JERAT IBLIS

JERAT IBLIS
BAB 49 SPECIAL EDITION BIMA -4-


__ADS_3

Sore harinya....


Agus pulang kerja dengan motor matic keluaran lawas. Dia masuk ke rumah tanpa mengucap salam. Dahulu Agus seperti pemuda soleh. Namun semua hanya tipu muslihat. Setelah mendapatkan Ningsih sebagai istrinya, dia berubah drastis. Hingga Ningsih pun mulai melupakan sholat. Semua semata karena perekonomian yang sulit serta sibuk mencari tambahan pemasukan.


"Dek, Mas dah pulang ini. Mana kopinya?" seru Agus saat masuk ke rumah.


"Bentar, Mas. Ini aku baru buat semur telur mumpung Wahyu tidur. Sejak pagi aku belum sarapan, Mas. Ini saja nasi baru saja matang," jawab Ningsih dari dapur berharap ada belas kasih dari suaminya.


Mendengar jawaban seperti itu, Agus langsung naik pitam. Dia berjalan ke daur dengan amarah yang memuncak.


"Istri tak tahu diuntung! Suami pulang bukannya disuguhi kopi malah gerutu dan sok-sokan belum makan!" bentak Agus sambil melayangkan tangannya ke rambut Ningsih, menjambaknya dengan kencang.


"A... aduh, Mas sakit..." lirih Ningsih kesakitan kulit kepala yang perih karena rambut tertarik seperti hendak copot saja.


"Begini sakit? Kamu memang perlu diberi pelajaran ya," bak kesetanan Agus menarik istrinya yang sedang memasak.


Lelaki itu dengan beringas menyobek daster Ningsih yang sudah bolong sana sini. Dia melakukan sesuatu yang harusnya tidak dilakukan dengan kasar. Ningsih menangisi nasibnya. Cinta yang dahulu dia perjuangkan dan pertahankan akhirnya menjadi seperti ini.


Melakukan hubungan suami istri dengan kasar membuat pilu hati Ningsih. Setelah Agus menyalurkan emosinya. Dia meludahi wajah Ningsih dan menghinanya, "Harusnya dulu aku nikahin Iyam yang cantik, bahenol dan pegawai negeri pula! Cuiih!"


Agus berlalu ke kamar mandi. Dia menyegarkan diri dengan mengguryur tubuh dengan air dan gosokan sabun. Sedangkan Ningsih merasa sangat sakit hati. Dia menangis, mematikan kompor, dan menuju ke kamar dengan pakaian yang compang camping.


Bukan hanya fisik yang sakit, hatinya pun juga. Entah kapan semua ini berakhir. Dia selalu menutupi kekerasan yang suaminya lakukan dan berharap Agus bisa berubah.


"Bapak.... Ibu.... Inikah yang kalian takutkan ketika Mas Agus hendak meminangku? Ketakutak kalian benar-benar terjadi. Bukan hanya kekurangan materi, kasih sayang pun kini tak kurasakan. Bahkan Mas Agus yang dahulu soleh menjadi layaknya berandal," gumam Ningsih sambil mengenakan pakaian lain.


Dipandanginya bayi lelaki yang tertidur puas. Harusnya dia sudah menikmati makanan sebelum malam tiba. Tetapi rasa sakit di hatinya membuat dia enggan untuk menyantap makanan.


Ningsih bertahan dengan harapan suaminya mau berubah. Terlebih saat ini ada bayi mungil buah cinta mereka.


"Ningsih! Ini uang siapa?" teriak Agus dari dalam dapur.


DEG


Jantung Ningsih rasanya hampir copot. Uang pemberian bapaknya sudah disembunyikan dengan sebaik mungkin di dapur. Sedangkan sembako memang sengaja ditata rapi untuk menutupi uang dalam kantong plastik hitam.

__ADS_1


"NINGSIH!" teriak Agus dengan suara lebih kencang membuat istrinya segera berlari ke dapur.


Naas nian nasib Ningsih. Baru tadi siang mendapat perlakuan tak baik dari juragan yang menagih hutang suaminya. Kali ini dia harus menghadapi Agus.


"Mas.... itu uang dari bapak, buat kebutuhan Wahyu. Jangan diambil, Mas," jawab Ningsih perlahan melihat suaminya berbinar melihat uang lima juta rupiah di tangannya.


"Berisik kamu ya! Punya uang sebanyak ini tidak bilang sama suami. Maumu apa? Pasti sengaja kamu sembunyikan ya!" gertak Agus membuat nyali Ningsih makin menciut.


"Mas.... jangan," kata Ningsih yang terhenti saat tamparan keras mendarat (kembali) di wajahnya.


Ningsih memegang wajahnya yang panas dan memerah. Sakit. Terlalu sakit hidup seperti ini.


Agus pun berlalu membawa uang itu. Ningsih mencoga mencegahnya, "Jangan, Mas. Kasihan Wahyu. Itu dari Bapak. Hak cucunya. Kasihan, Mas. Tolong...."


