
...š„Kehidupan Normalš„...
Beberapa minggu kemudian ....
Waktu tak terasa berlalu dengan cepat. Sudah dua bulan Bima dan Alex menjadi manusia. Pagi itu, Ningsih sedang memasak ayam goreng madu kesukaan tiga jagoan di rumahnya. Namun, entah mengapa Ningsih mual saat mencium aroma ayam saat ia goreng. Tidak seperti biasanya, Ningsih merasa kurang enak badan.
"Wahyu! Wahyu!" seru Ningsih memanggil anak sulungnya untuk segera datang ke dapur.
"Iya, Ma. Ada apa?" Wahyu langsung berlari ke dapur karena khawatir dengan ibunya
Benar saja, wajah Ningsih sudah pucat dan hampir terjatuh saat Wahyu datang. Segera saja putra sulung Ningsih itu memapah ibunya. Lalu, mematikan kompor dan membawa ibunya ke kamar segera. Saat itu, Bima sedang pergi mengurus minimarket. Sedangkan Alex sedang main ke rumah Reno dan Lisa.
"Wah-Wahyu ... Mama mual rasanya dan lemas ...." lirih Ningsih pada anaknya.
"Ayo, Wahyu bawa ke klinik aja. Ayo, Ma. Pelan-pelan ... Mama," kata Wahyu sambil memapah ibunya.
Tanpa berpikir panjang, Wahyu membawa ibunya ke klinik dengan mobil yang disetir sopir pribadi. Saat perjalanan, Wahyu langsung menelepon ayahnya.
Wahyu: "Papa, maaf kalau Wahyu menelepon. Ini Mama sakit. Saat ini Wahyu antar Mama ke klinik sama pak sopir."
Bima: "Apa, Wahyu? Ya, Papa akan segera menyusul ke sana. Kamu jaga Mama dulu, ya."
Wahyu: "Iya, Pa. Aku hubungi Alex tidak?"
Bima: "Nggak usah. Dia suka panik dan gusrah-gusruh. Lebih baik kamu jaga Mama. Papa akan menyusul. Lagi pula, Alex sedang di rumah Reno dan Lisa. Takutnya membuat panik mereka."
Wahyu: "Iya, Pa. Wahyu tunggu Papa di klinik dekat rumah, ya."
Wahyu segera membawa ibunya ke klinik dekat rumah. Setelah sampai di sana, perawat langsung menangani Ningsih yang lemas dan mual. Dokter juga langsung turun tangan memeriksa. Setelah menunggu beberapa saat, dokter pun keluar dari ruang pemeriksaan klinik.
"Keluarga dari Nyonya Ningsih?" tanya dokter.
"Iya, saya anak sulungnya. Bagaimana kondisi Mama saya, dokter?" Wahyu sangat panik. Dia takut ibunya sakit yang serius.
"Begini, apakah ayah kamu ada?" Tepat saat dokter menanyakan, Bima datang.
__ADS_1
"Maaf, Papa baru sampai. Tadi sudah buru-buru," kata Bima yang langsung menghampiri Wahyu.
"Ini Papaku, dokter. Silakan kalau mau bicara," ujar Wahyu yang senang ayahnya sudah datang.
"Begini, Tuan. Dari hasil pemeriksaan darah dan urine, kami sudah memastikan kalau Nyonya Ningsih tidak sakit. Selamat, Nyonya Ningsih saat ini hamil. Untuk memastikan usia kandungan Nyonya Ningsih, baiknya ke dokter kandungan. Selamat Tuan." Dokter menjelaskan dengan seksama.
Terlihat raut wajah Bima dan Wahyu langsung berubah. Dari panik, menjadi tersenyum bahagia. "A-apa? Istriku ha-hamil, dok?" tanya Bima memastikan.
"Iya, Tuan. Silakan ke dokter kandungan untuk memastikan, Tuan. Saya permisi, ya." Dokter pun berlalu pergi.
Bima dan Wahyu langsung masuk ke ruang rawat di klinik tersebut. Mereka menghampiri Ningsih yang tiduran di ranjang pasien sambil mengelus perutnya yang belum buncit.
"Sa-Sayang ... kamu hamil? Kita akan mempunyai bayi?" tanya Bima yang mendekat ke arah Ningsih.
"Iya, Bima. Kita akan mempunyai anak lagi. Wahyu ... kamu akan punya adik kecil," ujar Ningsih sambil tersenyum.
