Lee.


Mereka pun pergi meninggalkan parkiran hotel. Sebenarnya mereka sudah mencari di rumah dan tempat usaha Ningsih, tetapi semua sudah rata dengan tanah. Ningsih menghilang hampir dua tahun, menurut kata mantan pegawainya. Hal ini membuat Evan dan Lily kesusahan mencari jejaknya.


Saat melihat Nindy, Evan jadi teringat. Dia salah satu orang yang bersama Ningsih waktu di Yogyakarta. Evan pun mengatur siasat licik untuk memanfaatkan Nindy. Dia yakin jika Nindy bisa mendapatkan informasi itu.


***


Beberapa saat kemudian ....


Nindy pulang ke rumah dengan bahagia. Dia segera menghampiri Abah dan Ibu yang terbaring di ranjang dengan lemas.


"Assalamualaikum, Abah, Ibu! Nindy pulang. Alhamdulilah ... Nindy sudah dapat uangnya. Kita bisa bayar hutang dan membayar kontrakan." seru Nindy sambil terburu-buru masuk ke rumah.


"Wa'alaikumsalam ... alhamdulilah," jawab Ibu dan Abah bersamaan.


Terlihat secerca cahaya harapan ada di mata kedua orang tua Nindy. Mereka hampir saja putus harapan dan merasa selalu merepotkan anaknya. "Ibu minta maaf, sudah buat Nindy bekerja keras seperti ini." lirih Ibu mencoba bangkit dari tidurnya.

__ADS_1


"Nggak merepotkan. Ibu kalau masih sakit tidur saja. Nindy sudah bawa makanan kesukaan Abah dan Ibu. Ini ... nasi Padang komplit," kata Nindy bersemangat membawa tiga kotak makanan.


Nindy pun membantu Abah duduk, lalu membantu Ibu juga. Mereka makan bersama. Menyantap makanan yang sudah lama tak mereka nikmati. Tanpa berpikir seperti apa yang akan terjadi di masa depan, Nindy makan dengan lahap dan senang melihat kedua orang tuanya tersenyum.


"Terima kasih, ya, Allah. Aku bisa mengukir senyum di wajah Abah dan Ibu lagi. Senyum yang sudah lama pudar. Begitu berat dan banyaknya cobaan ini, kami lupa jika Engkau masih peduli. Maafkan kami, ya, Allah." batin Nindy saat menatap kedua orang tuanya.


Setelah makan, Nindy bergegas ke penagih hutang yang tak lain Pak Kepala Desa di sana. Dia hanya ingin segera menghirup napas dengan bebas hutang.


"Assalamualaikum, Pak." sapa Nindy di depan rumah Pak Kades.


"Wa'alaikumsalam ... eh, Nindy. Tumben ke sini, ada apa?" tanya Pak Kades yang senyum-senyum menakutkan.


"Ini, Pak. Bu Kades ada? Nindy mau bayar hutang Abah dan Ibu." kata Nindy tegas.


"Oh, ada itu di dalam. Kenapa buru-buru bayar hutangnya? Bukankah Mas sudah bilang, tak usah bayar hutang tak apa ...." Belum selesai Pak Kades bicara, Nindy langsung menampik tangan lelaki yang hendak merangkulnya.


"Jangan kurang ajar, Pak. Nindy tak mau jadi istri siri Bapak! Sudah, Nindy mau selesaikan urusan ini dan tak mau melihat Bapak lagi." pungkas Nindy membuat Pak Kades malu dan geram.


"Awas, ya. Sok, jual mahal! Nanti aku pasti bisa mendapatkanmu!" batin Pak Kades yang penuh amarah.


Nindy segera menemui Bu Kades dan menyelesaikan hutang orang tuanya sebesar dua puluh juta rupiah. "Nah, begini baru benar. Kalau sudah ada uang langsung lunasi. Jangan nunggu saya marah-marah ke sana, buang-buang waktu 'kan? Oh, iya. Karena pelunasannya telat, kena denda lima juta, ya. Ada? Kalau nggak ada saya beri tempo seminggu, deh. Kurang baik apa saya ini," ujar Bu Kades yang menjadi lintah darat di desa tempat Nindy dan orang tuanya mengontrak rumah.


"Tidak usah tempo, Bu. Ini saya lunasi sekalian. Jadinya dua puluh lima juta, ya? Sah, ya, Bu. Saya minta kwitansinya." jawab Nindy dengan tegas sambil menyerahkan beberapa gepok uang seratus ribuan.


"Oh, sudah punya, ya? Habis jual apa kok punya uanh sebanyak ini?" cibir Bu Kades sambil melihat Nindy dari atas sampai bawah. Dia segera membuat kwitansi untuk Nindy.


"Habis dapat warisan. Terpaksa juga segera lunasi, saya takut dipaksa nikah oleh suami Ibu Kades," kata Nindy menyulut emosi Bu Kades.


"Ha? Apa saya tak salah dengar? Tejo mau nikahi kamu?" tanya Bu Kades memastikan apa yang dia dengar.


"Iya, Bu. Ini buktinya. Saya sudah jengah," jawab Nindy sambil menyodorkan handphonenya yang berisi rekaman suara saat Pak Kades merayunya tadi. Mendengar itu, Bu Kades langsung emosi dan hendak menghajar Pak Kades.


"Sudah, segera pergi sana. Saya perlu memberi pelajaran pada Tejo!" tegas Bu Kades sambil menyodorkan kwitansi lunas hutang piutang.


Nindy pun pergi meninggalkan rumah Bu Kades. Terdengar mereka bertengkar hebat, dan Pak Kades dipukuli dengan sapu. Nindy tertawa puas. "Rasain, dasar lelaki otak mesum! Nikah siri apaan? Cuma mau memanfaatkan kesusahan orang lain untuk memuaskan nafsunya. Hih, sebel!" gumam Nindy sambil melangkah pergi.


Satu hal sudah terlewati, Nindy mulai hari ini akan mencari informasi sebanyak-banyaknya tentang Tante Ningsih. Dia yakin, Santi dan Reno pasti tahu. Oleh sebab itu, Nindy mencari orang yang bisa menjaga Abah dan Ibu di rumah kontrakan. Dia segera membeli semua kebutuhan selama sebulan. Nindy berencana akan ke Yogyakarta menemui Santi dan Reno demi mendapat informasi.

__ADS_1


"Abah, Ibu, Nindy pamit besok akan ke Yogyakarta. Sekarang biar Bi Inah dan Mang Nur yang menemani Abah dan Ibu selama Nindy pergi."


__ADS_2