JERAT IBLIS

JERAT IBLIS
JERAT IBLIS - 2 - BAB 106


__ADS_3

...šŸ”„Mimpi, Salah Paham, dan PiihanšŸ”„...


Malam harinya, Richard dan Stefy datang dengan membawa wine. Budaya keturunan orang Eropa itu adalah demikan. Ketika bertamu memenuhi undangan makan malam, mereka membawa wine. Namun ini wine non alkohol hanya dari fregmentasi buah saja karena mereka tahu Ningsih dan keluarganya adalah seorang muslim. Harganya pun sangat fantastis.


"Selamat malam, Ningsih dan Bima. Kami membawa wine fregmentasi dari buah non alkohol. Ini untuk hadiah undangan makan malam," kata Richard yang mengenakan setelan jas hitam dengan kemeja merah. Senada dengan istrinya yang mengenakan dress di atas lutut berwarna merah.


Untung saja tadi Ningsih tidak jadi memakai merah. Dia dan Bima memakai warna biru tua yang senada. "Oh, jadi repot-repot. Silakan masuk, Richard dan Stefy," jawab Ningsih mempersilakan.


Mereka pun segera ke ruang makan yang sudsh disulap menjadi tempat makan malam yang sangat elegan dan berkelas. Ningsih sengaja meminta seorang chef memasak dan seorang waitress untuk penyajian. Dia merasa bersyukur masalah kecelakaan terselesaikan dengan baik tanpa adanya tuntutan dari pihak korban.


Bima sebenarnya merasa kurang nyaman karena Stefy menatapnya terus. Dia takut Ningsih akan curiga. Padahal Bima tak bermaksud seperti itu. Dia mencoba menghindar dari tatapan Stefy. Sedangkan Ningsih dan Richard pun sama. Saling menatap dan merasa tak enak ingat kejadian siang tadi. Meski tak sengaja, mereka meraskaan hal yang aneh. Kesetiaan yang ternoda menjadi godaan atau cobaan? Godaan hanya sebatas digoda, tetapi cobaan bisa jadi dicoba. Entahlah apa yang mereka pikirkan.


Mereka pun makan malam bersama. Sajian dari pembuka hingga makanan sajian utama dan makanan penutup. Semua berjalan dengan lancar.


"Wah, lezat sejali semua hidangan ini. Terutama santapan steaknya," kata Stefy setelah menyelesaikan makan malam bersama.


"Terima kasih, Stefy. Ini semua masakan chef hotel bintang lima. Ningsih yang menyiapkan semuanya," jawab Bima membanggakan istrinya.


"Wah, Ningsih seleranya bagus juga. Terima kasih jamuan makan malam ini," imbuh Richard sambil tersenyum.


Richard pun meminta nomor handphone Bima sebelum akhirnya berpamit pulang. Tidak banyak yang mereka perbincangkan. Keadaan menjadi canggung karena kejadian tadi siang. Meski semua tidak membahas hal itu, tetapi rasanya kesalahan itu membuat mengganjal.


"Kami pulang terlebih dahulu, Bima dan Ningsih. Sampai jumpa lain waktu," ucap Richard sangat sopan sebelum akhirnya pergi meninggalkan rumah Bima dan Ningsih.


...****************...


Satu bulan kemudian ....

__ADS_1


Keadaan berlalu begitu cepat. Wahyu dan Alex juga sudah kembali ke rumah. Mereka menjalani kehidupan seperti biasa. Melupakan kesalahan apa yang terjadi saat itu. Tanpa ada yang tahu dan tanpa diungkapkan.


Ningsih masuk usia kandungan sepuluh minggu. Dia memeriksakan kandungannya bersama Bima. Hidupnya terasa bahagia. Bima pun sering meminta maaf karena merasa bersalah akan kejadian itu meski belum pernah menceritakan kepada Ningsih.


"Maaf, ya, Ningsih. Jika aku pernah bersalah. Jika saat sakit, aku sangat sensitif dan mudah marah," ujar Bima pada istrinya.


"Iya, Bima. Kamu tidak salah apa-apa. Mungkin waktu itu kamu sensitif karena sakit. Tidak apa-apa, Bima," jawab Ningsih penuh pengertian.


"Terima kasih, istriku yang sangat baik hati."


Bima pun memeluk erat istrinya. Seakan menyesal dan tak ingin melukai hati istrinya. Malam itu, Bima meluk istrinya erat hingga terlelap.


