JERAT IBLIS

JERAT IBLIS
BAB 78


__ADS_3

πŸ€ WAKTUNYA BANGUN πŸ€


Setiap mengingat tentang ibunya, Bima selalu merasa sedih, merasa bersalah dan menyesal dalam waktu yang sama. Andai saja waktu bisa diputar... Bima ingin mengubah masa lalu. Namun, tentu saja itu tak bisa.


"Bima... jangan bersedih. Aku yakin Ibumu sudah bahagia di sana. Meski aku tak tau apakah tempat semacam Surga dan Neraka memang ada... tetapi aku yakin, Ibumu sudah tenang di sana. Ikhlaskan masa lalu. Meski sekarang tak semudah yang dipikirkan, ada aku yang akan menemanimu, Bima Prawisnu." kata Ningsih sambil memeluk suaminya.


Bima tersenyum menatap wanita yang membuatnya merasakan hal yang manusiawi. Iblis jatuh cinta? Iblis yang memperbudak manusia tetapi justru diperbudak cinta? Entah apa kata yang tepat untuk situasi Bima dan Ningsih. Pastinya mereka tak akan peduli perkataan orang bahkan petinggi Iblis sekalipun.


"NINGSIH... TERIMA KASIH SUDAH MEMBUATKU BERARTI. BAHKAN SAAT INI... AKU SADAR. TAK ADA YANG PERLU DISESALI. AKU BERUNTUNG BISA MENJADI IBLIS DAN BERTEMU DENGANMU."


Ningsih tersenyum menatap kedua mata Bima. Tak berkedip. Menikmati setiap waktu yang sangat berharga.


"NINGSIH... SUDAH SAATNYA BANGUN. AKU AKAN MENEMUIMU NANTI MALAM." ucap Bima sambil meniupkan hawa dingin ke wajah Ningsih.


***


Seketika Ningsih kembali ke tubuhnya. Dokter dan perawat bergegas ke ICU untuk memeriksa Ningsih. Saat itu menjelang sore dan Santi masih berjaga di sana.


"Dokter... apakah Tante saya baik-baik saja?" tanya Santi khawatir.


"Sudah selesai pemeriksaan. Dia baik-baik saja tetapi harus pemulihan kondisi di bangsal biasa. Belum boleh pulang hari ini," jelas dokter.


Santi dan Reno mengangguk mengiyakan. Lalu mereka bergegas menemui Ningsih yang terbaring lemas. Ternyata hampir seminggu tubuhnya bagai tak beraga membuatnya lemas dan susah menggerakan badan. Selang infus masih terpasang. Tubuh Ningsih terlihat tambah kurus. Mungkin karena asupan makanan yang hanya melalui selang infus dan NGT lewat hidung.


"Tante... syukurlah Tante sudah bangun. Kami sangat khawatir." ucap Santi memegang tangan Ningsih yang dingin.


Ningsih hanya mengangguk dan sedikit senyum. Lidahnya sulit digerakan. Bahkan bergumam pun tak bisa. Kaku.


"Tante... istirahat dulu ya. Kami berjaga di depan," lirih Reno yang kemudian beranjak dari ICU.


Reno tak tega melihat kondisi tantenya. Santi pun mengikuti Reno. Santi mulai menangis. Tak tahu harus berkata apa. Mengapa nasib Tante Ningsih semenyedihkan itu. Hampir saja dia berpikir Tante Ningsih akan meninggalkannya seperti kepergian Ratih yang masih dalam jerat Iblis. Santi tak menginginkan hal itu terjadi.


"Kak... Kakak pulang saja istirahat. Reno berjaga di sini."


Reno mengkhawatirkan kondisi kakaknya. Takut jika Santi jatuh sakit bila terus menerus terforsir pikiran dan tubuhnya. Santi pun menuruti kata Reno. Dia menghubungi Joko untuk dijemput. Dalam perjalanan pun Santi masih khawatir. Takut kalau-kalau kondisi Tante Ningsih memburuk.


Sesampainya di rumah...

__ADS_1


Mak Sri, Wahyu, dan Budi sudah menunggu dengan cemas. Saat Ningsih bangun dari koma, Santi memang sempat menelepon Mak Sri walau hanya sebentar.


"Non Santi... bagaimana kondisi Bu Ningsih?" tanya Mak Sri khawatir.


"Masih di rawat tapi sudah pindah ke bangsal biasa, Mak. Tadi Tante Ningsih bangun tapi masih lemas... belum bisa bicara dan susah bergerak," jawab Santi dengan raut wajah sedih.


"Alhamdulilah sudah bangun. Mak justru khawatir kalau belum bangun juga.".


"Iya, Non Santi. Terpenting Bu Ningsih sudah sadar dan untuk pemulihan memang memakan waktu lama. Tubuh Bu Ningsih ditinggalkan hampir seminggu, jelas saja kaku," sahut Budi dengan hati-hati.


"Ditinggalkan? Maksudnya Mas Budi... Tante Ningsih..." tanya Santi belum selesai saat Mak Sri memutus pembicaraa.


"Sudah yang penting Bu Ningsih sudah sadar. Ayo Wahyu ke dalam sudah mau maghrib. Mama kamu sebentar lagi pulang. Mungkin lusa," Mak Sri mengalihkan perhatian Wahyu yang dengan seksama mendengar percakapan orang dewasa tentang Ningsih.


Santi pun paham. Hal yang dia tanyakan jelas sudah terjawab dari ekspresi Mak Sri dan Mas Budi. Berarti Tante Ningsih bukan koma biasa. Tubuhnya ditinggalkan roh yang entah ke mana. Oleh sebab itu saat sadar, Tante Ningsih hendak bergerak dan berbicara pun susah.


