
π Seorang Anak Kecil π
Wahyu melihat seorang anak di sudut ruangan. "Loh, itu siapa?" tanya Wahyu sambil menunjuk ke arah anak Ningsih.
Orang dalam ruangan memperhatikan sudut yang Wahyu tunjuk. Namun, mereka tidak melihat apa-apa. Bahkan Pak Anwar dan Budi tidak bisa melihat atau merasakan kehadiran anak itu.
Ningsih terkejut karena Wahyu bisa melihat adiknya. Adik gaib, hasil cinta Ningsih dan Bima. Anak Ningsih pun tersenyum.
"Hai, Kakak. Sssst ...." lirih anak Ningsih yang kemudian meletakkan jari telunjuknya di bibir pertanda untuk Wahyu merahasiakan keberadaannya.
"Wahyu, ada apa?" tanya Reno yang diikuti pandangan semua orang di ruangan tertuju pada Wahyu.
Merasa tak nyaman, Wahyu terpaksa berbohong. "Tak apa, Kak Reno. Wahyu hanya salah lihat," ucapnya yang kemudian mencoba tidak memperhatikan ke sudut ruangan.
"Bener nggak apa?" tanya Budi yang cemas. Dia segera merenguh Wahyu agar mendekat ke Ningsih. "Ini ... alhamdulilah Mamanya Wahyu sudah sadar," imbuh Budi yang tersenyum menatap kedua ibu dan anak itu.
"Alhamdulilah, Om. Terima kasih Om Budi, Kakung Kyai, Kak Reno, Kak Santi, dan Mak Sri sudah merawat Mama sampai sembuh," kata Wahyu yang mulai tumbuh dewasa dalam berpikir.
"Sama-sama, Wahyu," jawab mereka serentak.
Wahyu pun segera memeluk tubuh ibunya yang masih lemas di atas ranjang. "Ma ... terima kasih sudah bangun. Maaf kalau Wahyu dulu sering bandel sama Mama. Wahyu minta ampun sama Allah agar Mama segera bangun dari tidur panjang," lirih Wahyu sambil memeluk Ningsih.
Ningsih terharu. Tak disadari, air mata menetes dari sudur mata Ningsih. Dia pu. berusaha menggerakkan tangan untuk mengelus kepala Wahyu. "Wa-Wahyu ... anak ba-baik," ucap Ningsih terbata karena lidahnya masih kelu dan rahangnya kaku.
"Terima kasih, ya, Allah. Engkau kabulkan doa-doa Wahyu." Tak henti-hentinya anak berusia sembilan tahun itu mengucap syukur. Membuat orang di dalam ruangan menjadi terharu.
Perjuangan yang mereka lakukan membuahkan hasil. Ningsih sadar dari mati surinya. Pak Anwar dan Budi pun tak merasakan kekuatan gaib di sana. Mereka mengira semua ini sudah berakhir.
Setelah Pak Anwar mengajak mereka berdoa bersama, Mak Sri pun bergegas membuatkan bubur untuk makan Ningsih. Santi, Reno, dan Budi masih di ruangan Ningsih.
"Tante, segera pulih, ya. Santi dan Reno akan selalu menemani Tante. Seperti Tante menemani kami." kata Santi sambil mengelus tangan Tante Ningsih. Suasana haru itu membuat mereka tak kuasa menahan tetesan air mata.
Hari semakin sore, malam pun datang. Setelah tadi Pak Anwar dan Budi mengadakan tumpeng selamatan, mereka pun meninggalkan Wahyu dan Mak Sri di ruangan Ningsih. Sedangkan Santi dan Reno beristirahat di ruang tidur tamu.
"Mak, kalau ngantuk istirahat saja dulu. Wahyu akan menjaga Mama," kata Wahyu seakan mengerti Mak Sri kelelahan.
__ADS_1
"Maaf, ya, Wahyu. Mak izin istirahat dulu. Selamat malam, cah bagus," jawab Mak Sri yang kemudian mengecup kening Wahyu dan melangkah ke ruangan sebelah untuk tidur.
Wahyu menunggu Ningsih yang tertidur. Setelah sudah tidak ada orang lain, Wahyu segera mengajak bicara anak kecil yang sedari tadi di sudut ruangan.
"Hei, kamu siapa? Kenapa tadi manggil aku dengan sebutan kakak?" tanya Wahyu yang berdiri, berjalan, dan mendekati anak kecil itu.
