JERAT IBLIS

JERAT IBLIS
BAB 165


__ADS_3

πŸ€ KEMBALINYA EVAN DAN LILY πŸ€


Kisah lampau saat Evan dan Lily sudah terpojok karena luka yang mereka terima pada pertarungan dengan Bima ....


Evan dan Lily berada di sebuah rumah kosong di daerah pusat Kota Yogyakarta. Di sana, aura mistis sangat terasa. Bahkan Evan dan Lily yang terluka parah, perlahan membaik karena menyerap energi negatif di sana.


Terlebih saat ada pemuda pemudi yang ke sana, Evan dan lily bergegas untuk mengambil energi mereka. Tidak segan-segan mereka membunuh pemuda-pemudi tersebut untuk menambah kekuatan dan menghimpun tenaga agar kembali ke seratus persen. Mereka menunggu waktu yang tepat untuk membalas dendam kepada Bima dan Ningsih.


Tanpa mereka sadari, dendam yang mereka rasakan itu menumpuk dan semakin banyak dalam hati mereka. Evan dan Lily semakin hari menghimpun kekuatan semakin banyak. Kata Evan kepada Lily, "Sebentar lagi, kita bisa menghabisi Bima, jika tenaga kita pulih seratus persen. Tunggu saja waktu yang tepat untuk membalas iblis itu. Dia harus merasakan setiap inci kesakitan kita, bersama wanita yang dia cintai"


Evan menyeringai, menakutkan. Lily hanya bisa mengikuti apa yang Evan katakan karena pada kenyataannya, Tuan Asmodeus membuang mereka karena kekalahan pertempuran itu. Lily yang sudah terlanjur menyerahkan jiwanya pada Iblis, tak tahu harus bagaimana selain ikut perintah Evan.


"Evan, kau sangat pandai. Aku pasti mendukungmu," lirih Lily yang diiringin dengan kecupan mesra di pipi Evan.


Lily berusaha mencintai Evan yang selama ini berada di sampingnya, meski nyatanya, hati Lily hanya untuk Lee. Padahal Lily tahu jika Lee berada di Neraka perbatasan Lapis Keenam dan Lapis Ketujuh. Lily masih berharap bisa bersama Lee.


Hari berganti hari dengan cepat, bulan pun berganti seiring berubahnya musim kemarau dan hujan. Evan dan Lily sudah pulih dari luka-lukanya. Bahkan mereka sudah bisa berkeliaran mencari mangsa untuk menambah kekuatan mereka. Jiwa-jiwa berdosa yang jatuh pada dosa seksual, menjadi santapan yang lezat untuk Evan dan Lily. Bagaimanapun, mereka adalah anak buat Tuan Asmodeus. Semua Iblis sudah memiliki tugas masing-masing.


"Malam ini kita ke Club itu lagi?" tanya Lily pada Evan saat mereka selesai mandi dan berganti pakaian.


"Ya, kita mencari mangsa seperti biasanya. Sebelum lusa, kita harus ke Jakarta mencari jejak Ningsih dan Bima." tegas Evan sambil merapikan kemejanya yang sudah dipakai.


"Siap, Sayang. Apa pun yang kau putuskan, aku selalu mendukungmu. Kita harus buat Ningsih dan Bima merasakan penderitaan kita." jawab Lily sambil tersenyum.


Evan dan Lily sama sekali tak tahu apa yang terjadi pada Bima dan Ningsih. Padahal, mereka sama-sama terbuang dan tersiksa. Hanya salah paham yang tak kunjung bertemu pada kenyataan yang benar, membuat Evan dan Lily selalu mendendam.


Dua Iblis dalam bentuk manusia itu bergegas ke Club Malam di Kota Yogyakarta. Seperti biasa, mereka mencari mangsa untuk menambah kekuatan dan menghasilkan uang bagi mereka. Sesampainya di sana, Evan dan Lily berpencar.


Tak perlu waktu lama, seorang lelaki mendekati Lily dan menggodanya. "Hai, cantik. Sendirian?" tanya seorang lelaki yang membawa beer di tangannya.


"Iya, sendirian. Tadi janjian sama teman, tapi nggak datang." jawab Lily membuat alasan.


"Boleh dong, aku temani kamu, cantik. Namaku Rico. Namamu siapa?" Lelaki itu mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan dengan Lily.


"Namaku Lily."


