
...š„PENGORBANAN DEMI CINTAš„...
Pada akhirnya, cinta itu butuh pengorbanan. Tidak hanya sekedar rangkaian kata dan kalimat manis, tetapi juga perbuatan nyata yang sudah terbukti. Cinta tanpa perbuatan nyata sama dengan omong kosong belaka. Setulus apa pun cinta itu, jika tidak mau berkorban, semua menjadi percuma.
Tuan Abaddon tidak menampakkan wujudnya, tetapi suaranya terdengar jelas menggelegar. "HEI, EMPAT IBLIS YANG HENDAK MENJADI MANUSIA ... HARI INI, ADALAH WAKTU TERAKHIR UNTUK MEMBUAT KEPUTUSAN. KALIAN SUDAH MEMIKIRKAN MASAK-MASAK?" Pertanyaan dari Tuan Abaddon membuat Bima, Alex, Evan, dan Lily menatap ke seluruh arah mencari asal suara itu. Namun, tidak terlihat apa pun di sana.
"Tuan Abaddon ... kami sudah memutuskan ... untuk menjadi manusia," jawab Bima sambil berdiri. Dia tak melihat di mana Tuan Abaddon berada.
"HMM ... MENARIK SEKALI. MELEPASKAN KEKUATAN YANG BESAR HANYA UNTUK MENJADI MAKHLUK LEMAH? AKU AKAN MENGABULKAN. TAPI ... HANYA DUA IBLIS YANG AKAN MENJADI MANUSIA. BAGAIMANA? PUTUSKAN SEKARANG, SIAPA YANG AKAN MENJADI MANUSIA DAN KEHILANGAN KEKUATANNYA," gertak Tuan Abaddon membuat mereka berempat terkejut.
"Apa?"
"Dua orang?"
"Tidak mungkin."
"Ini jebakan."
Mereka berempat berucap bersamaan dengan kata yang berbeda. Mereka langsung saling menatap karena bingung. Hanya dua iblis yang akan menjadi manusia? Lantas, siapa yang akan mendapatkan kesempatan itu?
Bima merasa ini semua adalah jebakkan. Semua menginginkan kembali menjadi manusia. Namun, mungkinkah mereka mengikhlaskan kesempatan itu untuk dua iblis lainnya? Evan menatap Lily, lalu menatap ke arah Bima dan Alex. Bima tahu jika hal ini akan membuat pertikaian dan sebelum terjadi, dia meminta izin pada Tuan Abaddon.
"Yang Mulia Tuan Abaddon, izinkan kami berdiskusi terlebih dahulu. Dua iblis yang akan menjadi manusia di antara kami berempat, akan segera kami putuskan," tawar Bima agar mendapatkan waktu tambahan.
"BAIK. AKU BERI KALIAN WAKTU SEPULUH MENIT DARI SEKARANG! HA HA HA HA ...."
Bima pun mencoba menenangkan yang lain. "Semua tenang dahulu. Dua dari antara kita akan menjadi manusia. Aku harap kita bisa saling mendukung dan mengikhlaskan meski sulit, jangan sampai terpengaruh untuk berperang," ujar Bima menengahi hal itu. "Aku akan memberikan kesempatan untuk Alex. Jadi, satu kesempatan lainnya silakan Evan dan Lily berunding," imbuh Bima.
"Papa! Jangan begitu, Pa. Papa harus jadi manusia agar Mama senang bertemu Papa lagi," sanggah Alex yang khawatir.
"Tidak. Hanya dua iblis yang dipilih. Papa memilihmu salah satunya. Kamu berhak bahagia menjadi apa yang kamu mau," ujar Bima yang khawatir anaknya enggan menjadi manusia.
Evan menatap Lily. Dia begitu mencintai Lily hingga tak bisa membuatnya kecewa atau sedih. "Lily ... jadilah manusia bersama Alex. Kalian pasti akan bahagia dan baik-baik saja."
"Ta-Tapi Evan ... bagaimana denganmu?" tanya Lily yang melihat kesedihan dari wajah Evan.
"Aku tak apa, Lily. Aku sangat mencintaimu. Aku ingin yang terbaik untukmu. Hiduplah dengan bahagia sebagai manusia seperti yang kamu inginkan," ucap Evan dengan rasa haru harus berpisah dengan wanita yang menjadi cinta pertamanya. Meski Evan tahu cintanya bertepuk sebelah tangan, dia tetap berharap bisa mendapatkan cinta dari Lily.
