
...🔥 AMBISI 🔥...
Hiruk pikuk suasana kerja di Ibu Kota sangatlah ramai. Beberapa karyawan berlalu lalang ketika waktu menunjukkan jam masuk kerja hampir dimulai. Beberapa ada yang berlarian karena takut terlambat, tak sedikit pula yang santai dengan mangatas namakan macet jalanan.
Semua berjalan tanpa memedulikan orang lain. Ambisi manusia begitu besar sehingga ego pun menjadi hal utama. Seperti halnya wanita yang bernama Vira, usia tiga puluh tahun tetapi belum menemukan pendamping hidup. Dia terlihat culun karena memakai kaca mata berbingkai tebal. Rambut yang bergelombang, tidak mengikuti kemajuan zaman. Meski kulitnya kuning langsat, tetap saja aura suram di wajahnya. Tak ada yang membuat pria tertarik padanya.
Vira bekerja sudah lima tahun di perusahaan milik Tuan Brams. Namun, tak pernah dia dipromosikan naik jabatan. Padahal prestasi kerjanya cukup diperhitungkan. Tetap saja, wanita-wanita cantik dan lebih muda yang mendapatkan kesempatan emas.
"Sabar, Vira. Sabar. Kamu tak boleh patah semangat. Demi Ayah dan Bunda, harus tetap semangat." batin Vira menutupi kekecewaannya yang sekian kali.
Seorang wanita cantik yang baru bekerja lima bulan, sudah diangkat menjadi pimpinan di sub bidang tempat Vira bekerja. Begitu sakit hatinya melihat hal itu. Namun, Vira bisa apa? Bahkan untuk mengungkapkan pendapat pun dia tak bisa.
"Vira, gue tahu kalau lu paling pinter di sini. Gue beri tugas tambahan ini buat lu. Kerjain, ya. Kalau berani nolak, gue potong gaji lu!" bentak wanita yang beberapa jam lalu naik jabatan. Namanya Juvy. Wanita yang sangat menyebalkan di mata Vira.
Vira terpaksa mengerjakan karena tak ingin terjadi masalah dalam pekerjaannya. Terlebih jika ada potongan gaji, Vira sangat khawatir karena saat ini masih banyak tanggungan yang harus dia lunasi.
Kali ini, hal buruk menghampiri Vira tanpa disadari. Saat pulang bekerja terlalu malam karena lembur tugas, Vira diikuti beberapa pria. Awalnya, Vira tidak sadar jika kelima pria itu mengikutnya. Lama kelamaan, saat jalanan makin sepi dan Vira masuk ke gang hendak menuju ke rumahnya, pria itu segera mencegah langkah Vira.
"Neng, mau ke mana malam-malam gini lewat jalan sepi?" kata seorang pria yang langsung membentangkan kedua tangannya menghadap Vira.
"Siapa kalian? Pergi! Jangan ganggu!" ucap Vira yang mulai ketakutan. Dia mencoba menghindari, tetapi salah seorang pria lainnya menarik rambut Vira hingga dia terjatuh ke belakang.
Kelima pria itu pun satu per satu menertawakan Vira. Vira sangat ketakutan karena mereka mulai mendekati Vira yang terjatuh.
"Neng, nurut aja, ya? Kita cuma mau ajak seneng-seneng, kok. Kalau ngelawan, ntar temen kita yang bicara," kata seorang pria mengeluarkan pisau tajam.
Vira semakin ketakutan. Dia mencoba menghindar, tetapi kejadian keji itu terjadi. Malam yang gelap dan hendak turun hujan, petir menyambar seakan menjadi saksi pilu Vira kehilangan mahkota kesucian dalam paksaan manusia berhati serigala. Kelima pria itu mencabik-cabik hati dan hidup Vira. Sungguh tragedi pilu. Tempat sepi dan gang sempit itu menjadi saksi bisu. Kelima pria dengan beringas memperdaya Vira.
Seusai puas bergantian dan membuat Vira tak berdaya, mereka belum meninggalkan Vira. Mereka masih menyeret Vira ke rumah kosong dekat sana. Bukannya melepaskan Vira, mereka mulai lagi memperdaya Vira secara bergantian. Keji. Amat keji. Vira yang sudah tak kuat lagi, akhirnya pingsan, tak sadarkan diri.
Kelima pria brengsek itu pun segera pergi meninggalkan Vira di rumah kosong itu seorang diri. Vira pingsan hingga akhirnya terbangun ksrena sentuhan tangan yang sedingin es di pipinya.
