JERAT IBLIS

JERAT IBLIS
BAB 144


__ADS_3

πŸ€ (BUKAN) ORANG BAIK πŸ€


Joko bergegas pergi dari ruangan bangsal Tante Silvi. Dia langsung ke tempat Abah, menengok serta memberi tahu sesuatu hal.


"Abah, Ibu, Nindy, kalau nanti ada yang tanya soal nama Joko ... jangan beri tahu, ya. Joko mau pamit dulu karena ada hal mendadak. Bilang saja tak kenal Joko," perintah Joko selang beberapa saat masuk ke ruangan Abah.


"Iya, Bang." jawab keluarganya serentak.


Joko pun pamit pergi dengan terburu-buru. Dia sengaja lewat tangga darurat agar tak berpapasan dengan orang lain. Kemudian, dengan cepat Joko masuk ke mobil dan pergi.


Saat Brams tahu istrinya jatuh dari balkon bangsal VVIP rumah sakit, dia langsung ke sana. Bersama beberapa orang bodyguard untuk menyelidiki hal itu, Brams curiga dengan orang yang mirip Joko tadi. "Selidiki hal ini dan sita semua CCTV yang ada. Semua yang mencurigakan segera amankan, terutama yang berhubungan dengan Joko!" tegas Brams kepada anak buahnya.


"Siap, Tuan!" jawab semua bodyguardnya.


Penyelidikan dari pihak kepolisian pun segera dilaksanakan. Membuat pihak rumah sakit akan dituntut jika terbukti lengah dalam pengawasan pasien. Brams sudah menghubungi pengecaranya agar segera menuntut pihak rumah sakit. Meski Silvi dan Brams tidak saling setia, tetapi dalam hati mereka tetap saling mencintai. Brams menangisi istrinya saat dinyatakan meninggal dan segera dibawa pulang ke rumah untuk dimakamkan.


Bodyguard Brama menyebar di tengah penyelidikan polisi. Seorang di antata bodyguard itu masuk ke ruangan VVIP di sekitar tempat kejadian untuk bertanya dengan memanfaatkan adanya penyelidikan pihak kepolisian. "Permisi, maaf saya dari pihak kepolisian hendak bertanya apakah ada yang kenal dengan saudara Joko?" tanya bodyguard itu pada satu per satu ruangan VVIP hingga di ruangan Abah.


Saat Nindy membuka pintu dan mendapat pertanyaan itu, dia segera menjawab sesuai perintah Abangnya. "Maaf, kami tidak kenal. Ada apa, Pak Polisi?" jawab Nindy meyakinkan.


"Baik jika tak kenal, kami sedang mencari info perihal kematian pasien di kamar VVIP-3. Terima kasih kerja samanya," kata bodyguard itu berlalu pergi.


Nindy menutup pintu lalu kembali ke tempat Abah dan Ibu dengan gemetar. "Abah, Ibu ... barusan ada yang cari Bang Joko. Katanya polisi dan sedang menyelidiki orang meninggal di kamar nomor 3 VVIP. Kenapa ya? Nindy takut," lirih gadis itu yang kemudian lemas.


"Sudah ... banyak berdoa saja semoga Allah melindungi keluarga kita. Duh, Bang Joko itu pergi begitu saja buat Ibu dan Abah khawatir." ucap Ibu yang juga cemas. Abah hanya terdiam dan tak habis pikir mengapa Joko pergi seperti orang khawatir?


***


Joko mengendarai mobil ke rumahnya. Sudah tengah malam dan dia memilih untuk istirahat saja. "Sial! Sial! Sudah hari ini capek, Ningsih marah padaku, ketemu Si Tante Girang yang jatuh dari balkon pula. Mengapa hari ini membuatku ingin marah saja? Huh!" umpat Joko sambil memukul-mukul stir mobilnya.


Hawa napsu yang menguasai Joko membuatnya jadi mudah marah dan sensitif. Manusia yang berbalut dosa, akan semakin senang berbuat dosa. Lalu menambah kemaksiatan demi memuaskan napsu birahinya saja. Hal itu yang saat ini sedang mengikat hidup Joko. Dia masih menginginkan Ningsih, tetapi calon istrinya itu marah.

