
...🔥 IBLIS MENGINCAR HATI YANG LUKA 🔥...
"Ha ha ha ha ... lihatlah para manusia lemah itu. Menangis, sakit hati, benci, dendam, luka, perasaan macam itu yang sangat kita sukai dan bodohnya, mereka memelihara segala pesakitan itu." Sesosok Iblis sedang berbicara dengan para pengikutnya.
"Benar, Tuan. Kami sangat senang dengan manusia lemah seperti itu."
"Sayangnya, salah satu dari sekian banyak manusia itu ada yang bertaubat. Sungguh menggelikan. Setelah menaruh dendam di hatinya bertahun-tahun, wanita yang hampir saja kita dapatkan justru bertaubat. Mengapa mudah sekali hidup seenaknya, lalu bertaubat saat akan mati."
Para Iblis sedang membicarakan soal manusia. Mereka tak suka jika ada manusia yang berhenti berbuat dosa. Mereka tak suka melihat manusia bahagia. Mereka tak suka melihat hati manusia yang luka itu sembuh.
"Kita bagi tugas saja. Banyak makhluk yang mengincar energi manusia yang bersedih. Luka hati itu bisa menimbulkan dosa-dosa lain. Kalian dekati saja lelaki itu. Aku akan mendekati lelaki suci yang mencintai orang yang tak seharusnya dia cintai. Kita berpencar, oke?" Salah satu iblis yang mengincar Budi. Dahulu kala, iblis yang bernama Servus Amoris atau yang dipanggil dengan nama Servus. Dia adalah anak buah Tuan Asmodeus.
Setelah membagi tugas, para iblis itu langsung menghilang. Mereka berpencar untuk menyesatkan banyak manusia. Termasuk Reno dan Budi salah satunya. Manusia tak akan pernah tahu dosa itu bukan hanya yang terlihat saja. Tujuh dosa mematikan yang menjadi bagian dari tujuh lapisan neraka adalah kesombongan, ketamakan, iri hati, kemarahan, hawa nafsu, kerakusan, dan kemalasan. Siapa sangka kemalasan menjadi bagian dosa mematikan? Dari malas, akan terjadi banyak pertumpahan darah. Manusia yang malas, tak mau bekerja demi mendapat uang akhirnya merampok dan membunuh orang lain. Mengerikan. Iblis sangat pintar mencari celah.
...****************...
Tujuh hari setelah meninggalnya Nindy ....
Kondisi Reno sudah membaik. Dia mau berbicara dengan keluarganya meski masih terlihat kesedihan dari wajahnya. Acara tujuh hari Nindy berjalan dengan baik. Para asisten rumah tangga pun membereskan semuanya.
"Alhamdulilah, doa selama tujuh hari untuk almarhumah Nindy berjalan lancar. Reno, sabar ya. Kami akan menemani kamu dan Lisa," ucap Budi sambil menepuk-nepuk punggung adik iparnya.
"Iya, Mas. Terima kasih banyak, ya." Reno terpaksa memajang senyum di wajahnya ketika berbicara dengan keluarga besarnya.
"Reno, Kakak di sini dulu, ya. Biar Masmu pulang ke pesantren dulu. Kakak akan di sini dulu temani kamu dan Lisa," kata Santi sambil menatap adiknya dengan senyum penuh harap. Dia berharap agar adiknya bisa kembali bangkit dari kesedihan.
"Nggak usah, Kak. Reno, kan, sudah besar. Bukan adik kecil yang butuh dijaga seperti dulu. Kakak ikut pulang saja tak apa. Kasihan anak Kakak juga kalau ditinggal terlalu lama," jawab Reno mencari alasan. Dia memang tak ingin kalau Santi menemaninya terus seperti anak kecil. Dia juga menginginkan sendiri mengobati hatinya yang kehilangan.
__ADS_1
Saat Santi hendak menjawab, Budi mencegah dengan memegang tangannya. Dia pun menatap istrinya untuk memberi kode agar diam. "Iya, Reno. Besok pagi Mas dan Kakakmu akan pulang. Jaga diri baik-baik, ya," kata Budi secara bijak. Dia tahu jika Reno ingin sendirian.
Wahyu dan ibunya pun berpamit pulang setelah selesai membantu membereskan ruang tamu. " Kak Reno, kami pulang dulu ya. Kalau ada apa-apa kabari, ya. Kami siap ke sini segera," pamit Wahyu pada kakak sepupunya.
