
Ningsih ketakutan melihat Satria yang menyeringai menatap tubuhnya yang penuh memar dan luka. Mata Ningsih terpejam menahan rasa ketakutan yang luar biasa.
Seketika suara dentuman hebat terdengar, membuat Satria dan Ningsih terkejut. Pintu rusak seperti didobrak seseorang.
"NINGSIH, AKU DATANG. TAK USAH TAKUT!"
Suara Bima menggelegar membawa secerca harapan untuk selamat. Satria sepertinya bisa mendengar suara Bima.
"Breng*ek! Iblis sialan! Bukannya Frans sudah menghabisimu!" Satria terlihat emosi.
'Bima, terima kasih sudah kembali untukku.'
Ningsih merasa lega Bima kembali. Satria pun turun dari ranjang, mengenakan celana panjangnya lalu bersila di lantai. Terlihat mulutnya merapal sesuatu. Ningsih berusaha menarik selimut untuk menutupi tubuhnya yang penuh luka akibat cambukan ikat pinggang Satria.
"NINGSIH, AKU PULIHKAN LUKAMU."
Suara Bima seakan di dekat telinga Ningsih. seketika luka-luka Ningsih menghilang. Rasa sakit yang dia rasakan lenyap secara ajaib. Rupanya Bima mentransfer energi yang cukup banyak ke Ningsih agar tubuhnya pulih.
"PERGILAH DARI TEMPAT INI. LELAKI INI MENJADI URUSANKU."
Tanpa banyak bertanya, Ningsih segera mencari pakaian yang bisa dipakainya dan segera pergi dari tempat itu. Satria masih dalam posisi bersila dan merapal sesuatu. Entah mantra apa.
'Bima, bagaimana dengan Wahyu, anakku? Pria itu menyekap anakku. Lalu bagaimana dengan kedua ponakanku?' Batin Ningsih untuk berkomunikasi dengan Bima.
"PONAKANMU SUDAH AMAN. ANAKMU ADA DI LUAR DALAM MOBIL. PERGILAH KE TEMPAT YANG AMAN. JANGAN PULANG KE RUMAHMU!" Bima kembali memperingatkan Ningsih.
"Ternyata Bima tidak meninggalkanku. Dia menyelamatkan aku, Wahyu dan Santi serta Reno," guman Ningsih sambil berlari keluar mencari di mana mobil yang dimaksud Bima.
"Mama!" Suara Wahyu dari dalam mobil yang terbuka jendelanya.
__ADS_1
"Wahyu?" Ningsih berlari menghampiri anak semata wayangnya. Membuka pintu mobil dan memeluknya erat.
Hampir saja Ningsih menyerah dan takut akan kehilangan semua orang yang ia sayangi. Tetapi Bima hadir dan menyelamatkannya. Ningsih makin terjerat dengan Bima. Bukan hanya hidupnya, pun juga hatinya.
Ningsih mengecek mobil itu, "syukurlah ada kunci juga. Wahyu ke sini dengan siapa?"
"Om baik, Ma. Dia teman Mama, bukan?" Wahyu terlihat lucu saat menjawab.
Ningsih sangat merindukan anaknya. Kembali dia memeluk dan mencium Wahyu yang lugu tak mengerti bahaya mengincarnya semalam.
"Ayo kita pergi ke tempat yang bagus. Mama ingin menghabiskan waktu dengan Wahyu," ucap Ningsih sambil menyalakan mobil dan mulai melaju.
"Ayo, Ma," Wahyu terlihat girang.
Ningsih melihat kursi belakang melalui kaca spion. Sudah ada dua tas miliknya yang entah dengan ajaib ada di situ. Tas pakaian dan tas bepergian yang tentunya berisi dompet, uang serta handphone.
Ningsih meninggalkan kediaman Satria dengan mantab. Dia tak menyadari apa yang menimpa Santi, Reno, dan Ratih.
***
Pertempuran kembali dijalani Bima. Kali ini melawan Satria yang memiliki ilmu luar biasa. Dia bukan manusia biasa.
"Makhluk menjijikan! Kau menyesatkan Ningsih!" Umpat Satria.
"HAHAHA .... BERKACALAH DAHULU! APA PANTAS KAU DISEBUT MANUSIA? LELAKI KELAINAN MACAM DIRIMU TAK PANTAS MENYENTUH NINGSIH!" Bima pun tak tinggal diam.
Mereka mulai beradu kekuatan. Sayang sekali Bima belum pulih akibat pertempuran dengan Frans siluman, ditambah lagi menyembuhkan luka Ningsih butuh tenaga yang cukup banyak. Ini membuat pertempuran tidak seimbang.
Satria dengan berbagai ajian menghajar Bima bertubi-tubi. Hingga Bima tersudut.
__ADS_1
"AKU HARUS MENGAMBILNYA, UNTUK MENAMBAH KEKUATANKU." Bima membagi rohnya dan mendatangi Reno.
Saat itu Reno sedang diruat PakLek Darjo. Melawan PakLek pun akan membuat Bima makin lemah. Akhirnya dia memutuskan mengambil Ratih yang sudah antara hidup dan mati. PakLek Darjo tak bisa menghentikannya. Bahkan Bima membuat PakLek terluka cukup parah.
PakLek sangat berat hati melepas Ratih. Meski adik ipar, PakLek tetap berjuangan menyelamatkan.
Setelah merenggut nyawa Ratih, kekuatan Bima kembali pulih. Bima dengan gesit membalas semua serangan Satria dengan membabi buta.
Satria mulai kualahan, "iblis breng*ek! Aku tak sudi kalah denganmu!"
"HAHAHA .... LIHAT SAJA SIAPA YANG MENANG! BODOH JIKA KAU MELAWANKU SAMA SAJA MENCARI MAUT!"
Seketika tubuh Satria terpental dengan serangan Bima. Satria pun kalah. Tak sanggup melawan Bima. Dia terlempar jatuh dari jendela lantai tiga.
Terjadi kehebohan di sana.
"Aaaaaaa!" Teriak seorang pegawai yang melihat tubuh Satria mendarat di depan pintu masuk.
"Apa-apaan ini? Cepat hubungi polisi dan ambulance. Kalian cepat cek ke atas. Jangan sampai pelaku kabur." Pegawai Satria bergegas memanggil ambulance dan polisi.
Sesampainya di kamar, tidak ada Ningsih maupun orang kain. Kembali tempat itu diamankan polisi.
Satria kritis dan dibawa ke ICU. Sedangkan di rumah sakit, kondisi Sugeng sudah berangsur membaik.
"JANGAN MENYEPELEKAN AKU, WAHAI MANUSIA SERAKAH DAN HINA!" Bima kembali menghilang.
Ke manakah Ningsih dan Wahyu? Apakah kejahatan Sugeng dan Satria berhenti?
Bersambung ....
__ADS_1