Wahyu pun tersenyum. Baginya, kebahagiaan orang tuanya adalah yang utama. Meski Wahyu merasa dia sudah terlalu dewasa untuk punya adik kecil. Ya, usia delapan belas tahun mempunyai adik bayi, kelihatan jarak terlalu jauh, bukan?
"Kalau begitu, kita ke dokter kandungan ya. Wahyu, kamu jaga Mamamu dulu. Papa bayar administrasi dulu ke depan," perintah Bima pada anak sulungnya.
"Iya, Pa. Wahyu di sini menemani Mama."
"Wahyu, kita bawa Mama pulang dulu buat istirahat, ya? Nanti sore kita ke dokter kandungan untuk memastikan sama Alex sekalian," kata Bima sambil menyetir mobil.
"Iya, Pa. Siap pokoknya. Mama sehat-sehat, ya," ujar Wahyu sambil mengelus lengan ibunya.
Bima tak sabar memberi tahu Alex yang akan mempunyai seorang adik. Bima berharap, anak mereka perempuan agar yang diinginkan Ningsih menjadi nyata. Setidaknya kebersamaan mereka akan sangat berarti. Bima bisa menemani Ningsih hingga melahirkan. Suatu kebahagiaan tersendiri bagi Bima menjadi manusia utuh. Dia mulai berpikir untuk menjadi manusia selamanya agar bisa bersama Ningsih hingga tua nanti dan merawat anak-anak mereka bersama.
...****************...
Sore harinya di rumah Ningsih ....
Alex sudah pulang dari rumah Reno. Dia mengendari motor sport milik kakaknya. Tadi dia mengajak Lisa berkeliling dengan motor dan gadis kecil itu sangat senang. Saat Alex masuk ke rumah, ternyata Bima, Ningsih, dan Wahyu sudah menunggu di ruang tengah.
"Loh, tumben pada ngumpul di sini?" tanya Alex yang merasa tak seperti biasanya.
__ADS_1
Bima langsung berdiri dan menghampiri putra bungsunya. "Alex, kita mau pergi ke dokter bersama. Antar Mamamu periksa. Kamu juga ikut, ya?" kata Bima sambil mengusap bahu anaknya.
"Loh, Mama sakit apa? Kenapa nggak langsung bawa periksa? Tahu gitu Alex langsung pulang dari tadi," jawab Alex yang langsung khawatir.
"Mama nggak sakit, Alex. Kita mau punya adik bayi. Makanya mau periksa ke dokter untuk memastikan. Kamu ikut, ya," imbuh Wahyu sambil tersenyum senang.
"Wah, beneran? Asyik! Ayo Papa bawa Mama periksa. Alex emang pingin punya adik. Mama ... terima kasih ya," ujar Alex yang senang mendengar kabar itu.
Mereka langsung menuju ke mobil. Bima menyetir dan Ningsih di sampingnya sedangkan kedua putra berada di kursi belakang. Mereka sangat senang mengantar Ningsih ke dokter kandungan. Apalagi kedua putra Ningsih yang sangat antusias karena akan mempunyai adik. Mereka semua berharap Ningsih sehat dan baik-baik saja sampai persalinan.
Sesampainya di dokter kandungan, mereka bergegaa mendaftarkan Ningsih untuk periksa. Menunggu sekitar sepuluh menit, akhirnya waktu periksa Ningsih masuk ke ruang periksa dokter.
Dokter mengecek perut Ningsih dengan USG dua dimensi. Benar adanya, Ningsih hamil. Terlihat seperti kacang merah kecil dengan cahaya yang berkedip-kedip.
"Selamat Nyonya Ningsih dan Tuan Bima. Kalian akan memiliki anak. Ini janin berusia empat minggu. Cahaya yang berkedip-kedip ini adalah detak jantungnya. Selamat juga para putra Nyonya Ningsih, kalian akan mempunyai adik," jelas dokter sambil menunjuk hasil USG di layar.
"Terima kasih banyak, dokter. Ada saran untuk kesehatan istri saya yang lemas dan mual, dokter?" tanya Bima yang khawatir.
"Nanti saya akan resepkan vitamin untuk Nyonya Ningsih. Jaga kesehatan dan jangan terlalu capek karena semester pertama kehamilan memang sering mual itu wajar." Dokter segera menuliskan resep obat dan vitamin untuk Ningsih. Dia juga menyarankan Ningsih untuk banyak istirahat dan makan teratur.