Mendengar nama itu, Rico terdiam sejenak. Dia ingat cerita seorang kawannya yang bertemu dengan wanita cantik di club malam. Setelah berkencan semalaman, teman Rico itu pulang dengan wajah yang lusuh seakan tak ada energi. Beberapa saat setelah mama temannya mencoba bertanya pada teman-teman, kawan Rico itu justru bunuh diri. Kawan Rico menggantung diri. Hanya nama Lily, wanita cantik yang ditemui kawannya malam itu yang Rico ingat.


"Nggak mungkin kalau orang yang sama di tempat yang sama, 'kan? Ah, sudah. Mending ajak kencan saja. Lagi pula, aku habis putus ama si Laras." batin Rico saat menatap wanita cantik di hadapannya.

__ADS_1


Berbasa-basi sejenak, Rico dan Lily mengobrol. Di saat yang sama, Evan juga mendapatkan wanita yang mendekatinya.


"Hai, sendirian?" sapa wanita itu pada Evan.


"Iya, kalau kamu?" Evan tersenyum sangat manis.


"Sama. Aku baru aja putus sama pacar, jadinya ke sini aja buat minum dan have fun," jawab wanita itu tanpa takut berbicara dengan orang asing.


"Oh, sedang patah hati? Nama kamu siapa? Namaku Evan," kata Evan memperkenalkan diri pada calon mangsanya.


"Namaku Laras. Oh, iya, kita keluar, yuk. Di sinj bising, nggak bisa ngobrol-ngobrol." ucap Laras setengah berteriak.


"Mau pergi ke mana? Kalau ingin sepi, ke hotel, yuk." ajak Evan yang yakin tak akan ditolak.


"Ayo." seru Laras menarik tangan Evan untuk pergi dari Club Malam.


Tanpa sengaja, Rico melihat Laras dengan lelaki asing. Dia pun segera mengajak Lily pergi. "Pergi, yuk. Di sini terlalu ramai untuk berbincang."


"Ya, mau ke mana?" tanya Lily seolah tak tahu.


"Ikut aja, ya."


Rico menggandeng tangan Lily. Mengikuti ke mana Laras pergi dengan lelaki asing itu. Ketika Laras dan Evan masuk taksi, Rico segera membawa Lily masuk ke mobilnya. Lily mulai paham. Rico mengikuti wanita yang bersama Evan. Apakah mungkin itu mantan pacarnya?


"Emm, nggak, kok. Tenang aja." Rico berusaha tetap fokus menyetir.


"Benar? Atau jangan-jangan, wanita itu mantan pacarmu, ya?" Seketika Rico hendak mengerem mobil karena perkataan Lily benar.


"Kenapa kau bisa tahu?" tanya Rico penasaran.


"Semua terlihat jelas saat kamu menatap wanita itu. Hmm, kalau kita main bersama, sepertinya asyik."


Setelah itu, khayalan Rico terhadap suatu kenikmatan melayang jauh. Rico dan Laras adalah pasangan yang hidup dalam dosa zina. Tuan Asmodeus sangat menyukai itu. Teramat sangat menyukai. Hal itu yang membuat aura mereka sangat menarik di mata Iblis seperti Lily dan Evan.


Malam itu, mereka bertemu pada satu hotel. Saat hendak memesan kamar, Lily mengusulkan untuk sekamar saja. Laras yang awalnya tak mau, jadi luluh karena Evan membujuknya. Lagi pula, Rico adalah mantan kekasihnya.


Beberapa jam kemudian ... dua sejoli itu terjun dari hotel lantai sembilan setelah usai bermain dengan Evan dan Lily. Hal itu membuat heboh Kota Yogyakarta karena tubuh Laras dan Rico hancur hingga susah dikenali.


"Lily, kita sudah cukup bermainnya di sini. Lusa kita akan ke Jakarta. Kamu siap?" tanya Evan meyakinkan pendapat Lily.

__ADS_1


"Siap, Sayang. Semua keinginanmu, perintahmu, adalah jalan hidupku."


Kedua Iblis itu pun menghilang bersama angin malam yang berembus kencang. Membuat dingin dan merinding setiap orang yang ada di sana. Melihat kejadian mengerikan itu.


***


Di Jakarta ....


Sudah hampir dua tahun, Evan dan Lily menghimpun tenaga dan tidak menginjakkan kaki ke ibu kota. Mereka mencari Ningsih terlebih dahulu. Hasilnya nihil. Rumah Ningsih sudah rata dengan tanah. Saat Evan bertanya pada orang sekitar sana. Dia mendapatkan bahwa Ningsih sudah lama menghilang.


