JERAT IBLIS

JERAT IBLIS
BAB 140


__ADS_3

πŸ€ ANTARA RASA DAN LOGIKA - PART 2 πŸ€


Tak terasa, Joko mengepalkan tangannya. Masih di rumah sakit, tak rela melihat wanita yang menarik hatinya di pegang lelaki lain. Apa daya, Joko bukan siapa-siapa. Bahkan dia hanyalah pekerja di rumah Ningsih.


"Joko, Bang pulang saja dulu. Besok Bang kerja, 'kan?" perintah Ibu pada Joko.


Joko hanya mengangguk. Tak seperti biasa, dia langsung berlalu pergi dari rumah sakit tanpa pamit. Rasa cemburunya mulai membuat pikirannya tak fokus.


Joko mengendarai motornya, melesat membelah jalanan dengan kecepatan tinggi. Sesampainya di rumah, hanya dirinya sendirian. Joko segera masuk kamar dan menghempaskan tubuhnya ke kasur. Lelah. Penat. Joko memilih tidur.


Dalam tidur, Joko bermimpi seakan nyata. Ningsih berada di kamarnya. Menyentuh dadanya yang bidang. "Ningsih ...." lirih Joko yang tak menolah dengan sentuhan Ningsih.


Ningsih tersenyum, lalu menjatuhkan tubuh dalam pelukkan Joko. Joko menikmati itu. Memeluk tubuh Ningsih. Satu per satu kain di tubuh Joko dan Ningsih terlepas. Malam yang panjang untuk Joko. Penuh peluh yang menetes dan saling meleguh. Hingga saat dia melakukan pelepasan. Matanya pun terbuka.


"Sial! Mimpi basah!" umpat Joko saat melihat cahaya matahari mulai masuk dari sela jendela.


Joko berdiri dari kasurnya dan menatap jam dinding yang menunjukkan pukul 05.30. Joko langsung ke kamar mandi. Menyegarkan tubuhnya dan bergegas ganti pakaian. Dia segera berangkat kerja. Menuju rumah Ningsih.


Sesampainya di rumah Ningsih ....


"Pagi, Pak Umar!" sapa Joko dengan semangat.


"Pagi, Joko. Bagaimana keadaan Abahmu? Maaf, bapak belum bisa menengok klau rumah kosong takut kecolongan lagi." sahut Pak Umar yang sedang menyirami taman.


"Iya, Pak Umar. Tidak apa. Terima kasih perhatiannya, Pak." jawab Joko sambil tersenyum.


Joko pun memarkirkan motornya di garasi. Dia pun segera mengambil kunci mobil di tempat biasa dan memanasi mobil agar siap digunakan. Dia pun mengelap beberapa mobil lainnya yang mulai berdebu karena tak digunakan. Meski perutnya kosong dan lapar, Joko menahannya. Paling tidak, mengantar Ningsih ke resto, dia bisa menghabiskan waktu di warung kopi seperti biasanya.


"Joko, kamu sudah masuk kerja, to?" kata Ningsih yang terkejut melihat Joko di depan rumahnya.


"I-iya, Bu. Maaf, kemarin kukira Nindy sudah bilang." lirih Joko sambil menggaruk kepalanya.


"Oh, iya. Sudah bilang, kok. Aku aja yang lupa. Bentar, ya. Aku ganti pakaian dulu." sahut Ningsih yang tersenyum memperlihatkan giginya yang rapi.


Joko pun menunggu wanita cantik yang menjadi bosnya berganti pakaian. Dia malah teringat kejadian tadi malam, saat bermimpi indah dengan Ningsih di dalam mimpinya. Membayangkan itu, membuat Joko semakin ingin memiliki Ningsih. Apakah mungkin?


"Joko, ayo berangkat ke resto," ucap Ningsih seraya menepuk bahu sopirnya.


Joko pun terkejut, "Eh, iya."


Mereka pun memulai perjalanan ke N&B Resto. Joko pun mengajak berbincang Ningsih. "Bu, eh, Ningsih ... terima kasih banyak bantuannya ke Abah dan Ibuku. Kami sampai bingung bagaimana cara membalas kebaikanmu." ucap Joko mengawali pembicaraan.

__ADS_1


Ningsih pun tersenyum. "NINGSIH ... KESEMPATAN EMAS. JADIKAN DIA SUAMI KETUJUHMU. DIA BEGITU BERNAPSU UNTUK MEMILIKIMU. DOSANYA TERDAHULU JUGA BEGITU BANYAK. AKAN MENJADI PENAMBAH ENERGINYANG CUKUP BANYAK." kata Bima pada istrinya. Tentu saja yang mendengar hanyalah Ningsih.