"Aku belum punya nama. Aku adiknya Kak Wahyu." jawab anak kecil yang sekitar usia lima atau enam tahun.
Wahyu pun mendekatkan wajahnya ke anak itu. Mengamati dari ujung rambut sampai ujung kaki. "Hmm, kamu nggak melayang, berarti kamu bukan hantu. Terus, kenapa orang lain tak bisa melihatmu?" selidik Wahyu sambil menyipitkan mata memandang anak di hadapannya.
"Ha ha ha ... bukankah tidak harus memperlihatkan diri kepada semua orang? Kakak, kondisi Ibu sudah membaik, 'kan? Aku titip, ya. Aku harus mencari Ayah." ucap anak itu, membuat Wahyu semakin tak mengerti.
"Ayah siapa? Lalu kenapa memanggil aku kakak? Kenapa memanggil Mamaku dengan sebutan Ibu? Aneh." Kepala Wahyu masih berisi dengan banyak pertanyaan.
"Kalau dijelasin, nanti waktunya keburu habis. Kak Wahyu lucu banget. Oiya, kalau Ibu sudah bangun tidur, sampaikan aku mencari Ayah, ya? Jangan lupa mintakan nama untukku," jawab anak itu sambil mengerlingkan matanya.
Wahyu pun teringat pada Om Bima. "Jangan-jangan ... kamu itu anaknya Mamaku sama Om Bim-" Belum selesai berbicara, anak itu segera mengisyaratkan Wahyu untuk menutul mulut.
"Ssst ... jangan sebut nama Ayah. Mereka tak suka pada Ayah. Baguslah kalau Kak Wahyu sudah paham. Aku pergi dulu." pamit anak itu yang kemudian menghilang entah ke mana.
"Ma, segera pulih, ya. Wahyu merindukan Mama." lirih Wahyu yang tidur di kursi sambil memeluk tangan Ningsih.
Keesokan hari kemudian, Ningsih terbangun dan mendapati Wahyu sedang salat di dekatnya. Salat subuh, sejak Wahyu di pesantren tak pernah lupa salat lima waktu.
Setelah selesai salat, Wahyu menghampiri ibunya yang ternyata sudah duduk di ranjang. "Mama! Alhamdulilah Mama sudah bisa duduk dan bergerak," seru Wahyu yang sangat senang.
"Iya, sayang. Maafkan, Mama. Mama tidur berapa lama? Kok anak Mama udah tambah besar. Tambah pintar dan sopan juga," lirih Ningsih yang melebarkan kedua tangannya untuk memeluk Wahyu. Infus masih terpasang di tangannya, hari ini kemungkinan semua alat kesehatan akan dilepas jika kondiai Ningsih sudah membaik.
"Hampir dua tahun ... Mama tidur nyenyak. Wahyu sempat takut. Takut kalau Mama nggak akan buka mata lagi. Jangan tinggalin Wahyu lagi, ya, Ma." kata Wahyu sambil memeluk erat tubuh Ningsih.
"Iya, sayang. Maafkan Mama, ya." jawab Ningsih sambil memeluk anak yang selama ini kurang kasih sayang darinya.
"Tak apa, Ma. Mama nggak salah. Oh, iya, Wahyu mau menyampaikan. Anak kecil yang bilang dia adalah adik Wahyu, belum diberi nama, 'kan? Dia minta nama, terus izin pergi mencari ...." Wahyu menengok kanan dan kiru memastikan tak ada orang yang mendengar. "Dia mencari Om Bima, Ma."
Ningsih pun terkejut mendengar apa yang Wahyu katakan. Harusnya, dia tidak bisa melihat saudara gaibnya. Bahkan, hingga saat ini Ningsih masih bingung dan belum bisa memutuskan memberi nama anak itu.
__ADS_1
"Wahyu, jangan bilang siapa-siapa, ya? Mama nggak mau terjadi hal buruk lagi. Biarlah itu saudara Wahyu hidup di dunia berbeda," ucap Ningsih perlahan menjelaskan.
"Iya, Ma. Tenang saja. Wahyu 'kan sudah besar. Mama jangan banyak memikirkan hal rumit. Terpenting Mama sembuh dan pulih seperti dahulu." Wahyu menenangkan Ningsih seakan dia sudah dewasa. Sungguh, Wahyu bisa menjadi sosok anak soleh dan kakak yang baik untuk adik gaibnya.
***
Dalam pencarian menembus ruang dan waktu ....
