
π MIMPI DALAM KEGELAPAN π
Malam semakin larut. Angin berembus membawa hawa dingin yang menusuk hingga ke tulang. Sebenarnya Ningsih tak ingin pulang dan masih senang bermanja dengan suami gaibnya. Namun, kenyataan bahwa di rumah ada anak serta ponakannya yang pasti menanti kepulangan Ningsih membuatnya enggan bermalam di Hotel Sky Lounge bersama Bima.
"Sayang, apa yang mengusik hatimu?" tanya Bima sambil mengusap punggung wanita yang baru saja diberi kepuasan duniawi.
Mereka menghabiskan makan malam yang nikmat lalu bersama di kamar hampir tiga jam. Bukan waktu yang lama untuk melepas rindu tetapi Ningsih sadar jika Bima tak bisa menemani malam-malamnya di rumah karena pagar gaib yang dibuat Budi.
"Aku merindukanmu. Bahkan masih rindu meski setiap hari bertemu. Bima sayang, bisakah kau masuk ke rumah? Menembus pagar gaib itu atau haruskah aku meminta Budi menghilangkannya?" lirih Ningsih sambil memakai pakaiannya dengan rapi.
Bima tersenyum menatap istrinya. Bagaimanapun perkataan Ningsih ada benarnya. Bima pun masih merindukan setiap detik kebersamaan mereka yang berharga. Bukan hanya soal kepuasan duniawi semata. Namun lebih dari sekedar memiliki dan bersama setiap saat.
"Sabar ya, Ningsih. Sebentar lagi kekuatanku penuh. Aku akan membuat celah pagar gaib itu yang tidak akan disadari Budi agar kamu tak perlu meresahkannya lagi. Mau 'kan bersabar?" ucap Bima dengan lembut lalu mendaratkan bibirnya pada tautan cinta yang lembut ke istrinya.
Mereka bertaut dan memetik madu cinta yang manis. Sebelum pulang meninggalkan sisa kerinduan yang akan semakin menumpuk. Rasa yang sebelumnya tak pernah Bima dan Ningsih alami.
Bima dan Ningsih pun perjalanan kembali ke rumah. Bima berpamit pergi pada istrinya. Ningsih pun mengiyakan karena tak ada pilihan lain baginya.
Malam itu Ningsih pulang ke rumah sekitar pukul 22.30 dan rumah masih ramai dengan canda tawa. Ternyata Reno dan Santi mengajak Mak Sri, Wahyu, dan Budi pergi makan malam dan bermain sebelum akhirnya pulang ke rumah tiga puluh menit yang lalu.
"Wah, anak Mama belum tidur ini ya?" Ningsih masuk ke rumah dan disambut pelukan hangat dari Wahyu yang berlari ke arahnya.
"Ma, tadi kami pergi makan malam enak sekali. Lalu main ke tempat yang penuh dengan salju. Bagus sekali," ucap Wahyu dengan mata berbinar.
Ningsih senang sekaligus terharu. Kesibukannya dengan perasaan membuat anaknya sendiri terabaikan. Untung saja ada Santi dan Reno serta Mak Sri yang merawat Wahyu dengan baik. Ningsih tidak terlalu khawatir karena anaknya berada di sekeliling orang yang baik dan benar-benar peduli.
"Wah, senang sekali ya. Maaf ya Mama baru pulang." Ningsih pun membalas pelukkan anaknya dengan erat.
"Tante sudah makan belum? Ini tadi beli martabak manis apa tu namanya terang bulan ya? Kesukaan Tante," kata Reno mengambil sekotak makanan manis dengan aneka rasa.
"Tante sudah makan kok. Buat kalian saja. Terima kasih ya ... selalu menjaga Wahyu. Oiya, Mak Sri boleh istirahat. Nanti biar Wahyu sama aku saja."
"Baik, Bu. Terima kasih. Non Santi, Den Reno, Wahyu, Mak pamit istirahat dulu ya. Sampai jumpa besok pagi," ucap Mak Sri.
__ADS_1
Mak Sri pun beranjak dari ruang tamu dan masuk ke kamar untuk istirahat. Ningsih menjadi merasa tak enak. Sering pergi tanpa kenal waktu. Membuat anak semata wayangnya kurang perhatian.
"Tante, ini Santi buatkan teh hangat," kata Santi keluar dari dapur sambil menyodorkan secangkir teh hangat.