Ningsih pun mengangguk, paham. "Joko ... nggak usah sungkan. Semua aku lakukan demi kebahagiaanmu. Kamu sangat menyayangi keluargamu, bukan?"


Joko terkejut mendengar pernyataan Ningsih. Dia langsung memandang sebentar wajah Ningsih. "Ni-Ningsih?" panggil Joko ke bosnya. Dia tak tahu itu hanyalah tipu daya semata.


"Iya, Joko. Ada apa?" ucap Ningsih perlahan.


"Tidak apa. Terima kasih." kata Joko, tak tahu harus berkata apa.


Mereka terdiam cukup lama. Terlihat rona merah di wajah Joko yang tersipu malu. Ningsih hanya berbicara dalam hati dengan Bima.


Ningsih: "Bima ... lihat dia, langsung merah merona."


Bima: "HA HA HA ... TERNYATA ISTRIKU PANDAI MERAYU. SUDAH PASTI DIA AKAN MENERIMA JIKA KAU AJAK MENIKAH!"


Ningsih: "Semua demi kamu, Bima. Aku ingin menolongmu. Tetaplah bersamaku, sampai akhir dunia."


Bima: "INI BUKAN RAYUAN SEMATA, 'KAN, SAYANG? HA HA HA ...."


Ningsih sebal dengan jawaban Bima yang seakan menganggapnya sedang gombal. Ningsih pun segera berucap dalam hati. "Jika hanya rayuan, mana mungkin aku mau ikut musnah sekalipun asal bersamamu."


Bima pun tersenyum. Istrinya sungguh mencintainya. Berbeda dengan ratusan wanita yang menjadi pengikut sebelumnya, hanya memikirkan uang dan harta saja.


Sebenarnya, Bima tak rela istrinya disentuh lelaki lain. Namun, semua semata demi memulihkan kondisinya. Jika Bima lemah, kemungkinan besar tak bisa menolong Ningsih jika ada suatu hal buruk terjadi.


Mobil diparkirkan dengan baik. Waktu masih menunjukkan pukul 07.30 jauh terlalu awal dibanding jam masuk karyawan. Ningsih pun mengajak Joko masuk ke resto untuk membantu mengecek bahan yang datang kemarin.


"Joko, bantu aku cek barang datang, ya. Kemarin ada barang masuk cukup banyak." seru Ningsih saat keluar dari mobil dan melangkah ke depan resto serta membuka kunci pintu.


"Iya, Ningsih. Aku segera menyusul." Joko bergegas masuk ke dalam resto setelah mengunci mobil. Dalam benak Joko, dia masih terbayang hal semalam dan menginginkan hal itu terwujud.


Ningsih menyalakan lampu resto karena semua tirai jendela belum dibuka. Dia pun mengecek ke meja kasir. Seperti biasa, melihat laporan sift dua kemarin dan menghitung pemasukkan lalu membawa rekapan ke ruangannya. Ningsib memasukkan sejumlah uang di brangkasnya seperti biasa. Sedangkan Joko, tiba-tiba masuk ke ruangan Ningsih.


"Butuh bantuan apa, Ningsih?" tanya Joko pada bosnya yang sedang memungut kertas di lantai.


Joko menatap pada Ningsih tak berkedip. Melihat belahan baju yang digunakan terlalu rendah dan menyuguhkan pemandangan. Tentu saja mengusik jiwa kelakian Joko. "Sini, aku bantu." kata Joko sambil menunduk dan memunguti kertas yang Ningsih jatuhkan.


"Terima kasih, Joko," lirih Ningsih yang kemudian tangan Joko menggenggam tangan Ningsih yang bersamaan mengambil sebuah kertas.


Mata mereka saling menatap. Joko semakin menggebu dalam dada. Berhasrat untuk mengecup bibir Ningsih. Ningsih hanya terdiam terpaku dalam tatapan mata Joko. Mereka pun terhanyut dalam perasaan yang mendadak merasuk dalam jiwa. Meski itu hanya dirasakan pada Joko. Ningsih hanyalah mencari celah untuk mendapatkan hati Joko.

__ADS_1


"Ningsih ... aku ...." bisik Joko yang kemudian memajukkan wajahnya ke wajah Ningsih yang masih terdiam.


Perlahan tapi pasti, Joko menautkan bibirnya ke bibir merah milik wanita di hadapannya. Mengecup ... tanpa perlawanan. Joko semakin berani dan berhasrat. Dia langsung menaut bibir Ningsih dan saling bertukar ludah.