"Iya, Wahyu. Hati-hati di jalan, ya. Tante Ningsih, terima kasih banyak ya." Reno pun tersenyum sambil melambaikan tangan ke Wahyu dan ibunya yang bergegas pulang karena waktu menunjukkan pukul sebelas malam. Sedangkan Budi dan Santi masih di rumah Reno untuk menginap semalam lagi.
Lisa sudah tidur di kamarnya. Reno pun di kamarnya sambil berbaring, menatap langit-langit kamar mengingat banyak hal yang sudah dilalui bersama mendiang istrinya. Dia merasakan waktu kebersamaan ternyata sangat singkat. Allah lebih menyayangi Nindy dan mengambilnya terlebih dahulum Saat terdiam, Reno merasakan seperti ada yang di sampingnya. Tiba-tiba ada suara bisikan yang sangat lirih, "Laci meja ...."
Reno pun terkejut. Dia menatap ke segala arah mencari siapa yang membisikan kata itu. Karena memang tidak ada siapa pun, Reno pun bangkit dari rebahannya. Dia berjalan ke meja dan mencari apa isi di dalam laci meja itu. Nindy belakangan sebelum meninggal memang sering menulis di meja itu. Beberapa rencana bersama para donatur amal juga Nindy tulis di buku rencana kerja miliknya.
Saat menbuka satu per satu laci meja itu, Reno akhirnya menemukan sebuah amplop putih yang bertuliskan Reno dan Lisa. Lelaki itu langsung membuka amplop yang berada di dalam laci itu.
...----------------...
^^^Dear Reno dan Lisa yang sangat kucintai^^^
^^^Mungkin jika kalian membaca surat ini, terutama Reno--suamiku, mungkin aku sudah tidak bersamamu lagi di dunia. Namun yakinlah, aku akan selalu bersama kalian. Dalam setiap doa dan setiap pejaman mata. Aku akan ada di sana.^^^
^^^...Bersabarlah, Sayang. Akan ada masanya kita bertemu dan bersama lagi. Sampai saat itu tiba, jaga Lisa baik-baik ya. Jadilah pribadi yang tetap baik seperti saat ini. Aku bersyukur mempunyai suami sepertimu. Maaf jika selama ini aku selalu manja dan menyusahkanmu....^^^
^^^Sayang, ternyata banyak kata tak bisa tertulis, hanya bisa kurasakan. Aku menyayangimu dan berharap kita akan selalu bersama meski sebatas doa. Reno dan Lisaku yang paling berharga. Aku merelakan perpisahan ini. Tolong ikhlaskan juga kepergianku dan jangan bersedih agar aku tenang di sini. Jika suatu hari nanti kamu menemukan penggantiku, pastikan Lisa mau menerima wanita itu. Utamakanlah Lisa, demi aku berjanjilah bahagiakan buah hati kita.^^^
^^^Aku mencintai kalian. Reno dan Lisa.^^^
...----------------...
Membaca surat singkat itu membuat tangan Reno gemetar. Hatinya bergetar hebat merasakan apa yang Nindy rasakan. Istrinya sudah mengetahui akan meninggal sebelum waktunya benar-benar tiba. Bagaimana mungkin Nindy bisa menyembunyikan semua perasaan sedih itu saat melihat Reno dan Lisa setiap harinya? Reno merasa menyesal karena kurang peka terhadap perubahan istrinya yang menjelang ajal. Reno merasa gagal membahagiakan karena membuat Nindy merasakan hal itu sendirian.
__ADS_1
"Maafkan aku, Nindy. Hiks hiks ... aku sudah lalai dan kurang peka. Harusnya aku bisa membahagiakan kamu secara maksimal sebelum kita berpisah. Maafkan aku, Nindy," gumam Reno yang mulai berurai air mata. Kesedihan menaungi dirinya. Rasa itu membuat hatinya seperti berlubang. Ya, lubang kesesakan hati yang tak bisa mudah hilang karena yang tercinta pergi untuk selamanya.
