JERAT IBLIS

JERAT IBLIS
JERAT IBLIS - 2 - BAB 55


__ADS_3

...🔥JALAN TERJAL DINDA 🔥...


Mendengar tawaran dari Boy, membuat Dinda merasa sedih. Bagaimana mungkin dia bisa mengubah dirinya menjadi seperti yang Boy inginkan? Dinda merasa tidak layak karena sudah berlumur dosa. Bagaimana mungkin iblis yang menyesatkan manusia dan tinggal di neraka berubah menjadi manusia atau bahkan malaikat yang baik hati seperti Boy? Hal itu hanyalah mimpi belaka bagi Dinda. Terlebih dia mengikuti apa yang yang dipilih oleh Bima. Tidak mungkin begitu saja Dinda melepaskan hal itu. Terlebih, kakaknya pun saat ini tidak berada di bumi, melainkan di neraka bersama Tuan Lucifer.


"Maafkan aku mengecewakanmu, Boy. Kali ini aku tetap memilih jalan terjal yang harus kulalui. Biarlah aku seperti ini apa adanya dan kau tetap baik di dalam terang seperti yang kau lakukan selama ini. Jangan pernah berubah, karena ketika kau berubah tidak akan ada jalan untuk kembali lagi," lirih Dinda kepada kekasihnya.


Dinda terlihat tegar, padahal hatinya sangat sakit karena memilih jalan terjal yang selama ini membuatmya berjelajah waktu. Menjadi iblis ratusan tahun itu tidak mudah, terlebih untuk mengakhiri. Seketika, dia pun berpamitan untuk pergi. Meski Boy menggenggam tangannya, seakan berkata tidak mengizinkan Dinda pergi, tetap saja wanita itu menghilang bersama angin malam.


Dinda kembali ke tempat semula dia berada. Berada di apartemen dan mengamati apa yang Via lakukan. Dia tersenyum karena pengikutnya kali ini sangat enerjik dan juga bisa mengoptimalkan untuk mencari tumbal-tumbal selanjutnya.


Tentu saja Via tidak tahu apa yang ia lakukan dengan Rama, akan membawa ke jurang maut. Dinda hanya diam karena mengamati tumbal kesebelas yang akan diterima. Semua demi energi bertambah dan tentunya Dinda akan makin kuat setiap harinya.


Benar saja yang Dinda inginkan terwujud. Siang harinya, tanpa ampun Dinda pun mengambil tumbal kesebelas yaitu Rama, yang menjadi murid SMA yang disukai oleh Via selama dia bersekolah. Keadaan menjadi kacau. Dinda pun mengamati dari kejauhan. Saat Via mulai histeris, Dinda pun memberi sebuah mantra yang membuat Via mengeluarkan darah dari hidungnya. Lalu Via tak sadarkan diri. Saat itulah Dinda datang dan membawa gadis SMA itu untuk pulang ke apartemen yang sudah Dinda siapkan.


Siang berganti sore. Langit yang tadinya biru, mulai berubah menjadi oranye. Ya, senja selalu datang bersama iringan burung yang kembali pulang. Angin berembus menerpa wajah Via yang kemudian terbangun. Meski kepalanya terasa pening dan sakit, dia pun membuka mata dan bingung karena sudah berada di dalam apartemen.


"A-aku di mana? Apakah aku ini berada di apartemen? Apakah tadi hanyalah mimpi? Rama ... kamu di mana?" lirih Via yang teringat peristiwa tadi siang. Dia mengira semua itu hanyalah mimpi belaka. Dan berharap teman sekelasnya itu masih berada di sana.


Tentu saja hal itu membuat Dinda tertawa terbahak-bahak. "Ha ha ha ... dasar gadis bodoh! Kau kira tadi itu semua hanyalah mimpi belaka? Jelas saja tidak! Aku sudah memperingatkanmu, bukan? Apartemen ini hanyalah khusus untuk tumbal yang akan kau serahkan padaku. Lihat ke kamarmu! Ada tumpukan uang dan emas karena kau telah menyerahkan tumbal kesebelas, yaitu teman sekelasmu. Dasar bodoh!" gertak Dinda yang membuat Via terbelalak.

__ADS_1


Via terkejut bukan masalah uang atau emas yang berada di dalam kamarnya ternyata setumpuk gunung, tetapi justru dia menyadari kebodohannya. Dia lupa akan pesan dari Dinda dan justru membawa Rama ke dalam apartemen yang membuat lelaki itu meregang nyawa.


Via pun menangis tersedu-sedu. Menangisi kebodohannya dan keteledorannya. Via sedih karena memang dia menyukai lelaki yang sudah lama ini menjadi teman sekelasnya. Meski Rama pernah menolaknya dan juga pernah mengolok-oloknya di depan banyak orang, Via tetap menyukai lelaki itu.


"Kumohon, Dinda. Hidupkan dia lagi. Aku mohon, bantu aku. Ulangi semuanya ini. Aku mohon ... bantu aku," pinta Via kepada Dinda sambil menangis-nangis.


Namun, semua itu adalah percuma. Nasi sudah menjadi bubur. Waktu tidak bisa di kembalikan lagi dan semuanya sudah berjalan tanpa henti.


"Memangnya kau kira aku ini apa? Bosa memutar ulang waktu? Tentu saja tak bisa! Semua ini sudah terjadi dan kau juga tidak bisa berhenti dari perjanjianmu. Ingat kau, gadis cengeng, anak manusia yang tidak pernah puas sepertimu itu hanya akan menjadi penghuni neraka yang disiksa!" gertak Dinda membuat Via terdiam dan mengusap air mata di wajahnya.