"E-Evan ... terima kasih untuk segalanya," lirih Lily langsung memagut bibir lelaki di hadapannya. Tak ragu, Lily melakukan itu karena Evan sudah mau berkorban untuknya. Meski nanti mereka tak akan saling kenal, Lily berharap Evan akan bahagia meski tetap menjadi iblis.
Evan terdiam menikmati pagutan bibir yang lembut dari wanita impiannya. Dia merasa ingin bersama Lily lebih lama lagi agar bisa menakhlukan hatinya. Namun memang tak mudah, semua harus berakhir karena pilihan dan pengorbanan cinta.
__ADS_1
Setelah melepas rasa, Lily pun melepaskan pagutannya. Wanita itu menatap sayu ke wajah lelaki yang selama ini bersamanya dan mencintainya tanpa syarat. "Evan, semoga kita bisa bertemu lagi," bisik Lily yang melepas pelukan tubuh Evan.
"Pasti, Lily. Bima ... izinkan Lily menjadi manusia dengan Alex. Aku akan baik-baik saja," usul Evan.
"Baik kalau begitu. Kita sudah putuskan jawabannya. Semoga ini yang terbaik untuk kita semua." Bima pun dengan mantab akan menjawab jika Tuan Abaddon kembali memberi pertanyaan.
Alex menatap ke arah Evan yang bersedih. Dia tak ingin pamannya bersedih. Namun apa boleh buat, kesempatan hanya ada dua iblis yang dipilih.
Tepat seperti yang diinginkan Tuan Abaddon. Kekuatan Alex akan menjadi miliknya sepenuhnya karena Alex akan menjadi manusia. Tuan Abaddon sudah memerhitungkan semuanya. Syarat bersemedi selama satu tahun adalah untuk meningkatkan energi dan kemampuan mereka, jika selamat dari semedi di Gunung Everest nan dingin dan menyiksa para iblis.
...****************...
Tuan Abaddon kembali dan hanya suaranya yang terdengar. Tuan Abaddon tidak menampakkan wujud pada keempat iblis itu. "HA HA HA ... WAKTU SUDAH HABIS. APA YANG KALIAN PUTUSKAN, KATAKAN SEKARANG!"
Bima berdiri dan hendak menjawab. Dia melihat ke arah Lily dan Alex, lalu menatap Evan. Dengan mantab Bima menjawab, "Kami sudah memutuskan untuk memilih Lily dan ...." Belum selesai Bima bicara, Alex langsung menyela.
"Evan. Berikan kesempatan itu pada Paman Evan, Pa. Aku tak apa. Aku ingin menemani Papa saja. Biarkan Paman Evan bahagia menjadi manusia," kata Alex memutus pembicaraan Bima membuat semuanya terkejut.
"Alex, apa-apa'an kamu? Jangan seperti ini," bisik Evan yang merasa tak enak.
Tuan Abaddon terkejut mendengar perkataan Alex. "APA-APAAN KALIAN? HENDAK MEMPERMAINKANKU, HAH?!" Suara Tuan Abaddon menggelegar membuat mereka terkejut.
Bima menatap Alex yang baru saja bicara. Bima tak paham apa yang Alex pikirkan. Mengapa dia mengubah pemikiran seketika.
"BIMA. PUTUSKAN SEKARANG, SIAPA YANG AKAN MENJADI MANUSIA?" tanya Tuan Abaddon dengan geram.
Bima menatap Evan dan Alex. Dia sangat bingung. Namun, semua ini harus segera diputuskan. Bima pun memikirkan sahabatnya yang ingin menjadi manusia. Apakah semua akan baik-baik saja? Atau hal ini merupakan jebakan agar mereka saling membenci dan berebut?
"Tuan Abaddon Yang Mulia. Aku putuskan untuk ... kami berempat menjadi manusia atau tidak sama sekali. Dari awal satu permintaan ini berlaku untuk kami berempat dan kami tidak bisa meninggalkan satu dengan yang lainnya," jawab Bima membuat semua terkejut.
"Papa, jangan."
"Bima, tidak."
"Bima ...."
Tuan Abaddon tersenyum dari singgah sananya mendengar jawaban Bima yang sangat menarik. Dia pun segera memberi tanggapan. Meski dari jarak jauh, Tuan Abaddon bisa melihat semua dengan jelas. "HA HA HA HA ... CERDIK DAN PINTAR. KAU SELALU MEMBERI JAWABAN TAK TERDUGA. HMM ... KALAU BEGITU, AKU AKAN MEMBERI KALIAN BEREMPAT WAKTU SATU TAHUN UNTUK MENJADI MANUSIA. LALU, BIMA DAN ALEX AKAN MENJADI PENGABDIKU SEBAGAI IBLIS, SEDANGKAN EVAN DAN LILY BISA MENJALANI KEHIDUPAN MENJADI MANUSIA SELAMANYA. TERJADILAH SEPERTI APA YANG KUKATAKAN!" seru Tuan Abaddon membuat badai salju langsung datang menerpa keempat iblis itu.