Merasa semakin terangsang, Joko menggendong tubuh Ningsih dan meletakkannya di sofa ruangan pribadi bos cantik itu. Belum ada seorang pun yang datang di resto karena terlalu pagi. Joko pun tak menyia-nyiakan kesempatan emas. Menuntaskan hasrat terpendamnya yang sebentar lagi akan terwujud.


"Joko ... jangan ...." kata Ningsih seolah menolak.


"Kenapa Ningsih? Kamu tak menyukaiku?" Joko berhenti membuka pakaian Ningsih yang baru satu kancing saja terbuka.


"Bukan begitu ... kalau kau melakukan ini, nikahi aku," tegas Ningsih sambil menatap mata Joko yang sudah dipenuhi hawa napsu.


"Ningsih ... aku sangat ingin menikahimu. Bahkan secepatnya, asal kau mau. Tetapi soal Bima ...." Joko pun terdiam tak melanjutkan perkataannya.


"Joko ... nikahi aku jika kamu mau melakukan ini," kata Ningsih, menyentuh dada bidang Joko yang sudah menindihnya.


"Iya, Ningsih. Aku akan tanggung jawab," lirih Joko yang kemudian bergelut dalam napsu.


Ningsih tersenyum. Dia mendapatkan calon suami ketujuh untuk memulihkan energi Bima! Tak disangka, Joko merancau sepanjang berhubungan dan mengatakan jika dia menyukai Ningsih sudah sejak lama. Ningsih pun meleguh dalam kenikmatan, agar meyakinkan Joko bahwa hubungan itu juga Ningsih inginkan. Sofa itu bergetar hebat dengan dua manusia di atasnya. Ruangan pribadi menjadi saksi bisu. Mereka melakukan hingga hampir jam setengah sembilan.


Takut karyawan mulai datang, Ningsih dan Joko menyelesaikan permainan mereka. Meski Joko masih menginginkannya. "Joko ... sudah mau jam datang para karyawan. Hentikan, ya ...." lirih Ningsih.


"Iya, sayang. Terima kasih ... kamu luar biasa ...." bisik Joko.


Mereka pun memakai pakaian. Segera keluar ruangan dan membuka jendela restauran. Sesaat kemudian, para karyawan mulai masuk. Ningsih pun mengajak mereka breafing. Sedangkan Joko menunggu di depan restauran. Tersenyum puas dengan apa yang mereka lakukan tadi. Impian dan hasrat terpendam Joko terwujud.


Joko mengingat mimpi semalam. Mungkin itu pertanda jika hari ini dia berhasil mendapatkan Ningsih. Itu yang dipikirkan Joko. Berbeda jauh dengan yang Ningsih pikirkan.


Ningsih sudah mendapatkan Joko sebagai tumbal ketujuh. Akan semakin mudah mengajaknya menikah jika sudah menyentuh tubuhnya. Ningsih menyelesaikan breafing pagi.


"Demikian breafing pagi hari ini. Semangat bekerja, ya! Saya mau sarapan dulu. Kalian melanjutkan list yang ada di lanjutan sift dua. Terima kasih," ucqp Ningsih menutup breafing pagi.


Ningsih pun keluar dari resto. Menemukan Joko di samping mobil di parkiran. "Ningsih ... sudah selesai tugasnya?" tanya Joko.


"Sudah ... aku lapar, nih. Ayo sarapan. Tadi menguras banyak tenaga," bisik Ningsih di telinga Joko. Membuat Joko semakin senang sudah memuaskan wanita kesayangannya.


Mereka pun pergi ke foodcourt untuk mencari asupan sarapan. Sepanjang jalan, Joko beberapa kali mengelus paha Ningsih. Ningsih hanya tersenyum, padahal dia tak menyukai hak itu.


"Bima ... benar yang kamu katakan. Joko terlalu bernapsu padaku. Sangat mudah digoda maupun tergoda. Mudah dijebak. Sebentar lagi akan kulangsungkan pernikahan agar lekas kau ambil dia," batin Ningsih yang berkomunikasi dengan Bima.


"HA HA HA ... BAIK, SAYANG. BERSABARLAH. SEMUA UNTUK KITA BERDUA. TADI AKU PERGI KARENA TAHU HAL ITU AKAN TERJADI. SESUNGGUHNYA AKU SANGAT CEMBURU, TETAPI INI CARA UNTUK MEMULIHKAN ENERGIKU DAN BISA MELINDUNGIMU." kata Bima dengan rasa berkecamuk. Jika bisa memilih, Bima tak akan membiarkan hal itu terjadi pada Ningsih.

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2