Dalam mimpi, Bima bertemu dengan Stefy. Seakan semua adalah nyata. Stefy menghampiri, memeluk, dan mengecup Bima perlahan. Bima seakan tak bisa bergerak dan tak bisa melawan rasa itu. Justru dia terhanyut dalam pelukan dan belaian yang tak nyata. Ternyata Snowice memang mengusik alam mimpi Bima. Dia menggunakan wajah dan tubuh Stefy untuk menggoda kesetiaan Bima. Meski dalam mimpi, semua terasa nyata.


Tiba-tiba, Bima terbangun karena adzan subuh berkumandang. "Mimpi apa itu? Huh ... huh ... huh ...." Bima mencoba mengatur napas yang memburu. Saat melihat ke samping, ranjangnya kosong. Ningsih tak ada di sana.


Bima pun segera keluar dari kamarnya. Dia mencari di mana Ningsih berada. Ternyata Ningsih ada di kamar Wahyu bersama Alex juga. Wanita itu menangis tersedu-sedu, terbawa perasaan.


"Keluar, Pa! Keluar dulu," tegas Wahyu pada ayahnya. Dia tak tega ibunya menangis sedari tadi.


"Ada apa Wahyu? Ada apa, Ma? Alex, ada apa?" tanya Bima yang tak paham dengan situasi yang terjadi.


Alex pun berdiri dan mengajak ayahnya keluar dan menjauh dari kamar Wahyu. "Papa kenapa seperti itu?" Alex terlihat kesal.


"Seperti itu gimana, Alex?" tanya Bima pada anaknya.


"Papa itu kenapa mimpi dan mengigau menyebut nama Tante Stefy terus? Kasihan Mama tahu! Mama jelas sakit hati saat Papa menyebut nama wanita lain. Apalagi saat ini Mama lagi hamil. Kenapa Papa seperti itu? Dalam mimpi, berarti Papa memikirkan dia, ya?" selidik Alex yang menjadi kesal pada dengan ayahnya.

__ADS_1


"Ma-maksudnya? Papa tidak merasa seperti itu. Alex, tolong jangan ikut-ikutan marah sama Papa. Papa tak tahu mengapa tadi malam mimpi bertemu Stefy dan Papa rasa dia bukan manusia biasa. Tolong percaya dengan Papa," kata Bima mencoba menyakitian anak bungsunya.


"Pa, kasihan Mama. Apa Papa akan menyalahkan iblis lagi? Pa, please ... orang memimpikan orang lain dalam tidur itu tandanya memikirkan terlalu dalam. Papa suka sama Tante Stefy?" Alex memang kesal karena mendengar ibunya menangis menceritakan hal itu. Betapa sakitnya seorang istri mendengar suaminya bermimpi dan mengigau menyebut nama wanita lain saat dirinya sedang hamil.


"Alex, Papa tidak memikirkan wanita lain. Kamu tahu, kan? Satu-satunya wanita yang Papa cintai adalah Mamamu. Satu-satunya manusia yang membuat Papa ingin hidup menjadi manusia adalah Ningsih. Hanya Ningsih. Kenapa hanya karena mengigau, kalian jadi seperti ini?" Bima masih bingung dengan hal itu. Padahal jelas sudah Ningsih satu-satunya cinta dalam hatinya. Ternyata menjalani kehidupan sebagai manusia sangat berbeda dan tak mudah.


"Iya, Pa. Entah. Alex tak paham semua itu. Papa jangan dekati Mama dulu. Mama lagi sedih. Nanti takutnya Kak Wahyu emosi. Mama kan lagi hamil, Pa. Kata Kak Wahyu hormon Mama berubah dan jadi lebih sensitif. Papa sabar aja. Moga cepat selesai masalahnya," ujar Alex yang hendak berlalu pergi.


Bima mencegah putranya pergi dengan memegang tangannya dan berkata, "Kalau Papa bilang akan kembali menjadi iblis saja, bagaimana?"


Alex terkejut dan langsung menatap ke arah ayahnya. Seakan tak percaya apa yang didengar dari perkataan ayahnya. "Ma-maksudnya Papa? Kenapa, Pa?"