Via yang ketakutan pun mulai memohon kepada Dinda. "Ampun ... ampun ... ampuni aku jika aku bersalah, tetapi jangan kau bawa aku. A-aku dan keluargaku baru saja merasakan hidup yang damai dan menyenangkan. Ampuni aku, Dinda," ucap Via sambil memegang kaki Dinda.


"Berapa waktu lagi yang aku punya? Tapi kumohon lepaskan keluargaku," ucap Vua yang sudah lemas tak berdaya. Baru beberapa hari dia merasakan hidup yang yang luar biasa berbeda, tetapi sekarang dia baru menyadari apa yang dia ambil itu adalah kesalahan besar.


"Tiga bulan. Waktu menikmati semua ini hanyalah tiga bulan. Seperti yang tertera dalam garis takdirmu, tiga bulan lagi kau akan mati. Tahukah kau sebenarnya kau ini mengidap penyakit leukimia tapi tenang saja, selama tiga bulan ini kau bisa merasakan dan menikmati kemudahan yang kuberi. Termasuk keluargamu, tapi setelah kontrak habis saat kamu menghembuskan napas terakhmu ... keluargamu pun akan kembali susah. Bahkan akan jauh lebih susah dari sebelumnya. Ingat itu dan pahamilah! Tidak ada suatu apa pun di dunia ini yang semudah kau pikirkan termasuk jika kau bersekutu dengan iblis sepertiku!"


Setelah mengatakan hal mengerikan itu, Dinda pun menghilang. Membuat Via semakin bingung. Hanyalah air mata yang terus menetes dari sudut matanya. Karena via sudah tidak bisa berpikir jernih lagi, dia sudah salah mengambil keputusan yang salah dan membuat Rama hilang begitu saja. Serta kali ini, dia mempertaruhkan kehidupan keluarganya. Bapak, ibu, Theo, dan juga Fafa berada di ambang kehancuran bersamanya. Tiga bulan waktu yang cukup singkat untuk merasakan segala kemudahan yang diberikan.


...****************...

__ADS_1


Melihat Dinda tidak pergi begitu saja, Boy pun mencoba menenangkan diri. Dia tidak bisa memaksakan segala sesuatu kepada wanita itu karena pada dasarnya Boy memahami betul bahwa cinta itu adalah perasaan yang sangat indah. Tidak bisa dinilai dan dilakukan dengan pemaksaan atau pun ancaman. Boy menyadari Dinda memilih hal itu itu dengan alasan tertentu yang tidak bisa diucapkan


Boy pun pergi dari rumahnya, untuk menghindari kecurigaan. Sementara itu, dia tinggal di apartemen kecil untuk seolah-olah baru saja datang dari Bali. Semua skenarionya sudah tertata rapi karena dia sudah menghapus ingatan Park Kim dan juga Joon beserta semua pegawai yang ada di rumahnya. Ingatan tentang Boy datang yang disekap dan juga ingatan tentang keserakahan, iri benci, dan juga perihal kelemahan Boy. Semua sudah Boy ambil demi menyelamatkan sahabatnya dari perilaku dosa yang mengakibatkan masuk ke neraka.


Boy tahu jika Dinda marah dengan dirinya pengampunan adalah sebuah tindakan terbesar di atas rasa cinta. Hal itu yang Boy lakukan dan membuat Dinda tak bisa mengerti. Wanita itu serta merta langsung marah. Ya, Boy menyadari jika hal itu memang sulit dilakukan, tetapi demi kehidupan sehabatnya. Dia rela memaafkan tanpa harus mendengarkan sahabatnya meminta maaf.


Dua hari kemudian ....


Setelah semua berjalan dengan tenang dan baik, Boy pun menghubungi Park Kim seolah-olah dia akan pulang ke Korea Selatan. Sahabatnya itu pun menyambut dengan bahagia luar biasa. Tidak ada rasa apa pun seperti beberapa hari yang lalu. Boy merasa senang karena sahabatnya sudah kembali. Rasa iri dengki, atau pun keserakahan itu pun sudah sirna dari hati sahabat.


"Baik, Boy. Aku akan menjemputmu di bandara. Tenang saja! Tunggu aku di sana, oke! Aku sangat merindukanmu, brother. Tanpa kamu di sini, perusahaan terasa ramai tapi tidak berisi. Kau tahulah selama ini aku sangat dekat denganmu dan banyak hal yang kita lalui bersama. Sebentar lagi, aku akan langsung berangkat ke bandara untuk menjemputmu. Jangan pulang dengan taksi, oke!" kata Park Kim yang sangat bahagia mendengar kabar dari Boy yang pulang ke Korea Selatan.


Padahal semua itu hanyalah rekayasa Boy agar terlihat baru saja pulang dari Bali. Park Kim mengendarai mobil segera untuk pergi ke bandara menjemput sahabatnya. Dia sangat senang dan sepanjang perjalanan bernyanyi dengan riang.


Sesampainya di bandara, Boy berpura-pura membawa koper dan tas seperti orang yang baru saja keluar dari bandara. Tepat sekali dengan Pak Kim yang datang dengan mobil hitam mewahnya itu. "Aku di sini," teriak Park Kim memanggil Boy.


Boy pun menatap sahabatnya dan langsung menghampirinya. "Hey, Park Kim! Sudah lama sekali kita tidak berjumpa. Berapa tahun ini, maaf aku sangat merepotkanmu, kawan! Aku harap kamu tidak marah," kata boy dengan senyum mengembang di wajahnya.


Boy memberi maaf dan kesempatan untuk Park Kim. Sedangkan Dinda justru mengambil tumbal yang datang untuk menambah energi. Dua dunia yang sangat berbeda jauh. Begitulah Dinda dan Boy. Mereka memang tidak bisa bersatu karena keadaan.

__ADS_1


__ADS_2