__ADS_1


Sesampainya di pekarangan rumah, Joko memarkirkan mobil dan masuk ke dalam rumah. Dia memikirkan untuk segera menikahi Ningsih dengan atau tanpa Abah. Baginya, keinginan mendapatkan Ningsih jauh lebih penting. "Apa aku ajak nikah secepatnya, ya? Takutnya ntar Ningsih berubah pikiran malah balik ke Bima. Arrgh! Tak boleh!" ucap Joko pada dirinya sendiri.


Keesokan harinya, Joko segera mandi dan bersiap ke rumah Ningsih seperti biasa. Dia tidak tahu jika semakin cepat menikahi Ningsih, semakin cepat pula dia meninggal dijadikan tumbal.


Sesampainya di rumah Ningsih, Joko kembali dikecewakan karena rumah terkunci. Ningsih sepertinya sudah berangkat ke resto. "Ningsih! Ningsih!" teriak Joko yang sedari tadi memencet bel tetapi tak ada jawaban.


Joko pun geram, lalu beregegas ke resto. Dia lupa jika mobilnya pun milik Ningsih. Seakan dirinya sudah menjadi pemilik saja. Joko berlenggak ke restauran mencari Ningsih. Sesampainya di sana, para pegawai sudah berdatangan. Joko melihat jam tangan yang menunjukkan jam setengah sembilan lebih.


"Ningsih! Kenapa kamu berangkat sendiri? Aku sudah ke rumah, tetapi kamu tak ada," kata Joko yang mulai terlihat cemas atau justru posesif?


"Ini jam berapa? Bukannya sudah hafal jam berangkat kerjaku? Sebentar lagi mau breafing. Kamu tunggu di luar saja," sahut Ningsih dengan cuek.


Merasa harga dirinya diinjak-injak. Joko pun menarik tangan Ningsih dan membawanya masuk ke ruangan pribadi Ningsih. Para pegawai hanya terdiam melihatnya, tak berani berkata apa-apa.


"Kamu ini kenapa, Ningsih? Jangan perlakukan aku seperti orang lain! Ayo kita nikah besok, kalau perlu sekarang juga!" tegas Joko yang membuat Ningsih takut. Genggaman tangan Joko makin erat dan membuat Ningsih sakit.


"Joko, lepaskan! Lepaskan atau aku teriak!" ancam Ningsih kepada sopirnya yang membuat akal sehat Joko makin hilang.


"HENTIKAN!" teriak seorang lelaki yang tak lain tak bukan adalah Bima.


Joko yang terkejut langsung melepaskan tubuhn Ningsih hingga tersungkur di lantai. Sedangkan Joko merapikan celananya. Merasa terganggu, Joko justru marah dengan Bima. "Apa-apaan kau ikut campur! Ningsih sudah memilihku!" seru Joko membuat pembenaran atas tindakannya.


Suasana semakin memanas, Bima pun geram melihat istrinya diperlakukan tak manusiawi. Bima langsung mendorong tubuh Joko hingga jatuh. Lalu Bima menolong Ningsih dan membenarkan dress yang dikenakannya. "Ningsih, kau tidak apa-apa?" tanya Bima khawatir.


Ningsih ketakutan. Hampir saja dia dilecehkan kembali oleh Joko. "Bima ... bawa aku pergi," lirih Ningsih yang gemetar.


Kejadian itu membuat pegawai jadi panik. Pegawai laki-laki lekas melerai Bima dan Joko. Joko sudah bersiap akan menghantam Bima, lalu pegawai lelaki segera menyergap Joko. "Tenang, Pak. Tenang ...."


Joko mencoba melepaskan pegangan pegawai itu. Namun, gagal. Bima berdiri, memeluk Ningsih yang gemetar. Tatapan mata Bima seakan membunuh Joko. Sedangkan Joko makin marah dibuatnya.


"Resto tutup saja hari ini, jangan sampai ada berita tentang hal ini," ucap Ningsih yang berjalan tertatih.

__ADS_1


Bima mengambil kunci mobil Ningsih yang berada di meja kasir. Membawa Ningsih pergi segera. Meninggalkan Joko yang tak membawa kendaraan untuk pulang. Joko langsung teriak dan mengamuk pegawai yang tadi memeganginya. "Gara-gara kalian! Harusnya sudah kupukul lelaki itu!" seru Joko, lupa diri.