"Cerewet kamu ya! Ini kuberi segini saja! Cukup kan? Paling-paling buat beli popok sama makan to?" Agus meraih sepuluh lembar seratus ribuan dan melemparkan ke muka Ningsih serta menghempas tangan yang memegang bahunya.


Kembali tubuh ringkih Ningsih terhempas dan jatuh. Uang yang diberikan bapaknya hanya sejuta disisakan untuk kebutuhan Wahyu. Empat jutanya dibawa pergi Agus.


"Ya, Allah.... Haruskah aku menjalani hidup seperti ini terus? Kenapa tidak sekalian Kau ambil nyawaku yang tak berharga ini?" Seru Ningsih, berlinang air mata sambil bersujud. Dia frustasi dan lelah akan semua keadaan yang ada.


"Rat... Ratih.... Hu hu hu hu...."


"Nggak apa, Ningsih. Aku di sini," kata Ratih sambil memeluk sahabatnya.


"Ratih, aku udah nggak betah sama Mas Agus. Dia mengambil uang pemberian Bapakku, melakukan kekerasan se*sual, verbal, dan juga hutang di mana-mana tanpa jelas uang itu untuk apa. Aku mau cerai saja. Nggak kuat. Kasihan Wahyu," jelas Ningsih diselingi isak tangis.


"Yaampun, Ningsih.... Sejak kapan dia seperti itu? Kukira masalah kalian hanya soal ekonomi saja. Kalau tahu begitu, nggak akan kubiarkan kamu berlama-lama dengan lelaki seperti itu!" Ratih mulai geram.


"A... aku... maafin aku nggak cerita sebenarnya. Aku takut orang tuaku akan sedih. Apalagi sekarang ada Wahyu. Bagaimana nasib kami?"


"Kamu ikut aku aja ya. Santi dan Reno pasti senang ada kamu dan Wahyu," bujuk Rati menenangkan sahabat satu-satunya yang dia miliki.


"Aku nggak bisa, Ratih...."


Ratih pun terdiam. Dia tahu jika Ningsih ragu untuk meninggalkan Agus. Terlebih setelah mengabaikan nasehat orang tua, Ningsih tentunya malu jika bercerai.

__ADS_1


"Ningsih.... apa kamu mau kaya raya seperti aku?"


"Siapa sih yang nggak mau hidup enak, Rat?"


"Kamu mau ikut apa yang kulakukan? Dahulu aku ragu mengajakmu. Tetapi setelah semua ini.... aku yakin kamu pasti mau keluar dari kemiskinan dan membahagiakan anakmu.


"Emangnya bisnis apa, Rat?" selidik Ningsih yang mulai menghapus air mata dengan kedua tangannya.


"Kamu beneran mau tahu? Janji yaa jangan kaget," ucap Ratih memastikan.


"Iyaa... aku janji..."


"Menikah dengan Jin. Mempunyai suami tak kasat mata sebangsa Iblis. Kamu akan mendapatkan harta ketika suamimu meninggal," lirih Ratih sambil mengamati perubahan wajah Ningsih.


"Apa? Kamu ngaco kan? Nggak mungkin kamu ngelakuin itu."


"Aku serius, Ningsih. Kamu mau bebas dari Agus dan kaya raya kan? Cukup sekali menikah dengan Iblis dan dapatkan kekayaan seumur hidupmu," kata Ratih menyakinkan sahabatnya.


"Maaf.... aku nggak bisa... Memang Mas Agus jahat, tapi aku nggak bisa," jawab Ningsih meragu.


"Iya... nggak apa. Awalnya pasti ragu, tapi kalau kamu sudah berubah pikiran segera hubungi aku ya. Sekarang jangan menangis. Ayo kuajak main ke Mall Kota Yogyakarta. Ajak Wahyu ya digendong saja."


Ratih tersenyum dan mengulurkan tangannya untuk memgajak Ningsih berdiri. Ningsih pun menatapnya dengan mata berbinar.


"Bapak tadi beri uang sepuluh juta untuk bayar hutang di juragan Sugeng, terus beri untukku lima juta. Namun Mas Agus ambil empat juta. Jadi aku cuma bawa uang ini aja, sejuta."


" Kamu tu nggemesin ya, Ningsih. Aku kan yang ngajak kamu. Ngapain bingung soal uang? Oiya sejak kapan Agus hutang ke Sugeng?"


"Nggak tahu, Rat. Dia marah-marah saja. Uangnya buat apa juga nggak tahu," jawab Ningsih sambil menaikkan bahunya.


Ningsih pun bersiap-siap memakai pakaian bagus yang dia miliki. Dia juga membawa kebutuhan Wahyu selama pergi, maklum masih baby. Lalu mereka pergi dengan mobil milik Ratih. Tersenyum bahagia tanpa mengingat soal Agus.


Bersambung...


Cinta, pada hakekatnya adalah perasaan yang tulus dan mengandung kejujuran. Jika rasa itu ternoda dengan kebohongan bahkan pengkhianatan, haruskah dua hati yang retak menyatu dalam kata mempertahankan pernikahan?

__ADS_1


__ADS_2