"Wah terima kasih keponakan Tante yang super pengertian." Ningsih menerima secangkir teh itu lalu menyeruntupnya perlahan. Hangat dan enak di tenggorokan.
"Tante, kalau misal Wahyu ikut Santi dan Reno pulang ke Yogyakarta bolehkah? Sementara biar Wahyu home schooling di sana. Tante juga baru saja mengalami masalah di bidang usaha. Ini cuma misal ya, Tante. Biar Tante fokus dulu kalau mau mulai berbisnis lagi."
Perkataan Santi membuat Ningsih terpaku. Sejenak kalimat itu bagai tali yang mencekik lehernya. Sesak. Sakit.
"M-Maksudnya?"
Hanya sepatah kata yang bisa keluar dar bibir Ningsih yang kelu. Bagaimana bisa Santi mempunyai ide membawa Wahyu bersamanya? Apakah karena Ningsih terlalu cuek dan sibuk?
"Maaf, Tante. Cuma semisal kok. Udah lupakan aja. Yuk istirahat pasti pada capek kan?" Santi berusaha mencairkan suasana dan mengajak semua untuk istirahat.
Reno dan Santi pun pergi ke kamar mereka masing-masing. Sedangkan Ningsih masih dalam diam membawa Wahyu ke kamarnya. Menemani puteranya hingga tertidur lelap.
Tak terasa tetes air mata basah di pipi Ningsih. Perlahan tapi pasti mulai membanjiri wajahnya yang terlihat sedih mengingat perkataan Santi. Setelah memastikan Wahyu terlelap dengan nyenyak, Ningsih pergi ke kamarnya. Sampai di kamar, dia menyeka wajah dan ganti pakaian tidur.
Masih tergiang perkataan Santi yang membuat Ningsih bersedih lagi. "Seakan aku tak becus saja," lirih Ningsih dengan tubuh terlentang di ranjang empuknya. Perlahan kantuk itu menyerang dan membawanya terlelap, masuk ke alam mimpi.
Dalam mimpi tak seperti biasa, Ningsih mengalami hal aneh. Mungkin sebagian orang menganggap mimpi hanyalah bunga tidur. Namun kali ini mimpi Ningsih terlihat sangat nyata. Tempat yang gelap dan hening. Ningsih sendirian di sana. Lalu terlihat cahaya dari kejauhan. Ningsih berjalan menuju arah cahaya yang ternyata sebuah pintu yang terbuka. Ningsih pun masuk ke dalam pintu itu.
Ningsih melihat dengan seksama apa yang ada di sekelilingnya. Tempat yang asing dan tidak dia kenali. Lalu ada seorang wanita di sana, menangis haru karena suatu hal. Ningsih mendekati wanita itu tetapi dia tak bisa menyentuh bahkan berbicara pun seperti tak didengarkan.
Wanita itu menangis karena suaminya terjerat hutang, sedangkan dia di PHK oleh pabrik tempatnya bekerja. Ningsih mengamati segala kejadian di mimpi yang aneh itu hingga wanita tersebut datang ke seorang paranormal. Memohon bantuan agar bisa mendapatkan kekayaan. Paranormal itu pun menyarankan untuk nikah gaib. Wanita tersebut mengiyakan dan mau menerima segala konsekuensinya.
Tak disangka, apa yang Ningsih lihat dalam mimpi itu membuatnya terperanga. Bima, Iblis yang datang untuk menjadi suami gaib wanita itu. Terlihat dari pakaian dan suasana seakan tahun 90an. Ningsih tak kuasa melihat semua kejadian selanjutnya. Bima menyentuh wanita itu, memberinya harta dengan pertukaran nyawa suami di dunia wanita tersebut.
Ningsih sedih karena semua yang dilakukannya bersama Bima mengapa seperti yang wanita itu lakukan. Suami pertama raib, wanita itu bisa membayar hutang-hutang dan pergi ke kota lain memulai hidup baru. Suami kedua pun menjadi tumbal, wanita itu semakin kaya dan terobsesi untuk menikah lagi. Hingga pada suami ketujuh. Nasib buruk setelah suami ketujuh wanita itu diambil Bima. Usaha milik wanita itu bangkrut seketika.