Seharusnya, Bima dan Ningsih yang harusnya marah atau memukul Joko. Kelakuannya kali ini sungguh tak bisa ditoleransi. Bima mengajak Ningsih pergi agar tidak emosi dan membunuh Joko karena rencana mereka tetap harus berjalan. "Ningsih, kamu tidak apa-apa? Dia belum melakukannya, bukan?" tanya Bima dengan lembut. Semalam, dia telat menolong Ningsih. Oleh karena itu, kali ini Bima tak terlambat.


"Bima ... tanpa pernikahan, bisakah mengambil tumbal ketujuh? Please ... aku baru tahu jika dia seperti itu bernapsunya padaku. Bahkan semalam dia pun memaksaku. Bima ...." lirih Ningsih yang terhenti karena suaranya berganti isak tangis. Bagaimanapun juga, Ningsih hanyalah wanita biasa yang juga tak bisa menahan rasa sakit jika dipaksa melayani orang yang tidak dia cintai. Meski Ningsih bersekutu dengan Iblis, lantas pantaskah dia diperlakukan seperti itu oleh sesama manusia?


Bima terdiam. Dia pun tak bisa melanggar ketentuan perjanjian gaib yang mereka lakukan. Namun, dalah hal tertentu, siapapun lelaki yang menyentuh Ningsih termasuk menjadi santapan Bima. Hanya saja tumbal dan santapan itu berbeda. "Sabar, Ningsih. Besok lakukan saja pernikahan siri pun tak apa. Suruh Joko bertanggung jawab dengan dalih menjaga nama baik di hadapan para pegawai. Tujuh hari kemudian, aku akan mengambilnya dengan cara tersakit yang belum pernah kulakukan!" kata Bima menjelaskan kepada Ningsih. Berharap istrinya mengerti yang dia maksudkan.


"Baik, Bima ... semua demi kamu ... demi kamu," lirih Ningsih yang mencoba menghapus air mata di wajahnya. Meski sakit dirasa, tetapi mengingat Bima membutuhkan tumbal ketujuh membuat Ningsih mau tak mau harus menjalaninya.


Bima menjadi dilema. Tujuh hari Ningsih bersama lelaki itu, tentu saja Bima bisa mengambil alih tubuhnya. Namun, mampukah istrinya bertahan seminggu dengan lelaki yang melecehkannya?


***


*S**ementara* itu di rumah sakit ....


Keluarga Joko sibuk mengemas barang bawaan karena Abah sudah diperbolehkan pulang jika hari ini sudah melunasi pembayaran. Nindy berkali-kali menghubungi nomor Joko, tetapi belum mendapat balasan. Sedangkan pihak apotek sudah menyiapkan obat yang sudah diresepkan oleh dokter.


"Nindy, Abangmu itu gimana? Sudah bisa dihubungi, belum?" tanya Abah yang khawatir hari semakin siang.


"Belum bisa dihubungi, Abah. Sabar, ya. Nindy telepon belum dibalas. Ini mau kirim pesan saja." jawab Nindy menjelaskan. Dia pun segera mengetik pesan dan mengirim ke Joko.


Nindy: [ Bang Joko, Abah sudah boleh pulang. Nunggu pembayaran selesai baru bisa pulang. Ini Ibu sama Nindy sudah beres-beres tinggal nunggu Bang datang buat administrasinya. Bang, Nindy telepon dari tadi kenapa tak balas? Kalau sudah baca pesan ini, segera kabari, ya? ]


Pesan terkirim


Nindy makin cemas. Berpikir apakah Bang Joko mengalami masalah karena semalam ada polisi yang mencarinya? Nindy mondar mandir di dalam kamar, tak bisa menutupi rasa khawatirnya. "Ada apa, Nindy?" tanya Ibu yang mengamati anaknya sedari tadi.


"Tak apa, Bu. Nindy hanya khawatir dengan Bang Joko yang belum ada kabar sedari semalam," jawab Nindy memelankan suaranya.


"Semoga Abangmu baik-baik saja, ya." kata Ibu yang juga cemas. Terlebih mereka sudah tahu ada pasien yang meninggal di kamar VVIP dekat kamar Abah. Meninggal terjatuh dari balkon yang sepertinya memang dibunuh orang. Namun, pelakunya belum terungkap. Ibu merasakan firasat jika Joko ada kaitannya dengan hal semalam.

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2