"Banyak yang menjadi pertimbangan. Ternyata kehidupan manusia jauh lebih rumit. Ancaman yang ada pun di depan mata dan kita tak bisa mengetahui karena sudah menjadi manusia biasa. Papa terlalu mencintai Mamamu. Merasa tak tega jika Mamamu terus mendapat serangan secara gaib," jelas Bima dengan wajah sedih. Entah mengapa, dia merasa ada yang aneh dengan Stefy. Aura yang terpancar sangat beda dan sorot matanya pun bukan seperti manusia.


"Pa ... kita masih punya waktu sekitar delapan bulan lagi, kan?" Alex berbicara dengan nada suara pelan.


"Iya ... tapi kalau ternyata gangguan terus menghantam keluarga kita, harus bagaimana? Papa akan kembali saja. Kamu bisa menjadi manusia bersama Mama dan Kak Wahyu di sini menjaga calon adik bayi. Papa akan melindungi kalian dari alam lain," jelas Bima membuat Alex bersedih.


"Mengapa Papa selalu menyangkut pautkan semua dengan hal gaib? Bisa jadi yang Mama bilang benar, Papa memang tertarik dengan Tante Stefy. Sekarang Papa tega mau ninggalin Mama yang lagi hamil?" Alex tak paham maksud ayahnya. Justru menjadi perdebatan.


"Tidak. Bukan itu maksudnya. Papa hanya berpikir, pasti ada yang Tuan Abaddon inginkan. Papa mau hidup bersama kalian dengan bahagia. Bukan dengan gangguan terus seperti ini." Bima percuma menjelaskan karena Alex kecewa padanya. Alex langsung pergi. Alex menyayangi ibu, kakak, dan calon adiknya. Tak mungkin dia mau kembali menjadi iblis. Sudah cukup permainan Tuan Abaddon bagi Alex, semua iblis sama saja.


Bima terdiam menatap anaknya yang berlalu. Belum satu masalah selesai, selalu ada permasalahan lagi. Bima kini tahu betapa kejamnya dirinya dahulu sebagai iblis. Menjebak manusia dalam pesugihan dan mencari harta dengan waktu singkat atau jalan pintas yang mengorbankan orang lain. Bima menyesali semuanya. Iblis memang bertugas menyesatkan manusia dan Bima menyesali ratusan tahunnya menyesatkan ribuan jiwa manusia dan melempar mereka ke dalam api neraka.


Bima sudah melawan takdir Sang Pencipta dengan memilih menjadi iblis saat Tuan Chernobog memberi pilihan. Namun saat ini dia kembali mendapatkan kesempatan menjadi manusia, kehidupan tak semudah yang dia kira. Kehidupan bahagia, harmonis, dan utuh ternyata hanya ada di angan saja. Kehidupan yang indah ternyata hanya ada pada impian semata. Kenyataannya kehidupan manusia penuh lika liku, cobaan, dan godaan.


Bima duduk di ruang tengah. Dia merasa sangat pening. Apa pun yang akan dia putuskan, semua berdampak pada kehidupan Ningsih dan keluarganya. "Aku harus bagaimana? Aku mencintai Ningsih dan ingin bersamanya. Apalagi kami akan memiliki seorang anak. Aku ingin menemani Ningsih. Tapi mengapa seakan para iblis itu tidak akan melepaskan kami? Apa sebenarnya salahku? Mengapa Tuan Abaddon memberi pilihan jika hanya ingin menyangsarakan aku dan membuat Ningsih berpikir buruk terhadapku?" gumam Bima penuh tanda tanya.

__ADS_1


Tak terasa, mata Bima mulai berkaca-kaca. Lelaki yang selalu terlihat kuat dan sabar itu akhirnya menangis. Dia tak kuasa menahan rasa sedihnya. Dia hanya ingin bahagia bersama keluarganya. Saat itu, Wahyu hendak mengajak bicara Bima, jadi mengurungkan niatnya. Dia terhenti saat mendengar gumaman ayahnya. Wahyu tiba-tiba teringat banyak hal tentang iblis, neraka, dan hal yang selama ini menghilang dari ingatannya.


Wahyu memegang kepalanya yang pening. Dia segera istigfar dan menyebut Asma Allah berkali-kali dalam hati. Wahyu segera ke kamar mandi karena ibu dan adiknya masih berada di kamarnya. Dia tetap istigfar dan meninta petunjuk Allah atas semua rasa ganjil ini. Hanya Sang Pencipta yang mampu menyelamatkan umat-Nya dari jebakan Iblis.


__ADS_2