Setelah menebus obat di apotek, mereka pun pulang dengan bahagia. Waktu sudah menunjukkan pukul tujuh malam. Bima pun hendak mengajak makan malam bersama. "Untuk merayakan Mama kalian hamil, gimana kalau makan malam bersama di tempat yang kalian suka? Ayo pilih aja mau ke mana," ujar Bima yang pasti membuat kedua putranya senang bisa makan malam bersama di luar.
...****************...
Tanpa Bima sadari, kabar tentang kehamilan Ningsih sudah sampai ke telinga Tuan Abaddon yang senantiasa mengamati mereka. Snowice pun menanyakan hal itu kepada Tuan Abaddon di kerajaannya. Berjaga-jaga jika hal itu mengkhawatirkan.
"Apakah kehamilan istri Bima pertanda baik, atau sebaliknya, Tuan Abaddon Yang Mulia?" tanya Snowice.
"HA HA HA HA HA ... TENANG SAJA. ITU AWAL YANG BAIK KARENA BIMA DAN ALEX AKAN SEMAKIN BIMBANG MEMILIH. APA PUN PILIHAN MEREKA, AKU PASTIKAN MEREKA TIDAK AKAN BAHAGIA! HA HA HA HA ... IBLIS TETAPLAH IBLIS. AKU TAK AKAN BIARKAN MEREKA JADI MANUSIA YANG BAHAGIA ANDAI MEREKA MELEPAS KEKUATAN DEMI BERSAMA KELUARGANYA." Tuan Abaddon tertawa dengan pemikirannya yang licik dan mengerikan.
"Baik, Tuan Abaddon. Hamba yakin Tuan Abaddon selalu mempunyai seribu satu macam cara untuk bisa mengelabui mereka. Tidak diragukan lagi karena Tuan Abaddon Iblis nomor satu di dunia." Snowice memuji Tuannya. Jika bisa dijabarkan, Snowice adalah pengikut setia Tuan Abaddon. Dia pun tak hanya sekedar mengagumi, terlebih rasa suka. Namun Snowice hanya memendam hal itu karena tahu cinta dan perasaan adalah hal memuakan yang dilarang dalam dunia iblis.
"TERIMA KASIH SUDAH MENJADI PENGIKUTKU YANG SETIA, SNOWICE. AKU AKAN MEMBERIKAN SEBAGIAN ENERGI BIMA JIKA SUDAH MENDAPATKANNYA UTUH UNTUKMU." Tuan Abaddon tidak pelit untuk membagi pada pengikutnya yang setia. Dia jauh berbeda dengan ketujuh panglima neraka yang sering perhitungan.
"Terima kasih banyak, Tuan Abaddon." Snowice membungkuk menghormati Tuannya.
__ADS_1
Setelah berbincang, Snowice pun kembali ke tempatnya seharusnya. Dia merasa jika Tuan Abaddon kali ini makin memperhatikannya. Tidak sia-sia dia mengamati perkembangan Bima dan Alex karena dia tahu Tuan Abaddon menginginkan untum memiliki dan menguasai kekuatan serta energi milik mereka. Snowice tidak akan menyerah sebelum bisa mendapatkan apa yang dia inginkan, yaitu perhatian dari Tuan Abaddon. Meski dia harus menyesatkan ribuan manusia, baginya tak apa. Asal Tuan Abaddon akhirnya mengerti apa yang dia inginkan sejak dahulu.
Iblis memang makhluk yang licik dan mengerikan. Mereka memang tak suka melihat manusia bahagia. Jika bisa, mereka akan membuat manusia tersiksa agar para manusia melupakan Tuhan Sang Pencipta dengan banyak mengeluh. Iblis tak suka melihat manusia yang bersyukur, maka dari itu mereka selalu membuat masalah agar manusia masuk dalam pencobaan. Mereka juga tak suka manusia yang rajin dan senang beribadah, hingga mereka menjebak manusia dalam banyak hal termasuk jerat cinta dan perbudakan harta. Hanya manusia-manusia yang mau bersabar, berusaha, dan berdoa yang akan lolos dalam setiap ujian kehidupan. Iblis tahu celah hati dan pikiran setiap manusia. Jika tidak berhati-hati, pasti akan terjerat ke dalam tipu dayanya.