"Pemiliknya dan anaknya menghilang entah ke mana saat kebakaraan besar itu terjadi. Saya juga tidak paham karena apa kebakaran itu, tetapi yang pasti, tiga unit mobil pemadam kebakaran tak mampu membendung kobaran api hingga semua habis beserta beberapa mobil yang ikut meledak. Untungnya kobaran api tidak merambat ke rumah lainnya," jelas seorang tetangga Ningsih.


"Terima kasih informasinya. Kami permisi dulu." kata Evan berpamit.


"Coba ke usahanya saja di pinggiran kota. Jalan xxxxx restonya bernama N & B Resto."


"Terima kasih banyak infonya." seru Evan yang bergegas pergi.


Evan dan Lily menuju ke tempat usaha Ningsih seperti yang dimaksud tetangga Ningsih itu. Sesampainya di lokasi yang dituju. Evan dan Lily heran karena usaha Ningsih sudah rata dengan tanah.


Mereka pun bertanya dan lagi-lagi penjelasan tak masuk akal tentang kebakaran itu menjadi penyebab utama hancurnya tempat usaha Ningsih. Evan pun menyimpulkan. "Sepertinya Ningsih sudah menentukan tumbal ketujuh dan Tuan Chernobog mengambilnya. Jika itu terjadi, otomatis Ningsih dibawa ke Neraka dan Bima mencari pengikut lainnya. Perjanjian pesugihan selesai dengan tanda habisnya semua harta yang didapatkan atau juga Tuan Chernobog membakar semua hartanya, seperti ini." jelas Evan pada Lily.


Hal yang berbeda dengan cara Tuan Asmodeus mengambil jiwa orang berdosa yang terjerat dosa seksual. Tuan Asmodeus mengambil dengan cara bunuh diri atau saling membunuh. Berbeda dengan cara Tuan Chernobog yang ekstrim.


Saat itu, Evan tak sengaja melihat Nindy. "Lily, tunggu sebentar, wanita itu pernah bersama Ningsih di Yogyakarta. Aku akan mencoba mengikutinya." kata Evan pada Lily.


Evan mengawasi Nindy dan tanpa sengaja mendengar percakapan Nindy dengan sahabatnya. Nindy hampir menyerah karena butuh banyak uang dalam waktu singkat. Teman Nindy menyarankan untuk menjual diri. Nindy dengan berat memutuskan mau ikut usul temannya.


Saat teman Nindy beranjak pergi, Evan langsung menghampiri wanita itu. "Siang, apakah Anda kenal gadis yang mengenakan kaos merah muda tadi?" tanya Evan dengan sengaja.


"Oh, maaf. Tuan siapa?" tanya teman Nindy yang melihat tampilan Evan seperti orang kaya.


"Saya, bukan siapa-siapa. Hanya saja ingin mengenal gadis tadi. Anda bisa bantu? Saya akan berikan sejumlah uang jika Anda mau bantu." Tawaran menarik Evan jelas tak bisa wanita itu tolak.


"Kebetulan, Tuan. Teman saya itu bernama Nindy. Dia hendak menjual diri seharga dua ratus juta jika Tuan mau, saya bisa mengaturnya," lirih wanita itu dengan senyum licik.


Evan langsung membuat kesepakatan. Dia membayar teman Nindy sebesar dua puluh juta untuk bisa bertemu Nindy di hotel. Evan sama sekali tidak tertarik dengan tubuh Nindy. Dia hanya ingin memanfaatkan Nindy untuk mencari keberadaan Ningsih dan Bima. Satu langkah, Evan lebih maju dan dia yakin bisa menemukan musuhnya.


Teman Nindy pun pergi setelah sepakat dengan Evan dan memberi nomor handphonenya. "Bima ... Ningsih ... tunggu pembalasanku! Kalau kalian masih di dunia, akan kukejar sampai kalian musnah! Jika kalian sudah di alam baka, akan kucari kalian dan kusiksa kalian agar merasakan luka yang kurasakan dan juga Lily." gumam Evan dengan seringai yang mengerikan. Evan tahu jika dendamnya akan menghancurkan dirinya sendiri.

__ADS_1


***


Jangan lupa baca karya Author lainnya yang berjudul The Hunter (Pemerannya Lee Min Ho) dan SECRET. Terima kasih pembaca sekalian^^


__ADS_2