Reno pun duduk di ranjangnya. Memeluk kertas surat itu dan meratapi dirinya yang tak peka. Meski sebenarnya bukan salah Reno semua itu terjadi. Dua puluh empat jam dalam sehari terkadang rasanya kurang, karena sesungguhnya kematian itu dekat. Manusia tidak bisa menghindar dari kematian. Semua sudah tercatat dan menunggu waktunya tiba, manusia hanya bisa berusaha menjadi yang terbaik.
...****************...
Pagi harinya ....
Santi dan Budi berpamitan dengan Reno untuk kembali ke pesantren. Mereka meninggalkan Reno dan Lisa dengan berat hati. Santi tahu jika adiknya masih sangat terpukul dengan kepergian Nindy. Meski bagi Santi sosok Nindy adalah wanita manja yang penuh cemburu dan menyebalkan, tetapi wanita itu pula yang membuat Reno menjadi lelaki dewasa yang bertanggung jawab pada keluarga.
Budi menyopir mobilnya perlahan setelah mereka berpamitan. Santi di sampingnya menatap jalanan yang mulai ramai dengan tatapan kosong. Santi memikirkan Reno dan khawatir meninggalkan adiknya di sana. "Santi, kamu tidak apa-apa? Kita pulang ke pesantren, tak apa, kan?" tanya Budi memastikan.
Santi pun menghela napas dengan kasar. "Mas, pastinya kamu tahu apa yang kurasakan. Aku khawatir dengan adikku. Dia sangat berarti bagi hidupku meski dahulu aku sebal dengannya yang manja dan selalu dimanjakan. Namun kenyataannya, Reno sangat berarti dalam hidupku. Lucu ya? Padahal aku sudah berkeluarga dan Reno juga sudah dewasa, tetapi aku masih merasakan dia adik kecilku yang harus kulindungi dan kuhibur ketika sedih," jawab Santi yang merasa kesal dengan diri sendiri karena Reno menyuruhnya pulang.
"Sayang, aku tahu persis apa yang kamu rasakan. Meski aku anak tunggal, tetapi rasa khawatirmu sebagai kakak adalah hal wajar. Sabar ya, Sayang. Kita beri Reno ruang untuk menata hati terlebih dahulu," ujar Budi menasihati istrinya.
Santi pun menatap suaminya dan tersenyum. Budi selalu bisa menenangkannya saat gundah datang. Lelaki itu memang menjadi idaman para wanita. Santi beruntung menikah dengan Budi. Dia adalah lelaki terbaik yang pernah dikenal. Meski awalnya perjodohan itu tidak berjalan dengan baik karena Budi sepertinya tidak menginginkan Santi, tetapi akhirnya mereka bisa menikah.
"Sayang, apakah jika aku tiada terlebih dahulu, kamu akan sedih seperti Reno? Atau kamu akan segera mencari pengganti?" tanya Santi membuat Budi terkejut.
"Mama ini ngomong apa, sih? Kok, mikirnya begitu?"
"Ya, tanya aja, Pah. Siapa tahu salah satu wanita yang fans berat sama Papa langsung menyerobot. Ha ha ha ...." Memang benar adanya, Budi memiliki banyak fans dan para wanita yang mengaguminya sering datang ke pesantren dengan dalih bertanya soal ilmu agama. Saat Wahyu sudah beranjak dewasa, Budi selalu meminta Wahyu yang menjelaskan kepada para wanita yang ke sana hanya untuk mendekati Budi.
Budi tidak ingin didekati wanita lain. Ya, tidak ingin, kecuali Ningsih. Meski Ningsih hanya sebatas dekat karena Wahyu sekolah di pesantren, tetapi hal itu membuat Budi sangat senang bisa melihat wajah wanita yang dia cintai. Budi pun tersenyum, membayangkan andai saja Ningsih juga menjadi salah satu fansnya, pasti bahagia.
"Papa? Sayang? Mas Budi? Halloo? Melamun apa?" selidik Santi yang merasa aneh pada suaminya.
__ADS_1
"Eh, enggak, Ma. Ini jalannya agak macet. Kita lewat sebelah sana saja, ya," kata Budi mengalihkan perhatian.
"Ningsih, mengapa kau selalu ada di hatiku? Bahkan saat membayangkanmu pun aku bisa merasakan bahagia. Ya Allah, mengapa rasa ini tak hilang? Apakah hamba bisa menjalani ini dengan menyimpan rasa yang tak pernah terbalas? Ampuni hatiku ini ya Allah."