Bima yang awalnya terlihat baik dan penyayang berubah drastis menjadi mengerikan. Ningsih melihat kejadian itu di depan mata bagaikan menonton film langsung. Bima merenggut nyawa wanita yang dinikahinya secara gaib. Mengambil darah wanita itu hingga tak bersisa setetes pun untuk disajikan pada Tuan Chernobog. Serta yang lebih mengerikan, kehidupan setelah kematian yang dialami wanita itu beserta ratusan wanita lainnya. Dirantai dalam Neraka lapis Ketujuh dan diperbudak oleh Iblis. Menangis, meronta, memohon ampun, semua hal itu percuma karena di Neraka hanya ada ratap dan gertak gigi.
__ADS_1
Ningsih menutup mulutnya saat dia melihat Tuan Chernobog yang sangat amat mengerikan menatap ke arahnya lalu tersenyum dengan seringai yang membuat Ningsih tersadar dari tidurnya.
"Mimpi apa itu tadi?" Ningsih mengatur napasnya yang memburu karena rasa takut.
Menengok jam di dinding masih pukul 03.15 dan mimpi itu seakan nyata. Membawa rasa takut yang amat sangat. Membuat sekujur tubuh Ningsih merinding.
"Apakah itu benar Bima? Apakah wanita itu salah satu pengikutnya? Kalau iya, berarti ratusan wanita lainnya juga ... apakah aku sama dengan mereka?" gumam Ningsih dengan tertunduk lesu.
Memikirkan hal itu membuat Ningsih merasa Bima berlaku sama dengan semua wanita pengikutnya. Ningsih kesal dan memberantakan seisi kamar tidurnya. Amarah bercampur cemburu dan kesedihan. Bergelut pada mimpi atau kenyataan. Ningsih merasa bingung dan kacau. Dia tidak bisa melanjutkan tidur.
***
Beberapa waktu sebelumnya ....
Santi di teras bersama Budi seusai jalan-jalan. Sengaja mereka mempersilahkan Reno dna Mak Sri masuk rumah terlebih dahulu dengan Wahyu.
Santi pun menerima sekantong kecil bubuk dari Budi. "Apa ini Mas?" tanya Santi sambil melihat bubuk itu.
"Itu bubuk ramuan dan ekstrak bidara yang sudah didoakan oleh Bapak. Campurkan pada minuman Bu Ningsih nanti. Insyaallah, Bu Ningsih akan melihat kenyataan para pengikut Iblis sebelumnya. Semoga dengan ini perlahan Bu Ningsih mau melepaskan suami gaibnya," jelas Budi pada Santi.
"Terima kasih, Mas. Kalau misal Tante Ningsih minum ini apakah ada efek tertentu?"
"Dia kemungkinan akan melihat kejadian di masa lalu. Semoga saja setelah ini dia memikirkan kembali untuk bertaubat. Jujur saja, aku sangat mengkhawatirkannya," ucap Budi seraya menatap ke langit.
"Mas Budi, apakah masih ada harapan Tante Ningsih terbebas dari Jerat Iblis?" tanya Santi dengan penasaran.
"Santi, semua makhluk di dunia ini mempunyai harapan yang sama untuk mengubah jalan tempuhnya. Namun, tidak semuanya mau menjalani hal yang berbeda dengan kehidupan sebelumnya. Ada yang sudah nyaman tersesat lalu tak ingin berbalik sehingga semakin terjerat dan terperosok dalam jurang dosa. Kita jalani saja apa yang bisa kita lakukan untuk membantu Bu Ningsih. Soal terbebas atau tidak biar Allah yang membantu dan semoga Bu Ningsih mau bertaubat." Budi menerangkan dengan sangat bijaksana.
Santi pun terdiam dan mengamati bubuk itu. Bagaimana bisa mencampurkan ke minuman Tante Ningsih jika tak bersama? Santi hanya berharap ada waktu yang tepat untuk menyiapkan minuman bagi Tante Ningsih. Tak bisa dipungkiri, Santi ingin sekali Tante Ningsih bertaubat dan lepas dari segala kemusyrikan sebelum maut datang menjemput.
"Aku harus bisa menyelamatkan Tante Ningsih. Harus! Iblis itu sudah merenggut Ibuku bahkan Ayahku. Kali ini, kulindungi yang tersisa. Reno, Tante Ningsih, Wahyu, serta Mak Sri sekali pun tak akan kuserahkan pada makhluk itu!" batin Santi.
Bersambung ....
__ADS_1