"Kau sudah bangun?" lirih seorang wanita bermuka pucat yang membuat Vira terkejut.
"Si-siapa kamu? Ha-hantu, ya?" kata Vira terbata-bata.
Wanita itu pun tertawa. "Dasar manusia. Mengapa takut padaku yang menyelamatkanmu? Harusnya kamu takut pada kelima lelaki brengsek tadi!" ucap wanita yang ternyata adalah Dinda.
__ADS_1
Dinda sedang berkeliling ketika melihat kejadian keji itu berlangsung. Sebenarnya, Dinda bisa membuat mereka pergi ketakutan dan tidak melanjutkan aksi bejat, tetapi Dinda memiliki rencana yang lebih sempurna. Wanita Iblis itu memiliki banyak siasat licik untuk menjerumuskan manusia.
Vira tertunduk malu. Dia pun memeluk badannya sendiri dengan pakaian yang sudah sobek sana sini. Menggigil kedinginan dan merasa ketakutan.
"Bagaimana ini? Ayah Bunda pasti sedih jika tahu hal ini. Aku harus bagaimana? Hu hu hu hu ...." Vira pun menangis tersedu-sedu.
"Tak usah takut. Aku akan membantumu. Menjadi cantik dan balas dendam. Apakah kau mau?" tanya Dinda membujuk Vira.
Vira yang merasa malu, takut, sedih, dan marah pun dengan gegabah mengambil tawaran yang diberikan oleh Dinda. Tanpa memikirkan efek apa yang akan terjadi, Vira mengiyakan tawaran itu.
"Y-ya aku mau. Bantu aku. Benar katamu, untuk apa aku takut pada hantu jika pada kenyataannya yang lebih mengerikan adalah manusia." kata Vira menyerah.
Dinda pun tertawa terbahak-bahak. Dia pun memberi pengasihan dan pemikat yang luar biasa untuk Vira. Vira yang tak kuat menahan energi sebesar itu pun tak sadarkan diri. Malam itu bagaikan mimpi buruk bagi Vira.
"Ingat satu hal, semua lelaki yang tidur denganmu akan mati untuk tumbal. Dan kamu harus mencari lima pria yang menodaimu sebagai tumbal. Perjanjian ini berlaku selamanya. Ha ha ha ha ...." kata Dinda terdengar samar-samar lalu menghilang.
...****************...
Pagi harinya ....
"Loh, kok, aku sudah di sini?" gumamnya bingung.
Beberapa saat kemudian, bunda mengetuk pintu kamar Vira. "Vir, bangun. Nanti bisa terlambat kalau kamu tak bangun sekarang!" seru bunda dari balik pintu.
"I-iya, Bund. Vira sudah bangun." jawab Vira yang kemudain bangun dari tempat tidur.
Saat hendak mengambil pakaian kerja di dalam almari, hal mengejutkan kembali terlihat. Dalam pantulan cermin, Vira terkejut melihat dirinya yang sekarang. Tanpa kaca mata, dia bisa melihat semua dengan jelas. Rambutnya yang bergelombang menjadi lurus dan mempesona dengan warna hitam campur ungu. Vira menatap wajahnya dicermin dan berkali-kali menyentuh wajahnya yang menjadi sangat cantik.
"Apakah ini mimpi? Atau kenyataan?" Vira mencoba mengingat hal yang terjadi semalam. Kejadian itu bagaikan sempalan film yang berputar cepat dalam pikirannya.
"Ini bukan mimpi. Aku yang membuatmu seperti itu. Ingat, mulai saat ini, kau bukan Vira yang dahulu. Jangan menjadi lemah!" bisik suara gaib Dinda yang tak ada wujudnya.
"I-iya. Aku harus menjadi wanita yang lebih kuat. Terima kasih, Dinda. Aku akan berusaha sebaik mungkin," lirih Vira dengan senyum menyeringai. Dia sudah muak dengan segala penindasan yang ada dan ingin mengubah hidupnya.
Setelah mandi dan bersiap, Vira pun bergegas berangkat kerja. "Ayah, Bunda, Vira brrangkat kerja dulu, ya. Ayah kalau masih lelah, jangan bekerja dulu. Jadi sopir taksi pasti melelahkan." ucap Vira yang sedari tadi menjadi pusat perhatian orang tuanya.