Seorang anak kecil terbang ke sana-sini demi mencari keberadaan Ayahnya. Anak itu tahu siapa dan bagaimana wujud Ayahnya, hanya saja, dia sedih karena belum memiliki nama. Entah apakah Bima tahu tentang keberadaan anaknya itu?
Energi yang besar, membuat beberapa makhluk gaib yang berkekuatan tinggi bisa saja mengincar anak itu. Energi besar, tetapi tidak menonjol karena anak itu pintar meredam kekuatannya. Dia menembus ruang dan waktu, dengan keberanian yang entah dari mana asalnya.
Mencari di alam mimpi, alam bawah sadar, alam masa lalu, dan masa depan, serta dunia roh, hasilnya nihil. Dia pun bergegas masuk ke Neraka, tempat di mana dia seharusnya. Saat anak itu berada di sebuah gerbang Neraka, dia melihat sesuatu yang membuatnya mau tak mau harus masuk ke sana.
"Ayah? Apakah itu Ayah? Mengapa Ayah berada di Neraka Lapis Keenam?" gumam anak itu yang tak sengaja melihat sosok seperti Bima di dalam sel Neraka Lapis Keenam. Sosok itu terlihat sekilas tersungkur dan ada rantai besar yang membelenggu kaki dan tangannya.
Anak itu segera bersembunyi saat penjaga Neraka berjalan mengecek kondisi di luar gerbang. Dia memastikan kembali, apakah benar yang dilihatnya adalah Ayahnya-Bima Prawisnu yang menghilang sangat lama? Anak itu mengamati terus sambil bersembunyi. Terlihat sosok itu memejamkan mata dan kesakitan. Bekas cambukan di punggungnya menganga terlihat jelas meski dari kejauhan.
"Sepertinya, itu memang Ayah! Aku harus mencari cara membebaskan Ayah. Jika benar mereka menyekap Ayah, aku tak akan tinggal diam!" lirih bocah itu pada dirinya sendiri. Tanpa bantuan, tanpa panduan, dia bertindak sesuai apa yang ada dalam hatinya.
Anak ini tak sadar, jika bahaya mengintainya. Energi yang luar biasa membuatnya menjadi pusat perhatian bagi makhluk gaib yang menginginkan kekuatan tambahan. Perlahan, anak itu mencari celah agar bisa melewati penjaga Neraka Lapis Keenam.
Dalam Neraka Lapis Keenam, Tuan Asmodeus dalam kursi kekuasaan mengendus bau energi yang luar biasa. "Iblis manakah yang memiliki kekuatan sebesar ini? Penjaga! Telusuri dan cari siapa pemilik energi besar itu. Bawa dia ke hadapanku!" perintah Tuan Asmodeus kepada lima penjaganya. Tak pernah dia rasakan energi yang lebih besar dari energi Bima. Bima memiliki keistimewaan karena pernah memenangkan pertandingan dan mendapat kekuatan dari Yang Mulia Lucifer. Mungkinkah ada Iblis utusan yang lebih kuat dari Bima? Hal ini mengusik Tuan Asmodeus karena bisa memicu pertempuran di Neraka jika memperebutkan kekuatan itu antar penguasa Neraka.
"Ayah ... ini aku, anakmu. Ayah ... apakah itu kau?" batin anak itu mencoba memusatkan pikirannya untuk berbicara dengan sosok yang seperti Bima.
Sosok dalam sel itu seakan menangkap apa yang anak itu sampaikan. Dia membuka mata perlahan, lalu menatap ke luar gerbang Neraka Lapis Keenam. Dia mencoba menggerakkan tubuhnya yang remuk redam. Dia melihat ke arah anak itu dan tersenyum tanpa bisa berucap apa pun.
"Mungkinkah itu Ayah? Tetapi ... mengapa hanya diam saja? Bagaimana kalau aku salah mengira? Ah, bagaimana ini?" gumam anak itu yang bingung, antara masuk ke Neraka Lapis Keenam dan memastikan atau menunggu terlebih dahulu.
***
"Seorang anak tidak bisa memilih siapa orang tuanya, tetapi berbakti adalah cara yang tepat bersyukur telah terlahir di dunia." ~ Rens09
Terima kasih untuk Mama Heni atas semangat serta doa dari awal aku menulis di Noveltoon dan Adik Sarah yang selalu menyemangati, hingga Author meraih JUARA 3 event Cerita Seram Noveltoon 2020. Untuk para pembaca sekalian, Author sangat berterima kasih dan mencintai kalian πΉ
__ADS_1