"Aaaaaaa!" teriak mereka bersamaan. Semua lenyap dengan sapuan badai salju yang kencang.
...****************...
__ADS_1
Beberapa hari kemudian ....
Ningsih sedang berjalan-jalan di sebuah Mall besar di Kota Yogyakarta. Dia mengajak Wahyu untuk berbelanja apa pun yang menjadi kebutuhan saat kuliah. Mereka terlihat sangat bahagia.
"Wahyu, mau pilih kemeja yang mana? Ini bagus, loh. Ini juga bagus," ujar Ningsih sambil menyodorkan kemeja berwarna merah maroon dan biru navy.
"Mama sukanya warna gelap. Kalau putih aja, gimana?" tanya Wahyu membuat Ningsih tersenyum.
"Putih nggak apa. Tapi cari yang ada coraknya seperti ini ...." Saat membalikkan tubuh, Ningsih tak sengaja menabrak seseorang. "Awww," seru Ningsih terkejut.
"Hati-hati ...." Seorang lelaki yang Ningsih tabrak langsung memeluk pinggang Ningsih agar tidak terjatuh.
Ningsih mendongakkan wajahnya menatap lelaki itu dan dia merasa mengenal orang itu. Namun, siapa gerangan? "Ma-maaf ... aku tidak sengaja," lirih Ningsih yang kemudian melepaskan pegangan tangannya dari bahu lelaki itu. Dia merasa canggung.
"Tidak apa. Sengaja juga tak apa," ucap lelaki itu sambil tersenyum. "Bima. Namaku, Bima. Siapa namamu?" imbuh Bima dengan bahagia menatap Ningsih yang selama ini dia rindukan.
"Bi-Bima? Emm ... namaku Ningsih," jawab wanita itu sambil berpikir sepertinya tidak asing baginya. Siapa lelaki itu?
Bima, Alex, Evan, dan Lily sudah menjadi manusia. Namun ingatan Bima dan Alex masih melekat karena hanya satu tahun waktu mereka menjadi manusia. Sedangkan Evan dan Lily entah di mana.
"Iya, Ningsih. Hati-hati, ya. Salam kenal ...." Bima melepaskan pelukannya. Dia pun tersenyum bisa melihat kembali istri dan anak sulungnya, meski mereka sama sekali tak mengingat Bima dan Alex.
"Mama tidak apa-apa?" tanya Wahyu pada ibunya.
"Tak apa, Sayang. Jadi malu, nih, karena nabrak orang lain," jawab Ningsih sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Papa tidak apa-apa?" tanya Alex yang muncul dari belakang Bima. Alex menahan diri untuk tidak memeluk ibu dan kakaknya yang lupa ingatan tentang dirinya dan Bima.
"Tak apa, Alex," jawab Bima sambil merangkul anaknya yang baru saja berdiri di sampingnya.
"Bima? Alex?" lirih Ningsih yang seakan mengenali nama itu. Wajah dua lelaki itu juga terasa tak asing.
"Iya, Ningsih, ada apa?" Bima menatap Ningsih penuh harap.
"Hmm ... maaf sudah menabrak kamu. Sebagai permintaan maaf, bolehkah kami mengajak makan siang bersama? Wahyu, bagaimana menurutmu?" Ningsih memberi ide yang cemerlang.
"Tentu, Ma. Tak apa. Aku juga sudah lapar," sahut Wahyu.
"Bagaimana Tuan Bima dan Alex?" Ningsih menatap kedua lelaki di depannya.
"Dengan senang hati," jawab Bima dan Alex serentak.
__ADS_1
Mereka berempat pun berjalan bersama menuju ke restauran di dalam mall itu. Tepatnya di lantai empat. Mereka berbincang sepanjang jalan seakan sudah kenal dengan waktu yang cukup lama. Wahyu pun merasakan hal yang sama dengan ibunya. Seakan pernah melihat kedua lelaki itu. Seakan pernah mengenal mereka. Namun semua terasa samar-samar.
Bima harus menahan rasa ingin memeluk istri dan anaknya. Pengorbanan demi cinta, harus dia lakukan. Bima bertekad akan membuat Ningsih kembali mengingatnya dan kembali mencintainya seperti dahulu. Apakah itu hal yang mungkin terjadi pada cinta mereka?