***


Malam itu Bima datang dengan wujud manusia. Dia hendak menengok Ningsih. Di mana ada Reno di dalam bangsal sedang mengusap tangan Ningsih.


"EGHEM..." Bima berdeham membuat Reno terkejut. Entah dari mana Bima masuk karena pintu tak terdengar terbuka.


"SAYA SUAMI TANTEMU. MAAF BARU SEKARANG DATANG KE SINI." jawab Bima dengan mantab membuat Reno bingung karena Tante Ningsih tak pernah bercerita apa pun soal pasangan kepada keluarganya.


Reno pun mundur, "Oh... maaf Om, saya belum tahu. Perkenalkan nama saya Reno, keponakan Tante Ningsih." Reno menjabat tangan Bima. Bima tersenyum menatap Reno. Seketika bulu kudu Reno meremang. Rasa takut entah berasal dari mana, melihat orang di hadapannya.


"NAMA SAYA, BIMA PRAWISNU." kata Bima sambil melepaskan tangan Reno. Dia melihat ke arah Ningsih.


"Kalau begitu... saya keluar dulu, Om. Mau beli kopi di foodcourt bawah. Om mau apa?"


"KOPI HITAM TANPA GULA... TERIMA KASIH, RENO."


Reno pun pergi dari kamar VVIP terbaik di rumah sakit pusat kota. Bima mengelus tangan Ningsih yang lemas. Ningsih menatap Bima tanpa bisa berkata-kata.


"SAYANG... PULIHLAH...." Bima mencondongkan tubuhnya ke arah Ningsih. Menyalurkan hawa panas dari tubuhnya ke Ningsih.


Seketika... Ningsih bisa menggerakan tangannya. Lalu dia berucap, "Bima... sayang... terima kasih sudah ke sini."

__ADS_1


Bima tersenyum, membelai wajah Ningsih lalu mengecup keningnya. Ningsih memejamkan mata, merasakan tubuhnya sudah jauh lebih baik.


"NINGSIH... SAAT DI DUNIAKU, MANUSIA AKAN KEHILANGAN AURA KEHIDUPANNYA SECARA PERLAHAN. HAL ITU KARENA MAKHLUK GAIB SEPERTIKU MEMAKAN HAWA KEHIDUPAN MANUSIA. HARI INI AKU MELAKUKAN PELANGGARAN DI KAUMKU. AKU MENGEMBALIKAN AURA KEHIDUPANMU AGAR KONDISIMU LEKAS PULIH. JIKA TIDAK... AKU TAK INGIN KAMU SAKIT." jelas Bima semakin membuat Ningsih jatuh hati.


Bima melanggar ketetapan dunia gaib demi menyelamatkan Ningsih. Dia tahu jika tubuh Ningsih sudah tak kuat. Bahkan untuk menerima asupan makanan pun sudah susah.


Ningsih sangat senang suaminya di sini, "Bima jangan pergi... temani aku. Aku ingin bersamamu di sini." Ningsih meminta dengan penuh harap.


"BAIKLAH. NAMUN HANYA SAMPAI SUBUH. SEBELUM MATAHARI TERBIT, AKU HARUS PERGI. TENANG SAJA, KEPONAKANMU ITU TAK AKAN BERULAH." Bima menyanggupi keinginan Ningsih.


Beberapa saat kemudian, Reno masuk ke bangsal dan membawa makanan serta kopi yang diminta Bima. "Om Bima... ini kopinya masih panas. Reno juga beli fried french sama burger buat Om sama Reno. He he he..."


Reno terlihat masih seperti anak kecil. Dia meletakan makanan di meja dan menyalakan televisi.


"Terima kasih ya, Reno. Sudah menunggu Tante dan baik kepada Om Bima," lirih Ningsih dari ranjangnya.


Reno tersedak kopi yang diminumnya. "Tan... Tante Ningsih sudah bisa bicara? Syukurlah Tante... ada Om Bima jadi semangat sembuh ya, Tante."


"KAMU BISA SAJA. JAGA TANTEMU BAIK-BAIK YA. OM HANYA MENEMANI SAMPAI SUBUH KARENA PAGI ADA URUSAN BISNIS."


"Asiap, Om! Tenang saja..."


"Nah, gitu... Tante senang kalian cepat akrab. Sekarang Tante mau tidur ya. Sudah ngantuk," kata Ningsih tersenyum menatap Reno dan Bima.


"SILAHKAN SAYANG... SELAMAT TIDUR." jawab Bima.


"Om, sini... ayo minum kopi dan makan ini. Ada film bagus itu Om. Film barat... Apa itu namanya Hanna Grace," kata Reno duduk di sofa sambil memakan kentang goreng.


Bima duduk di sebelah Reno, "HANNA GRACE? INI FILM BERDASARKAN KISAH NYATA?"


"Katanya sih gitu, Om... tapi entah... namanya film kan..."


"KAMU NGGAK PERCAYA ADANYA IBLIS?"


Reno meletakan makanannya. Lalu menatap Om Bima yang duduk santai di sampingnya.


"Percaya..."

__ADS_1


Mereka pun terdiam. Hening. Melihat film tentang mayat yang kerasukan dan membunuh orang untuk mengembalikan tubuhnya yang penuh luka. Bima hanya tertawa dalam batin. Kejadian senyatanya tak seperti itu. Bima tahu soal Hanna Grace ini seperti yang beberapa Iblis katakan di Neraka.


Bersambung....


__ADS_2