"Nak, kamu terlihat sangat cantik. Bunda jadi kaget lihatnya." lirih bunda yang tersenyum menatap anaknya.
__ADS_1
"Iya, Bunda. Vira mencoba ikut model zaman sekarang. Vira pamit kerja, ya." kata Vira yang kemudian mencium hormat punggung tangan ayah dan bundanya bergantian.
Menatap hari yang baru, Vira dengan mantab berjalan menuju kantor. Memang rumahnya sekitar dua puluh menit berjalan ke kantor. Vira tidak memiliki kendaraan pribadi karena ayahnya masih menyewa mobil untuk dijadikan taksi online. Setiap hari, Vira berjalan berangkat dan pulang kerja demi berhemat ongkos perjalanan.
Saat keluar dari gang, tak disangka teman kerja Vira lewat dan berhenti saat menatap Vira. "Vir-Vira?" tanya Edo yang terkejut melihat perubahan Vira yang luar biasa mencolok.
"Iya, Edo. Ada apa?" jawab Vira sambil menatapnya.
"Ayo bareng aja berangkat kerja. Lu kelihatan beda banget. Kalau bukan pakaian dan tasmu itu, gue pasti lupa kalau itu lu." kata Edo yang kemudian membuka pintu mobilnya untuk Vira.
Sepanjang perjalanan yang singkat, Edo banyak bercakap dengan Vira. Edo adalah kepala bagian akutansi. Selama ini dia selalu mengabaikan Vira. Hanya saat ini setelah Vira menjadi cantik, Edo bersikap sedikit baik.
Sesampainya di kantor, Edo pun meminta agar bisa makan siang bersama nanti. Vira hanya tersenyum dan berkata, "Nggak janji, ya. Terima kasih tumpangannya."
Pesona Vira ketika masuk kantor membuat para kaum adam menatapnya tanpa henti. Semua kaum adam, kecuali Samy atau nama lengkapnya Samudera Dewa. Sudah sejak lama, Vira menyimpan rasa pada Samy. Kali ini, Vira yakin bisa mendapatkan perhatiannya, yang ternyata perkiraan itu salah. Samy masih biasa saja menatap Vira seakan tak ada perubahan dalam dirinya.
Vira pun melenggang ke dalam kantor tempat kerjanya. Saat duduk di kursi, Juvy datang dengan muka marah. "Heh! Gue udah bilang jangan cari masalah, kan? Lu kenapa ngga kerjain tugas gue?" kata Juvy sambil menggebrak meja. Mereka menjadi pusat perhatian semua karyawan.
"Loh, kemarin udah gue kerjain," jawab Vira dengan santai.
"Hih, dibiarin malah nyolot, ya! Ngapain juga pakai rambut begini dan lu pasti operasi plastik, ya? Cupu, ya, cupu aja!" Juvy menarik rambut Vira dan memvuat keributan.
Vira hanya tersenyum, dia sengaja memancing emosi Juvy agar semua tahu siapa Juvy sesungguhnya. "Hentikan Juvy!" gertak Samy.
Samy langsung menolong Vira. Tak disia-siakan, Vira pun beraktik menangis. "Sam-Samy ...." lirih Vira seakan tak berdaya.
"Ngapain, sih, Samy? Kenapa lu malah bela dia?" kata Juvy yang langsung melepaskan tangan dari rambut Vira.
"Kali ini, kamu keterlaluan Juvy! Kalau kamu seperti ini, kenaikan jabatanmu akan dibatalkan oleh Tuan Brams!" ancam Samy pada Juvy.
Juvy pun kesal dan menghentakkan kakinya sebelum pergi meninggalkan Vira. "Kamu nggak apa, Vira?" tanya Samy pada Vira.
"Nggak apa, kok. Terima kasih, Samy. Kamu sudah menolongku. Sejak Juvy masuk di kantor ini, dia sering menyuruhku mengerjakan pekerjaannya." jawab Vira sambil menangis.
Samy mengambil sapu tangannya dan menyodorkan ke Vira. "Pakai ini. Sudah, jangan menangis. Kalau ada apa-apa bilang saja padaku." kata Samy yang kemudian kembali ke ruangan kerjanya.
Di sisi lain, Edo melihat keakraban itu sangat cemburu sambil mengepalkan tangannya. "Vira, lu harus gue dapatin. Ginana pun caranya. Gue harus dapatin lu!" gumam Edo pada dirinya sendiri.
__ADS_1